Favorite Sin

Favorite Sin
ANOTHER PAIN


__ADS_3

...NADINE...


Mansion ini ternyata luar biasa megah. Tak henti-hentinya aku merasa takjub dengan keindahan dari interior serta penataan letak benda-benda didalamnya yang tersusun rapi.


Denah bangunan mansion ini sangat terstruktur. Setiap ruangan bersifat fungsional. Fasilitas yang disuguhkan pun memadai, dan dilengkapi juga dengan berbagai fitur teknologi canggih.


Berapa banyak ya..biaya yang dihabiskan Adrian untuk membangun mansion ini?


Tak kusangka, aku menikahi pria yang tadinya aku kira berprofesi sebagai bodyguard dan memiliki latar belakang sederhana...ternyata malah pengusaha konglomerat.


Sejak awal aku memang sudah curiga ada sesuatu yang disembunyikan Adrian sejak pertama kali kami berkenalan. Dari segi wajah saja, bisa kelihatan kalau Adrian itu bukanlah orang biasa.


Dilihat sekilas...ukuran postur tubuh Adrian yang berotot, kekar, dan macho itu memang menunjang dikatakan sebagai bodyguard. Tapi ketampanan dan karisma yang melekat dalam dirinya tidak bisa dibohongi.


"Nyonya, ada apa?! Kok mendadak bengong...anda ingin lanjut jalan-jalan lagi tidak?" Bibi Magda mencolek lengan Nadine.


"Eh..maaf Bi, saya terlalu kagum sama taman disini. Indah dan luas sekali...saya itu suka banget sama berkebun, kayaknya cocok nih buat mengisi waktu saya kalau lagi senggang."


"Tentu bisa, Nyonya bebas melakukan apapun yang diinginkan disini."


Setelah puas berkeliling ke seluruh sudut-sudut mansion, aku memutuskan kembali masuk ke rumah utama.


"Nyonya..permisi.." Sinta tiba-tiba mendatangiku.


"Ada apa Sin?" tanyaku penasaran.


"Itu Nya, Tuan Adrian sudah pulang.." jawab Sinta menunduk.


Ada apa dengan Adrian? Kenapa dia sudah kembali? Kemarin bilangnya akan pulang malam.


"Secepat itu? Bukannya dia ada kantor?"


"S-sya kurang tahu..hanya saja tadi Tuan m-mencari Nyonya," jawab Sinta gugup.


"Okay, saya akan temui dia sekarang..."


Aku berjalan menuju lantai atas untuk segera menemui Adrian.


TOKK..TOKKK...TOKK


"Adrian..?!".aku mengetuk pintu kamarnya dan memanggilnya dari luar.


"Masuk Nad, pintunya tidak dikunci!!" teriaknya dari dalam.


Sesuai perintah, aku langsung masuk saja ke kamarnya. Namun apa yang kulihat di depan mata...


DEGHH...


Bulu kudukku berdiri.


"Adrian..?!! K-kamu kenapa? Itu lengan sama perut kamu kenapa berdarah lagi?!!" pekikku tajam.


"Ini luka biasa," jawabnya datar tanpa ada raut ekspresi kenyerian sedikitpun.


Aku berjalan menghambur padanya dan duduk mendekat di tepi ranjang. "Biasa gimana! Ini berdarah...kita ke rumah sakit ya?"


"Jangan!! Saya hanya minta kamu untuk bersihkan luka saya saja!"

__ADS_1


"T..tapi i..ni udah parah!!" lirihku panik.


"Ini tidak sakit. Lagipula saya sudah bilang kan, ini hanya luka biasa. Cukup dibersihkan saja."


Sudah bonyok begini, dia masih bisa bilang tidak sakit? Aneh sekali...aku yang tidak terluka saja ikut nyeri melihat memar-memar di tubuhnya.


"Kamu kenapa keras kepala banget sih? Segitu takutnya ke rumah sakit? Tiap kali kamu bonyok dan luka-luka, kamu selalu menolak diajak kesana! Padahal buat kesembuhan kamu sendiri!" aku masih mencoba untuk membujuknya.


"Bisa lebih cepat untuk membersihkan luka saya dan jangan banyak protes? Saya tidak butuh nasehat kamu. Ambil kotak P3K dan kain bersih yang ada di kabinet wastafel kamar mandi!" pintanya.


Dengan perasaan yang masih dongkol, aku memilih untuk tetap menurutinya. "Tunggu sebentar.."


Kembali dari kamar mandi, aku membawa sejumlah


"Itu dibuka dulu kemeja nya.." ucapku.


"Kamu lah yang buka!" balasnya ketus.


Aku menyipitkan mataku. "Kenapa harus aku?"


"Kamu tidak lihat kondisi saya yang lagi begini?!!"


"Tadi katanya enggak sakit, ya berarti kamu bisa buka sendiri!!"


"Tangan saya sedang dipakai untuk menekan lukanya, supaya peredaran darahnya berhenti! Jadi kamu saja yang buka kancing baju saya!" sahut Adrian.


Bukan aku tak mau. Sebenarnya aku juga ingin cepat-cepat menangani lukanya. Hanya saja jantungku sedang tidak normal saat ini! Kalau aku membantunya melepas pakaian, takutnya aku tidak akan kuat melihat tubuh six-pack Adrian tanpa satu helai benangpun.


