
Grepp...
Tiba-tiba Adrian merasakan ada kedua tangan yang melingkar di pinggangnya. Sontak ia menoleh ke belakang dan langsung mendapati Nadine tengah memeluknya erat.
Tangan Adrian bergerak turun untuk mengusap tangan mulus Nadine itu. "Hey...kamu disini?"
"Hmmm..." Nadine mengangguk-angguk dengan posisi yang masih menyandar pada punggung suaminya.
Adrian kemudian melepaskan pelukan itu dan membalikkan badan untuk menghadap paras cantik nan teduh milik wanitanya.
Gilirannya sekarang untuk meraih pinggang Nadine sambil mengaitkan anak rambut istrinya tersebut ke belakang telinga. Angin sepoi-sepoi di balkon teras atas membuat rambut Nadine sedikit berterbangan.
"Kamu telepon dengan siapa tadi?" Nadine sedikit penasaran karena raut wajah suaminya itu tampak begitu tegang.
"Ray." jawab Adrian singkat.
Nadine menyatukan kedua alisnya, "Apa ada masalah di kantor?"
Adrian menanggapinya dengan sebuah gelengan. "Nope. Everything is fine."
"Bohong. Kamu sedang menutupi sesuatu dan aku bisa merasakannya. Tell me what!"
"It's nothing, Nadine. Ini murni menyangkut tentang urusan pekerjaan saja."
"Adrian.." Nadine menyebut nama suaminya dengan nada penuh penekanan.
Adrian memutar bola matanya malas seraya menghela nafasnya panjang. Kalau sudah didesak begini, dia pasti akan selalu kalah ketika berdebat dengan istrinya itu.
"Ray dan anak buahku telah menangkap semua berandal yang menyerang kita di Hari Natal," terang Adrian to the point.
Nadine terkejut. "Sungguh? Lalu dimana mereka sekarang, apa sudah diserahkan pada pihak yang berwajib?"
"Belum. Mereka masih ada di markas." jawab Adrian dengan entengnya.
Mata Nadine terbelalak lebar. Dia sudah bisa menebak kemana arah pembicaraan suaminya ini. Ketika Adrian mengeluarkan kata pamungkas "markas", maka bisa dipastikan tamatlah riwayat mereka.
Tak akan ada lagi pengampunan bagi musuh-musuhnya saat mereka sudah disandera di markas kebesaran Adrian.
Nadine bertanya, "Apa rencana kamu selanjutnya untuk mereka?"
"No mercy, obviously. Mereka pantas mendapatkan balasan yang setimpal dan mempertanggungjawabkan semua hal yang telah mereka perbuat pada kita. Terutama kamu."
Nadine terdiam sejenak dan menatap mata Adrian secara lekat.
"Bisakah kamu melepaskan mereka saja?" pinta Nadine dengan hati-hati namun Adrian balas menatapnya nyalang.
__ADS_1
"Melepaskan bagaimana maksud kamu? Menyelesaikan secara kekeluargaan begitu? Tidak akan Nadine, tidak akan ada hal seperti itu didalam kamusku. Kita tidak ada hubungan keluarga dengan mereka. Jangan memberi belas kasihan untuk orang-orang yang telah menyakitimu!" tegas Adrian.
Nadine menyanggah. "Bukan itu maksudku, kamu salah paham. What I meant, kenapa enggak kamu serahkan aja kasus mereka pada pihak yang berwajib. Jadi kamu enggak perlu lah mengotori tangan dengan melakukan tindak kekerasan dan mengurung mereka di markas."
"Aku belum puas jika tidak membalas mereka dengan tanganku sendiri. Ini baru anak buahnya Nadine, belum nanti ada Kelvin. Aku sendiri yang harus memberi perhitungan pada mereka!" Adrian tak ingin dibantah.
"Tapi aku takut Adrian..." lirih Nadine.
