Favorite Sin

Favorite Sin
NATHAN HAS BEEN FOUND


__ADS_3

AUTHOR POV


"Kamu kenal sama perempuan tadi, dia siapa?" pikiran Nadine masih terbayang-bayang akan Valerie, perempuan yang sempat bertabrakan dengannya tadi.


"Bukan urusan kamu."


"Ckk.. selalu aja main rahasia-rahasiaan! Padahal kamu tinggal bilang jujur sama aku!" Nadine mengerucutkan bibirnya.


Adrian melirik tajam ke arah Nadine, "Kamu itu terlalu banyak bertanya. Kalau saya bilang tidak ya tidak, jangan membantah!"


"Aku cuman pingin tahu aja soal hubungan kamu dengan perempuan yang bernama Valerie itu. Rasanya enggak adil aja, kamu sudah tahu banyak tentang kehidupanku dan seluk-beluknya. Tapi kamu? Kamu bahkan enggak mau bersikap terbuka sama aku," Nadine mengeluh.


"Kamu tidak perlu tahu menahu soal kehidupan pribadiku, hal itu tertera di kontrak bukan? Kita sama-sama sepakat untuk tak mencampuri urusan pribadi masing-masing!"


Adrian mengingatkan Nadine soal poin yang terdapat dalam kontrak pernikahan mereka untuk tidak saling ikut campur soal privasi satu sama lain.


Respon Adrian ketika ditanyai mengenai Valerie menunjukkan hal yang negatif. Hal ini semakin menguatkan dugaan Nadine jika Adrian memiliki suatu hubungan dengan Valerie di masa lalu. Apa mungkin Valerie itu mantan kekasihnya ya? Dari gelagat Adrian dan Valerie saat bertatapan tadi, ekspresi keduanya begitu tegang.


"Adrian, kalau kamu ingin hubungan ini berhasil..yang perlu kamu lakukan hanyalah percaya sama aku! Ceritain, siapa itu Valerie?" Nadine masih mencoba mendesak Adrian untuk bercerita.


Adrian mengembuskan nafasnya kasar seperti menahan emosi, "Kenapa kamu tiba-tiba peduli? Dan sejak kapan saya ingin hubungan ini berhasil? Ingat Nadine, kita hanya menikah selama 2 tahun saja, dan setelahnya kita akan lepas. Jangan punya ekspektasi lebih!"

__ADS_1


Lagi-lagi Adrian memupuskan harapan Nadine akan pernikahan ini. Setelah berbagai masalah yang mereka hadapi bersama serta malam-malam panas yang terlewati ketika keduanya berciuman untuk kesekian kali, Nadine sempat berpikir jika pernikahannya bisa mengalami kemajuan.


Sayangnya semua angan-angan itu sirna, karena Nadine selalu ditampar oleh realita jika Adrian akan menceraikannya setelah 2 tahun nanti.


Pertemuan Adrian dengan seorang pria paruh baya di private lounge airport berjalan dengan singkat. Yang Nadine lihat dari kejauhan, pria itu memberikan hard drive pada Adrian seraya berbincang-bincang dengan ekspresi serius.


"Saya barusan dapat kabar kalau kakak kamu sudah ditemukan. Orang suruhan saya sudah membawanya ke rumah sakit sekarang untuk ditangani lebih lanjut," ujar Adrian setelah selesai mengobrol dengan pria misterius tadi.


Mendengar kakaknya dilarikan ke rumah sakit, wajah Nadine berubah pucat seketika. Apakah kondisi kakaknya itu dalam keadaan yang tidak baik-baik sehingga harus dibawa ke rumah sakit?


"Bagaimana kondisi kakakku? Kenapa harus dibawa ke rumah sakit?"


***


Sesampainya di rumah sakit, Nadine tak kuasa menahan tangisnya melihat sang kakak yang terbujur lemah di ruangan khusus.


Nadine ingin sekali untuk mendekat dan memeluk erat kakaknya, meluapkan semua emosi yang tertanam dalam tubuhnya. Sayangnya itu tidak bisa dilakukan saat ini karena keduanya terhalang oleh sebuah kaca besar di dinding yang menjadi pembatas.


"Kakakmu itu kuat, dia pasti akan baik-baik saja!" Adrian mencoba menguatkan Nadine agar tidak bersedih lagi. Dia paling tidak bisa melihat perempuan menangis.


"Semoga begitu! Aku enggak mau lagi merasakan kehilangan. Sudah cukup Ayah saja yang pergi meninggalkanku. Aku tidak mau Kak Nathan ikut Ayah...dia harus hidup dan bertahan.." lirih Nadine.

__ADS_1


Tanpa sadar, Adrian tiba-tiba merangkul bahu Nadine dan merapatkan tubuhnya ke dalam dekapan. Adrian mengelus-elus lengan Nadine dengan lembut untuk memberi kekuatan. Tak hanya itu, Adrian juga mendaratkan kecupannya di kepala rambut Nadine.


Mendapatkan afeksi dari Adrian yang jarang-jarang terjadi, Nadine merasakan kenyamanan yang luar biasa mengisi relung jiwanya. Dia langsung melingkarkan kedua tangannya di pinggang Adrian. Nadine menangis tanpa suara sembari membenamkan kepalanya di dada bidang Adrian.


"Kamu mau jalan-jalan?" tanya Adrian pada Nadine untuk memecah keheningan.


Nadine melepaskan pelukannya dan mendongak keatas menghadap Adrian. "Jalan-jalan kemana?"


"Kemana saja, kamu belum pernah ke Italia kan sebelumnya? Kita bisa berkeliling di sekitar jalanan kota Turin," tawar Adrian.


"Dalam keadaan seperti ini, mana bisa aku jalan-jalan? Kak Nathan kan lagi sakit.. rasanya aku seperti enggak ada empatinya kalau bepergian sedangkan kondisi kakakku masih memprihatinkan!"


"Sebentar saja Nad, kamu tadi kan juga sudah bertemu dokter. Beliau berkata kalau kakakmu baik-baik saja. Dalam beberapa jam kedepan dia akan sadar setelah obat biusnya habis."


Entah kenapa Adrian tidak suka melihat Nadine terus-menerus bersedih. Itu sebabnya dalam otak Adrian tercetus ide untuk mengajak Nadine jalan-jalan untuk melepaskan penat sejenak. Setidaknya, hanya itu yang bisa ia berikan dalam masa-masa sulit Nadine seperti sekarang.


"Baiklah, aku ikut saja.." akhirnya Nadine menerima tawaran Adrian yang mengajaknya pergi.


***


Mohon kesediaannya untuk teman-teman agar memberi like, vote dan hadiah ya teman-teman..agar author lebih semangat dalam berkarya 😊 Terima kasih.

__ADS_1


__ADS_2