Favorite Sin

Favorite Sin
PERSUADING ADRIAN


__ADS_3

...NADINE...


Usia kandunganku tengah menginjak 5 bulan sekarang, yang artinya kehamilanku sudah memasuki trimester kedua. Selama 5 bulan itu pula, berbagai suka duka telah aku alami mengingat hormon kehamilan yang naik turun membuat mood-ku jadi tak menentu.


Aku juga memperhatikan jika ada beberapa perbedaan signifikan yang menguar ketika aku menjalani kehamilan perdanaku ini. Yang paling kentara adalah bagian tubuhku yang semakin membengkak setiap harinya.


Mulai dari perutku yang membuncit, kedua pipiku yang terasa penuh dan berisi, lalu kaki-kakiku yang terkadang linu dan sedikit membengkak. Diam-diam aku sering merasa insecure sendiri melihat perubahan bentuk tubuhku yang seperti ini.


Tapi dari semua itu, yang paling aku suka adalah aku tidak lagi mengalami morning sickness. No more drama again, mual-mual di pagi hari. Karena demi Tuhan, 3 bulan pertama di masa kehamilan itu benar-benar menyiksaku. Untung aku berhasil melewati semuanya.


"Ayo dimakan, kenapa berhenti?" ujar Adrian yang sedari tadi membujukku untuk makan, padahal aku tidak berselera.


Saat ini aku dan suamiku tercinta sedang asyik menikmati makan siang bersama di meja makan halaman belakang kediaman kami yang terletak di dekat tepian kolam renang. Aku sengaja memintanya karena aku rindu dengan suasana outdoor, mumpung cuaca sedang bagus.



"Aku kenyang," jawabku malas.


"Kenyang kamu bilang? Kamu bahkan belum menyentuh sesendok makanan sejak tadi. Hanya buah dan sayuran saja. You need protein Nadine!" ucap Adrian dengan nada dinginnya.


"Aku memang butuh protein. Tapi masakan yang dibuat koki pribadi kita ini rasanya hambar semua! It's too plain...aku enggak suka!" protesku.


"Well, kalau tekanan darah kamu tidak tinggi saat kita check-up terakhir mungkin ceritanya akan berbeda," balas Adrian.


Benar juga yang dikatakannya. Andai kata pemeriksaan terakhirku menunjukkan hasil yang bagus, Adrian tidak akan mungkin bersikap stricted dan mengontrol pola makanku sedemikian rupa.


Sudah seminggu ini aku tersiksa dengan makanan yang tidak ada rasanya. Dokter menyatakan jika pembuluh darah uterusku agak mengecil, sehingga menghambat pemberian oksigen dan nutrisi pada janinku. Dampaknya, aku harus mengurangi konsumsi makanan dengan kadar garam berlebih.


"Aku mau makan junk food seperti cheese pizza, hamburger, atau french fries. I really missed them a lot.." rengekku pada Adrian.


"No. It's a big..big..no." Adrian tak ingin dibantah. "Dari sebelum kamu hamil sampai sekarang, aku selalu melarang keras kamu untuk memakan makanan junk food, kamu tahu akan hal itu!"


"Tapi sepertinya aku lagi ngidam, aku pengen banget makan makanan itu...please!!" aku mendebat Adrian kembali dan sengaja memanfaatkan bayiku agar permintaanku dituruti.


"Maafkan Mommy sayang..." gumamku sembari mengelus perutku di bawah meja.


"Jangan menguji kesabaranku Nadine! Aku sudah mengesampingkan semua urusanku demi menemani kamu makan siang. So please for God sake, just eat it!" ujar Adrian hati-hati meski terdapat penekanan dari setiap katanya.


"Okay.." aku menggerutu sambil mengaduk-aduk makanan yang ada di atas piringku.


Hari ini, Adrian ada jadwal rapat penting dengan klien yang semestinya tidak bisa ditinggal. Tapi karena aku sedang dalam mode drama queen mogok makan, dia rela meninggalkan semua pekerjaannya dan langsung pulang ke rumah hanya dengan satu panggilan.


