
...ADRIAN...
Pernahkah kamu begitu mencintai seseorang sehingga setiap kali kamu memandangnya, sepotong hatimu akan membengkak dengan sukacita hanya karena hadirnya ia dalam dunia yang penuh panggung sandiwara ini?
Itulah yang saat ini aku rasakan.
Kutatap dengan lekat kedua buah hatiku yang masih terbaring lemah di ruang NICU bersama dengan Nadine yang sedang duduk diatas kursi roda saat ini. Jarak diantara kami dipisahkan oleh dinding kaca pembatas. Netraku dan Nadine sama-sama terpaku dengan keindahan serta keajaiban tepat didepan mata.
Sudah 3 hari lamanya Nadine dirawat di rumah sakit ini. Begitupun juga dengan anak-anakku. Dokter bilang, kondisi mereka semakin hari semakin membaik. Hanya saja belum diperbolehkan untuk pulang karena daya tahan tubuhnya masih lemah.
Melihat buah cintaku dengan Nadine, rasa bahagia ini luar biasa membuncah begitu hebatnya. Seperti melihat matahari yang begitu menyilaukan, menggetarkan, namun menyinari seisi sanubari hati. Aku larut dalam kekaguman yang tiada henti ketika menyadari bahwa dua bayi kecil ini adalah milikku.
Ya, milikku. Dua putraku, sekaligus dua kebangganku.
Jika beberapa bulan yang lalu kalian berkata bahwa aku akan bahagia ketika menikah dan memiliki anak, mungkin aku akan tertawa terbahak-bahak akan lelucon yang kalian buat itu.
But now, everything has changed. My life has changed.
Aku bahagia dengan pernikahan yang sedang kujalani. I feel blessed and loved. Aku bahagia memiliki Nadine. Aku juga bahagia karena status seorang ayah resmi disematkan padaku sekarang.
Tak bisa aku bayangkan betapa kacaunya hidupku tanpa Nadine. She's a blessing in a disguise. My woman, and also my favorite sin.
"Have you thought about their names?" Nadine menengadahkan kepalanya menghadap belakang untuk menolehku.
"I did." jawabku singkat.
"Sejak kapan? Kamu kok enggak pernah merundingkannya denganku?" Nadine pura-pura memasang wajah kesalnya yang bagiku terlihat menggemaskan.
Kucubit pipi gembul Nadine perlahan. "It's spontaneous. Aku baru menemukan nama yang cocok untuk mereka kemarin persis. Sebelumnya kita berdua sama-sama tidak mengetahui jenis kelamin mereka kan? Jadi aku membuatnya pun dadakan."
"Jadi kamu asal-asalan nih cari nama buat anak-anak kita, dari modal searching di laman internet?"
"Ya tidaklah Nadine. Asal kamu tahu saja, aku itu bela-belain beli banyak buku khusus untuk nama-nama bayi. Bagaimana bisa kamu bilang aku ini asal-asalan kasih nama. Enak saja!" ungkapku kesal.
__ADS_1
"Aku bercanda sayang...emosi mulu sih kamu!"
"Kamunya selalu mancing-mancing duluan. Sudah tahu aku ini temper dan tidak sabaran, masih aja..."
Bukan Nadine namanya kalau dia tidak menguji kesabaranku setiap jam, menit, dan detik. Untungnya aku cinta.
"So tell me the names..aku penasaran!" Nadine mengerjap-ngerjapkan bulu matanya dan tersenyum manis padaku.
Tanpa sadar aku terbuai dengan senyuman indah istriku itu sehingga aku mendadak bungkam, tak merespon pertanyaannya. Pupil mata yang berwana hazel-brown milik wanita didepanku ini selalu saja berbinar-binar kala aku mengajaknya berinteraksi.
Bagaimana bisa aku tidak semakin jatuh cinta padanya?
"Hei..kamu kok diam aja? Ayo jawab! Katakan, siapa nama anak kita?" Nadine menggoyang-goyangkan tanganku maju mundur, mendesakku untuk mengatakannya.
"Serius kamu mau dengar? Kamu tidak masalah jika aku yang memberikan nama untuk kedua anak kita?"
Aku ingin memastikannya terlebih dahulu apakah Nadine keberatan atau tidak jika aku yang memberi nama pada buah cinta kami. Sebab selama ini Nadine begitu excited dan terobsesi untuk menamai anak kami. Setiap pillowtalk sebelum tidur, Nadine akan mengoceh sepanjang malam membicarakan tentang nama anak.
