Favorite Sin

Favorite Sin
THE BIRTH OF LOVE


__ADS_3

...ADRIAN...


Darah.


Aku melihat noda merah segar mengalir dari balik dress yang dikenakan Nadine. Tak hanya itu, aku juga sempat melihat cairann bening yang keluar merembess membasahi betisnya.


Aku yakin sekali, jika itu pasti air ketuban. Sebenarnya usia kandungan Nadine masih 7 bulan. Harusnya sekarang bukanlah waktu yang tepat untuk melahirkan bukan?


Rasa panik, cemas, dan khawatir langsung menjalari seluruh tubuhku saat ini. Semua campur aduk menjadi satu. Aku takut sesuatu yang buruk terjadi pada Nadine.


Apalagi dia terus memegangi perutnya lalu menggigiti bibirnya sendiri untuk menahan rasa sakit selama perjalanan ke rumah sakit. Andai aku bisa gantikan tempatnya, aku pasti akan lakukan tanpa ada keraguan.


Tak ada yang bisa aku lakukan saat ini selain menunggu didepan ruang operasi sambil merapalkan doa-doa, memohon keselamatan Nadine didalam sana. Operasi dilakukan di ruangan khusus rumah sakit yang sengaja kusewa full hingga satu lantai agar tidak ada pengganggu.


"Adrian..."


Terdengar suara lembut Mama memanggil namaku dari kejauhan, membuat lamunanku terbuyarkan. Mama terburu-buru berlarian kecil menghampiriku. Tak hanya ada Mama, rupanya Papa dan keempat adik-adikku juga turut hadir full-team ke rumah sakit.


Hari ini seharusnya menjadi hari bahagia kami untuk merayakan Natal bersama secara perdana. Makan-makan bersama, membuka kado bersama, dan berfoto bersama didepan pohon Natal yang sudah dihias oleh Mama dan Papa di rumah kebesaran mereka. Hal yang tak pernah kulakukan di tahun-tahun sebelumnya.


Sayang seribu sayang. Rencana yang sudah matang-matang dipersiapkan itu harus sirna dalam sekejap karena para berandal sialann itu yang dengan lancangnya berani mengusik keluargaku!


"Mah..Pah..." aku berdiri dari kursi tunggu dan segera memeluk mereka satu persatu.


"Nadine bagaimana? Dia baik-baik saja kan?"


"Iya Adrian..Papa khawatir sekali, apa sudah ada kabar tentang Nadine?"


Mama dan Papa memberondongku dengan berbagai pertanyaan mengenai kondisi Nadine saat ini. Aku tak bisa menjawabnya, karena aku memang tak mengerti apa-apa. Sejak tiba disini, aku hanya sekali bertemu dengan dokter saat Nadine ditangani di UGD.


Intinya, dokter berkata bahwa Nadine harus segera dioperasi untuk mengeluarkan bayi yang ada didalam perutnya sebab ketubannya sudah pecah diawal.


Hal ini sering terjadi dalam beberapa kasus kehamilan kembar, dimana janin ganda dalam kandungan menyebabkan tekanan yang berlebih pada kantong ketuban sehingga dapat pecah sebelum waktunya.

__ADS_1


Belum lagi Nadine mengalami tekanan darah yang tinggi disertai dengan abrusi plasenta case yang membuatnya tak berhenti pendarahan. Mau tidak mau, kedua bayi kembar kami harus lahir secara prematur.


"Kok bisa kamu kecolongan seperti ini Adrian? Tidak biasanya. Bodyguards kamu itu ngapain saja?" tanya Papa Alan.


Mama langsung melayangkan tatapan tajamnya pada Papa. Pikir Mama, ini bukan waktu yang tepat untuk menginterogasiku. Tapi yang Papa katakan ada benarnya. Hari ini aku memang kecolongan, ceroboh, dan teledor. Aku terlalu terlena sehingga tak dapat membaca situasi.


Apa boleh dibuat, semuanya terlambat. Aku telah memerintahkan orang suruhanku untuk menyelidiki insiden yang menimpaku hari ini. Sore nanti, hasil penyelidikan tersebut sudah harus ada ditanganku.


Flashdisk dan hardisk milik ayah mertuaku itu rupanya masih menjadi incaran para musuh meski Galih dan David sudah ditahan. Orang-orang yang mencegatku hari ini pasti masih punya koneksi dengan mereka berdua.


Apa lagi yang mereka cari? Tentunya list data dari pemasok obat-obatann terlarang dan juga channel bisnis persenjataann ilegall yang ada didalamnya. Semua itu masih tersimpan rapi ditanganku.


"Ceritanya panjang, Pah. Bisa kita bicarakan itu nanti? Aku benar-benar tidak bisa berpikir sekarang. Aku sedang kalut!" kupegang kepalaku secara kuat-kuat sambil meremass rambut karena frustasi.


Mama Diana meraih tanganku seraya mengusap punggungku. "Nadine itu wanita yang kuat, Adrian. Mama yakin itu. Dia pasti bisa melewati ini semua. Kamu yang sabar ya.."


