Favorite Sin

Favorite Sin
VALERIE IS COMING


__ADS_3

AUTHOR POV


"Berdiri kamu, ngapain duduk disitu!!" Adrian berteriak pada Valerie yang sedang menenangkan bayinya.


Tangisan bayi perempuan itu semakin kencang tatkala mendengar suara bentakan yang keluar dari mulut Adrian, membuat Valerie langsung terperanjat berdiri.


"Adrian..." lirih Valerie.


Mama Diana berjalan kearah Adrian dan memegang telapak tangannya memohon.


"Adrian..Mama minta kamu tenang dulu nak! Disini ada bayi..tolong jangan teriak-teriak, nanti tangisannya semakin kencang.."


"Itu bukan urusanku Mah! Mau bayi dia menangis atau enggak..aku enggak perduli! Yang jadi pertanyaanku, kenapa dia bisa ada disini?!!"


"Kita bisa bicarakan ini baik-baik Adrian, beri aku waktu sebentar untuk menenangkan anakku," bujuk Valerie.


"Sayangnya saya tidak punya banyak waktu! Singkirkan bayi itu dari hadapan saya sekarang juga, lalu kita bicara!" perintah Adrian.


Mama Diana memanggil salah satu pelayan di rumah dan memintanya untuk membawa bayi Valerie untuk naik ke lantai 2. Tidak baik apabila bayi itu mendengar pertengkaran orang dewasa meski secara logika, bayi itu belum tahu apa-apa.


Sedangkan Nadine, dia tak bereaksi apa-apa dan membiarkan hal ini menjadi urusan keluarga Adrian saja. Nadine tak berhak ikut campur karena dia tidak memiliki kapasitas apapun untuk bersuara. Pikir Nadine, nanti dengan sendirinya dia akan tahu masalah apa yang timbul diantara mereka.


"Tolong kerja samanya sebentar Valerie, biar Bibi membawa anakmu keatas untuk sementara waktu. Beliau sanggup untuk mengurus bayi kok...percayalah!!"


Valerie sedikit ragu, tapi dia tak punya banyak pilihan. Karena sudah terlanjur kepalang tanggung bertemu Adrian disini, dia harus berbicara dengannya sekalian.


Dengan terpaksa Valerie menyerahkan gendongan bayinya pada sang pelayan beserta sebotol susu asi dan tas perlengkapan bayi, jika sewaktu-waktu dibutuhkan.


"Sekarang katakan, bagaimana bisa kamu ada di rumah orang tua saya? Masih berani juga ternyata untuk menunjukkan muka di hadapan saya dan keluarga?!"


"Apa kamu tidak tahu malu datang kemari seolah-olah semuanya baik-baik saja? Tidak ingat dengan apa yang sudah kamu perbuat pada keluarga saya? Jangan kamu pikir kami lupa! Semua pengkhianatan itu masih membekas di otak saya!"


Adrian gencar menyindir Valerie dengan ucapan-ucapannya yang menyelekit.


"Maaf karena aku udah lancang datang kemari. Dan maaf unt---"


"BASI!! Permintaan maafmu sudah kedaluwarsa, saya tak butuh itu. Jawab pertanyaan saya tadi..JAWAB!!!" Adrian semakin meninggikan volume suaranya.


"A--ak-ku datang kesini untuk meminjam uang," ucap Valerie pelan.


"Tolong ulangi sekali lagi? Meminjam uang?" Adrian tertawa mengejek.

__ADS_1


"Iy--iya.. meminjam uang.." Valerie tertunduk lesu.


"Rumah orang tua saya bukanlah bank, pegadaian, atau tempat peminjaman uang berbunga..kamu salah sasaran datang kesini!! Lagipula, untuk apa kamu pinjam uang? Hasil rampasanmu sudah habis makanya kamu datang?"


Mama Diana masih memegangi tangan Adrian dan menahannya agar emosi Adrian tidak meletup-letup. Namun hal itu diabaikan oleh Adrian sendiri, ia terlanjur marah sehingga pegangan tangan Mama Diana dihempaskan kasar.


"Aku butuh uang, Adrian. Kamu lihat sendiri kan tadi, aku punya anak sekarang. Aku butuh uang untuk membiayai hidup anakku. Bayi kecilku membutuhkan kehidupan yang layak. Semenjak aku keluar dari penjara, aku sulit untuk mendapatkan pekerjaan.."


"Itulah resiko dari orang yang habis berbuat kriminal seperti kamu, tidak akan tempat bagi penjahat kelas kakap. Terimalah konsekuensinya!"


"Tapi anakku enggak bersalah Adrian, maka dari itu aku merendahkan harga diriku untuk meminjam uang pada keluargamu. Kalau bukan demi bayiku...aku enggak mungkin muncul lagi dihadapan kalian semua sesuai janji diawal!" Valerie pasrah.


"Anakmu memang tidak salah. Yang salah itu, dia terlahir dari rahim perempuan sepertimu! Sudah tahu secara finansial tidak mumpuni untuk merawat dan membesarkan seorang bayi, tapi kenapa dia dihadirkan ke dunia? Dimana pria yang menanam benih padamu? Tak bisakah dia bertanggung jawab??"


"Di-dia meninggalkanku. Aku sudah mencoba untuk jauh-jauh datang ke Turin menemuinya, tapi hasilnya nihil. Dia tak menganggap kehadiranku dan bayi kami..."


