
...ADRIAN...
Hari ini aku akan mengunjungi kediaman orang tuaku. Sesuai janjiku dengan adik-adik sebelumnya, bahwa aku akan menghabiskan waktu weekend ini bersama mereka.
Sebenarnya aku masih kesal dengan Fiona karena ucapannya kemarin, tapi mau bagaimana lagi..aku sudah terlanjur janji, dengan terpaksa harus tetap datang kesana. Ingat, lelaki itu yang dipegang omongannya!
Kalau dipikir-pikir, sudah lama juga aku tidak ke rumah Papa dan Mama, terakhir kali ketemu sekitar 3 bulan yang lalu di acara ulang tahun Perusahaan Natadipura Group.
Meskipun jarang bertemu, mama hampir tidak pernah absen menelponku setiap hari. Mama sangat aktif menanyakan bagaimana kabarku, apa aku sudah makan, apa aku sehat. Mungkin bagi mama, aku ini seperti Arjuna atau Arga yang masih suka dimanja.
Sebenarnya aku tidak begitu suka dengan acara kumpul-kumpul keluarga. Saat ada acara penting digelar seperti pesta ulang tahun, pesta peresmian, lamaran, nikahan saudara, dll..aku hampir tidak pernah datang. Alasannya simple, yaitu karena aku tidak suka dengan keramaian.
Aku sangat terganggu dan suka pusing melihat banyak orang. Kalau datang pun, mereka pasti akan langsung mencecarku dengan pertanyaan 'Kapan menikah?', menyebalkan bukan?
Padahal aku selalu tegaskan pada mereka berkali-kali, bahwa aku tidak akan pernah menikah dan tidak ingin memiliki keturunan. Apa mereka tidak mengerti bahasa? Belum lagi tamu-tamu yang ikut hadir suka kecentilan dan cari perhatian, membuatku merasa tidak nyaman.
Disaat punya waktu senggang, aku lebih suka menghabiskannya sendirian. Seperti bermain panahan, berkuda, boxing, atau main sepak bola. Hal itu lebih mengasyikkan daripada menghadiri pesta-pesta atau perayaan mewah yang tidak berguna.
Belum lama ini aku juga sengaja mempelajari berbagai macam alat musik. Drum dan Piano adalah contohnya. Agak random sih..tapi entah kenapa aku ingin saja. Saking niatnya aku sampai mengikuti kursus online...
Saat tengah memarkiran mobilku di halaman rumah, dari kaca jendela mobil aku bisa melihat kalau mama dan papa sudah menungguku di teras. Sepertinya mereka memang tidak sabar bertemu denganku, sampai bela-belain berdiri di teras.
"Hi, Adrian sayang...anak Mama yang ganteng akhirnya datang!" Mama langsung berlari memelukku yang baru saja selangkah keluar dari mobil.
"Halo Mah, apa kabar?" jawabku sambil membalas pelukan Mama dan mengecup pipinya.
"Mama dan Papa disini baik-baik kok, Mama seneng akhirnya kamu datang berkunjung. Udah lama kita gak ketemu, Mama jadi kangen." Kalau sudah begini, Mama akan mulai ber-drama ria sambil menitikkan air matanya. Namanya juga wanita, apalagi seorang ibu..gampang emosional dan menangis kalau lagi terharu.
Melihat Mama yang mulai menangis, Papa pun ikut-ikutan datang menghampiri kami. Tapi malah Mama semakin mengeratkan pelukannya padaku, seolah-olah tidak ingin melepasnya.
"Akhirnya kamu ingat juga sama rumah Papa dan Mama! Papa pikir kamu udah melupakan dua orang dewasa yang sudah tua ini" ucap Papa yang menyindirku secara halus.
"Halo Pah?! Maaf Adrian baru bisa datang sekarang...kemarin-kemarin aku lagi sibuk." Aku membalas ucapan Papa dengan senyuman tipis.
__ADS_1
"Lagi-lagi kerjaan! Padahal kamu ini udah sukses, udah punya segalanya...sesekali istirahat dong nak, jangan diforsir terus. Hidup cuman sekali, dinikmatin! Jangan kerja..kerja..kerja terus!" Papa menasehatiku.
"Kan aku habis dari Spanyol kemarin, itu udah termasuk liburan buat aku Pah" jawabku santai.
Papa yang terlihat belum puas dengan jawabanku akhirnya menyerangku lagi, "Kayak gitu dibilang liburan! Jangan bohong deh, papa tahu kamu kesana itu bukan liburan..tapi memantau perkembangan proyek pembangunan hotel terbaru kamu itu kan!"
Beginilah gambaran yang terjadi kalau aku pulang, papa langsung mengeluarkan nasehat-nasehat mautnya.
"Sama aja Pah..apapun itu, yang penting aku udah jalan-jalan! Lagian disana aku menghadiri pesta pernikahan temen kuliahku pas di London, dia menyewa resort bagus di Barcelona" jelasku panjang lebar pada Papa.
"Kalau kamu sendiri, kapan nikahnya?"
DEGHHHHH.....
Aku tersentak kaget mendengar pertanyaan Papa itu. Tak hanya aku, rupanya Mama juga ikut-ikutan terkejut. Aku melihat Mama menepuk lengan Papa dengan kasar seperti mengisyaratkan sesuatu.
Ketegangan antara aku dan Papa mulai terasa, suasana yang tadinya hangat menjadi mencekam. Aku memang sangat sensitif kalau mendengar topik pernikahan. Andai saja manusia tidak perlu menikah di dunia ini, pasti hidupku akan tenang.
