Favorite Sin

Favorite Sin
FUNERAL


__ADS_3

AUTHOR POV


"..dengan berat hati saya ingin mengabarkan bahwa pasien atas nama Harun Bimantara telah dinyatakan meninggal dunia pada pukul 22.35 tadi."


"HAHHHH..?!!!!" teriak Adrian dan Ray bersamaan.....


"Jangan sembarangan kalau bicara suster!!!" bentak Adrian.


"Saya berbicara fakta, pak. Tidak mungkin saya berani bergurau jika menyangkut nyawa seseorang. Saya pamit undur diri, untuk mengurus jenazah pasien. Selamat malam."


Suster itu beranjak dari tempatnya dan meninggalkan Adrian dengan raut wajah yang sulit untuk ditebak.


Ray berisiniatif untuk memecah keheningan dengan mengajak Adrian berbicara. "Lalu bagaimana pak, langkah selanjutnya?"


"Ini diluar ekspektasi saya Ray! Saya pikir Pak Harun bisa selamat, ternyata tidak. Hal ini membuat saya bingung! Kalau kita pulang, perjalanan kita kemari jadinya sia-sia karena tidak dapat info apa-apa. Tapi kalau kita stay, buat apa juga? Pak Harun sudah meninggal..!!"


"Kan masih ada putrinya pak! Tadi saya belum sempat bicara banyak dengannya, karena sudah keburu dipanggil oleh suster. Saya yakin putrin--"belum sempat Ray menjelaskan, Adrian sudah memotong perkataannya.


"Yakin apa Ray? Yakin dia tahu sesuatu? Dari gerak-geriknya saja sudah jelas kalau dia enggak tahu apa-apa sepertinya."


"Kalau belum dicoba pasti tidak akan tahu pak!" Ray tidak menyerah.


Adrian hanya bisa berdecak kesal mendengar Ray. Tapi disisi lain, dia merasa bahwa yang dikatakan Ray ada benarnya juga. Mungkin saja perempuan itu tahu sesuatu.


"Ya sudah, kamu bantu urus pemakaman Pak Harun dari belakang. Lunasi sekalian biaya rumah sakitnya. Soal biaya biar saya yang tanggung."


Ray sedikit keheranan melihat Adrian yang nampak begitu perduli pada Pak Harun. Bahkan memintanya untuk mengurus pemakaman beliau. Pasalnya, selama bertahun-tahun kerja dengan Adrian, Ray tidak pernah melihat atasannya itu bersikap simpati atau empati terhadap seseorang.


"Kenapa diam?! Saya bukannya perduli, tapi cuman kasihan sama anaknya Pak Harun itu. Ayahnya baru saja meninggal, kakaknya menghilang. Pasti kerepotan kalau ngurus pemakaman sendiri, apalagi dia perempuan."


"Itu sih sama aja perduli pak" batin Ray.


Melihat Ray yang kebingungan dan tidak mengeluarkan sepatah kata apapun, Adrian menepuk bahu Ray untuk menyadarkannya.


"Hey, kelamaan mikir kamu, udahlah pokoknya saya mau semuanya beres. Dengan membantu proses pemakaman ayahnya, itu bisa memudahkan kita untuk mendekati dia dan mencari informasi. Sekarang lebih baik kamu suruh dua pengawal lain untuk turun tangan soal pemakaman. Lalu kita cari hotel untuk menginap, saya tahu kalau udah malam begini otak kamu loading perlu istirahat."


"Baik, Pak!" ucap Ray dengan malu-malu sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Harus dia akui, seharian ini dirinya memang sedikit lelah mengerjakan segala tugas dari Adrian.

__ADS_1


***


Kesedihan yang mendalam masih menyelimuti Nadine. Tak pernah terlintas sedikitpun dibenaknya untuk kehilangan sang ayah secepat ini. Kering sudah air matanya menangisi kepergian Harun, cinta pertamanya.


Setelah sang ayah dinyatakan meninggal dunia, Nadine langsung menghubungi Kelvin untuk mengabarkan berita duka ini.


Kelvin yang baru saja selesai dari kantor polisi untuk mengurus kasus penembakan Harun dan menghilangnya Nathan, sangat terkejut mendapatkan berita kematian Harun lewat telepon dari Nadine


Tak ingin membuat Nadine melewati semua kesedihan ini sendiri, Kelvin segera melajukan mobilnya menuju rumah sakit tempat Harun dirawat.


Sesampainya Kelvin di rumah sakit, dia pergi menuju ruang tunggu ICU untuk menemui Nadine. Disana terlihat Nadine sedang terduduk lemas dengan tatapan yang kosong.


"Nad, aku turut berduka atas beperginya Om Harun."


Nadine yang mendengar suara Kelvin pun beranjak dari tempat duduknya dan segera menghamburkan pelukannya pada Kelvin.


"Ayah Vin...ayah...dia udah pergi" isak tangis Nadine yang tertahan sejak tadi keluar begitu saja setelah bertemu Kelvin.


Kelvin mencoba menguatkan Nadine, "Yang sabar ya Nad, aku tahu kamu orang yang kuat. Biarkan Om Harun pergi dengan tenang." Nadine menganggukkan kepalanya.


***


Nadine menghampiri jenazah sang ayah untuk mengabadikan beberapa foto sembari mengucapkan kalimat perpisahan.


"Istirahat yang tenang ya, Ayahku sayang. Nadine janji akan selalu tersenyum dan mencoba untuk tetap kuat meskipun ayah sudah tidak ada lagi disisi Nadine sekarang. aku sayang banget sama Ayah," Nadine mengecup kening sang ayah sebelum peti itu ditutup.


