Favorite Sin

Favorite Sin
MEMORIES


__ADS_3

AUTHOR POV


"Kalau saya tidak mau meminjamkannya, apa yang mau kamu lakukan?" kesabaran Nadine diuji oleh Adrian.


"Ya..saya tinggal jalan kaki aja ke jalanan besar! Kalau ada kendaraan lewat saya numpang sama mereka sampai dapat kendaraan lain yang bisa mengantar saya ke kota."


Tidak perduli jika harus melalui rintangan apapun, bagi Nadine..yang terpenting dia bisa sampai ke kota untuk mengunjungi makam ayahnya dan pergi ke kantor polisi.


"Saya enggak memaksa kamu kok, kalau misal kamu keberatan untuk meminjami saya...ya enggak apa-apa!"


Hati Adrian tergerak untuk mengantarkan Nadine. Entah kenapa, rasanya dia tidak tega saja melihat Nadine harus berjalan kaki menuju jalan besar untuk mencari kendaraan. Padahal dia sendiri punya mobil yang bisa dimanfaatkan untuk bepergian.


"Saya antar kamu."


"K-ka-kamu mau antar saya?" Nadine tersentak kaget saat Adrian mengatakan bahwa dia akan mengantarnya.


Tak disangka-sangka, pria dingin seperti Adrian bisa perduli juga.


"Iya. Saya akan antar kamu pergi ke makam dan kantor polisi. Sekalian juga pulangnya ambil mobil kamu di rumah temanmu. Biar kamu lebih mudah pergi kemana-mana, jadi enggak harus nunggu saya ataupun Ray!"


"Okay, saya akan hubungi teman saya."


Tidak terasa..15 menit sudah berlalu sejak perbincangan Adrian dan Nadine di ruang tengah. Yang ditunggu-tunggu pun akhirnya tiba, Ray datang membawa 3 kantung kresek besar berisi makanan.


Entah apa saja makanan yang sudah dipesan. Kelihatannya sangat sedap, sampai-sampai baunya bisa tercium dari jarak jauh.


Kemudian Nadine bergegas menuju dapur, hendak mengambil gelas air minum dan piring untuk menaruh makanan yang dibeli Ray tadi. Lalu dibukanya lemari kabinet, tempat dimana banyak piring-piring dan deretan gelas berjejer yang tertata dengan sangat rapi.


Menu makan siang menuju sore kali ini disponsori oleh Western Foods. Ada Spaghetti Aglio Olio, Garlic Bread, Caesar Salad, dan Butter Roast Chicken. Untuk porsinya tidak perlu diragukan lagi, sangat...sangat...banyak.


Yang terlihat paling banyak makannya adalah Ray disini, sedari tadi ia tak henti-hentinya menyendok makanan-makanan tersebut ke piringnya.


Berbeda dengan Ray, Nadine malah tampak murung saat makan. Dia mendadak tidak berselera melihat makanan didepannya. Padahal sebenarnya dia juga lapar, karena makanan yang di pesan olehnya tadi terjatuh saat dia dibekap oleh orang asing di apartemen.


Adrian yang sedang menyendok makanan ke mulutnya tak sengaja menoleh kearah Nadine. Dari situ, dia memperhatikan gerak-gerik Nadine yang hanya mengaduk-aduk makanan di piringnya saja.


"Makanannya enggak enak?" tanya Adrian.

__ADS_1


Andai kata memang iya, Adrian akan menyuruh Ray untuk membeli makanan lain untuk Nadine.


"Ehhhmm..enggak kok. Ini enak semua..." Nadine tersenyum tipis.


"Kalau enak kenapa enggak dimakan? Malah diam aja!! Saya pikir kamu enggak suka.."


"Saya cuman lagi kepikiran sama kakak saya aja, teringat kalau Spaghetti Aglio Olio ini makanan favoritnya. Hal itu membuat saya berpikir, disini saya bisa makan dan tidur enak. Tapi Kakak saya...entah bagaimana nasibnya sekarang? Biasanya kami bertiga..Ayah, Kakak, dan saya itu selalu makan bersama-sama. Tapi sekarang semuanya berbeda...Ayah saya meninggal dan kakak saya menghilang.."


Emosional adalah kata yang tepat untuk menggambarkan kondisi Nadine. Setiap hal kecil yang dilakukannya, membuatnya selalu teringat akan Ayah dan Kakaknya.


Ray menatap nanar pada Nadine. Dia paham betul bagaimana perasaan wanita itu yang baru saja kehilangan Ayahnya. Dirinya dulu juga pernah merasakan pahit getirnya hidup dan terpuruk saat kedua orang tuanya meninggal karena sakit parah.


Kematian mereka pun jaraknya berdekatan. 8 bulan setelah Ayahnya Ray meninggal karena serangan jantung, Ibundanya menyusul pula. Lebih sedihnya lagi, Ray itu anak tunggal.. sehingga kerap kali ia merasa kesepian dimasa-masa hidupnya sebelum bekerja pada Adrian.


"Hapus air mata kamu!" Adrian menyodorkan tisu kering pada Nadine.


Sambil mengusap-usap air matanya, Nadine menyambut uluran tisu kering yang diberikan Adrian untuknya. "Terima kasih."


Mereka bertiga pun akhirnya tetap melanjutkan makan meski suasananya hening. Hanya suara dentingan sendok yang mengisi kesunyian itu. Setelah sesi makan selesai, Nadine membawa piring-piring yang tadi digunakan ke cucian piring.


