Favorite Sin

Favorite Sin
NEW EXPERIENCE


__ADS_3

...ADRIAN...


Weekends sudah berlalu. Hari ini waktunya aku mengantar Nadine pergi ke kantor tempat dia bekerja untuk mengurus surat pengunduran diri. Setelah melalui perdebatan yang panjang akhirnya dia bersedia untuk resign meski aku tahu dalam lubuk hatinya masih merasa keberatan. Tidak mudah membujuk perempuan keras kepala seperti dirinya.


Sudah 1 jam lamanya aku menunggu Nadine di parkiran mobil tapi dia tidak keluar-keluar. Memangnya ngapain saja dia didalam? Menungguinya sangat membosankan sekali.


Tak lama, yang aku tunggu-tunggu akhirnya muncul juga. Tuhan sangat memahami diriku yang tidak sabaran ini sehingga urusannya bisa cepat selesai. Dari kejauhan aku bisa melihat Nadine membawa sebuah kardus besar sambil menjinjing tas laptop nya. Ketika sudah mendekat, dia mengetuk pelan kaca mobilku.


"Boleh saya taruh di bagasi?" tanyanya polos.


Tak ingin berlama-lama, aku mengangguk saja dan membiarkannya menaruh semua barang itu langsung di bagasi. Karena bagasi mobil milikku sudah terbuka, tinggal ditarik saja.


"Sudah clear urusannya?" tanyaku pada Nadine saat dia sudah masuk dan duduk manis di front passenger seat sebelahku.


"Iya sudah, tadinya saya enggak menyangka kalau prosesnya bisa secepat ini. Yang saya tahu, perusahaan tempat saya bekerja ini menerapkan sistem one month notice. Yang mana jika ada karyawan yang mau mengundurkan diri, wajib konfirmasi H-1 bulan dulu sebelum efektif dinonaktifkan dari pekerjaan."


Polos sekali perempuan ini. Dia tidak tahu saja kalau aku ikut andil dalam kelancaran proses pengunduran dirinya.


Bagaimana tidak cepat..Nadine sendiri bekerja di perusahaan milik teman SMA-ku sekaligus rekan bisnis juga. Jadi tinggal satu kali panggilan, semua bisa beres kalau lewat jalur orang dalam.


"Hari keberuntungan kamu mungkin. Atasanmu sepertinya paham kalau kamu harus cepat-cepat pergi dari kota ini."


"Mungkin.." dia tersenyum tipis padaku.

__ADS_1


Senyum yang tak pernah kulihat semenjak bertemu dengannya beberapa hari yang lalu. Lagipula wajar saja, bagaimana mungkin dia bisa tersenyum dalam keadaan seperti ini. Saat malam hari pun, aku bisa mendengarnya menangis dalam diam.


"Semua urusan kamu sudah selesai atau masih ada hal lain yang harus diurus?" tanyaku lagi.


"Tuntas semua kok! Tentang surat pengunduran diri saya dari perusahaan beres. Urusan harta benda yang saya miliki juga sudah clear. Karena mobil saya sudah rusak, dan mobil kakak saya enggak ada..jadi tinggal rumah dan tabungan yang tersisa. Untuk rumah, saya enggak mau menjualnya. Biar sajalah kosong untuk sementara meski investigasi polisi telah selesai."


"Tadi Ray juga ke kantor polisi lagi untuk follow up kasus Ayah kamu. Saat ini Romy sudah ditahan oleh pihak kepolisian, sedangkan Kelvin bisa meloloskan diri. Dari situ Romy akan diinterogasi mengenai siapa saja orang yang terlibat dalam kasus penembakan Ayahmu. Dengan begitu akan lebih mudah untuk meringkuk pelakunya."


Nadine menatapku dengan nanar. Kesedihan masih terlihat jelas di wajahnya. "Kita langsung ke bandara saja, beberapa jam lagi kita akan flight. Harus check-in dulu."


"Terus Ray gimana? Apa dia menyusul ke bandara?"


"Ray tidak akan ikut bersama kita. Dia masih akan stay disini dulu untuk mengurus sidang putusan penjatuhan hukuman pada Romy. Ada satu dan lain hal juga yang harus diurus."


"Oh begitu...ya sudah, enggak apa-apa. Kita bisa langsung ke bandara. Koper saya dan kamu juga sudah ready di belakang."


Sama halnya dengan Nadine diawal, aku sendiri merasa tidak nyaman harus pergi berdua saja dengannya tanpa Ray. Alasannya simple, karena kita berdua adalah orang asing dan tidak mengenal satu sama lain. Tapi karena terpaksa, suka tidak suka...aku harus.


