Favorite Sin

Favorite Sin
HER WATER IS BROKE


__ADS_3

AUTHOR POV


Citt...


"Maafkan saya yang gagal memanfaatkan momen, Tuan. Posisi kita saat ini sudah terlanjur terkepung. Waktunya tidak akan cukup untuk melewati overpass," jelas Jino.


"Hubungi rekan kalian yang lain lewat HT dan perintahkan mereka untuk berpencar. Siapkan amunisi yang memadai, kita akan lawan mereka sekarang! Jalanan yang kita lewati benar-benar sepi. Para berandal itu pasti sudah cek ombak dengan melakukan sweeping," balas Adrian.


Nadine menggigiti jari jemarinya sambil berucap, "Aku takut...mereka semakin dekat! Gimana ini?!"


"Jangan panik Nadine. Tarik nafas kamu dalam-dalam dan keluarkan secara perlahan. Ayo ikuti aku!" Adrian meraih tangan Nadine untuk digenggamnya dengan erat.


Nadine mengikuti saran dari Adrian. Menghirup lalu mengembuskan nafasnya secara berulang-ulang, dengan harapan suasana hatinya bisa lebih rileks ditengah kemelut yang sedang berlangsung.


Dorrr...


Dorrr....


Baku tembakk antara bodyguards Adrian yang berada di mobil belakang dengan para berandal itu tak dapat terelakkan lagi. Kedua kubu sama-sama kuat dalam melepaskan peluru dari senjata mereka untuk diarahkan satu sama lain.


Citt...brakkk...


Dua mobil dari musuh telah digulingkan dalam waktu yang singkat bersamaan. Namun semua itu belum bisa dinyatakan berakhir. Masih ada tiga mobil lainnya yang menunggu untuk disingkirkan.


Dorr..dor....


Hujaman tembakann dengan suara yang memekakkan telinga dilesatkan begitu saja dengan mudahnya. Lagi, pengawal Adrian berhasil melumpuhkan mobil ketiga.


Untuk mengantisipasi agar serangan lanjutan tidak terjadi, para pengawal Adrian melemparkan tiga buah granatt kearah tiga mobil musuh di belakang yang telah gugur. Sekarang tinggal satu tikus lagi yang harus dimusnahkan.


Nyatanya hal itu tidak mudah, sebab mereka melakukan perlawanan dengan menembak ban mobil yang dikendarai oleh para bodyguards Adrian yang berada di belakang. Kemudi setir mereka oleng ke kanan, alhasil menyisakan jarak yang cukup lebar. Peluang ini dimanfaatkan oleh musuh untuk semakin bergerak mendekat.


Dorr...


Giliran body mobil yang ditumpangi Adrian terkena sasarannya sekarang. Nadine dan Adrian sama-sama menundukkan kepala mereka untuk menghindari serangan.


Dengan terpaksa, mobil Adrian beserta iring-iringan lainnya harus berhenti di tepi jalan. Kejadian ini bagaikan de javu seperti saat Adrian dan Arjuna yang juga dihadang ketika dalam perjalanan pulang.


"Sekarang apa rencana kamu?" tanya Nadine pada Adrian ketika mobil sudah berhenti.


"Jino..Samir..kalian berdua keluar dulu! Saya butuh privasi dengan istri saya," ujar Adrian.


Dengan segera, Jino dan Samir menuruti perintah boss mereka dan langsung keluar dari mobil.

__ADS_1


"Aku akan turun sekarang dan menghadapi mereka, Nadine. There's no other way. Kamu tunggu di mobil saja. Ingat, jangan coba-coba untuk keluar tanpa aba-aba dariku! Mengerti?" Adrian mewanti-wanti agar Nadine tidak bersikap gegabah.


"Tapi kalau keadaannya mendesak gimana?" Nadine mulai kepikiran dengan berbagai skenario terburuk yang mungkin terjadi.


Adrian menangkup kedua sisi wajah Nadine. "Tidak akan aku biarkan mereka berhasil mendekat pada mobil ini dan meraih kamu. Dan aku minta kamu tutup mata sesaat setelah aku keluar dari sini. Aku tidak mau kamu dan baby melihat sesuatu yang tak sepantasnya untuk dilihat."


Adrian lalu mendaratkan ciumann pada bibir Nadine dengan mesranya seakan tak ada waktu untuk bertemu dilain hari. Keduanya saling memagutt dan mencurahkan cinta untuk satu sama lain.


"Just..comeback to us, I won't ask anything more than that.." lirih Nadine ketika ciumann mereka terlepas dengan posisi kedua kening yang saling menyatu.


"I promise."


Adrian melangkahkan kakinya keluar dan segera memerintahkan Nadine untuk mengunci pintu mobil tersebut dari dalam.


