
AUTHOR POV
Adrian dan Nadine menikmati waktu santai sore mereka di taman belakang. Keduanya duduk bersama di gazebo, dengan posisi Adrian yang merangkul bahu Nadine dari samping. Tak lupa, Adrian turut mengelus perut buncit Nadine yang akhir-akhir ini, memang sering dilakukannya.
Arga dan Arjuna sudah pulang ke rumah sekitar satu jam yang lalu. Tadinya Nadine sempat menawari mereka untuk tetap tinggal sampai makan malam, namun mereka menolaknya. Katanya mereka mau pergi berkencan malam minggu ini.
Nadine mendongak kesamping menatap suaminya, "Adrian.."
"Hmm?" Adrian merespon dengan berdehem tanpa menoleh.
"Boleh enggak aku tanya sesuatu? Ada satu hal yang mengganjal dipikiranku dan itu membuatku penasaran." Nadine memainkan jari-jarinya dan membuat gerakan tulisan abstrak pada lutut kaki Adrian yang menjadi tumpuan lengannya.
Selama perbincangan Adrian dan adik-adiknya di ruang tamu tadi, Nadine tidak banyak berkomentar. Dia lebih memilih untuk diam dan sibuk menyimak pembahasan mereka. Maka dari itu, banyak pertanyaan yang tertinggal dalam pikirannya saat ini.
"Tanya apa?" respon Adrian.
Nadine menoleh sejenak sambil mengangkat jari kelingkingnya, "Tapi kamu janji dulu, jangan marah kalau aku tanya..."
"Tidak tahu, itu tergantung." Adrian mengedikkan kedua bahunya.
Nadine kini memiringkan badannya dengan cepat dan menghadap Adrian lurus. "Please..."
"Mau tanya apa sih?" Adrian mengalah.
"Itu lho..tentang pembahasanmu tadi sama adik-adik. Dari kesimpulan yang aku tangkap, kamu diminta untuk takeover perusahaan Natadipura Group. Pertanyaan aku, kenapa kamu tidak mau mengambil alih?"
__ADS_1
Adrian mengerutkan dahinya menatap Nadine penuh selidik.
"Maksud aku gini lho, dari semua perusahaan yang bisa kamu takeover, kenapa kamu terkesan enggan untuk mengurus Natadipura Group? Kamu sama sekali enggak tergiur untuk mengambil alih kepemimpinan disana. Padahal, biasanya kamu suka akuisisi perusahaan-perusahaan orang lain saat mereka terlilit hutang besar, diambang likudiasi atau sedang pailit." Nadine memperjelas semua pertanyaan yang bersarang dalam pikirannya.
"Saat ada kesempatan seperti ini datang, kenapa tidak diambil? Padahal usaha itu juga punya keluarga kamu sendiri! It's a good opportunity, isn't it?!" ungkap Nadine.
Adrian terkekeh pelan sambil menyisipkan anak rambut Nadine yang tertiup angin ke belakang telinga agar tidak menutupi mata indah istrinya itu yang selalu mampu memikat hati.
"Alasannya hanya satu. Karena aku memang tidak menginginkannya," jawab Adrian santai.
"Sebenarnya dari aku umur 20 tahun, Opa begitu gencar menawariku bergabung di Natadipura Group. Walau saat itu aku masih minim pengetahuan bisnis dan belum ada pengalaman, Opa selalu maksa. Sayangnya aku tidak sekalipun tertarik. Aku lebih memilih untuk merintis usahaku sendiri. Aku punya prinsip, ketika aku dewasa aku tidak akan mengambil harta warisan keluarga Natadipura sepeserpun."
"Bagiku, menikmati fasilitas pendidikan serta sandang pangan papan dari mereka sudah lebih dari cukup. Dan aku masih memegang teguh prinsip itu sampai detik ini. Makanya warisanku dari keluarga Natadipura aku serahkan semua ke adik- adik."
"Aku minta Arjuna & Arga untuk mengambil alih 55% aset Natadipura Group itu bukan tanpa alasan, aku hanya ingin mereka siap untuk terjun dalam dunia bisnis. Memahami betul bagaimana seluk belunya agar mereka menjadi businessman yang tahan banting. Diawali dengan tantangan, men-takeover Natadipura group sebagai permulaan. Berat pasti, tapi mereka harus dibiasakan."
