Favorite Sin

Favorite Sin
SHOCKED


__ADS_3

AUTHOR POV


Untuk memastikan kebenaran apakah yang dilihat Arjuna tadi itu di adalah Adrian atau tidak, dia memutuskan untuk menghubungi Papanya. Siapa tahu beliau punya jawabannya. Diambilnya ponsel yang berada di saku kemeja miliknya, lalu ia tekan tombol dial nomor Papa Alan.


📱


"Halo pah..aku ganggu waktunya gak?" Arjuna sangat tahu betul kalau di jam segini biasanya Papa Alan sedang berduaan dengan sang Mama dan tidak mau diganggu. Apalagi ini momen mau malam Minggu.


"Eh Arjuna...Ini Papa lagi free kok, enggak ganggu..ada apa?"


Beruntungnya Alan sedang tidak sibuk, malah dia sedang menikmati waktu santai sore bersama istrinya, Diana beserta Arga, Athena, dan Fiona di ruang tengah.



"Itu Pah, aku mau nanya..apa Kak Ian itu lagi ada di Jogja sekarang?"


Alan mengernyitkan dahinya. "Di Jogja? Papa kurang tahu kalau soal itu..Kakakmu Adrian itu mana pernah ngabarin kita-kita, ini aja papa udah lama enggak teleponan!! Terakhir ya pas kita liburan itu..."


Hal yang normal. Adrian memang hampir tidak pernah berkomunikasi atau sekedar berbasa-basi menghubungi keluarganya. Menghilang sampai satu atau dua bulan pun, bisa keturutan. Terkadang ini membuat keluarganya khawatir, mereka takut ada sesuatu yang buruk terjadi pada Adrian.


Anak buah Alan saja, yang dulu sempat diminta untuk mengintai kegiatan Adrian sehari-hari pun tidak sanggup dan memilih untuk menyerah. Sebab Adrian adalah orang yang sulit untuk dilacak keberadaannya dan orang suruhan Alan selalu dapat dikelabui.


"Ohh..aku pikir papa ngerti! Soalnya gini Pah..ini kan aku lagi di Jogja menghadiri pesta nikahan kakaknya temenku. Nah, enggak sengaja pas aku habis beli cake tadi, aku lihat ada orang mukanya mirip banget sama Kak Ian.."


"Masa sih? Perasaan kamu aja kali!!" seingat Alan, saat ini Adrian tidak ada urusan kerjasama bisnis atau memiliki relasi di Jogja. Tapi bisa saja Adrian sedang menggarap suatu proyek baru disana.


"Tapi aku yakin itu Kak Ian Pah..habis mirip banget!!! Plek-ketiplek, dari mulai tinggi badan, perangainya, sampai mukanya itu mirip! Wajah Kak Ian itu kan bukan pasaran pa..jarang-jarang ada orang mirip dia!"


Alan nampak berpikir, "Bisa jadi sih! Kakakmu memang sering bepergian sana-sini. Kadang di Paris, kadang di Jakarta, kadang di Amsterdam..terus besoknya udah balik lagi ke Bali! Jadi enggak menutup kemungkinan dia lagi di Jogja, mungkin ada urusan bisnis.."


"Urusan bisnis apanya Pah..orang aku lihat Kak Ian lagi jalan sama perempuan..dia habis keluar dari toko bunga!!!"

__ADS_1


"HAHHH?!!!!!" Alan yang baru saja meminum secangkir teh hangat yang disuguhkan oleh Diana langsung tersedak. "Yang bener kamu Jun, jangan suka bercanda.."


"Ihh..Papa gak percayaan banget sih, entar deh aku coba cari info bener apa enggak! Kalau emang iya, nanti aku kabarin Papa..."


Sambungan telepon keduanya telah berakhir karena Arjuna yang terburu memencet tombol end call. Alan masih termenung kehilangan kata-kata, sedangkan disisi lain Arjuna malah semangat mencari tahu mengapa kakaknya bisa berada di kota yang sama dengannya.


****


Diana penasaran tentang apa yang membuat suaminya itu terkejut sampai tersedak menyemburkan teh hangat dari mulutnya. "Pah, kenapa sih..ada apa sama Arjuna? Kok sampai kaget begitu?"


Alan menenangkan istrinya, "Yang telepon memang Arjuna mah, tapi yang bikin papa kaget bukan dia, melainkan Adrian."


Mendengar nama Adrian disebut, tentu menarik perhatian dari ketiga Natadipura bersaudara yang lainnya. Arga, Athena, dan Fiona langsung menoleh ke arah Alan.


"Adrian kenapa? Dia enggak kenapa-napa kan Pah...kasih tau Mama, cepet!!" Diana tiba-tiba panik dan menggoyang-goyangkan lengan Alan.


