Favorite Sin

Favorite Sin
LOTUS FLOWER


__ADS_3

AUTHOR POV


Adrian mengajak Nadine berkeliling taman rumah sakit dengan kursi roda untuk mengusir rasa suntuk Nadine yang sudah 2 hari penuh ini berada di kamar inap terus.


Sebenarnya dokter menyarankan Nadine untuk bed rest, namun Nadine memaksa ingin keluar sebentar untuk menghirup udara segar sejenak. Nadine terlampau bosan.


Demi menyenangkan Nadine. Adrian akhirnya meminta dokter untuk memeriksa ulang kondisi Nadine terkini. Hasilnya, keadaan Nadine mulai membaik. Dokter mengizinkan Nadine keluar dengan catatan tidak boleh lama-lama.


"Aku punya sesuatu buat kamu." ucap Adrian saat keduanya sedang duduk di bangku taman rumah sakit.


"Apa itu? Hadiah?" Nadine mengernyitkan keningnya penasaran.


Adrian kemudian mengeluarkan sebuah kotak kuning berukuran sedang dari kantong dalam Coat miliknya.


"Kamu buka aja sendiri.." Adrian menyodorkan kotak itu pada Nadine.


Nadine akhirnya membuka kotak tersebut karena sudah tak sabar mengetahui apa isinya. Dan ketika dibuka, tampak sebuah kalung dengan liontin bunga lotus terpampang disana.


"Is this Lotus Flower?" senyuman Nadine merekah sembari melirik kearah Adrian.


"Indeed. That's a Lotus Flower, atau Bunga Teratai.." jawab Adrian.


Nadine meraba-raba kalung tersebut dan mengamatinya seksama. "Kalungnya cantik, ini serius buat aku?"


"Bukan, itu buat Bibi Magda." goda Adrian membuat Nadine menggerutu.


Nadine menepuk bahu Adrian pelan. "Kamu yang serius dong!"


"Ya jelas buat kamu Nadine, ngapain aku menunjukkan kalung itu kalau bukan buat kamu? Aneh." Adrian menggelengkan kepalanya heran.


"Habisnya kamu enggak pernah kasih aku hadiah apa-apa. Jadi aku enggak expect kamu bakal memberiku kalung cantik ini."


Sejujurnya, Adrian sudah lama membeli kalung liontin bermotifkan Bunga Teratai itu. Terhitung sekitar satu bulan lalu lamanya.


Waktu itu, Adrian sedang melakukan perjalanan bisnis ke Amsterdam dan mengadakan pertemuan dengan klien di sebuah restoran yang terletak di pusat perbelanjaan.


Setelah meeting selesai, tak sengaja Adrian, Ray, beserta tim kantornya melintasi sebuah toko perhiasan. Mata Adrian langsung tertuju pada kalung yang cantik itu. Seketika, ia teringat akan Nadine yang ada di rumah.


Tidak ada alasan spesifik yang khusus kenapa Adrian membelinya. Hanya karena suka, Adrian langsung ingin membeli kalung tersebut untuk Nadine.

__ADS_1


"Tapi aku serius nanya deh, ada momen apa tiba-tiba kamu bersikap manis kayak gini, tumben banget kasih aku barang?" tanya Nadine lagi.


Adrian meluruskan pandangannya menatap pemandangan taman. "Tidak ada apa-apa. Aku cuman lagi baik aja."


Nadine menahan tawanya dalam hati. Dia sudah paham betul akan sifat suaminya yang memiliki gengsi cukup tinggi itu, sehingga tidak mau mengakui.


"Terus, kenapa pilih liontin dengan simbol bunga teratai? Apa ada arti spesial dibaliknya?"


"Ada." balas Adrian singkat.


"Bunga teratai itu adalah simbol yang berkaitan erat dengan spiritual. Mereka sering digambarkan sebagai lambang dari kekuatan kebangkitan, karena bunganya yang menutup di malam hari dan terbuka lagi saat pagi menjelang." lanjutnya.


"Bunga indah ini berakar di lumpur, namun mekar di atas air. Menjadikannya bunga murni yang tidak ternoda. Seperti kamu yang memiliki sifat tulus dan murni."


"Ketika kamu memakainya nanti, aku berharap kalung itu sebagai pengingat yang konstan bahwa kamu memiliki kekuatan untuk mengatasi tantangan terbesar dalam hidup dan bisa menjadi versi terbaik untuk diri kamu sendiri."


Adrian menjelaskan pada Nadine tentang filosofi bunga teratai yang pernah dia baca di salah satu koleksi buku miliknya. Itulah alasan kenapa Adrian memilih Bunga Teratai.