Perubahan bukan terjadi dalam diriku saja, tapi berlaku pada Adrian. Dia yang dulunya selalu bersikap acuh, dingin, datar dan pendiam, kini menjelma menjadi sosok yang lebih perduli. Dosis perhatiannya hanya menambah sedikit sih, karena sisanya dia masih sama angkuhnya.


Adrian memang tidak secara gamblang menunjukkan afeksinya padaku. Tapi aku bisa merasakan kehangatan dari setiap hal kecil yang dia lakukan. Diam-diam, aku sering memergokinya membaca buku-buku seputar parenting dan kehamilan. Dia banyak belajar dari video internet bagaimana cara menjadi seorang ayah yang baik.

__ADS_1


Aku sendiri belum berani memastikan jika Adrian telah 100 persen menerima kehamilanku ini dengan lapang. Paling tidak ada kemajuan meski secuil saja, aku sudah senang bukan main. Tembok pertahanan gunung es yang dibuat oleh suamiku itu lama-lama mencair juga seiring waktu.


Selama 2 bulan pertama tinggal di LA, aku rutin menemani Adrian datang ke psikolog untuk konsultasi mengenai kesehatan mentalnya..


Ya, Los Angeles.


Setelah drama insiden penangkapan Galih dan David telah usai, aku dan Adrian tidak serta merta kembali ke Bali sesuai rencana awal. Kami justru memilih extend untuk tinggal lebih lama lagi. Berbeda dengan mertua dan adik-adik iparku yang tetap pulang ke tanah air.


Soal pekerjaan Adrian, aku tidak tahu menahu bagaimana dia menghandle-nya selama kita di LA. Aku hanya terima beres saja dan memilih tak ikut campur akan hal itu.


Barulah sekitar 1 bulan yang lalu, aku dan Adrian akhirnya memutuskan untuk pulang. Bukan kemauan Adrian, aku yang merengek dan memaksa minta pulang karena aku homesick. Lagipula sebentar lagi juga akan memasuki perayaan Natal dan Tahun Baru. Aku ingin merayakannya bersama keluarga besar Adrian dan juga Kak Nathan.


Berbicara tentang Kak Nathan, kakakku itu marah besar setelah tahu aku hamil. Bukan karena tidak suka, tapi lebih ke perasaan tidak dihargai sebagai seorang kakak karena aku mengabarkan berita sepenting ini lewat panggilan video. Mau bagaimana lagi, kepulanganku yang tertunda membuatku terpaksa memberitahunya lewat video call.


"Sayang..." panggilku manja pada Adrian.


Aku tak lagi memiliki rasa malu untuk memanggilnya sayang, karena aku memang sayang padanya. Bahkan bisa dibilang aku sudah jatuh cinta. Lucu bukan? Adrian juga tidak pernah protes dengan sebutan itu.


"Hmmm...?" Adrian tak berpaling dan masih sibuk memotong daging steak di piringnya.


Aku meletakkan sendok garpuku di meja dan kembali memanggilnya agar fokusnya teralihkan menatapku. "Adrian Rhys Natadipura..."


"Nadine Zerina Natadipura?!" Adrian balas menyebutkan namaku balik.


Aku berdecak kesal. Dia masih tak mau menoleh. "Hadap kesini Adrian..."


Aku tersenyum tipis dan memajukan kursiku untuk mendekat. "Kita jalan-jalan yuk ke Mall, untuk beli kado natal buat keluarga."


"Kamu sendiri sajalah yang pergi, aku titip. Uangnya nanti aku kasih," sahut Adrian santai seraya mengusap sisa-sisa makanan di sudut bibirnya dengan serbet.


Aku membulatkan mataku lebar. "Ya enggak bisa gitu dong! Sebuah kado Natal itu adalah sesuatu yang personal. Kalau kamu mau membelikan untuk seseorang, harus kamu yang pilih sendiri!"