"Disini enggak ada sabun cuci piring ya?" sejak tadi Nadine mencari-cari dimana letak sponge cuci beserta sabunnya, namun tidak ketemu.


Karena semuanya serba mendadak, Adrian dan Ray tidak ada persiapan apa-apa. Namanya juga baru tiba, otomatis persediaan barang dan makanan sehari-hari tentu tidak ada, sehingga belum sempat beli.


"Nanti aja kita ke minimarket terdekat untuk beli perlengkapan!"


"Okay."


Alhasil dengan persediaan seadanya, Nadine mencuci piring dan gelas bekas mereka makan menggunakan sabun mandi cair. Paling tidak piring-piring itu bisa bersih dulu dan tidak menumpuk di cucian yang bisa membuatnya bau.


Selesai mencuci piring, Nadine dihampiri oleh Adrian yang baru saja berbincang-bincang dengan Ray dari luar. "Kita jalan sekarang aja ke makam Ayahmu dan kantor polisi. Soalnya ini mendung, takut hujan kalau semakin sore." Adrian mengambil kunci mobil yang diletakkan diatas kulkas.


"Aku ganti baju dulu ya." Badan Nadine terasa lengket dan gerah saja. Apalagi sehabis berlarian menuruni tangga darurat tadi, bajunya sudah bercampur dengan keringat.


"Enggak usah, ganti bajunya habis dari pemakaman saja sekalian mandi. Ini kan mau keluar-keluar dulu!" perintah Adrian.


Mau tidak mau, Nadine menurut saja. Sebab setiap perkataan Adrian itu terdengar seperti perintah yang tidak bisa ditolak, bukan suatu ajakan, tawaran, atau permintaan.

__ADS_1


"Ray enggak ikut sama kita?"


"Tidak, dia jaga rumah."


Adrian sengaja meminta Ray untuk tetap tinggal sebab brankas milik ayah Nadine ada di rumah. Tidak mungkin bisa ditinggal atau dibawa sembarangan, bisa berbahaya.


Faktor lain, Ray juga bisa sambil berisitirahat. Adrian tidak mungkin memerintah dan memforsir Ray ini itu tanpa memberinya waktu untuk bersantai.


Jasa Ray masih sangat dibutuhkan, karena esok hari masih banyak hal yang akan mereka hadapi. Maka dari itu, kesehatan tubuh Ray harus dijaga pula.


Sebelum berangkat, Nadine mengambil tas kecilnya yang hanya diisi dengan dompet dan handphone. Barang-barang yang memang sangat vital dan penting untuk dibawa.


"Kita mampir ke toko bunga dulu ya...saya mau beli bunga untuk Ayah saya." Nadine berniat untuk membeli Bunga Lily putih untuk Ayahnya, beliau sangat suka sekali dengan bunga itu.


Saat masih hidup, Nadine dan Harun banyak menghabiskan waktu weekend mereka dengan berkebun.


"Iya." jawab Adrian singkat.


Satu dan dua hal yang Nadine sadari, Adrian ini adalah pria yang irit bicara dan bersikap dingin. Pada dirinya saja Adrian selalu berbicara ketika ada perlunya, tidak pernah membuka obrolan yang dapat mencairkan suasana. Beda dengan Ray yang sangat bersahabat. Sifat mereka bagaikan bumi dan langit, sangat bertolak belakang.


Ketika sampai di toko bunga, Nadine langsung meminta pegawai toko tersebut untuk membuatkannya sebuah buket Bunga Lily putih. Permintaan design-nya sederhana saja, tidak perlu rangkaian bunga yang heboh.


"Permisi, selamat sore...saya mau pesan satu buket Bunga Lily putih ya mbak untuk sekarang!"


"Baik, ditunggu sebentar ya."


Sambil menunggu buket bunganya dibuatkan, Nadine melihat-lihat bunga dan tanaman yang dijual oleh toko itu di etalase. Sedangkan Adrian hanya diam berdiri di dekat kasir.


Melihat tanaman-tanaman yang berjejer di toko ini, lagi-lagi membuat Nadine teringat akan kenangan dirinya bersama sang Ayah yang suka bercocok tanam di halaman belakang rumah. Biasanya Nathan juga turut ikut serta berkebun, tapi dia hanya yang bagian menganggu dan mengusili Nadine saja. Ternyata hampir semua tanaman yang dijual disini, Nadine sudah memilikinya di rumah.



Buket bunga telah selesai dibuat dan langsung dibayar oleh Adrian. Sebenarnya Nadine agak sedikit sungkan, tapi memang dari Adrian sendiri tidak membiarkan Nadine mengeluarkan uang sepeserpun.


Saat Adrian dan Nadine hendak keluar dari toko bunga, tanpa disadari ada sepasang mata yang sedang memperhatikan mereka berdua berjalan bersama.


Orang itu adalah Arjuna. Ya, Arjuna Natadipura...adik laki-laki Adrian yang kebetulan sedang ada di Yogyakarta karena sedang menghadiri pernikahan kakak dari sahabatnya. Arjuna baru saja keluar dari toko kue, yang jaraknya hanya berbeda dua toko dari toko bunga tempat dimana Adrian dan Nadine terlihat jelas oleh Arjuna.

__ADS_1


"Itu bukannya Kak Adrian? Tapi masa sih...mau ngapain Kak Adrian di Jogja?" gumam Arjuna dalam hati.


Niat hati Arjuna ingin mengejar keduanya, tapi sayang...sudah tidak keburu. Alhasil, untuk memastikan kebenaran apakah itu Adrian atau tidak, Arjuna memutuskan untuk menelpon Papa Alan.


__ADS_2