Favorite Sin

Favorite Sin
CHANGE OF PLAN


__ADS_3

AUTHOR POV


Wajah cantik Nadine sudah dipoles dengan make up ala natural look. Ditambah lagi tatanan rambut sederhana yang dibuat bergelombang dan tergerai, semakin menambah kesempurnaan kecantikannya. Sedangkan untuk outfit, Nadine memilih untuk memakai simple black floral midi dress.



Selesai berdandan, Nadine segera turun ke bawah guna membantu para pelayan menyiapkan perjamuan makan untuk menyambut keluarga Adrian datang.


"Hey...kamu sudah siap?" tanya Adrian pada Nadine yang sedang menata piring, sendok, dan garpu. Dibantu oleh para asisten rumah tangga yang lain.


"As you can see, aku udah ganti baju dan berdandan!" balas Nadine tersenyum.


Adrian sendiri tampak begitu gagah mengenakan kaos corduroy berwarna abu-abu yang di bagian lengannya agak ketat, sehingga menonjolkan otot bisep-nya dengan jelas.


"By the way Nad, ada perubahan rencana. Papa dan Mama tidak jadi datang kesini karena ada satu dan lain hal. Jadi kita yang akan pergi ke rumah mereka..."


"No problem! Papa dan Mama itu orang tua kamu, jadi memang sepantasnya kita yang muda harus mengunjungi mereka kesana."


"Ya sudah, kamu langsung ambil tas..terus kita berangkat!"


"Tapi ini gimana ya..makanannya udah terlanjur dibikinin banyak banget, siapa yang mau makan?" Nadine menggaruk-garuk pelipisnya yang tidak gatal.


"Biarkan saja..itu urusan belakangan!" Adrian menarik tangan Nadine namun langsung ditahan.


"Hmm..tunggu-tunggu, boleh enggak semisal makanannya buat para karyawan di rumah?"


Adrian mengerutkan keningnya.


"Daripada sayang enggak ada yang makan, lebih baik dikonsumsi sama mereka. Gimana, boleh ya..please?!!" pinta Nadine memohon.


"Terserah kamu."


"Yeay, thank you sayang!" Nadine berjinjit melingkarkan tangannya ke leher Adrian dan mengecup pipinya.


Degghhhh...


Mata Adrian membulat kaget mendapat perlakuan dari Nadine barusan. Nadine sudah mulai berani sekarang.


Tak hanya Adrian saja yang terperanjat kaget, bahkan para asisten rumah tangga juga merasakan keterkejutan setelah melihat pemandangan langka di depan mata.


"Kenapa kalian melihat kami dengan tatapan seperti itu?" ketus Adrian pada para pelayan.


Adrian sadar bahwa mereka sedang menunjukkan reaksi yang aneh, dan dia sangat tidak suka.


Nadine mengelus lengan Adrian, "Jangan sensitif begitu...udah ayo, kita jalan sekarang! Tas aku ada di ruangan tengah..tinggal ambil!"


Adrian mengangguk lalu menggandeng tangan Nadine meninggalkan ruang makan.


Ketika kedua majikannya sudah pergi keluar, kini para asisten rumah tangga mulai bergosip ria.


"Hebat ya Nyonya Nadine, bisa meluluhkan Tuan Adrian dalam sekejap.."


"Iya, semenjak menikah Tuan Adrian juga kelihatan semakin bahagia dan jarang marah-marah. Mansion sebesar ini jadi, aura nya jadi positif.."


"Hushh..sudah-sudah, ruang makan ini dilengkapi dengan fasilitas CCTV yang bisa merekam gambar dan suara. Kalau ketahuan bergosip bisa habis kita.."


Para asisten rumah tangga itu menghentikan obrolan mereka dan kembali membereskan tatanan meja makan yang tidak jadi dipakai.

__ADS_1


***


Sesampainya di kediaman Alan Natadipura.


"Rumah orang tua kamu kelihatannya lagi ramai. Apa mereka ada tamu ya?" tanya Nadine.


Nadine mengedarkan pandangannya melihat halaman rumah Papa mertuanya, yang mana banyak deretan mobil mewah terparkir disana dengan rapi.


Adrian balas menjawab, "Aku juga tidak tahu, sepertinya memang ada tamu. Mungkin ini yang menjadi alasan kenapa Papa dan Mama tidak jadi datang ke rumah."


Keduanya lalu melangkahkan kaki untuk masuk kedalam rumah. Dan saat pintu terbuka, kedatangan mereka langsung disambut oleh Fiona dan Athena.


"Kak Iann...akhirnya datang juga!!!"


"I miss you Kak, udah lama enggak ketemu kita!"


Adik-adik perempuan Adrian saling bersahutan sambil memeluk kakak sulung mereka bersamaan.


"Hmmm...udah lepas! Kakak terjepit ini!" keluh Adrian.


Setelah pelukan mengendur, kini giliran mereka untuk memeluk dan bercipika-cipiki dengan Nadine.


"Halo Kakak ipar kesayangan kita!" ucap Fiona dan Athena berbarengan.


"Halo juga adik-adikku yang cantik.." kedua tangan Luna masing-masing menangkup pipi Fiona dan Athena.


"Rumah kenapa terlihat ramai? Ada siapa yang datang?" Adrian menodongkan pertanyaan pada adiknya.


"Itu Kak, biasa lah..ada Om Farhan, Om Brian, dan Tante Mawar, beserta pasangan dan anak-anak mereka masing-masing!" jawab Athena.


"Mau apa lagi mereka kesini? Bahas warisan Opa lagi?" Adrian menyindir.


"Sepertinya iya, mereka masih sama-sama bersitegang meributkan sengketa tanah dan aset keluarga Natadipura."