"Yang ingin memberi kado kan kamu, bukan aku. Jadi untuk apa aku repot-repot membeli? Aku bisa langsung transfer uang untuk adik-adik, mereka pasti lebih suka mentahannya daripada sebuah kado."


"Sekali-kali lah kamu belikan mereka barang yang sekiranya bisa disimpan dan enggak akan terlupa! Please, temani aku ya ke Mall?" aku bergelayut manja di lengan Adrian berharap hatinya yang keras bisa runtuh.


"Ckkk..kamu kan lagi hamil Nadine, pasti akan kelelahan kalau keliling pusat perbelanjaan seharian."


"Justru karena aku sedang hamil, kamu harus jagain aku dan temani!"


"Aku tetap tidak mau. Lebih baik kita belanja online saja lewat market place."


Aku menepuk pundak Adrian. "Kamu jahat banget sih! Ayolah sekali aja! Apa susahnya sih meluangkan waktu sebentar? Kalau urusan pekerjaan aja kamu cepat, disuruh nemenin istri sebentar malah enggak mau!"


"Aku tidak suka melakukan itu. Aku tidak pernah beli kado, aku tidak pernah merayakan natal ataupun tahun baru bersama keluarga. Setiap tahunnya, aku lewati itu semua sendiri. Jadi..ini hal yang aneh buatku!" terang Adrian.

__ADS_1


"Justru karena baru pertama kalinya, buatlah itu menjadi pengalaman pertama yang berharga untuk kamu. We need moments..." pintaku memelas dengan menunjukkan puppy eyes-ku.


Kalau aku sudah mengeluarkan jurus jitu begini, bisa dipastikan Adrian tak akan menolak.


"Please yah...temenin aku!" aku mengecup pundak Adrian sekilas dan mengusap lengannya untuk merayu.


"No." jawabnya singkat.


Aku melengkungkan bibirku kebawah dan menguraikan pelukan kami. Aku membuang muka sambil melipat tangan diatas dada dengan perasaan kesal.


"Nadine...jangan kekanak-kanakan.." tukas Adrian.


Aku masih diam tak menghiraukannya. Biar saja, biar dia tahu rasa bagaimana kalau diabaikan.


Adrian kemudian meraih tanganku dan memaksaku berdiri, kemudian ia menarik tubuhku untuk duduk di pangkuannya. Diusapnya perut buncitku dengan kelembutan.


Jantungku berdegup kencang dan seketika salah tingkah dibuatnya. Pria ini selalu bisa membuatku tak berkutik karena sikap manisnya. Sepertinya aku benar-benar sudah terpikat lebih dalam oleh pesonanya.


"Nadine..." Adrian mengapit daguku agar aku bisa mendongak menatap matanya. "Aku sudah bilang kalau aku belum terbiasa. Aku tidak pernah melakukan itu sebelumnya."


Aku mengalungkan lenganku di leher Adrian. "Then let me help you...kamu bilang kamu mau sembuh dari trauma dan hidup normal. Mulailah dari hal yang sederhana," aku menjeda sejenak.


"Berhenti untuk menjauhkan diri dari orang-orang yang sayang sama kamu. Jalinlah hubungan yang baik dengan Mama, Papa, dan adik-adik. Aku yakin kamu bisa. Kita rayakan Natal dan Tahun Baru bersama ya?" lanjutku.


Adrian menggeleng. "The answer still, No."


"Yes."


"No, Nadine"


"Yes, Adrian"


"No..no...and no!"


"Please.." mataku berubah sayu.


Adrian memalingkan wajahnya dan menghembuskan nafasnya kasar.


"Fine!"


Finally! Akhirnya suami tampanku ini luluh juga.


"Yeayyy!!! I love you..." aku buru-buru memajukan wajahku untuk menciumm bibir Adrian dan memagutnya lama.


Adrian tak menolak. Dia malah semakin mengeratkan lingkar tangannya di pinggangku dan merapatkan ciumann kami lebih dalam.

__ADS_1


***


__ADS_2