Tak banyak orang yang hadir di acara pemakaman Harun. Hanya para tetangga, karyawan-karyawan Harun, serta beberapa kolega kerjanya yang jumlahnya tidak terlalu banyak.


Maklum, Harun sendiri memang hidup sebatang kara. Dia hanya memiliki Nathan dan Nadine. Maka dari itu, tidak ada satupun pihak keluarga Harun yang hadir. Hanya Kelvin dan kedua orangtuanya yang turut hadir untuk memberikan support pada Nadine.


Proses pemakaman Harun berjalan dengan lancar tanpa hambatan. Para pelayat yang merupakan tetangga Harun, ikut serta membantu mengiring peti jenazah Harun ke tempat peristirahatannya yang terakhir sebagai bentuk dari ibadah penguburan.


Ditemani oleh Arin, mamanya Kelvin, Nadine menaburkan bunga diatas tempat peristirahatan terakhir Harun. Arin tak henti-hentinya mengusap punggung Nadine secara lembut sembari menggandeng tangannya dengan erat, sebagai bentuk support darinya.


Dari kejauhan, Adrian tampak gagah dengan memakai pakaian serba hitam yang berwarna senada juga dengan kacamatanya. Sudah sejak tadi dia dan Ray mengamati proses pemakaman Harun dari jauh.


Ray mengusulkan kepada Adrian untuk menghampiri Nadine nanti-nanti saja, disaat situasinya sudah kondusif. Dia berpikir bahwa putrinya Pak Harun pasti masih dirundung duka. Jadi tidak mungkin perempuan itu langsung diberondong dengan beberapa pertanyaan terkait Galih.

__ADS_1


Berbeda dengan Adrian yang memiliki pemikiran lain. Dia sendiri sudah tak sabar ingin segera menghampiri Nadine dan melemparkan beberapa pertanyaan untuknya. Semakin cepat, maka semakin baik kasus ini terselesaikan.


"Saya enggak mau tahu Ray! Pokoknya setelah proses pemakaman ini selesai, kita harus segera menemui perempuan itu. Saya gak akan menundanya lagi!" perintah Adrian.


Suka tidak suka, Ray memang tidak bisa menolak permintaan atasannya itu. Jadi dia hanya mengiyakan saja perintah yang diberikan Adrian.


Saat proses pemakaman Harun sudah selesai, Nadine diantar pulang oleh Kelvin. Sebenarnya Arin dan Rahman sudah menawarkan Nadine untuk menginap di rumah mereka untuk beberapa hari kedepan, agar Nadine tidak kesepian sendiri.


Tawaran tersebut ditolak oleh Nadine, dengan alasan Nadine hanya butuh ketenangan dan privasi di masa sulit ini. Nadine berencana untuk tinggal di apartemen sementara waktu. Tapi tetap, Nadine sangat berterima kasih dan mengapresiasi niat baik dari Arin dan Rahman.


Tak bisa dipungkiri, kehilangan sosok yang berharga dalam hidup pasti meninggalkan duka yang begitu dalam. Dalam perjalanan pulang saja, Nadine masih menunjukkan raut kesedihan di wajahnya sama seperti kemarin.


Yang membedakan hanya, sekarang Nadine sudah tidak terlalu banyak menangis. Mungkin dia sudah lelah juga karena menangis terus-terusan.


"Aku enggak akan pernah bosan untuk bilang ke kamu agar tetap sabar dan kuat, Nad. Percaya deh, pasti akan ada pelangi setelah badai hujan berlalu. I'll always be there for you..." ujar Kelvin memecah keheningan.


Nadine melemparkan senyum tipisnya. "Thank you ya Vin, dari kemarin sampai sekarang...lagi-lagi aku merepotkan kamu. Makasih banget, karena kamu udah bantu aku melewati ini semua."


"Best friends, remember? Jangan sungkan kalau kamu butuh bantuan, jangan pernah selalu merasa bahwa kamu sendirian. Ada aku, orang tuaku juga."


"Iya, Vin..."


Kelvin yang sedang memegang setir di bangku kemudi bisa melihat Nadine yang berusaha untuk tetap kuat. "Hey, senyum dong..jangan sedih terus!"


"I will try my best, okay!" sahut Nadine.


"Oh ya Vin, ngomong-ngomong..aku masih penasaran tentang kemarin. Soal biaya administrasi rumah sakit Ayah yang sudah terbayar lunas. Bahkan untuk pemakaman Ayah hari ini juga sudah ada yang mengurus. Padahal aku gak merasa udah bayar, Ayahku juga gak ikut program asuransi dan lain-lain!!"


Sejak kemarin, hal ini memang sedikit mengganggu pikiran Nadine. Bagaimana bisa ada orang yang sudah berbaik hati mau melakukan itu semua.


"Aku juga mikir gitu sih Nad, kalau dipikir-pikir ya lumayan sih...kamu gak perlu keluar biaya. Cuman ya ngeri juga, itu duit darimana? Maaf kalau menyinggung, tapi tempat pemakaman Ayah kamu itu elite. Bukan orang biasa yang bisa dimakamkan disitu."


"Itu dia Vin, tadinya aku berniat Ayah untuk dimakamkan di tempat lain. Tapi ternyata, dari pihak RS udah diarahkan ke Terra Hills. Bahkan biaya perawatan makam Ayah selama beberapa tahun kedepan sudah full ter-cover."


"Kita bahas pas di rumah kamu aja ya...sekalian bahas soal laporanku kemarin di kantor polisi. Kan aku belum sempat info ke kamu, gimana-gimananya. Karena polisi akan cek TKP hari ini."


"Okay..ini juga udah dekat rumah kok."

__ADS_1


Dengan cepat Kelvin menginjakkan pedal gas mobilnya dengan buru-buru agar segera sampai ke rumah Nadine.


__ADS_2