Adrian menggelengkan kepala seraya melepaskan pelukannya pada pinggang Nadine. Ia berjalan menjauh menuju tepian balkon dan menumpukan kedua tangannya diatas pilar-pilar kecil tersebut.
"Apa yang kamu takutkan? Kamu punya aku, Nad! Aku bahkan berani bersumpah untuk mempertaruhkan nyawaku demi melindungi kamu dan anak-anak kita. Aku tak perduli, pokoknya aku mau mereka dihukum dengan caraku." pandangan Adrian lurus menatap langit-langit yang cuacanya mendung.
"Dan setelahnya, apa yang akan kamu dapatkan dari menyiksa mereka? Yang ada, kamu justru semakin memperkeruh keadaan dan memupuk rasa dendam." balas Nadine tak mau kalah.
"Apa kamu enggak takut dengan karma Adrian? Apa kamu tidak berpikir jangka panjang? Bagaimana jika nantinya hal ini akan menjadi boomerang untuk anak-anak kita di masa depan? Aku takut mereka menjadi sasaran balas dendam.."
"Tidakkah kamu ingat dengan kisah kamu sendiri? Dendam diantara Papa Alan dan Galih mengakar begitu kuat sehingga kamu menjadi korbannya. Bahkan sampai dewasa pun, kamu juga masih memiliki amarah yang mendarah daging?!" Nadine kembali mendebat suaminya panjang lebar.
Adrian menoleh Nadine dengan tatapan yang datar. Aura dingin dari dirinya terpancar begitu kuat.
"Itu adalah dua case berbeda, Nadine. Sudahlah, kamu tak mengerti perasaanku! Bagaimana takutnya aku saat melihat kamu pendarahan dan harus segera dilarikan ke rumah sakit."
Adrian berjalan satu langkah kearah Nadine.
"Kamu tak tahu bagaimana takutnya aku saat dokter bilang jika anak kita terpaksa lahir secara prematur. Dan kamu yang harus bertaruh nyawa di ruang operasi untuk membawa anak-anak lahir ke dunia ini!"
"Hati aku rasanya sedih sekali, melihat Kian dan Kai terbaring lemah di NICU." Adrian menunjuk-nunjuk dadanyaa sendiri. "Belum lagi, aku melihat tubuh mungil mereka dipasangi dengan alat bantu pernafasan. Kamu bisa rasakan bagaimana hancurnya aku?"
Tumpah sudah lelehan air mata Adrian tanpa permisi. Pertahanannya runtuh seketika saat membahas tentang anak. Adrian tak kuasa lagi membendung perasaan emosionalnya.
Nadine menyerah. Ia menurunkan egonya dan bergabung dengan sang suami, lalu ikut menangis. Keduanya menumpahkan segala keluh kesah dalam dekapan satu sama lain.
"Jika kamu merasa takut, maka aku lebih takut Nadine. Hanya sesaat, aku sempat berpikir akan kehilangan kamu. Dan itu sangat menyakitkan rasanya," ungkap Adrian tulus dari hati. "Aku akan membalas setiap perbuatan mereka yang hampir saja merenggut kebahagiaanku!"
Nadine semakin mengeratkan pelukannya mendengar isakan Adrian.
"I once lost everything..and lost myself. I was in a darkest place. But you've changed me. I wouldn't want to go through that phase again. I got myself in a mess and without you I'm in more..." ujar Adrian dengan suara yang bergetar.
(Aku pernah kehilangan segalanya..dan kehilangan jati diriku. Aku berada di tempat tergelap. Tapi kamu telah mengubahku. Aku tidak ingin melalui fase itu lagi. Aku membuat diriku berantakan dan tanpamu aku bisa terjerumus didalamnya lagi)
Nadine mengendurkan pelukan mereka dan tangannya terulur untuk menghapus air mata Adrian.
"I'm sorry...kamu jangan nangis lagi, nanti jelek! Udah jadi daddy-daddy enggak boleh nangis!" canda Nadine untuk mengalihkan perhatian Adrian.
