
AUTHOR POV
Suasana mendadak hening dan berubah canggung ketika Tiffany tiba-tiba muncul ditengah-tengah mereka.
"Kenapa jadi diam-diaman seperti ini? Ayo kalian saling berjabat tangan supaya lebih akrab!" tukas Opa Willy.
Berhubung Mama Diana dan Papa Alan sedang menggendong twins, serta Adrian yang raut wajahnya nampak tidak tertarik dengan kehadiran Tiffany, maka Nadine berinisiatif mengawalinya.
Tangan yang semula melingkar sempurna di lengan Adrian, kini beralih terulur untuk menyalimi Tiffany.
"Halo Tiffany, perkenalkan nama saya Nadine Zerina Bimantara..kamu bisa memanggil saya--"
Sontak Adrian menoleh secepat kilat menghadap Nadine dan memotong perkataannya. "Natadipura, Nadine. Nama belakang kamu Natadipura." Adrian langsung mengoreksi ucapan istrinya itu.
Adrian tak terima Nadine memperkenalkan diri sebagai seorang Bimantara. Seharusnya Nadine Zerina Natadipura. Itu yang benar.
"Ahh..iya maaf, aku keliru." Nadine seringkali masih lupa akan fakta bahwa dirinya sudah resmi menyandang status sebagai istri dari seorang konglomerat sekelas Adrian Natadipura.
Mama Diana dan Papa Alan yang berada dibelakang hanya bisa mengatupkan bibir mereka menahan tawa. Tak menyangka jika perkara sebuah nama belakang saja, putra sulung mereka bisa sensitif seperti itu.
"Halo juga Nadine, nama saya Tiffany Young. Panggil saja Tiffany." ucapnya sambil tersenyum tipis yang agak sedikit dipaksakan.
Tiffany kini melirik pria yang sedang berdiri tepat disamping Nadine, yang tidak lain tidak bukan adalah Adrian. "Kamu pasti Adrian ya? Cucu kesayangannya Opa Willy. Beliau sering sekali cerita banyak tentang kamu."
Adrian tak merespon apa-apa. Bahkan ketika Tiffany menatapnya penuh damba, pria itu justru setia mempertahankan wajah datarnya serta sikap cueknya yang terkenal itu.
Dengan percaya dirinya, Tiffany memajukan tubuhnya mendekat pada Adrian, dengan maksud hendak bersalaman. Dan dengan tidak tahu malunya pula, wanita itu malah memberikan tatapan menggoda secara terang-terangan didepan istri sah Adrian.
"Owekkk...owekkk..."
"Owekk...owekkk.."
Belum sempat rencana Tiffany terealisasi, suara tangisan bayi tiba-tiba mengintervensi. Baby Kian dan Kai menangis meraung-raung hingga suaranya menggema memenuhi seisi ruangan.
Dua bayi laki-laki itu seakan memberi sebuah sinyal jika mereka tidak ingin Daddy-nya didekati oleh wanita lain selain Mommy-nya.
Bersamaan dengan itu pula, Nadine refleks membalikkan badannya untuk menghampiri twins yang kemudian diikuti oleh Adrian yang mengekor dibelakang. Dan ketika berjalan, Adrian sengaja menubruk pundak Tiffany hingga wanita itu sedikit terhuyung dan mendengus kesal.
"Sayangnya Mommy, why are you crying my boys?" Nadine mengambil alih baby twins dari gendongan kakek dan neneknya, dibantu oleh Adrian pula seperti biasa.
Sambil menunggu Nadine menenangkan twins, Adrian bertanya, "Pah..Mah..dimana letak kamar yang sudah disiapkan untuk Kian dan Kai? Nadine harus menyusui twins karena sepertinya mereka ingin meminum ASI."
"Ohhh..iya, mari Mama antar saja ke kamarnya."
"Tidak perlu Mah, Mama cukup katakan padaku saja dimana kamarnya. Biar aku sendiri yang menemani Nadine," tolak Adrian secara halus.