"Ishhh Mama..Adrian enggak kenapa-napa kok, cuman tadi Arjuna bilang katanya dia ketemu sama Adrian di Jogja? Dan yang lebih mengangetkan lagi, Adrian lagi jalan sama perempuan Mah..."


Teriakan Diana, Arga, Fiona, dan Athena memenuhi seisi ruangan. Bahkan saking kencangnya, suara teriakan itu sampai terdengar hingga ke sudut-sudut rumah. Membuat ART dan pekerja lainnya yang sedang istirahat dan makan-makan di dapur menjadi terjingkat kaget.


"Bercandanya gak lucu deh Pah..." Arga menggeleng.


"Iya nih ah..Papa bikin kaget aja! Mana mungkin Kak Ian jalan sama cewek!" sahut Fiona.


"Papa juga sama gak percayanya sama seperti kalian, tapi ini sumbernya Arjuna...pasti trusted. Papa tahu betul kalau Arjuna gak mungkin bercanda atau ngerjain kita. Dia kan bukan Arga yang suka jahil dan tukang prank!!"


Arga mengerucutkan bibirnya, "Aihhh si Papa malah nyindir aku..."


"Mama jadi penasaran deh Pah..kalau memang benar, kira-kira siapa ya perempuan itu?" Diana yang sejak tadi memilih diam, ikut bersuara kali ini.


"Sama Mah, kalau memang terbukti Adrian lagi jalan sama perempuan..Papa bakalan seneng banget. Mungkin Adrian sudah membuka hatinya.."

__ADS_1


Alan memang sangat mendambakan putra sulungnya itu bisa mendapatkan kebahagiaan yang berlimpah. Sebab sejak kecil, anak itu sudah dihantam banyak masalah yang membuatnya trauma dan sempat mengalami gangguan kesehatan mental dulu.


"Daripada penasaran, mending ditelpon aja tuh Kak Ian nya! Tanyain langsung ke orangnya, bener apa enggak dia lagi di Jogja! Terus tanyain juga...jalan sama siapa?!" usul Arga.


"JANGANNN..!!!!" kali ini giliran Alan dan Diana yang berteriak dengan nada marah.


"Kemarin aja Fiona langsung kena amuk gara-gara dia nyuruh Kak Ian untuk nikah! Apalagi ini...bisa-bisa kena serangan jantung lihat muka marahnya Kak Ian" ucap Athena.


"Ya sudah gini aja, Papa nanti akan tanya lagi sama Arjuna gimana-gimananya. Papa juga akan minta orang suruhan Papa untuk cari tahu tentang kakakmu itu!"


Semua anggota keluarga yang berada di ruang tengah akhirnya mengangguk setuju atas usulan Alan.


***


Adrian dan Nadine akhirnya sampai di lokasi dimana Harun dikebumikan, yaitu Terra Hills Memorial Park.


"Darimana kamu tahu kalau Ayah saya dimakamkan di tempat ini?" Saking sibuknya mengamati buket Bunga Lily putih yang ada di pangkuannya, ditambah pikirannya yang sedang tidak menentu. Nadine sampai lupa memberitahu alamat pemakaman Ayahnya pada Adrian.


"Kamu yang kasih tahu saya." Padahal tanpa diberitahu pun Adrian sudah paham. Karena dia adalah orang yang telah membiayai seluruh biaya pemakaman Harun.


"Masa sih? Kapan?" seingat Nadine, dia tidak memberitahu Adrian apa-apa. Bahkan saat di mobil, mereka berdua tidak berbicara sepatah kata apapun. Hanya keheningan yang menemani perjalanan mereka.


"Dasar pelupa! Pas habis dari toko bunga kamu bilang sendiri kok sama saya" Adrian mengelak.


Jangan sampai Nadine tahu tentang kebenarannya, bisa gagal penyamaran Adrian.


"Lagian buat apa kamu meributkan soal itu, yang terpenting kita sudah sampai. Lebih baik cepat turun, ini sudah sore..setelah itu mau ke kantor polisi bukan?" Adrian mencoba untuk mengalihkan perhatian Nadine agar dia tidak curiga lagi.


"Iya..ini turun.." ucap Nadine.


Mungkin saja Adrian benar. Bisa jadi Nadine yang kelupaan. Tanpa sadar ia telah memberitahu Adrian alamatnya. Karena mana mungkin juga Adrian bisa tahu, bukan begitu?

__ADS_1


Padahal sebenarnya, Nadine saja yang tidak mengetahui kalau dia telah dibohongi. Adrian juga merasa kalau dirinya sangat ceroboh sekali karena lupa bertanya pada Nadine saat di jalan tadi. Hampir saja ketahuan, untungnya kali ini dia bisa selamat karena Nadine percaya.


__ADS_2