Mama yang menyadari sikap gelagat aneh-ku mulai mencoba untuk mencairkan suasana dan mengalihkan topik pembicaraan. "Papa ini ngomong apa sih! Anak baru pulang udah ditanya-tanyain soal itu..biarin Adrian masuk dulu."
"Papa minta maaf ya kalau perkataan papa menyinggung perasaan kamu. Papa tidak bermaksud buruk Adrian, hanya saja..Papa ingin sekali melihat kamu bahagia. Menikah dengan orang yang kamu cintai, memiliki anak...rumah Papa dan Mama pasti ramai karena kehadiran cucu."
Aku bisa melihat ketulusan Papa yang terlihat jelas dari sorot matanya. Tapi tetap saja, aku tidak bisa mengabulkan permintaannya yang satu itu.
"Ya udah kita masuk dulu deh, kok malah berlama-lama diluar gini! Hari ini Mama masakin kamu makanan spesial untuk menyambut kedatanganmu di rumah. Ayo sayang.."
Mama menggandeng tanganku dan melewati papa begitu saja. Papa hanya bisa menggeleng-gelengkan kepalanya melihat mama yang menarik lenganku dengan cepat.
Betapa beruntungnya aku memiliki kedua orang tua yang menyayangiku apa adanya, walaupun aslinya kami tidak begitu dekat. Dari kecil, mereka berdua selalu berusaha memenuhi semua kebutuhan dan keinginanku. Walaupun aku lebih suka melakukan semuanya sendiri tanpa campur tangan mereka. Ketika mereka menawarkan bantuan, seringkali aku menolaknya secara mentah-mentah.
Bukan salah mereka aku menjadi pribadi yang seperti ini. Memang akunya sendiri yang menarik diriku jauh-jauh dari keluarga. Aku sudah pernah dikecewakan oleh masa lalu yang masih meninggalkan luka yang membekas.
Trauma atas kejadian yang menimpaku 20 tahun lalu masih saja menghantui tidurku tiap malam. Maka dari itu, untuk mencegah hal yang sama terulang di kemudian hari..aku sengaja membatasi diri dengan tidak ingin terikat pada siapapun. Hidup independen dan tidak tergantung pada siapapun lebih enak.
__ADS_1
Mungkin ini terdengar aneh dan kalian akan mengira bahwa aku adalah anak yang tidak tahu diri. Sudah diberi perhatian dan kasih sayang berlebih, tapi aku masih saja bersikap apatis. Itu fakta sih...tapi aku juga tidak seburuk yang kalian pikir. Aku masih sayang pada kedua orang tua dan adik-adikku, dengan caraku sendiri.
Aku bukanlah anak yang terlahir dari rahim Mama Diana. Tapi entah kenapa, mama sangat sayang padaku. Bahkan rasa sayangnya padaku melebihi rasa sayangnya pada adik-adikku, anak kandungnya sendiri.
Kenyataan bahwa Mama Diana hanyalah mama sambung-ku, tidak menghentikan langkahnya untuk menghujaniku dengan segenap kasih sayang dan cinta.
Terkadang aku berpikir, apakah Mama tulus padaku atau hanya merasa kasihan dengan masa laluku? Seorang anak yang disia-siakan oleh ibu kandungnya.
Tapi satu yang pasti, Mama Diana bukanlah ibu tiri yang seringkali dideskripsikan oleh orang-orang diluar sana sebagai orang yang kejam dan tidak berperikemanusiaan. Bohong kalau aku berkata aku tidak bisa merasakan ketulusan darinya.
Setelah memasuki ruang tengah, Mama berteriak memanggil adik-adikku yang masih berada di lantai dua untuk turun kebawah.
"Arjuna, Arga, Athena, Fiona..turun sayang, ini Kak Ian datang!" teriak mama. Beginilah kondisinya kalau punya anak banyak, jadi ribet sendiri manggil satu-satu. Untungnya aku tidak akan memiliki keturunan di masa depan.
"Iya ma..bentar ini kita turun!" sahut Arga.
Satu persatu, adik-adikku mulai terlihat turun dari tangga. Mereka berlarian dan langsung menyerbuku dengan pelukan yang erat sambil bergelantungan manja digendongan tubuhku.
"Aduh..lepasin! Kalian bertiga ini berat-berat, kakak jadi susah nafas!"
"Sorry kak, kita terlalu excited pas tahu kakak datang...ternyata Kak Ian nepatin janjinya kemarin.." ucap Arga.
"Emang kapan kakak pernah ingkar janji? Ini kakak bawa oleh-oleh dari Barcelona, kemarin pas kalian ke rumah kakak lupa kasih karena belum sempat buka-buka koper." Aku memberikan mereka oleh-oleh yang sudah aku siapkan dari rumah.
"Makasih, Kak Ian!!" adik-adikku menjawab dengan serempak.
"Sayang, kamu enggak apa-apa kan? Omongan papa yang tadi jangan didengarkan ya..papa dan mama tetap akan sayang kamu apapun yang terjadi."
Secara tiba-tiba Mama muncul di belakangku. Mama cukup peka melihat ketegangan di wajahku sedari tadi karena pembicaraanku dengan Papa di halaman rumah. Bahkan tanganku saja masih keringat dingin sampai sekarang.
"I'm fine ma, no need to worry!"
(Aku baik-baik saja ma, tidak perlu khawatir)
__ADS_1
Dengan setengah percaya tidak percaya, mama menganggukkan kepalanya dan mengelus lenganku secara pelan.
Saat Mama dan adik-adik sedang asyik membuka oleh-oleh pemberianku di ruang tengah, aku merasa ada sesuatu yang janggal. Ahh...satu adik perempuanku, Fiona! Aku baru sadar tidak melihatnya sejak tadi. Dimana anak itu?