"Tapi apa semua itu berjalan sesuai kehendak mereka?" tanya Nadine lagi.
"Aku tidak pernah nge-push mereka untuk terjun di bisnis, ortuku pun membebaskan mereka untuk memilih masa depannya sendiri. Tapi belakangan ini, aku tahu diam-diam Arga dan Arjuna punya bisnis sampingan. Pada akhirnya pilihan mereka jatuh ke bisnis juga kan? Jadi ya, sekalian saja setelah Papa resign, kedua adikku itu yang harus step up untuk takeover."
Nadine mengusap-usap dagu Adrian yang mulai dipenuhi dengan bulu-bulu yang agak lebat. Sepertinya suaminya itu harus melakukan cukuran, agar wajahnya terlihat bersih dan rapi.
Tapi dengan penampilan beginipun, Nadine tetap suka. Karena pada dasarnya, Adrian itu tampan. Cocok mau diapakan saja.
"Kamu ternyata sayang banget ya sama mereka. Terlihat jelas sekali dari cara kamu memperhatikan mereka dan memantau aktivitas mereka. Kamu juga rela memberikan hak kamu tanpa timbal balik," kata Nadine.
__ADS_1
"Mereka adik-adikku, tanggung jawabku. Dulu saat hubunganku dengan Papa dan Mama belum membaik, aku sudah lebih dulu dekat sama mereka."
Nadine menyunggingkan senyuman di sudut bibirnya. "Aku kagum sama kamu, untuk orang yang tergolong cuek..kamu masih punya tingkat kepedulian yang tinggi!"
"Itu karena mereka keluarga intiku, kalau bukan..jangan harap aku mau turun tangan, menoleh pun tidak akan!"
"I'm so in love with the way you protect and cherish them, that's your love language. Act of service. And for that, I adore you so much." Nadine menciumm pipi kiri Adrian dan mengelusnya lembut dengan ibu jarinya.
(Aku begitu jatuh cinta dengan cara kamu melindungi dan menghargai mereka, itulah bahasa cinta kamu. Sebuah tindakan. Dan untuk itu, aku sangat memujamu)
"I'm still trying to do what's best for them." Adrian tersenyum tipis. "Tapi Nad, kenapa kamu tiba-tiba tanya soal Natadipura Group? Tumben?! Apa kamu takut kita hidup kekurangan karena tidak dapat warisan?"
"Sembarangan deh kalau ngomong...bukan gitu! Aku itu cuman penasaran!" Nadine berdecak kesal karena dituduh. Secara tidak langsung Adrian melabeli dirinya dengan sebutan wanita materialistis.
"Pokoknya kamu tenang saja, tanpa warisan Keluarga Natadipura, uang aku sudah melimpah. Malahan asset dan net worth-ku nilainya lebih tinggi daripada Natadipura Group sekarang. Kamu bisa cek di situs berita manapun, atau mau aku tunjukkin bank account-ku kalau tidak percaya?" Adrian menggoda Nadine.
"Ya ampun! Aku itu enggak matre ya! Kamu enggak ingat apa, dulu aja pas kamu masih ngaku jadi bodyguard...aku mau aja tuh menikah sama kamu meski terpaksa! Aku enggak masalah kita hidup sederhana, yang penting cukup dan bahagia!" ketus Nadine sambil melotot.
Adrian geleng-geleng dan tertawa kecil melihat tingkah gemas istrinya. "Iya aku percaya, kamu memang beda dari yang lain. Jangan cemberut, mau diciumm kamu?!"
Nadine menepuk bahu Adrian keras, "Kamu itu sekarang dikit-dikit minta ciumm ya! Ngeselin deh!"
"Tapi kamu suka kan?"
"Adriannn..." Nadine meliriknya tajam.
Keduanya pun saling menggelitiki pinggang satu sama lain dan melanjutkan waktu santai mereka dengan bersenda gurau bersama. Adrian lebih sering tertawa dan tersenyum sekarang. Hidupnya semakin berwarna dengan kehadiran Nadine yang mengisi kekosongan hatinya selama ini.
__ADS_1
Tanpa Adrian sadari, Nadine adalah sosok wanita berharga yang tidak pernah tahu dia butuhkan. Nadine adalah kesalahan terbaik dari pilihan yang pernah dibuatnya. She's truly his favorite sin....
***