Pernyataan Valerie barusan seolah mengingatkan Adrian pada memori pertemuannya dengan Valerie di Bandara Turin. Jadi ternyata ini alasannya, Valerie berada di Italia untuk meminta pertanggungjawaban kepada ayah dari bayinya.


"Huhh...ini trik murahan kamu saja kan, datang-datang membawa bayi..supaya kami luluh begitu...supaya Mama saya mengasihani kamu? Lucu sekali," Adrian tertawa jahat.


Valerie menangis tersedu-sedu, "Ak---aku enggak punya pilihan lain selain datang kemari.."


"Adrian tolong...aku minta maaf atas apa yang pernah ku perbuat dulu, aku sangat menyesal!" Valerie duduk bersimpuh dihadapan Adrian dan memohon belas kasihan padanya.


"Sungguh aku menyesal..tidak seharusnya aku mengusikmu...memisahkanmu dengan Naomi.."


"Naomi? Siapa lagi Naomi?" Nadine bergumam dalam hatinya.


Masalah dengan Valerie belum sepenuhnya selesai, sekarang muncul lagi nama Naomi.


"Berhenti menyebut nama itu lagi didepanku! Pergi kamu, segera berdiri dan angkat kaki dari rumah ini sebelum aku melakukan tindakan diluar batas!"


"Adrian..yang tenang dulu, kita duduk dulu bersama ya..bicarakan ini secara kekeluargaan," pinta Mama Diana.


Hatinya yang terlalu lembut membuat Mama Diana cepat luluh terhadap orang lain, sekalipun kesalahan orang tersebut sudah fatal dan tak pantas dimaafkan.


"Mama jangan menghalangiku...atau aku tidak akan pernah bertemu dengan Mama lagi!! Usir dia.." Adrian mengancam.


"Adrian.." ucap Mama Diana pelan.


Dia semakin tak tega dibuatnya, apalagi melihat Valerie sedang kesusahan dan luntang-lantung membawa bayinya yang masih merah.

__ADS_1


"Sekali aku dengar Mama membelanya, aku tak yakin bisa memaafkan Mama.."


DEGHHH....


Tubuh Mama Diana bergetar ketakutan. Kalau sudah begini, beliau tak bisa berbuat apa-apa. Ketika Adrian sudah berkehendak, maka akan sangat sulit untuk dibantah.


"Bi...Bibi..turun!!!" Adrian berteriak memanggil sang pelayan yang tadi ditugasi untuk menjaga anak Valerie.


Adrian berjalan cepat keluar dan memanggil dua security untuk menggeret paksa Valerie keluar dari rumah.


"Bisakah kamu tidak kasar Adrian..perempuan itu sedang membawa bayi digendongnya. Kalau dia terdorong dan jatuh bagaimana?" Nadine ikut geram melihat perlakuan kasar Adrian.


Tadinya ia ingin diam saja, tapi melihat pemandangan didepannya yang tidak mengenakkan..Nadine jadi tergerak untuk bersuara.


Adrian hanya melirik Nadine tajam dan tak berkomentar apa-apa. Dia tidak perduli dengan omongan Nadine ataupun Mamanya. Yang dia mau, perempuan pengkhianat bernama Valerie ini segera melangkahkan kakinya jauh-jauh pergi.


"Bawa dua orang ini keluar... sekarang juga!! Dan kamu Valerie, sekali lagi saya lihat kamu muncul didepan muka saya atupun keluarga, habis kamu sama saya! Stop menguji kesabaranku sebelum kamu menyesalinya lebih dalam!" titah Adrian pada Valerie.


Suara Adrian cukup menggelegar sehingga menarik perhatian para pelayan dan karyawan yang diam-diam bersembunyi mengintip drama yang terjadi.


Ketika Valerie pergi tanpa diberi kesempatan untuk mengatakan sepatah kata apapun, Adrian kini menoleh pada Mamanya.


"Aku kecewa sama Mama, kenapa Mama masih memberinya izin untuk masuk? Dia itu pengkhianat Mah..dia sudah menghancurkan aku! Dia memanipulasi hidupku, mencelakakan diriku dan Arjuna..lalu dia memisah--" Adrian menjeda ucapannya.


"Arghhh......lupakan!"


Dengan langkah kakinya yang panjang, Adrian beranjak pergi dari kediaman orang tuanya, meninggalkan Nadine dan Mama Diana yang masih diam membeku di tempat.


Amarahnya memuncak. Emosinya sudah tinggi di ubun-ubun. Pikirannya tak karuan dan tersesat. Kembalinya orang dari masa lalu, seolah mengorek luka lama Adrian yang sudah dikubur olehnya dalam-dalam.


Mood Adrian benar-benar hancur. Dia melajukan mobil Audi R8 miliknya dengan kecepatan tinggi dan keluar dari gerbang mansion mewah ini.


"Mah...ini sebenarnya ada apa? Kenapa Adrian begitu marah melihat Valerie?" tanya Nadine penasaran.


"Kita masuk dulu ya...Mama akan jelaskan sama kamu didalam."


Raut wajah Mama Diana tidak bisa dibohongi. Dia cukup khawatir dan cemas karena Adrian pergi dalam kondisi yang marah dan tidak stabil. Takut-takut, Adrian melakukan hal berbahaya yang dapat membuat nyawanya terancam. Disamping itu, kondisi mental Adrian belum sepenuhnya sembuh.


***


Mohon kesediaannya untuk teman-teman agar memberi like, vote dan hadiah ya teman-teman..agar author lebih semangat dalam berkarya 😊 Terima kasih.

__ADS_1


__ADS_2