
"Good morning?" sapa Adrian ketika Nadine baru saja membuka mata.
Sudah sejak satu jam yang lalu Adrian telah bangun dari tidurnya. Namun ia tidak ingin beranjak pergi meski hanya sekedar untuk cuci muka ataupun buang air kecil ke toilet. Rasanya enggan sekali untuk meninggalkan Nadine barang sedetik saja.
Pria itu lebih tertarik memandangi wajah istrinya yang terlihat sangat cantik walau ketika terlelap mulutnya sedikit terbuka dan rambutnya terlihat acak-acakan karena tidurnya cukup berantakan.
"Hi..morning too? I guess..." balas Nadine dengan suara serak khas ala orang bangun tidur.
Matanya masih mengerjap-ngerjap. Bibirnya mengerucut maju kedepan. Nyawanya pun belum sepenuhnya terkumpul.
Kendati begitu Adrian malah mendapati ekspresi wajah istrinya terlihat sangat lucu dan menggemaskan. Itulah mengapa dia lebih suka bangun lebih pagi dahulu daripada sang istri.
Tujuannya ya untuk ini, menyaksikan raut wajah Nadine. Seperti yang dilakukannya sekarang. Tubuhnya berbaring dengan posisi miring seraya tangannya menopang kepala.
"Kian sama Kai udah bangun kah?" tanya Nadine lagi untuk memecah keheningan.
"Belum. Barusan aku sudah mengecek lewat baby monitor, anak-anak kita rupanya masih nyenyak mimpi indah." ucap Adrian, jari-jarinya bergerak merapikan rambut Nadine. Menyampirkan helaian halus tersebut ke belakang telinga.
Nadine terkekeh pelan mendengarkan jawaban Adrian sembari mengucek-ngucek matanya, memaksakan diri untuk bangun meski sejatinya wanita itu masih mengantuk juga lelah.
Bisa saja ini efek karena semalaman Nadine sibuk mengurusi dua pria mungilnya itu yang agak sedikit rewel. Setiap detik, menit, dan jam mereka terus-terusan menangis tanpa sebab.
Sudah diberi ASI, ditimang-timang sambil dipuk-puk dengan sayang tapi Kian dan Kai belum mau memejamkan mata. Alhasil baru pukul 2 dinihari mereka tidur juga akhirnya.
Setelah Adrian mengajak mereka main sebentar dan tanpa hentinya membacakan dongeng meski sebenarnya twins juga belum bisa menangkap bagaimana ceritanya.
Disisi lain, Nadine sangat bersyukur karena Adrian adalah partner yang bisa diajak bekerja sama untuk mengurusi Kian dan Kai. Mengingat merawat kedua bayi kembar tidaklah mudah.
Adrian masih konsisten menepati janjinya untuk menjadi ayah yang terbaik untuk kedua buah hati mereka. Sifatnya sungguh berbanding terbalik dengan Adrian yang dulu dimana ia sempat menolak mentah-mentah memiliki anak.
"Jangan dikucek itu Nadine, nanti sakit dan bisa merah-merah." Adrian hendak menarik jari-jari Nadine untuk berhenti mengusap matanya namun hal itu langsung ditepis Nadine.
"Hmm...tapi ini rasanya gatal banget makanya dikucek. Kayak ada kotoran gitu di mata aku!"
"Sini aku tiup matanya."
__ADS_1
"Enggak mau, enakan dikucek gini."
"Jorok kamu. Cantik-cantik matanya ada belek begitu!" sindir Adrian secara halus.
"Ihhh ini enggak jorok beberapa orang tuh ada yang pagi-pagi suka keluar belek di mata...kamu nyebelin deh pagi-pagi udah bikin bete!" keluh Nadine manja.
Adrian hanya bisa menggeleng-geleng menahan tawa. Rasanya puas sekali menjahili istirnya. Semenjak melahirkan Nadine sudah tidak jadi "morning person" lagi. Moodnya seringkali buruk saat pagi-pagi begini.
"Kamu kayaknya masih ingin tidur lagi ya?" Adrian memerhatikan Nadine dengan seksama. Menyadari gerak-geriknya.
"Heemm..badan aku rasanya pegal-pegal. Bawaannya pengen di kasur aja. Males kemana-mana deh hari ini."
Akhir-akhir ini Nadine memang moodnya seringkali tidak menentu. Tubuhnya juga agak sedikit kurang fit. Terutama bagian pinggang dan leher yang terasa kaku. Padahal dia sudah rajin olahraga bersama Adrian dengan dalih ia ingin membalikkan berat badannya ke angka normal.
Raut wajah Adrian berubah khawatir. "Kamu ngerasa sakit? Badan kamu meriang kah? Apa yang kamu rasain sekarang?"
Mendadak Adrian membombardir Nadine dengan berbagai pertanyaan. Tangannya terulur untuk memegang dahi Nadine, mengecek apakah suhu tubuhnya panas.
