Favorite Sin

Favorite Sin
SAYING I LOVE YOU


__ADS_3

...ADRIAN...


Aku merutuki kebodohanku sendiri yang dengan cerobohnya tidak mengunci pintu kamar ini. Akibatnya, sekarang Nadine jadi menangis terisak setelah mengetahui isi dari dalam kamar rahasiaku.


Sedangkan aku, hanya bisa diam membeku tak tahu harus bagaimana menjelaskan padanya karena aku terlalu kaget untuk berbicara.


Tidak pernah terlintas di benakku sedikitpun untuk memberitahu Nadine tentang keberadaan kamar ini hingga proses persalinan nanti. Aku ingin menutup rahasia ini rapat-rapat.


Bukan karena aku menginginkan ini sebagai surprise, tapi karena memang aku belum siap memberitahunya tentang kamar calon bayi kami. Ya, nursery room. Itulah yang telah aku rahasiakan selama berbulan-bulan.



"Kapan kamu membuat kamar ini Adrian?" tanya Nadine lirih. Melodi suaranya terdengar lembut bagaikan sebuah bisikan yang membuat hatiku hangat.


"Aku membuatnya waktu usia kandungan kamu memasuki 4 bulan," jawabku lugas.


"Sendiri, atau dibantu?"


"Sendiri." jawabku singkat.


Nadine menatapku dengan puppy-eyes nya yang begitu khas. "That's really sweet of you.."


Is that so? Aku tidak berpikir jika yang kulakukan akan terlihat manis dimata Nadine.


"Kenapa kamu tidak bilang sama aku dari awal, kalau kamu sudah membuat kamar bayi untuk anak-anak kita?" selidik Nadine sembari menautkan kedua alisnya.


Aku mengedikkan kedua bahuku sambil mengatupkan bibir. "Entahlah..aku terlalu malu untuk mengakuinya," balasku.


"Kamar bayi ini ada hasil dari jerih payahku sendiri yang membangunnya. Mulai dari interior-ya, furniture-nya, aku yang pilih semua. Bahkan dinding ini aku yang mengecatnya." ungkapku jujur.


Untuk anak-anakku, aku selalu ingin yang terbaik. Jauh-jauh hari sebelumnya, aku menghubungi desainer interior untuk membuat konsep ruangan yang ekslusif untuk kamar mereka.


Aku begitu detail memperhatikan segala aspek desain, pencahayaan, serta fitting dan tata letak sesempurna mungkin agar finishing-nya terlihat bagus. Eksekusinya, tetap aku yang menghandle semuanya sendiri.


Nadine begitu takjub sampai mengendurkan pelukan kami. Perlahan, ia berjalan untuk mendekat pada lemari yang berisi banyak pakaian-pakaian bayi mewah yang kubeli dari brand ternama.


__ADS_1


Tangan Nadine kemudian terulur untuk mengambil mainan-mainan kecil khusus untuk bayi yang tertata rapi pada rak berwarna biru. "Mainan ini, kamu yang beli?" Nadine mengangkat tangannya untuk menggoyang-goyangkan boneka kecil yang tengah dipegangnya.


Aku mengangguk mengiyakan. "Iya. Setiap pulang dari kantor atau sehabis pergi untuk perjalanan bisnis, aku selalu menyempatkan diri untuk pergi ke toko mainan. Beli itu!" aku menunjuk deretan mainan-mainan tersebut.


"Tidak ada yang tahu tentang kamar ini sebelumnya Nad, hanya aku seorang saja. Aku tidak pernah mengizinkan siapa pun untuk memasuki area ini. Itu sebabnya aku kaget waktu pelayan di rumah bilang kalau kamu datang kesini."


Nadine berjalan mendekat kemudian menangkup kedua sisi wajahku. Sapuan halus dari kedua telapak tangannya pada pipiku membuatku lemah. Hatiku seketika menghangat mendapat perlakuan seperti ini.


Berada didekat Nadine selalu memberikan efek tersendiri yang sulit kujelaskan. Diriku yang tangguh berubah layaknya anak kucing yang menurut.


"I didn't see this coming." Nadine menggeleng-geleng tersenyum salah tingkah.


"Kamu tahu, aku sama sekali enggak sangka kalau kamu akan membuat kamar bayi. Aku bahkan sempat mau minta hadiah Natal kamar bayi dari kamu, karena aku pikir kamu enggak akan membuatnya kalau belum dipaksa secara ekstra,"


"Maaf karena aku telah meragukan kamu. ternyata kamu begitu perduli dengan anak-anak kita," sambungnya. Kedua netra Nadine kembali berkaca-kaca. "Aku bahagia sekali Adrian, aku bahagia..."


Tuhan, aku benci melihatnya menangis seperti ini. Sekalipun itu tangisan kebahagiaan, aku seperti tak rela melihatnya menumpahkan lelehan air mata hanya untukku.


"Aku tidak menyalahkan kamu Nadine. Aku sendiri memang tidak meyakinkan. Saat pertama kali aku tahu kamu hamil saja, reaksi pertamaku kurang mengenakkan. Wajar kalau kamu ragu." aku merengkuh pinggang Nadine agar tubuh kami bisa saling menempel.


"Tapi aku tahu kamu sudah melakukan yang terbaik. Lihatlah ini!" Nadine mengedarkan pandangannya ke ruangan. "Diam-diam kamu sudah membuat kamar bayi tanpa sepengetahuanku." Nadine mengalungkan tangannya di leherku.


