Favorite Sin

Favorite Sin
PARK IN TURIN


__ADS_3

AUTHOR POV


Ceklekkk...


Pintu kamar inap Nathan terbuka, menampakkan Nadine dengan raut wajah yang sembab bekas menangis. Matanya pun sedikit bengkak dan agak memerah. Dugaan kuat Adrian, Nadine pasti begitu emosional ketika bertemu kakaknya didalam.


"Gimana kondisi kakakmu?"


"Sudah mulai membaik, walaupun sejauh ini kemajuannya belum naik signifikan. Kak Nathan juga kondisinya masih lemah dan belum bisa banyak berinteraksi denganku. Tapi untungnya Kak Nathan mulai bisa makan, kemarin-kemarin asupan makanannya hanya masuk lewat cairan infus. Sekarang dia sudah tertidur pulas."


"Kamu tenang saja, kakakmu ditangani dengan baik disini. Saya sudah mengerahkan tim medis terbaik untuk menangani kakakmu, sejak kemarin dia melakukan operasi."


"Terima kasih banyak Adrian," Nadine tersenyum tipis. "Oh ya, tadi aku samar-samar seperti mendengar kamu berbicara dengan orang?! Kamu habis ketemu sama siapa?"


"Itu Ray. Dia ada disini tadi, cuman sekarang sudah pergi. Aku memintanya untuk mengurus proses hukum atas kasus penculikan kakakmu. Karena kita sedang di luar negeri, prosedur mengurusnya lumayan memakan waktu."


"Apa orang-orang yang terlibat sudah ditangkap semua?"


"Sudah. Aku dan Ray yang mengurusnya sejak kemarin-kemarin, hanya eksekusi hukumannya saja baru sekarang!"


Perasaan lega menyelimuti Nadine saat ini. Dia sangat kagum dengan Adrian yang bergerak cepat dan mampu membereskan semua masalah secara instan. Tangan Nadine terbuka lebar untuk memeluk Adrian.


Grepp....


"How can I repay of all the good things that you've ever done to me?" lirih Nadine yang berbisik di telinga Adrian dengan lembut sembari memeluknya.


(Bagaimana aku bisa membalas semua hal baik yang pernah kamu lakukan untukku?)


Adrian tak bisa menjawabnya. Dia hanya diam dan membalas pelukan Nadine itu dengan mengusap-usap halus punggungnya.


"Hmm..tolong lepaskan?! Kamu sudah terlalu lama memelukku," pinta Adrian.


Nadine meringis dan menipiskan bibirnya "I'm sorry...maaf membuatmu tak nyaman!"


"No problem!" Adrian memiringkan kepalanya.


Suasana kecanggungan mulai timbul diantara mereka setelah pelukan keduanya terlepas. Sejujurnya, tidak ada yang berubah dari hubungan Nadine dan Adrian saat ini. Kedua insan itu masih sama-sama bersikap kaku satu sama lain.

__ADS_1


Bahkan setelah mereka telah melakukan aktivitas percintaan dan mereguk kenikmatan dunia semalam, hubungan mereka tetap saja datar. Tidak ada pembahasan lebih lanjut tentang kegiatan panas yang mereka berdua lakukan kemarin, lalu bagaimana juga dengan kejelasan hubungan mereka kedepannya. Semuanya masih abu-abu.


Baik Adrian ataupun Nadine, tidak ada yang mau mengawali untuk membuka percakapan tersebut karena mereka terlalu malu. Keduanya sama-sama berperang dengan diri sendiri untuk mempertahankan ego mereka masing-masing. Gengsi adalah kata yang tepat untuk menggambarkan mereka saat ini.


"Bisakah kita pergi dari sini untuk mencari udara segar? Saya perlu bicara denganmu.."


"Kak Nathan gimana? Dia sendirian disini dan enggak ada yang jagain!" Nadine melipat tangannya diatas dada.


"Saya akan meminta 2 perawat untuk mengawasinya di kamar. Kalau penjagaan diluar, ada bodyguards suruhan saya yang akan menjaga kakakmu supaya tidak ada orang yang macam-macam."


"Tapi...aku tetap enggak tenang kalau ninggalin kakak sendirian! Aku takut berpisah dengannya lagi.."


Sudah cukup 3 bulan ini Nadine tersiksa karena berpisah dari kakaknya. Dia tak mau kecolongan lagi hingga Nathan lepas dari jangkauannya.


Adrian membujuk, "Hanya sebentar saja, saya perlu membahas satu dan dua hal padamu. Janji tidak akan lama. Kita akan pergi ke tempat yang dekat-dekat sini saja, setelahnya kamu bisa menjaga kakakmu dengan puas."


