
Nadine menutup kedua bola matanya saat sentuhan lembut dari bibir Adrian mendarat di keningnya. Kecupan lembut di dahinya itu membuat Nadine tersipu malu. Pipinya merah merona bagaikan buah persik. Jantungnya berirama cepat dan berdebar tak karuan memikirkan adegan barusan.
Dalam sekelebat bayangan, Nadine ingat akan pesan Ayahnya bahwa sebuah ciuman di kening mengisyaratkan sesuatu yang berbeda. Sesuatu yang sangat manis. Tanda dari sebuah kepemilikan untuk dapat dijaga dan dicintai.
Perasaan apa ini? Sudah lama sekali Nadine tak merasakan getaran yang begitu hebat mendera tubuhnya seperti saat ini. Terakhir yaitu saat Sean, mantan kekasihnya, menyatakan cinta padanya untuk pertama kali. Itupun sudah terlampau beberapa tahun yang lalu.
Berbeda dengan hati Nadine yang sedang berbunga-bunga, Adrian malah tidak merasakan apapun. Sepanjang jalannya pernikahan, dia tetap memasang wajah datar dan menunjukkan sikap dingin. Yang ada di pikirannya hanyalah ingin cepat-cepat menyelesaikan semua omong kosong ini.
Satu yang Adrian sesalkan. Tak seharusnya dia sembarangan mengecup kening Nadine! Dia bahkan merutuki dirinya sendiri. Entah faktor apa yang mendorongnya untuk melakukan hal itu pada Nadine tadi. Tapi bukankah itu hal yang lumrah? Sebuah ciuman belum tentu memiliki arti yang spesifik bukan? It's just a kiss!
Adrian khawatir jika Nadine akan berharap banyak pada pernikahan ini. Walaupun status Adrian saat ini sudah menikah dan menjadi seorang suami, tidak menyurutkan pikirannya yang tetap kekeuh untuk tidak percaya dengan cinta.
"Jangan terlalu percaya diri, apa yang saya lakukan tadi itu tidak berarti apa-apa" bisik Adrian di telinga Nadine.
JLEBBB...
Buyar sudah ekspektasi dan angan-angan Nadine, yang sempat mengira bahwa Adrian melakukan kecupan itu dengan tulus. Adrian hanya ingin berterus terang pada Nadine sejak awal. Dia tidak ingin memberikan sinyal-sinyal harapan pada Nadine akan pernikahan ini.
"Iya, aku ngerti kok" Nadine mengalah.
Sadar diri itu sangat penting. Pernikahan ini hanyalah sebuah pernikahan kontrak yang akan bertahan selama 2 tahun saja. Tidak boleh berharap lebih.
"Ini cincin kamu. Pakai sendiri!" Adrian memberikan Nadine sebuah kotak kecil berwarna rose gold. Didalamnya terdapat sebuah cincin sederhana dengan permata kecil di tengah. Design-nya tak terlalu mencolok.
Sebenarnya Nadine sedikit kesal karena Adrian tidak berinisiatif untuk menyematkan cincin itu ke jari manis Nadine. Yang ada, dia malah disuruh memakainya sendiri! Tidak romantis...
Nadine mendongakkan kepalanya keatas menatap Adrian. "Cuman satu aja? Kamunya enggak pakai cincin juga?". Tak lama Adrian mengeluarkan sebuah kotak kecil dari saku celananya. "Ada. Tapi sengaja enggak saya pakai. Khusus untuk kamu, wajib dipakai!!"
Adrian menunjukkan cincin kawinnya pada Nadine secara sekilas, cincin yang berwarna hitam dan lapisan pinggirannya memiliki sentuhan rose gold. Kemudian kotak kecil itu ditutup kembali dan dimasukkan ke dalam saku jas-nya.
__ADS_1
"Itu warnanya hitam? Kenapa cincin kita warnanya enggak senada aja?" Nadine menatap Adrian keheranan. Baru kali ini dia melihat ada cincin nikah pria berwarna hitam.
"Saya sukanya warna hitam. Jadi suka-suka saya, kan saya yang beli dan saya sendiri yang akan pakai..nantinya!!"
"Ini enggak adil! Terus itu kenapa harus aku aja yang pakai cincin..tapi kamu boleh untuk enggak pake?! Harusnya seimbang dong, aku pakai..berarti kamu harus pakai!!" protes Nadine.
Adrian menghela nafasnya panjang. "Ribet banget sih!! Udah nurut...saya suami kamu kan sekarang? Jangan terlalu banyak bicara, berisik!!!"