Nadine tampak berpikir sejenak sambil mengetukkan jari-jemarinya pada dagu. "Hmmm, awalnya kesal sih karena kamu yang kasih nama. Padahal kan selama ini aku yang mengandung mereka selama 7 bulan lamanya. Aku juga yang susah payah menghadirkan mereka ke dunia ini. Kamu aja dulu enggak mau menerima kehad--"
"I'm sorry okay...I was joking.." Nadine merapatkan bibir atas dan bawahnya rapat-rapat.
"But it's not funny." refleks aku menampilkan ekspresi yang datar.
Nadine memutar bola matanya malas. "Okay..okay..just let it go! Untuk nama anak kita kali ini aku akan approved. Kamu boleh kasih nama untuk mereka, karena aku sendiri juga belum kepikiran nama yang pas sekarang. But next kalau kita punya anak lagi, aku yang akan kasih namanya."
Sontak mataku terbelalak kaget mendengar pernyataannya barusan. Punya anak lagi? Tidak salah? Yang dua ini saja baru lahir dan bahkan belum bisa pulang ke rumah, namun istriku ini sudah membahas ingin punya momongan lagi.
"Tunggu dulu..apa yang membuat kamu berpikir kalau kita akan punya anak lagi? No Nadine, dua sudah lebih dari cukup. Setelah ini kamu harus ikut program birth control." aku tak setuju dan menolak mentah-mentah ajakannya untuk punya anak lagi.
"Tapi kan kita belum punya anak perempuan sayang, I want a daughter." rengeknya dengan nada manja.
Nadine tahu sekali titik kelemahanku. Hanya dia, dia seorang yang permintaannya selalu aku turuti dan tak bisa kutolak. Aneh bukan! Memang itu faktanya.
__ADS_1
Aku mengajaknya bernegosiasi, "Two is more than enough. Aku tidak mau lagi ya tersiksa melihat penderitaan kamu yang berjuang antara hidup dan mati saat melahirkan. Sudah cukup Nadine yang kemarin! Dua itu sudah banyak."
"Ishh..Mama Diana aja anaknya 4 lho, beliau kuat-kuat aja tuh! Aku juga harusnya bisa dong?!" sanggahnya.
"Tubuh setiap wanita itu berbeda-beda Nadine. Jangan samakan kamu dengan Mama. Jelas tidak sama! Lagian kamu ini bukan kucing yang suka produksi banyak anak. Dua sajalah!" aku mendebat balik.
"Kita bisa bicarakan itu lagi nanti okay?! Aku tahu kamu sedang marah dan emosi kamu tidak stabil. Jadi percuma kalau diajak bicara, aku tunggu sampai kamu tenang dulu." cerocos Nadine tanpa memberikanku kesempatan untuk menyahutinya.
Sebelum aku kembali memotong ucapannya Nadine berkata, "Sekarang ayo bilang, nama mereka siapa?"
Keheningan menggantung sejenak diantara kami. Tak ada sepatah kata apapun yang keluar dari mulut. Aku kemudian berjongkok untuk menyetarakan tubuhku setinggi kursi roda Nadine.
"Aku akan menamai si kakak dengan Kylian Ranggani Natadipura. Yang artinya, seorang prajurit dari keluarga Natadipura yang dianugerahi kecerdasan serta mendapat berkah dari Tuhan."
"What a beautiful name." Nadine mengusap lembut sisi wajah kiriku. "Kalau untuk si adik, siapa namanya?"
"Malakai Jaladra Natadipura."
Nadine menarik sudut bibirnya keatas tanda bahagia. "Aku suka sekali nama itu. Apa arti dibaliknya?"
"Malaikat kecil yang mampu menyejukkan hati dan sebagai cahaya penerang di keluarga Natadipura."
Nadine menangkup pipiku kemudian memajukan wajahnya untuk menciumm bibirku sekilas. "So it's official then, Kylian and Malakai?" tanya Nadine sekali lagi untuk memastikan.
Kugapai kedua tangan Nadine yang berada diwajahku. "Kita bisa memanggil mereka dengan nama yang lebih singkat lagi kalau itu kepanjangan. Seperti panggilan kesayangan. Kamu ada saran?"
Nadine berdehem sembari sesekali menatap bayi-bayi kami dari balik kaca transparan ini. "Hm..bagaimana kalau Kylian jadi Kian, lalu Malakai akan dipersingkat menjadi Kai? It's Kian and Kai!" ucap Nadine antusias.
Aku pun mengangguk mengiyakannya. Nama lengkap anak kami keduanya aku yang memberi. Jadi aku tak ingin egois, sehingga aku juga melibatkan Nadine untuk membuat nama panggilan anak-anak kami.
"I like that...Kian and Kai. Our boys..."
***
__ADS_1