Selain karena ingin terus berada didekat sang istri, Adrian pada dasarnya malas meladeni ocehan Opa-nya. Apalagi berhadap-hadapan dengan orang asing macam Tiffany.
__ADS_1
Mama Diana menghela nafasnya, "Tinggal berjalan lurus saja dari lorong tengah lalu belok kanan. Kamarnya terletak paling pojok, kamar nomor urutan 3 dari kiri."
"Baik Mah..terima kasih. Kami permisi dulu." pamit Adrian seraya mendorong pelan punggung istrinya untuk berjalan bersama.
***
Sesampainya di kamar, dengan sigapnya Adrian dan Nadine segera membaringkan baby twins diatas kasur. Adrian kembali berdiri, sedang Nadine bersiap diri membuka kancing atas dress-nya untuk menyusui twins.
Namun secara mengejutkan, tangisan baby Kian dan Kai serempak terhenti membuat Nadine urung melakukannya. Bukan suara isakan lagi yang menguar, melainkan sebuah gumaman bagaikan suara orang menguap. Kedua mata baby twins mengerjap-ngerjap sayu.
"Ya ampun sayang...ini anak-anak kamu sepertinya sengaja mengerjai kita! Lihat deh, mereka enggak jadi nangis masa!" Nadine terkekeh sambil memainkan jari-jemari mungil Kian dan Kai bergantian. "Pas dibawa ke kamar berubah anteng nih..malah matanya ngantuk!"
Adrian menyunggingkan sudut bibirnya keatas, "My boys ternyata peka juga. Mereka tahu jika ada aura jahat yang hinggap di rumah ini. Itu sebabnya mereka nangis."
"Aura jahat gimana? Siapa yang kamu maksud?" tanya Nadine.
"Tiffany." sahut Adrian singkat.
Nadine menaikkan alisnya sebelah, "Tiffany? Kenapa memangnya sama dia? Apa dia orang jahat?"
Resiko memiliki istri yang suka berpositif thinking, Nadine bahkan tidak tahu caranya membedakan mana orang yang tulus dan mana orang yang bermuka dua.
"Kamu pikir sendiri coba! Dari gerak-geriknya saja kan sudah terlihat kalau Tiffany itu punya maksud yang tidak baik!" ceramah Adrian.
"Jangan berburuk sangka sayang..siapa tahu Tiffany orangnya baik." ujar Nadine seraya menepuk-nepuk paha kedua bayinya secara perlahan. Kian dan Kai rupanya mulai tertidur lagi.
"Apa itu bisa dibilang kategori flirting? Aku pikir dia hanya murni ingin berkenalan dengan kamu?!" tukas Nadine dengan polosnya.
"Kamu aneh. Apa kamu sama sekali tidak cemburu suami kamu didekati wanita lain?" Adrian sampai kesal hingga memalingkan wajahnya.
"Cemburu itu pasti. Tapi kan aku juga enggak bisa menuduh sembarangan. Kalau salah sasaran gimana? Yang tadi kan baru first impression. Aku takut salah menduga."
Adrian berdecih sebal, "Ckk..sudahlah, aku jadi malas membahas dia." seketika dia badmood. Kalau sudah begini, itu artinya kode Adrian pasti ingin dibujuk.
Berhubung Kian dan Kai sudah kembali pulas, Nadine beringsut dari ranjangnya lalu menghampiri Adrian yang tengah berdiri didepan layar televisi LED besar dengan kedua tangannya yang bertengger didalam saku.
Sebelumnya Nadine sudah lebih dulu menarik pembatas kasur di pinggir ranjang guna melindungi twins agar tidak jatuh.
Nadine lalu menyelipkan tangannya untuk memeluk pinggang suaminya itu. "Sayang, jangan marah-marah! Kamu tuh dari tadi aku perhatikan bawaannya kesal mulu. Ada apa sih sebenarnya? Harusnya tuh aku yang kesal karena pembicaraan kita tentang Vegas belum selesai. Aku masih marah sebab kamu memutuskan kepergianmu secara sepihak."