Tanpa ingin berbasa-basi lagi, Adrian langsung berjalan ke arah para musuh dan menghajar mereka satu persatu dengan dibantu oleh Jino dan Samir disampingnya.


Bughh...


Bughh...


Adrian sungguh-sungguh tidak memberi ampun pada lawannya. Jumlah mereka yang banyak tidak menyurutkan semangat Adrian membasmi para musuh. Namun sayang seribu sayang. Karena terlalu sibuk menghadapi mereka, Adrian dan para bodyguards-nya menjadi lengah. Mereka melupakan kehadiran Nadine yang masih duduk manis didalam mobil.


Prangggg!!


"Arghhhh....." Nadine berteriak kencang hingga menarik atensi Adrian pada akhirnya.


"NADINE!!!!"


Adrian buru-buru menghampiri Nadine dan mengabaikan lawannya yang sedang terkapar diatas aspal.


Takut.


Itulah yang Nadine rasakan saat ini. Tubuhnya bergetar hebat. Tangannya gemetaran hingga mengeluarkan keringat dingin. Seketika peluh menetes dari pelipisnya. Bibirnya terkatup rapat karena menahan tangis.


Seseorang sedang mengalungkan lengannya pada leher Nadine dari belakang serta mengunci pergerakan tangannya agar tidak lari kemana-mana. Sebuah pisau lipat berukuran kecil juga diarahkan tepat didepan perut buncit Nadine.


"Tuhan..aku mohon lindungi aku dan anak-anakku. Selamatkan kami, aku mohon. Berikanlah kami jalan keluar..." Nadine merapalkan doa dalam hatinya sambil ketakutan.


"Lepaskan dia!!!" pekik Adrian dari kejauhan.


Nadine menolehkan kepalanya menatap sang suami. Melihat wajah Adrian sedikit menyiratkan perasaan lega dalam hatinya.


"Berikan dulu flashdisk dan juga hardisk milik Harun yang berada di tanganmu sekarang! Kembalikan data kami yang sempat kamu curi, baru aku akan melepaskan istri cantikmu ini!" sahut orang itu seraya tersenyum menyeringai. Dia sengaja mempermainkan emosi Adrian.

__ADS_1


"Saya beri penawaran satu kali lagi, sebelum saya berubah pikiran. Lepaskan istri saya atau kamu akan hancur dalam genggaman tangan saya!" ancam Adrian.


"Tidak mungkin itu terjadi. Lebih baik katakan saja, dimana barangnya?" tantang pria itu balik yang tidak ada takut-takutnya pada Adrian.


"Kamu mencari ribut dengan orang yang salah. Saya sudah peringatkan sebelumnya, tidak akan ada ampun setelah ini. Maka jangan salahkan saya jika kamu akan menangis meraung memohon ampun."


"Aku tidak takut."


"Baiklah jika itu permintaanmu..."


Adrian kemudian mengisyaratkan Nadine untuk membuka kakinya lebar-lebar, agar Adrian bisa dengan mudahnya menembak kaki pria jahat itu. Beruntung Nadine menggunakan dress selutut.


Nadine langsung mengangguk paham setelah mendapat instruksi. Adrian telah memasang kuda-kuda, bersiap mengeluarkan pistoll dari kantongnya.


Dan,


Dorrr...


Adrian berhasil melakukannya. Nadine bisa segera terlepas dari jeratann pria bau tanah tersebut. Dari arah belakang dan samping, pria itu mendapat tembakann lagi dari para pengawal Adrian hingga akhirnya bisa dilumpuhkan. Begitupun juga dengan musuh lainnya yang ikut ditahan juga.


"Adrian..." lirih Nadine dengan nada lemas sambil memegangi perutnya yang terasa kram.


Dengan gerakan yang cepat, Adrian buru-buru menopang tubuh istrinya. "Nad..are you okay? Apa ada yang sakit?"


"Perutku..."


"Kenapa sama perut kamu? Sakit? Ayo kita ke rumah sakit sekarang..."


"Hold on wait! Adrian...I think my water is broke.." ucap Nadine dengan nafas yang tersengal-sengal menahan rasa sakitnya.


Adrian menggeleng tak mengerti. "Maksudnya?"


"Aku akan melahirkan sekarang..." Nadine mencengkram tangan Adrian begitu kuat.


Deghh..


Jantung Adrian berpacu begitu cepat selepas mendengar pernyataan Nadine.


Istrinya akan melahirkan?


Apa benar Nadine akan melahirkan saat ini juga?


Adrian sudah tak mampu memutar otaknya dengan jernih lagi. Didalam pikirannya saat ini hanyalah, dia harus segera membawa Nadine ke rumah sakit.

__ADS_1


***


__ADS_2