Dalam hati, aku juga punya pengharapan yang sama dengan Mama. Aku mau Nadine kembali ke pelukanku dalam keadaan selamat. Begitupun juga anak-anakku.


"Kamu sendiri kenapa tidak masuk ke dalam? Kok hanya menunggu disini?" tanya Mama.


Pilihan yang tepat sebetulnya. Kalaupun aku diizinkan masuk, aku pasti tidak akan kuat melihat Nadine yang meraung kesakitan. Aku tidak bisa.


"Okay..." lirih Mama. "Apa kamu lapar Adrian? Mau Mama belikan makanan?"


"Tidak usah Mah, aku tidak lapar."


"Paling tidak perut kamu diisi dulu nak..ini sudah siang. Nanti kalau kamu lemas, siapa yang akan menjaga Nadine?" bujuk Mama.


Aku menghela nafasku sejenak. "Baiklah, roti dan kopi mungkin akan sedikit membantu."


"Biar aku dan Kak Arga saja yang membelikan Mah, sekalian juga buat kita-kita sambil menunggu kabar dari Kak Nadine!" ucap adik bungsuku Fiona yang kemudian disetujui oleh Mama Diana.


2 jam setelahnya, lampu merah yang terpampang pada pintu ruang operasi akhirnya padam juga. Bersamaan dengan keluarnya dokter yang menangani Nadine dari balik pintu.

__ADS_1


"Dengan keluarga Ibu Nadine Natadipura?"


"Iya dok, bagaimana dengan kondisi istri saya? Apa dia baik-baik saja? Tidak ada sesuatu yang buruk terjadi kan?" tanyaku tidak sabaran. Jantungku sungguh berdegup kencang menanti jawaban sang dokter.


"Tenang Pak, saya pastikan semuanya baik-baik saja. Beruntung sekali tadi Ibu Nadine cepat-cepat dibawa ke rumah sakit sehingga bisa langsung ditangani oleh tim medis kami," ucap Dokter Hans yang namanya bisa kuketahui dari nametag pada jas putihnya.


"Proses persalinan berjalan lancar dan Ibu Nadine dalam keadaan yang baik. Hanya saja beliau butuh istirahat serta perawatan yang intensif untuk saat ini," lanjut sang dokter.


Aku menghembuskan nafasku lega setelah mendengar kabar bahwa istriku baik-baik saja. Begitupun juga dengan keluargaku yang sedari tadi setia mendampingiku dalam beberapa jam terakhir.


"Lalu bagaimana dengan anak kembar saya? Mereka juga baik-baik saja kan seperti ibunya?" aku mencecar segala pertanyaan yang bersarang dalam otakku.


Dokter menampakkan wajah yang datar dan sesekali berdehem. Ada apa?


"Sayangnya saya tidak bisa mengatakan hal yang sama, Pak. Kondisi mereka belum dapat dipastikan, mengingat bayi kembar anda harus lahir secara prematur. Dengan sangat terpaksa saya harus katakan jika kedua bayi anda harus masuk ruang perawatan intensif khusus yaitu NICU."


Degghh...


Bayi-bayiku harus dirawat di ruang NICU? Separah itukah kondisi mereka? Hatiku rapuh seketika. Duniaku seperti runtuh dengan dihujani bebatuan besar. Bahkan Arjuna sampai menopang tubuhku agar tidak limbung.


"Saya mohon lakukan yang terbaik untuk mereka Dok, selamatkan kedua anak saya!" suaraku begitu parau sambil kuraih tangan dokter itu dan kucengkeram lengannya kuat.


Anak-anakku harus selamat. Mereka berdua harus kembali dalam pelukanku dan Nadine tanpa pengecualian. Aku tidak mau tahu.


Ya Tuhan..bagaimana aku mengatakan ini pada Nadine. Hatinya pasti akan sakit melihat kedua anak kami yang terbaring lemah di ruang perawatan khusus.


"Pasti Pak, kami akan berusaha sekuat tenaga dan semampu kami untuk membawa kedua bayi Bapak bisa pulang dalam keadaan yang sehat. Maka dari itu, kita akan pantau terus perkembangan si kecil dalam beberapa hari kedepan. Semoga saja hasilnya bagus," jelasnya lagi.


Kulirik Mama dan Arjuna sekilas yang berada disampingku. Mereka tak henti-hentinya mengusap punggungku untuk memberi kekuatan agar aku kuat menghadapi persoalan ini.


Sayangnya, tak ada kekuatan di dunia ini yang mampu menguatkanku kecuali Nadine. Dialah kekuatanku yang sesungguhnya. Pelita hatiku, permata hatiku.


Aku mengusap kasar wajahku sebelum kembali membuka suara, "Tentang bayi kembar saya Dok, jenis kelamin mereka apa?"

__ADS_1


Dokter menyalami tanganku seraya tersenyum tipis. "Laki-laki, Pak. Keduanya sama-sama berjenis kelamin laki-laki. Selamat atas kelahiran dua jagoan anda."


***


__ADS_2