Pikiranku kembali melayang pada peristiwa yang terjadi di ruang tamu rumah lama. Saat itu Adrian terluka dan aku yang mengobatinya. Namun endingnya tak terduga! Kalian bisa tebak sendiri. Itulah mengapa aku menghindarinya..


"Kenapa diam?" tanyanya dingin.


"Bilang saja kamu gugup! Kenapa? Kamu takut kita berciuman lagi seperti yang dulu?" Adrian dapat membaca pikiranku dengan baik. Tebakannya tepat sasaran.


"Eng..eng..gak kok! Kamu aja yang mikirnya sampai situ!" aku mengelak.


"Saya tidak akan berbuat macam-macam, jadi cepatlah...jangan buang-buang waktu!"


Akhirnya aku terpaksa membuka kancing kemejanya satu-persatu dengan posisi kepala yang terus menunduk.


Aku tak berani bertatapan langsung dengan manik mata Adrian karena aku takut tenggelam dalam tatapan tajamnya itu. Kali ini aku memantapkan diri untuk tidak tergoda.


Setelah kemeja terlepas, seperti biasa..aku mulai menyeka tubuh Adrian dan mengelapnya sampai bersih sehingga noda darah yang menempel tak bersisa.


"Sebenarnya kamu itu habis ngapain sih? Pagi-pagi begini udah babak belur! Bukannya kamu pergi ke kantor..terus kenapa bisa begini?!"


"Masih ingat Mr. Victor?"


"Iya, inget kok..dia atasannya dua orang pria aneh yang sempat datang ke rumah kan?", ucapku sambil meneteskan obat merah padanya.


"Luka di tubuh saya bisa ada karena saya baru saja berduel dengannya."


"Serius...?!" aku membelalakkan mataku.


"Buat apa saya bergurau!" ketus Adrian


Seharusnya aku tak bertanya, dia kan memang bukan tipikal orang yang suka bercanda. "Terus kenapa kamu bisa kalah?"

__ADS_1


"Kenapa kamu berasumsi kalau saya kalah?!" Adrian tak terima.


"Ya ini..lihat kondisi kamu! Pulang dengan keadaan luka-luka. Biasanya kamu selalu menang tanpa ada luka lecet satupun. Kalau begini ya berarti kalah..!!" jawabku polos.


"Dengar ya Nadine, tidak ada kata kalah dalam kamus saya! Hanya karena saya luka-luka, bukan berarti saya kalah. Rumusnya, yang bertahan itu yang menang!"


"Saya terluka..karena saat kami berduel, dia memakai senjata! Sedangkan saya dengan tangan kosong!"nbentak Adrian.


"Memang Mr. Victor enggak bertahan?!"


"Dia koma sekarang di ICU, itu berita terakhir yang saya dapat dari Ray."


Aku tertegun sejenak. Dengan entengnya dia bisa berbicara seperti itu tanpa keraguan.


"Kenapa kamu bisa berurusan lagi sama Mr. Victor? Dia masih mengincar flashdisk dan hardisk milik ayah? Bagaimana cara kamu bertemu dengannya?" aku melanjutkan membalut luka Adrian dengan perban.


"Iya, dia masih bersikukuh mendapatkannya. Dan lagi, menjerat Mr. Victor itu mudah, saya punya banyak koneksi. Saya juga punya faktor lain kenapa saya menemuinya."


"Apa itu?"


"Dia hendak merencanakan pengeboman di kantor Papa. Dan beliau bersekongkol dengan David Malik-Santoso, ayah dari mantan pacarmu!"


DEGHH...


Ulu hatiku tertusuk setelah mendengar pernyataan Adrian. Aku tidak pernah menyangka jika kelakuan Om David itu sudah masuk dalam kategori kriminal.


"Apa itu alasan kenapa kamu pernah tanya ke aku soal David Malik-Santoso?" lirihku.


"Iya."


TOKK..TOKK..TOKK


Suara ketukan pintu kamar Adrian membuyarkan lamunan kami.


"Sebentar aku keluar dulu..ini juga udah selesai kok. Kamu istirahat aja dulu!" aku membereskan kotak P3K yang tergeletak di kasur dan membuang sampah-sampahnya.


***


Saat pintu terbuka, nampak Bibi Magda yang terlihat di depanku.


"Bibi Magda? Ada perlu apa Bi?" tanyaku to the point.


"Itu Nya, ada Tuan dan Nyonya besar datang.".jawabnya.


Papa dan Mama mertua ku datang ke rumah?!


"Mereka datangnya berdua saja?"


"Enggak Nya..full team! Ada adik-adiknya Tuan Adrian juga ikut serta."


Matilah aku! Perasaanku jadi deg-degan. Kenapa rasanya seperti mau di sidang ya? Ah...tidak..tidak! Aku harus percaya diri. Positive thinking Nadine, c'mon!


"Sudah dibuatkan minuman dan camilannya?"!tanyaku pada Sinta.


"Sudah kok Nya, ini Chika dan Asti sedang menyiapkannya. Tinggal menunggu Nyonya Nadine dan Yuan Adrian menyambut mereka."


"Baiklah, nanti saya susul kesana! Saya panggil Adrian dulu ya Bi.."

__ADS_1


"Baik Nya, saya permisi..."


Aku pun kembali masuk ke kamar untuk menginformasikan hal ini pada Adrian.


__ADS_2