"Aku minta maaf atas perlakuan buruk yang pernah aku lakukan di masa lalu. Aku sudah jahat karena pernah mempunyai pikiran untuk melenyapkan darah daging kita. Aku jahat.." ucapku lirih.


Aku merasa bahwa aku benar-benar perlu untuk meminta maaf pada Nadine, pada anak-anakku yang ada didalam perutnya. Tak seharusnya aku mengaitkan trauma masa laluku dan melimpahkan semua kekesalan itu pada mereka. Aku menyesal.


"Hey it's okay...aku enggak marah kok. Aku bisa memaklumi semua sikap kamu. It's all in the past. Kamu bukan orang jahat, kamu hanya tidak tahu menjadi orang baik karena rasa trauma kamu yang begitu dalam. Itu hanyalah rasa takut dan kekhawatiran yang wajar," kata Nadine.


Aku tidak tahu perbuatan baik apa di masa lalu yang pernah aku lakukan sehingga aku bisa seberuntung ini mendapatkan sesosok wanita yang begitu memahami aku, menyayangiku dengan tulus. I'm such a lucky bast*rd.


"Tidak tahu Nad, setiap kali mengingatnya aku selalu merasa bersalah. Aku benar-benar orang yang jahat!" aku menundukkan kepalaku malu.


"Ini semua perasaan yang baru bagiku. Aku harus mengakui bahwa masa laluku, sedikit membuatku tidak percaya diri bahwa aku akan menjadi ayah yang baik. Kenyataan itu selalu terngiang dalam kepalaku dan memunculkan rasa takut hingga ke inti-intinya."


"Aku begitu stres dan rasa cemas menyerangku. Itu sebabnya aku bersikap impulsif diawal-awal kehamilan kamu. Dengan teganya, aku mengabaikanmu hanya karena aku takut kamu melihat sisi burukku. Kemudian kesadaran datang di pikiran saya."


Aku mengutarakan semua uneg-uneg yang bercokol dalam sanubari hatiku dengan panjang lebar, berharap Nadine bisa mengerti dan mau memaafkan kesalahanku. Walaupun aku tahu dia pasti akan luluh juga.

__ADS_1


Tidak sulit untuk menaklukkan hati Nadine karena dia adalah wanita polos dan baik hati yang pernah kutemui. Aku sampai berpikir, terbuat dari apa hatinya yang tulus itu? Dia menerimaku apa adanya tanpa syarat.


"I'm sorry for everything that you've been through, Adrian. Kamu adalah orang yang sangat berharga, dan kamu harus tahu itu. Kamu akan menjadi ayah yang baik untuk anak-anak kita nanti. Jangan pernah ada keraguan ya.." Nadine menarik tanganku untuk mengusap perut buncitnya.


"Mulai saat ini, aku akan berusaha menjadi versi terbaik dalam diriku. Aku berjanji melakukan yang terbaik untuk kamu dan keluarga kecil kita. Bantu aku ya..dampingi aku, jangan pernah bosan dan berpikir untuk meninggalkanku," ungkapku tulus yang dibalas oleh anggukan dari Nadine.


"Pasti...aku tidak akan pernah meninggalkan kamu kecuali kamu sendiri yang memintanya," sahutnya balik.


Sayangnya itu tidak akan pernah terjadi. Aku tak mau menjadi orang bodoh yang membiarkan wanita dihadapanku ini pergi jauh dari sisiku. Tak akan. Nadine milikku, hanya milikku seorang. Dan itu mutlak.


"Hmm..baiklah. Kita keluar sekarang, ini sudah waktunya makan malam. Sinta bilang, kamu belum makan sejak masuk ke kamar ini. Diluar ada Arjuna juga.." kuusap bekas air mata yang masih melekat pada pipi gembulnya.


"Loh Arjuna ada disini?" tanya Nadine.


"Iya, dia tadi datang ke kantorku. Lalu kami memutuskan untuk pulang bersama. Arjuna akan menginap semalam disini. Tidak apa-apa kan?"


"Ya enggak apa-apa dong Adrian..dia kan adik aku juga. Bebas mau menginap kapan saja, enggak perlu izin..kan ini rumah kamu. Aku malah senang ada Arjuna, jadi ramai." Nadine begitu antusias.


Tak sulit membuatnya bahagia, hanya dengan perlakuan simple seperti ini saja dia sudah senang. Dasarnya Nadine memang murah senyum.


"Ya sudah, kamu mandi dulu ya...aku siapkan air hangatnya dulu!" ucap Nadine.


"No..aku bisa melakukannya sendiri."


"Jangan melarangku, tidak ada salahnya aku menyiapkan keperluan untuk suamiku sendiri. Anggap saja ini sebuah treat balasan karena kamu sudah membuat kamar bayi yang indah seperti ini untuk bayi kita." Nadine berceramah.


Aku tertawa pelan. "Baiklah, terserah kamu saja."


"Let's go..kita ke kamar!" Nadine mengapit tangannya pada lenganku.


Namun sebelum pergi, aku ingin mengucapkan sebuah kalimat yang akan membuatnya bahagia.


"Nadine..."


"Ya?" Nadine mendongakkan kepalanya menatapku.


"I love you..."

__ADS_1


***


Maaf karena lama tidak update karena kesibukan di real life 😭 semoga readers enggak lari ya..sebentar lagi mau aku tamatkan ceritanya 😁 jangan lupa kasih like, comment dan vote yah...thank you


__ADS_2