Sontak saja pria itu bangun dan pasang badan mode protektif. Padahal awalnya ia begitu santai berleha-leha. Diapitnya wajah Nadine dengan telapak tangannya yang besar itu, sesekali ia juga mengelus pipi lembut Nadine.
"Lagi capek? Padahal sebenarnya aku ingin mengajak kamu dan twins jalan-jalan hari ini.." kata Adrian.
Nadine menyipitkan matanya menatap tajam Adrian, "Mau ajak aku kemana?"
"Piknik sederhana di pantai. Sebelum Senin aku pergi ke Vegas, aku ingin sekali menghabiskan waktu bersama kalian. Soalnya aku tidak tahu berapa lama stay disana. Aku sendiri juga sadar akhir-akhir ini aku sibuk hingga mengabaikan kalian. Jadi aku berinisiatif mengajak kamu, Kian, dan Kai untuk liburan tipis-tipis kesana."
Hati Nadine jadi berbunga-bunga mendengarnya. Manis sekali tingkah Adrian ini yang pagi-pagi sudah romantis saja.
"Tapi berhubung kamu lelah sebaiknya batal saja rencananya. Lebih baik istirahat, jangan dipaksa." ucap Adrian dengan senyuman yang kecut.
Karena jauh didalam lubuk hatinya sedang dongkol saat ini sebab rencananya tidak terealisasi. Seperti biasa, Adrian suka merasa cemas apabila planning nya gagal. Tapi tak mengapa, dia juga tak boleh egois.
Berbeda dengan pemikiran Adrian, Nadine justru menyukai ide tersebut. Meski keadaan tubuhnya tidak mendukung, tetap saja akan Nadine terabas. Pikirnya, kapan lagi ada momen family time yang jarang ini. Tentu wanita itu tidak akan menyia-nyiakan kesempatan yang ada.
"No sayang...kita jadi aja ya pergi pikniknya ke pantai!" ucap Nadine yang bola matanya berbinar-binar bahagia.
__ADS_1
"Kamu sedang tidak enak badan. Istirahat." suara bariton Adrian terdengar lugas dan tak bisa dibantah. Namun bukan Nadine apabila dia tidak bisa merayu dan memaksa.
"Aku sudah enakan. Habis kamu bilang mau ajakin aku sama anak-anak untuk ke pantai, aku jadi berubah sumringah hehe.."
Adrian menarik pelan hidung Nadine membuatnya tertawa pelan, "Hmm..ada saja alasannya!"
"Tapi aku butuh waktu tidur sebentar lagi ya, satu setengah jam lagi deh! Setelah itu kamu bangunin aku untuk mandi terus kita berangkat. Boleh ya?" Nadine memohon dengan kedua telapak tangannya mengatup.
Adrian beralih mengelus-elus surai panjang Nadine sambil berujar, "Aturan juga kamu tidur aja sepuasnya. Ke pantainya tidak usah jadi bisa ditunda."
"Enggak mau!! Tetep harus jadi!" bentak Nadine melarang keras.
"Ya sudah kalau begitu kamu istirahat saja sebentar di kamar. Nanti twins kalau sudah bangun biar aku yang urus dan aku yang memandikan mereka."
"Beneran bisa kalau ditinggal ngurus sendiri? Minta bantu Bibi Magda saja kalau repot..atau Sinta." usul Nadine yang sedikit tak yakin.
"Ya bisa lah, aku kan daddy-nya. Selama 6 bulan terakhir juga aku kan ikut mengurus. Kamu meremehkan aku ya?" Adrian tak terima dengan kalimat Nadine yang seakan-akan mengejeknya.
"Ishh..buruk sangka banget deh! Bukan gitu maksud aku, kamu emang merawat mereka tapi seringnya pas sore sampai malam. Jarang untuk pagi ke siang, dan pada jam-jam tertentu itu Kian dan Kai suka ngereog sendiri. Takutnya kamu repot karena belum terbiasa," jelas Nadine.
"Bisa kalau usaha. Justru itu karena belum pernah, jadi sekarang harus belajar. Supaya kedepannya kamu bisa mengandalkan aku menghandle mereka di pagi hari."
"Fine... suka-suka kamu aja deh!" sahut Nadine dengan senyuman tipisnya seraya ia menaikkan selimutnya lebih tinggi untuk menutupi tubuhnya yang sedikit kedinginan di pagi ini.
"Kamu sudah lapar apa belum? Kalau iya, biar aku suruh Bibi Magda datang kemari membawakan tray sarapan untuk kamu."
"Nanti deh, kan mau piknik di pantai..sekalian sarapan saja disana."
"Okay, aku tinggal dulu kalau begitu. Aku mau ke kamar twins."
"Hmm.." Nadine berdehem pelan seraya mengangguk. "Titip ciumm ya buat mereka...tell them that I love them so much with all my heart"
"Iya. Sudah tidur sana." Adrian memajukan wajahnya untuk mengecup bibir Nadine sekilas sebelum melenggang pergi ke nursery room Kian dan Kai.
CUPPP...
__ADS_1
"See you later baby..." lirih Adrian berbisik pelan di telinga Nadine.