"Let's talk about other things...aku sedang tak ingin membahasnya," ujar Adrian malas.
"Terus kamu maunya apa?"
"Mau kamu."
Nadine tertawa sejenak. "Mau aku? Emang mau diapain akunya?"
__ADS_1
Detik setelahnya tangan besar Adrian meraup wajah Nadine. Sebuah kecupan manis dengan durasi lama dibubuhkan Adrian pada bibir mungil wanita yang dicintainya itu.
"I miss you..so bad Nad..." Adrian menyatukan keningnya pada kening Nadine sehingga nafas hangat keduanya bisa dirasakan satu sama lain.
"And I miss you too.." balas Nadine sedikit meringis. "Sudah lama juga ya kita tidak menikmati masa-masa berdua bersama. Apalagi sekarang ada twins. Jadi berkurang deh bisa manja-manjaan sama kamunya!" ledek Nadine.
"Apa masa post partum kamu sudah selesai?" celetuk Adrian tiba-tiba.
Nadine tampak berpikir "Hmmm..sudah, kenapa memangnya?"
"Sejak kapan? Dan kamu kenapa tidak bilang?" ketus Adrian yang memundurkan wajahnya.
"Sekitar semingguan yang lalu, sayang. Aku enggak ngasih tahu ya karena kamu enggak nanya!" Nadine mengusap-usap dada Adrian.
"Ishhh..tahu begitu aku tidak perlu repot-repot menahan diri!" sesal Adrian yang mengeluh.
"Kamu kenapa sih? Menahan diri apa?" tak sengaja Nadine mendengar gumaman Adrian itu.
Tanpa berbasa-basi lagi, Adrian merapatkan tubuhnya pada Nadine. Diangkatnya lah istrinya itu bagaikan menggendong hewan koala. Nadine yang tersentak kaget refleks mengalungkan lengannya pada leher sang suami.
"Kk--kamu mau ngapain ini? Jangan buat aku deg-degan!" Nadine terbata-bata saking gugupnya. Rasanya sudah lama sekali ia dan Adrian tak berada dalam posisi seintim ini.
"Let's make love to each other..." bisik Adrian dengan lirih di telinga Nadine. Suaranya terdengar tidak terdengar seperti sebuah permintaan, tapi perintah mutlak.
"Ishh..kamu gila apa? Ada baby boys disini, suka ngaco deh kalau ngomong!"
"Kita bisa main di kamar mandi.." goda Adrian dengan senyuman menyeringainya.
Nadine menggeleng enggan, "Nope...nanti siapa yang jaga baby boys?"
"Ranjangnya kan ada bedrail khusus, pasti aman!"
"Ya tapi kamu aneh deh masa tiba-tiba minta jatah pas di rumah Opa kamu? Nanti kalau suara aku kelepasan bagaimana?"
"I don't care. Biar saja mereka mendengar sekalian suara mendesahh kamu yang seksii itu. Agar mereka tahu kalau kamu adalah milikku, hanya milikku seorang."
Pipi Nadine bersemu merah, semerah buah tomat ceri. Raut mukanya berseri-seri dan nampak sumringah. Tak bisa dipungkiri jika ia juga merindukan sentuhan suaminya yang perkasa itu.
"Fine.." Nadine mengalah. "Tapi jangan lama-lama ya! Sebentar saja.."
"Aku meragukan itu. Kita tak akan pernah tahu kedepannya bagaimana."
Tak mau berlama-lama, Adrian langsung saja menyambar bibir Nadine dan melumatnyaa penuh damba. Tangannya mulai bergerilya nakal dengan meraba-raba dan meremass dua bongkahan aset belakang Nadine yang semenjak melahirkan jadi semakin besar serta menggairahkann.
Tanpa melepaskan ciumann mereka, Adrian membopong tubuh Nadine masuk ke dalam kamar mandi dan keduanya akan melakukan kegiatan percintaan panas mereka dibawah guyuran shower. Seperti favorit Adrian..
***
__ADS_1