Nadine menyetujuinya, "Okay. Kita jalan sekarang?!"


"Ladies first!" Adrian mengulurkan tangannya dan mempersilahkan Nadine berjalan terlebih dahulu.


***



"This park is so beautiful!! Aku udah lama banget enggak pergi ke taman, dari mana kamu tahu tempat ini?"


"Internet." Adrian mengendikkan bahunya.


Nadine terkekeh, "Jawaban yang klasik..."


Karena kebetulan ada sebuah bangku panjang kosong yang menghadap ke arah danau, Nadine dan Adrian memilih untuk duduk-duduk disana.


Belum ada perbincangan yang serius keluar dari mulut mereka. Keduanya masih hanyut dalam kesunyian dan ketenangan yang diciptakan oleh taman ini. Mereka lebih tertarik untuk melihat bebek-bebek yang melintas di air.


"Apa saja yang tadi kamu bicarakan dengan kakakmu?" tanya Adrian berbasa-basi.


"Seperti yang aku bilang tadi, kami tidak banyak berkomunikasi, mengingat kondisi kakakku yang belum stabil."

__ADS_1


Wajah Nadine berubah menjadi tertunduk lesu. Ada satu hal yang saat ini mengganggu pikirannya. Dia bertanya-tanya pada dirinya sendiri, kira-kira apakah kakaknya tahu tentang kematian Ayah mereka yang tragis?


"What's wrong?" Adrian memperhatikan gurat kesedihan di garis kening Nadine.


Nadine mengedarkan pandangannya ke langit, "I'm just wondering..."


(Aku hanya sedang berpikir)


"About what?" Adrian memicingkan matanya.


(Tentang apa?)


Nadine kini menoleh Adrian dan menatap matanya dengan intens, "Does my brother know about our father's death?"


(Apakah kakakku tahu tentang kematian Ayah kami?)


"Dia sudah tahu, Nad.."


"Kenapa kamu sangat yakin? Apa kamu tahu sesuatu?"


"Para komplotan pelaku penembakan Ayahmu mengaku di kantor polisi, kalau berita kematian Pak Harun sudah sampai ke telinga Nathan ketika ia disekap. Nathan juga ada d tempat ketika Ayahmu tertembak, besar kemungkinan dia sudah tahu."


"Probably that's better, aku harap dia sudah lebih tahu duluan! Karena aku mungkin enggak sanggup untuk menjelaskan pada Kak Nathan kalau Ayah sudah meninggal."


Nafas Nadine terasa tercekat. Matanya mulai memanas karena menahan bulir air mata agar tidak luruh menyusuri pipi. Sekuat apapun hatinya berusaha untuk tegar, dia selalu gagal. Titik terlemahnya terjadi ketika pikirannya sekelebat mengingat sang Ayah yang telah tiada.


"Kini giliranku yang bertanya. Kak Nathan belum tahu tentang kabar pernikahan kita kan? Maksudku apa kamu mengatakan sesuatu padanya tentang hubungan kita?"


"Nope. Mana sempat untuk bercerita panjang lebar, hanya sekedar tahu kalau dia sadar aja udah untung-untungan dan membuat hatiku lega!"


"Benar juga. Saya sempat berbicara dengan dokter kalau Nathan mengalami patah tulang di bagian leher dan pangkal tenggorokannya terluka, sehingga pita suaranya terganggu."


"That is correct! Yang bisa kulakukan saat ini hanyalah berdoa pada Tuhan agar Kak Nathan lekas diberi kesembuhan dan bisa berkumpul lagi denganku.."


Adrian paham jika kondisi Nathan saat ini tidak memungkinkan untuk diajak berdiskusi meski banyak hal yang ingin dibahas. Sikap tidak sabarannya kembali mencuat ke permukaan. Sayangnya, keinginan untuk menyelesaikan semua masalah sesegera mungkin harus kandas. Sehingga menunggu adalah opsi alternatif yang terpaksa harus ditempuh.


Rencana Adrian setelah Nathan dinyatakan sembuh 100% adalah memberinya pengertian atas kejelasan hubungan pernikahannya dengan Nadine. Setelah itu, Adrian baru akan melancarkan aksinya untuk mengorek informasi yang dibutuhkannya dari Nathan.

__ADS_1


***


Mohon kesediaannya untuk teman-teman agar memberi like, vote dan hadiah ya teman-teman..agar author lebih semangat dalam berkarya 😊 Terima kasih.


__ADS_2