Karena prosesi pemberkatan pernikahan dan lain-lain sudah rampung dilaksanakan. Keduanya akhirnya memutuskan untuk pulang kembali ke rumah. Untuk Ray dan Roni, mereka harus kembali ke rutinitas di kantor perusahaan.
"Ray sama Roni enggak ikut kita balik?" tanya Nadine yang sedang memasang seat-belt.
"Mereka bukan pengangguran dan ini hari biasa, wajar kalau enggak ada libur."
"Kamu sendiri?"
"Saya sudah izin dan ambil cuti menikah. Lusa saya akan kembali bekerja" sahut Adrian.
Adrian memutar otaknya untuk mencari sebuah alasan. Nadine orang yang cukup kritis. Sebelum dia puas akan suatu jawaban, dia tidak akan berhenti untuk bertanya dan mendesaknya. "Ray kurang lebih sama kayak saya pekerjaannya. Kalau Roni dia kerjanya lebih ke arah administrasi dan sekretaris untuk atasan saya." Nadine mengangguk paham akan penjelasan Adrian.
***
Sesampainya di rumah, Nadine menawari Adrian untuk makan siang. "Kamu lapar? Mau aku masakin enggak? Ini udah waktunya jam makan siang.."
"Enggak usah, setelah ini saya ada urusan sebentar keluar...saya makan diluar aja."
"Katanya cuti? Kenapa masih keluar-keluar?"
"Saya memang ambil cuti, tapi buat apa juga disini berjam-jam sama kamu. Berharap kita akan melakukan siang pertama?" sindir Adrian.
Nadine meneguk air liur-nya sendiri. Tenggorokannya terasa kering dan tercekat. Sungguh ia merasa sebal dengan sikap Adrian yang tidak jelas ini. Mood nya naik turun seperti orang yang terkena PMS.
"Ini kartu ATM saya, disitu ada saldo 10 juta..cukup kan untuk kamu belanja?"
__ADS_1
"Belanja?"
"Iya, belanja keperluan kamu. Terserah mau kamu buat beli apapun..tas, sepatu, baju, skincare...bebas!!" ucap Adrian santai sembari ia mengambil minuman dingin yang ada di kulkas. Cuacanya sungguh terik hari ini, membuatnya haus. "Sekalian juga, itu uang untuk belanja keperluan rumah, bayar listrik, air, dan lain-lain. Kamu yang atur lah!!"
"Kamu serius?" Nadine melongo.
"Sesuai dengan kontrak, meski pernikahan ini tidak jelas.. saya tetap akan menafkahi kamu. Jadi terima saja itu."
Nadine masih tidak percaya pada Adrian, yang dengan gampangnya memberi kartu ATM.
"Kenapa bengong, kurang uangnya?"
Adrian sengaja hanya memberi Nadine uang sebesar 10 juta. Bisa saja dia memberikan Nadine nafkah yang lebih dari itu, tapi dia penasaran dan ingin tahu apakah Nadine sanggup mengatur keuangan dengan nominal yang ia berikan.
Disamping itu, dia juga tidak mungkin memberikan Nadine uang yang banyak..mengingat Nadine tahu jika pekerjaannya hanyalah seorang bodyguard dan kaki tangan atasannya. Tidak mungkin kan dia memegang uang yang banyak?
Padahal, tanpa Adrian tahu...uang yang diberikan ke Nadine sudah lebih dari cukup. Bahkan terlampau kelebihan.
"Bukan...malahan ini terlalu banyak!!"
DEGHHH....
Sebuah respon yang diluar dugaan. Sangat menarik. Umumnya para wanita yang mendekat pada Adrian hanya akan perduli soal harta dan kekayaan. Mana mau mereka jika diminta hidup pas-pas an. Uang 10 juta tentu tidak akan cukup untuk mengikuti gaya hidup mereka yang fantastis.
"Ya sudah, kamu ganti baju sana. Saya akan drop kamu ke pusat perbelanjaan, kamu bisa beli apapun. Kamu butuh hiburan kan? Saya akan kasih izin, sekalian membiasakan diri dengan suasana baru!" kata Adrian.
"Terima kasih" Nadine menampilkan senyuman tipisnya.
Dia memang membutuhkan waktu untuk me-time sejenak. Berbagai masalah yang menderanya membuat dia lupa bagaimana caranya untuk bersantai.
"Pulangnya naik taksi saja, tapi ingat..tetap harus hati-hati. Jangan sembarangan berbicara dengan orang asing!"
"Iya..siap!!"
__ADS_1