
...NADINE...
"I love you..." ucap Adrian.
3 kata yang dengan ajaibnya dapat mengobrak-abrik perasaanku dalam sekejap saja.
Pertahananku seketika runtuh saat itu juga. Bulu tengkuk leherku meremang mendengar Adrian mengucapkan kata-kata cinta. Dunia seakan berhenti berputar untuk sesaat. Serasa pusat kehidupanku berporos pada Adrian. Hanya Adrian.
That 8 letters.
Aku selalu ingin mendengar untaian kalimat indah tersebut untuk keluar dari mulut Adrian. Dan sekarang aku mendapatkannya. Apakah ini jawaban atas segala doa dan keluh kesahku pada Tuhan? Atau ini hanyalah khayalan semata?
Karena penasaran, aku ingin bertanya lebih lanjut padanya. "Are you sure?"
Adrian balas mengangguk. "Yes, I am. One hundred percent sure."
Aku menutup mulutku dengan kedua tangan tak percaya. "Since when?" tanyaku hati-hati.
Selama ini Adrian tidak pernah memberikan secuil clue yang menunjukkan bahwa dia menaruh hati padaku. Aku selalu berpikir jika perlakuan manis yang kudapatkan dari Adrian itu semata-mata untuk formalitas saja.
Dia hanya ingin melanjutkan pernikahan kami yang sudah kepalang tanggung terjadi. Apalagi sekarang aku tengah mengandung calon pewaris Adrian Corps.
Adrian terkekeh menundukkan kepalanya. "Tidak tahu kapan pastinya. Bisa saja saat setelah aku pulang dari Rio, atau mungkin ketika kita menghabiskan waktu berdua di LA. I don't know!" Adrian mengedikkan bahunya dan menatapku serius.
"Tapi satu hal yang aku tahu pasti, Nadine. Yaitu fakta bahwa aku mencintai kamu. Dan aku tidak ingin membiarkanmu pergi dari sisiku. Aku akan mengurungmu dalam sangkar kehidupanku yang akan kukunci dengan rapat-rapat sehingga kamu tak bisa lari lagi," ungkap Adrian tulus. Aku bisa menemukan kejujuran itu pada kedua pupilnya.
"Hal apa yang membuat kamu jatuh cinta padaku?" aku ingin mendengar point of view Adrian tentangku.
"Everything. Semua yang ada pada dirimu membuat aku semakin jatuh ke pelukanmu lebih dalam. Cara kamu menyayangi dan mencintaiku tanpa syarat, cara kamu yang mau bersabar menghadapi tantrum dan sifat temperamenku. I love them all," balas Adrian tanpa keraguan.
__ADS_1
"Saat aku bersikap dingin dan acuh, kamu tetap setia menemaniku. Bahkan saat hidup kamu dalam bahaya sekalipun, hati kamu tidak goyah untuk pergi meninggalkanku. Hanya kamu Nadine, yang mau bertahan menghadapi pria aneh sepertiku," sambung Adrian lagi seraya menyentuh pelipisku dengan punggung tangannya.
"Dan setelah semua hal yang kita lewati bersama, rasanya aku adalah orang yang bodoh jika aku tidak membalas perasaan kamu. Bodoh bila aku menyia-nyiakan kesempatan untuk belajar menerima kamu dalam hidupku. Ditambah lagi sekarang kita akan ketambahan anggota keluarga baru."
Mulutku masih menganga lebar dengan sendirinya. Aku belum pulih dari keterkejutan ini. "Akk--akuu...aku enggak tahu harus berkata apa! Aku bingung..ini semua benar-benar mendadak...ak--"
"Shhht..tidak perlu menyahutinya kalau bingung." Adrian menangkup sisi wajahku. "Kita nikmati prosesnya sama-sama."
Pandangan Adrian beralih menuju kebawah. Kemudian ia berjongkok mensejajarkan tubuhnya menghadap perut buncitku, memberikan kecupan sekilas.
"Hai baby...daddy is here! Daddy janji untuk selalu mencintai kalian tanpa batas. Selama Daddy masih hidup, Daddy akan pastikan kalian mendapatkan kebahagiaan yang berlimpah." Adrian berbisik seolah-olah mengajak bayi-bayi kami berbicara.
Hatiku terenyuh mendengarnya. Adrian menepati janjinya untuk berubah menjadi pribadi yang lebih baik. Serangkaian terapi serta konseling yang dilakukannya tidak sia-sia. Aku bangga melihat sosok Adrian yang terlihat bebas dan lepas sekarang.
"Awww...." aku meringis karena tiba-tiba merasakan tendangan yang begitu kuat dari dalam perut.