"Hhhhhh..dan Papa masih meladeni mereka? Membuang-buang waktu saja!" ketus Adrian.


Nadine hanya bisa mengelus lengan Adrian untuk menenangkan suasana hatinya. Nadine takut Adrian tak bisa mengontrol emosi seperti yang sudah kejadian sebelumnya.


"Athena, Fio..Kakak minta kalian untuk panggil Papa dan Mama ke balkon atas! Kakak perlu bicara sesuatu yang penting. Sekalian ajak Arga dan Arjuna juga.."


"Loh..kita enggak menyapa keluarga besar kamu dulu?" tanya Nadine.


"Tidak perlu, mereka semua itu tidak penting. Kita naik ke lantai 2 sekarang..Fio dan Athena, Kakak tunggu kalian diatas..."


"Oke kak."


Fiona dan Athena hanya bisa menuruti perintah Adrian tanpa mau membantah.


***


Di balkon.


"Hei..Adrian..sudah datang rupanya! Kenapa tidak menemui kami di ruang tamu?" Papa Alan memeluk Adrian sembari menepuk-nepuk punggungnya.


Di belakang Papa Alan, tampak Mama Diana beserta Arjuna, Arga, Athena, dan Fiona tengah ikut berkumpul juga sesuai permintaan Adrian.


"Papa tahu alasannya, Adrian malas bertemu mereka."

__ADS_1


Papa Alan mengangguk paham. Adrian memang paling tidak suka keramaian dan sangat risih apabila bertemu dengan keluarga besar.


Kemudian mereka semua mendudukkan diri di kursi santai balkon sembari menikmati angin malam yang sepoi-sepoi.


"Jadi, apa yang mau kamu bicarakan Adrian?"


Adrian menoleh pada Nadine yang mengerti akan kode yang diberikan. Lalu Nadine mengeluarkan sebuah amplop cokelat besar dari tas-nya dan meletakkannya di meja.


"Ini apa?" Papa Alan mengambil amplop tersebut dan membuka isinya.


"Tickets for your trip to Los Angeles..untuk kalian semua.." jawab Adrian.


Mendengar kata Los Angeles, Arga, Fiona, dan Athena langsung terperanjat berdiri kegirangan.


"Yeayy!!! Mumpung liburan semester, kita ke LA!!" ucap Arga dengan lantang.


Tidak seperti adik-adiknya yang lain, Arjuna malah menunjukkan reaksi yang berbeda. Pasti ada maksud tersembunyi dibalik rencana Adrian yang secara tiba-tiba memberikan tiket liburan.


"Kalian akan berangkat ke LA minggu depan. Disana aku juga sudah menyiapkan fasilitas hotel terbaik dan akomodasi lain-lain yang spesial," lanjut Adrian.


"Kenapa tiba-tiba Adrian?" Papa Alan memicingkan matanya.


"Ini bukanlah suatu hal yang mendadak. Bukankah Papa dan Mama sudah berencana lama ingin berlibur ke LA menikmati musim panas disana? Anggap saja ini hadiah dari aku dan Nadine.."


"Soal pekerjaan Papa, nanti bisa aku handle sementara dibantu sama Ray. Jadi jangan khawatir, just enjoy the trip!" lanjut Adrian.


Sayangnya Papa Alan dan Arjuna masih ragu. Tidak mungkin Adrian memberikan semua ini secara cuma-cuma. Sedangkan Mama Diana dan ketiga saudara yang lain masih dalam euforia kegirangan.


"Kamu yakin Adrian? Apa yang sebenarnya sedang kamu tutupi dari kami? Apa ini hanya pengalihan isu?" selidik Papa Alan.


"Pah..mohon diterima ya hadiahnya. Kita enggak ada maksud apa-apa. Ini semua murni hadiah yang sudah lama ingin Adrian berikan, sebagai bentuk kasih sayangnya pada kalian. Kita pasti senang kalau Papa berkenan menerimanya. Lewat ini, Adrian bisa merealisasikan keinginannya untuk memberi kejutan berkesan untuk kalian..."


Nadine berusaha meyakinkan Papa Alan dan menghapus keraguan dalam hatinya. Dan Papa Alan pun jadi tersentuh. Benar kata Adrian, bahwa Nadine mampu merayu keluarganya.


"Okay, Papa dengan senang hati menerima. Terima kasih banyak ya Adrian..Nadine.."


"Asyikk...liburan ke LA! Aku mau pergi ke pantai yang terkenal itu disana..pasti ketemu perempuan-perempuan cantik!" Arga menggesek-gesekkan kedua tangannya.


"Kak, tambahin uang saku dong...buat shopping disana!" Athena merengek.


"Iya. Nanti Kakak akan transfer uang ke masing-masing rekening kalian," balas Adrian santai.


"KAK IAN THE BESTT!!!!"


Mereka semua akhirnya tertawa riang dan menikmati momen kebersamaan keluarga.


Tak lama setelahnya, tiba-tiba terdengar suara tembakan yang keras dari lantai bawah rumah.


DORRRRR.....DORRRR.....


"Pah..itu suara apa?" lirih Mama Diana ketakutan dan mengeratkan genggamannya pada Papa Alan.


Hal yang sama dilakukan Nadine dengan mengeratkan pelukannya di lingkar pinggang Adrian. Sedangkan Fiona dan Athena bergedik ngeri dan berlindung dibalik tubuh Arjuna dan Arga.


PRANGG....PRANGG....


Kini giliran suara pecahan kaca yang terdengar nyaring dan memekik di telinga. Semua orang yang ada di balkon atas saling bertatapan satu sama lain.

__ADS_1


***


Mohon kesediaannya untuk teman-teman agar memberi like, vote dan hadiah ya..agar author lebih semangat dalam berkarya. Terima kasih 😁


__ADS_2