"Ternyata, bunga yang kelihatannya simple seperti ini..memiliki makna yang dalam juga ya.." Nadine terpukau. "Aku enggak pernah tahu tentang detail-detail yang kayak gitu, padahal aku suka sama bunga dan berkebun."


"Sering-seringlah membaca buku pengetahuan filosofi. Itu sangat menyenangkan. Kamu akan menemukan banyak istilah baru dan belajar tentang arti dari simbol-simbol yang menarik."


"Pengen sih, tapi aku enggak tahu belinya dimana!"


Mata Nadine berbinar-binar. Kebahagiaan terpancar jelas di wajahnya. "Kamu serius?"


"Hmm...memangnya saat house tour, Bibi Magda tidak mengajakmu kesana?"


"No, aku enggak tahu dan enggak ada yang kasih tahu juga. Kalau pulang nanti, ajak aku kesana ya!" pinta Nadine.


Adrian mengangguk. "Aku sendiri yang akan mengantar kamu kesana."


"Oh ya, tolong pasangkan kalung ini di leherku..aku mau memakainya langsung!" seru Nadine menyerahkan kalung pemberian Adrian tadi.


Adrian pun menurutinya dan memutar badan Nadine perlahan. Rambut Nadine yang tergerai panjang disibak ke sisi pundak sebelah kanan hingga leher jenjangnya yang putih nampak terlihat.


Cupp...


Adrian mendaratkan kecupan bibirnya di ceruk leher Nadine.

__ADS_1


"Cantik." puji Adrian.


Pipi Nadine berubah merah seperti kepiting rebus. Detak jantungnya berdebar naik turun tak beraturan.


"Thank you, aku suka sekali dengan hadiahnya...sering-sering yah kasih aku gift!"


Adrian terkekeh. "Kita lihat nanti..kalau aku sedang mood, mungkin akan aku pertimbangkan."


Nadine membalikkan badannya menghadap Adrian dan tersenyum tipis. Sesekali ia menundukkan kepalanya memegangi liontin teratai yang kini menempel di lehernya.


"Nanti malam, kamu jadi menemui Galih?"


"Jadi."


Raut wajah Nadine berubah pucat. Senyumannya mendadak luntur begitu saja. Dia masih tidak suka dengan ide gila Adrian yang masih tetap kekeuh untuk bertemu dengan Galih.


"Kamu hati-hati ya.." Nadine menggenggam erat tangan Adrian seakan tak ingin melepaskan.


"Pasti. Aku akan segera pulang setelah semua urusan selesai. Saat aku berangkat nanti, Mama dan Papa akan menjemput kamu kesini dan membawamu terbang ke LA. Menyusul adik-adikku yang lain disana..."


Nadine menggelengkan kepalanya tak suka. "No, aku akan tunggu kamu disini. Kita kan perginya sama-sama, itu berarti kita pulang juga harus sama-sama.."


"Nadine, turuti apa kataku. Semuanya akan baik-baik saja kalau kamu menurut. Kamu akan lebih aman tinggal disana." bujuk Adrian.


Adrian sudah memperhitungkan semuanya sejak awal. Saat ini Nadine sedang mengandung buah hati mereka. Adrian tidak mau mengambil resiko jika Nadine tetap tinggal di Rio. Terlalu berbahaya.


"Tapi kamu gimana?" kegelisahan masih menyelimuti hati Nadine.


"Tidak perlu khawatir, kamu tahu kan..aku tidak akan pernah menerima kekalahan? Aku pastikan Galih akan takluk malam ini juga."


"Janji?" ucap Nadine dengan mata sayu nya.


"Aku janji." jawab Adrian mantap.


Nadine lalu menghamburkan pelukannya dan menyandarkan kepalanya di bahu Adrian. Dalam hati, dia terus berdoa pada Tuhan untuk keselamatan suaminya. Semoga Adrian selalu dalam perlindungan dan terhindar dari marabahaya.


Adrian membalas pelukan Nadine dan mengusap lembut punggung istrinya itu, dengan dalih untuk menenangkan Nadine agar tidak khawatir.


***

__ADS_1


Jangan lupa kasih like, komen, hadiah, dan vote nya ya..supaya Author lebih semangat untuk up😊 maaf slow update karena author sibuk skripsi, akan aku usahakan rutin upload yah...


Sempatkan juga untuk membaca karya author yang lain ya, judulnya "Om Duda I'm coming", di apk ini juga kok. Terimakasih.


__ADS_2