Dan berhasil. Adrian tertawa kecil dibuatnya.
__ADS_1
"Aku minta maaf ya, aku janji enggak akan melarang lagi. Kamu bebas melakukan apapun yang kamu mau. Dengan catatan, tetap gunakan akal sehat kamu. Don't cross the limit. Ingat aku, Kian, dan Kai yang selalu menunggu kamu di rumah. Okay?"
"Iya..." jawab Adrian malas. "Tunggu sebentar, Nathan mana, sudah pulang dia?" tanyanya.
"Hmm..mendadak Kak Nathan ada urusan penting yang harus diselesaikan sekarang juga. Maaf dia tak sempat untuk berpamitan karena terburu-buru. Timing-nya pas sekali, saat kamu sedang teleponan, Kak Nathan juga mendapat panggilan dari anak buahnya di kantor," jawab Nadine.
"Tidak masalah buatku. Karena kami juga masih bisa bertemu dilain kesempatan." Adrian tersenyum tipis. "By the way, apa Kian dan Kai masih tertidur pulas?"
Nadine terkekeh pelan. "Anak-anak kamu itu betah banget kalau disuruh tidur! Sudah 3 jam lebih tidur siang tapi sampai sekarang belum bangun juga!"
"Biarlah mereka masih tidur. Semalam Kian dan Kai agaknya sedikit rewel. Mereka sudah diletakkan pada baby crib masing-masing kan?" Adrian seketika panik karena mereka meninggalkan si kembar di nursery room.
Nadine menangkup dua sisi wajah suaminya sambil berkata, "Sudah sayang! Aku sendiri tadi yang memindahkan mereka dari kasur ke crib-nya. Baby monitor dan CCTV area sekitar juga sudah aku cek. Semuanya masih aktif dan berfungsi dengan baik."
"Terus siapa yang mengawasi mereka sekarang?"
"Aku sudah menitipkan Kian dan Kai pada Bibi Magda dan Sinta. Enggak mungkin kan aku meninggalkan mereka berdua tanpa pengawasan?! Itulah sebabnya aku bisa samperin kamu ke balkon sekarang."
Perasaan lega menjalari tubuh Adrian. "Ya sudah kalau begitu, tadinya aku pikir Kian dan Kai tak ada yang menjaga."
Nadine menepuk pelan dadaa bidang Adrian. "Mana mungkin enggak ada yang jaga, bisa-bisa aku jantungan kalau mereka berdua aku tinggal sendirian."
"Kamu yakin kita tak perlu menyewa jasa babysitters?" Adrian pernah menawarkan namun Nadine menolaknya mentah-mentah.
"One hundred percent sure! Aku masih sanggup merawat mereka berdua dengan tanganku sendiri. Aku kan pengangguran sekarang, sering enggak melakukan apa-apa di mansion. Kalaupun aku butuh bantuan, ada Bibi Magda dan pelayan lainnya yang sigap membantu. Kamu tenang saja!"
"Terserah kamu saja, kamu lebih tahu apa yang dibutuhkan daripada aku," sahut Adrian.
Nadine secara tiba-tiba memajukan wajahnya untuk menciumm bibir sang suami.
Cupp...
"Jangan memancingku Nadine, kita belum bisa bercinta saat ini!" sergah Adrian.
Nadine memanyunkan bibirnya. "Kan cuma sekali cium! Memang tidak boleh?"
"Aku takut tidak bisa menahan diri. Kamu akan melihat sisi terliarku nanti!" kilah Adrian.
Nadine mendengus sambil melingkarkan lengannya pada leher suaminya. "Iya deh..enggak lagi..."
"Aku punya hadiah untuk kamu." celetuk Adrian.
"Hadiah apa?"
"Ikut aku..." Adrian menggandeng tangan Nadine untuk masuk.
__ADS_1
***