"Kamu kenapa?" Adrian panik sendiri lalu kembali berdiri sambil mengusap-usap perutku. "Ada yang sakit? Mana? Bilang sama aku..kita ke rumah sakit saja!"
Adrian mengulas senyuman tipis setelah aku berusaha menenangkannya. Dia lucu sekali kalau sedang panik. "God..I love you guys so much." Adrian berbisik sambil mengecup keningku lama.
"Aku benar-benar tidak bisa hidup tanpa kalian, Nadine. Aku ingin berterima kasih pada Tuhan karena kita telah dipertemukan. Meski dalam sirkumsisi yang kurang mengenakkan. Selepas ini, aku akan bakar kontrak pernikahan kita. Aku sudah tidak perduli lagi dengan itu."
Aku mengerucutkan bibirku menahan tangis. "I know right. Ini rasanya seperti tidak nyata. I feel like, this is too good to be true."
"It's real Nadine. What we have right now is real. This is not an illusion." Adrian menyatukan kedua kening kami.
Tiba-tiba saja, dalam hitungan detik Adrian merengkuh pinggangku. Bibir kami sudah bertaut. Saling menempel dan melumatt satu sama lain, entah siapa yang memulai lebih dahulu. Adrian menangkup pipiku sambil mencumbukuu dengan kasar seakan-akan tak ada hari esok.
Dengan sadarnya, Adrian menggiringku berjalan menuju sofa panjang berwarna cream sand yang terletak dalam kamar bayi kami. Aku duduk berada di pangkuan Adrian sekarang. Dia kembali mendaratkan kecupan-kecupannya pada ceruk leherku.
__ADS_1
"Aku menginginkanmu Nadine, hanya kamu," gumamnya di sela-sela kegiatan panas kami. "Kamu adalah milikku, dan aku ingin mengubur diriku dalam dirimu. You are mine."
"I'm yours." balasku pasrah. Aku juga menginginkan hal yang sama dengan Adrian saat ini.
Karena Adrian mulai tak sabaran, ia langsung membaringkanku di sofa yang sedang kami diduduki tanpa melepaskan ciumann kami. Tangan Adrian bergerak meraba pahaku kemudian menyelip masuk kedalam dress yang kukenakan.
Suara lenguhan keluar dari mulutku tanpa permisi ketika aentuhan lembut dari tangan Adrian membelai pahaku bagian dalam. Membuat gairahh diantara kami semakin membara serta membawaku hanyut terlena.
Kini ciumann Adrian mulai turun menyusuri leher jenjangku. Sensasi yang kurasakan begitu nikmat. Bibir Adrian bergerak untuk menciumm dan menghisapnya secara kuat. Dia memberikanku gigitan kecil disana sehingga aku tak kuasa untuk mengerang. Sontak saja, aku meremass kuat rambut lebat Adrian.
"Milikku dan hanya milikku," gumamnya pelan seraya tetap menciumiku pada spot yang kerap membuatku lemah.
Adrian menurunkan tali dress-ku, lalu melepas kaitan dari penutup gunung kembar milikku kemudian merematnya sedikit. Aku pun membalas dengan erangan manja sambil memejamkan mata.
Aku membuka kancing kemeja Adrian bagian atas dan menariknya secara brutal. Meski ujung-ujungnya belum sepenuhnya terlepas. Aku tidak mau kalah dan bersifat pasif. Hormon kehamilan membuatku tergerak untuk melakukan yang lebih dan membalas tindak-tanduk suamiku.
"Adrian.." nafasku terengah-engah kala jari jemari Adrian mulai bermain pada lembah surgawiku.
Tanpa tahu malu, aku sempat meneriakkan namanya keras. Semoga saja orang-orang diluar sana tidak mendengar kami.
Adrian benar-benar tak memberikanku ampun. Bertubi-tubi ia memainkan lidahnya dalam mulutku hingga aku bungkam. Dalam hitungan menit saja, tubuhku tak lagi mengenakan busana karena kain penutup segitigaku baru saja dihempaskan manja oleh Adrian.
"Kamu suka ini, Nadine?" Adrian menggodaku. "Teriakkan namaku dengan kencang...supaya aku tahu kalau kamu menikmatinya."
Aku tak merespon karena terlanjur terbuai dalam pesona tampan pria kekar dihadapanku ini. "Arghh..."
Adrian menyunggingkan senyuman menyeringai di sudut bibirnya. Licik sekali dia memancingku.
"Adrian we need to stop this..jangan lakukan itu disini! Ini kan kamar bayi-bayi kita..I don't think it's the right thing to do..."
__ADS_1
***