Aku masih perlu jasanya untuk membantu mencari keberadaan flashdisk Harun. Karena bisa saja, saat proses pencarian dibutuhkan sebuah kode atau password yang berkaitan dengan informasi pribadi Harun. Sebagai putrinya, tentu Nadine paham betul mengenai hal-hal yang bersifat privat tentang Harun.


***


Aku dan Nadine sudah berada di bandara sekarang. Kami juga sudah menyelesaikan check-in tiket pesawat barusan. Tinggal menunggu jam keberangkatannya saja.

__ADS_1


Aku mengeluarkan sebuah masker dari balik jaketku dan memberikannya pada Nadine. "Pakai masker ini."


"Kenapa?" Nadine agak sedikit kebingungan.


"Banyak orang yang mengincar kita saat ini. Dengan masker, wajah kita bisa tertutup dan orang tidak ada yang tahu kita sedang di bandara. Bisa gawat kalau mereka tahu, nanti yang ada mereka akan melacak kita mau pergi kemana"maku beralasan dan dia percaya-percaya saja.


Padahal sebenarnya, aku hanya tidak mau ada orang yang tahu aku kedapatan pergi berdua bersama perempuan. Habislah aku jika ada wartawan yang melihatnya. Pasti akan ada bahan gossip-an atau selentingan berita yang akan muncul di media meskipun wajahku hampir tak pernah terekspos.


Karena sejatinya para wartawan itu sebenarnya tahu bagaimana rupaku, mereka hanya tidak bisa mempublikasikan fotoku karena tim ku akan langsung men-take down postingan mereka. Biasanya berita yang diangkat berupa tulisan dan artikel mengenai kehidupanku. Belum lagi mata-mata Papa yang suka ikut campur. Kedua orangtuaku pasti akan heboh jika tahu aku membawa perempuan saat kembali ke Bali.


Jujur ini adalah pengalaman pertamaku menaiki pesawat kelas ekonomi. Biasanya kalau mau pergi kemana-mana aku selalu memakai jet pribadiku. Kecuali saat jet-nya sedang maintenance dan dalam perbaikan, beberapa kali aku kerap menaiki pesawat komersil. Tapi itupun aku pesannya tiket first class bukan economy class.


Masih kurang setengah jam lagi aku dan Nadine akan terbang ke Bali. Inilah yang aku tidak suka jika menaiki pesawat komersil, aku harus menunggu lama sedangkan aku adalah orang yang tidak sabaran. Menunggu 30 menit rasanya seperti 3 hari saja.


Bepergian dengan jet pribadi lebih enak karena aku bisa mengatur jam keberangkatan sesuai permintaanku. Tidak perlu lumutan untuk menunggu. Kalau saja tidak sedang menyamar menjadi orang biasa, sudah dari tadi aku menggunakan privilege ku.


Melirik samping kiriku, aku mendapati Nadine sedang memegang pigura foto keluarganya. Dalam foto itu terlihat ada dia, Ayahnya, dan Kakaknya berfoto di sebuah taman keluarga dengan pose tersenyum lebar.


Satu hal yang baru kusadari, di foto yang dipegang oleh Nadine itu..Ibunya tidak nampak. Hanya ada orang 3. Rasanya, aku juga tidak pernah mendengar Nadine membahas tentang ibunya. Tapi biarlah, mungkin dia mengalami hal yang sama denganku, memiliki histori buruk dengan sosok ibu.


Nadine sepertinya rindu sekali dengan Ayah dan Kakaknya, sampai berkali-kali aku perhatikan..foto itu dielusnya terus menerus. Padahal sebelum mengurus surat resign ke kantornya tadi, aku sudah mengantarnya lagi ke pemakaman Ayahnya.


Dia membeli 3 buket besar Bunga Lily Putih dari toko bunga kemarin untuk ditaruh diatas nisan ayahnya. Tapi ternyata itu semua tidak cukup menghapuskan kegundahan di hatinya.

__ADS_1


Berbeda denganku. Aku tidak pernah merasa rindu dengan keluargaku. Kenangan yang indah juga tidak punya. Bahkan saat ada acara foto bersama keluarga, aku tidak pernah ikut serta. Aku lebih memilih untuk menyendiri dan mengurus pekerjaan.


Masa laluku dengan ibu kandungku dan ayah tiri membuatku trauma untuk memiliki keterikatan dengan seseorang, apalagi keluarga. Aku sudah terlalu sering tersakiti dan kehilangan, lebih baik tidak berharap banyak....


__ADS_2