
AUTHOR POV
"Adakah diantara kalian yang berkenan untuk bicara jujur?" tatapan mata Nadine berubah tajam, bergantian melirik Adrian dan Arjuna yang sama sekali tak mau merespon.
Suasana ruang makan berubah menjadi tegang. Hanya dalam hitungan detik saja, bukan tidak mungkin Nadine akan murka dan mengeluarkan semua unek-uneknya yang bercokol dalam hatinya.
"Kenapa diam? Jawab aku Adrian...kenapa tangan kamu bisa luka? Kamu habis dari mana?" ucap Nadine penuh penekanan.
Adrian meraih tangan Nadine, bermaksud untuk menenangkannya. "Aku akan jelaskan nanti. Kita bisa bicara berdua di kamar. Sebaiknya kita nikmati dulu makan mal-"
Nadine memotong ucapan Adrian. "Arjuna, tolong beri tahu Kakak! Apa yang baru saja terjadi pada kalian?" pandangan Nadine beralih pada sang adik ipar.
Arjuna memilih bungkam dan tak berani mengangkat kepalanya untuk berhadapan dengan Nadine. Dia tak punya cukup nyali menerima omelan maut dari kakak iparnya. Saat hamil, kegalakan Nadine bertambah kali-kali lipat melebihi keganasan Adrian. Sebesar itulah kekuatan yang dipegang oleh seorang Nadine.
"Okay...kalau tidak ada satupun dari kalian yang mau menjelaskan sekarang, buat apa juga aku ada disini! Permisi." Nadine menghentakkan kakinya kasar dan segera beranjak dari kursi untuk kembali ke kamar.
Adrian mengusap wajahnya frustasi sambil merutuki kecerobohannya sendiri yang lupa menutupi luka tangannya. Dilihatnya punggung Nadine tampak semakin jauh sehingga memperlebar jarak.
"Gimana dong Kak, itu Kak Nadine ngamuk!" Arjuna terdengar panik. Sendok serta garpu yang dipegangnya seketika terhempas begitu saja.
"Biarlah itu jadi urusan Kakak. Kamu lanjutkan saja makan malamnya."
"Serius nih? Enggak mau aku dampingi saja? Barangkali aku bisa bantu jelaskan sama Kak Nadine."
"Tidak perlu. Kakak tahu kamu lapar. Perutmu itu berbunyi keroncongan sejak di mobil tadi dan suaranya cukup mengganggu," Adrian mengolok.
"Heheheh..." Arjuna menggaruk pelipisnya yang tidak gatal sambil tertawa meringis. "Maaf Kak, habisnya kita sibuk berseteru dengan Opa pas di kantor. Aku jadi enggak selera makan. Jadinya lapar deh sekarang!" Arjuna tersipu malu karena sudah ketahuan.
"Habiskan saja makanannya. Kalau kurang bisa tambah." Adrian tahu betul jika adiknya itu suka sekali makan dalam porsi yang besar. "Kakak mau ke kamar dulu melihat Nadine. Urusannya bisa panjang kalau dia terus-terusan merajuk."
Adrian buru-buru bangkit dari tempat duduknya dan menyusul Nadine, meninggalkan area ruang makan.
"Huhh..dasar bucin!" celetuk Arjuna seraya menggelengkan kepalanya.
***
TOKK...TOKKK..TOKKK
Adrian mengetuk pintu kamar dengan hati-hati. Meskipun bisa langsung masuk, tak membuat Adrian berbuat sekenanya.
"Nad..."
__ADS_1
Ketika pintu dibuka, Adrian mendapati Nadine sedang berbaring diatas sofa bed yang menghadap pada kaca besar yang membatasi antara kamar dan view taman serta kolam renang.
"Nadine Zerina Natadipura....kamu dengar aku?" Adrian memanggil sekali lagi, namun Nadine masih mengabaikannya.
Wanita cantik itu lebih memilih untuk menatap keatas dan mengamati bintang-bintang di langit ketimbang berbicara dengan suaminya.
Suasana malam secara mendadak menjelma sunyi. Dingin menusuk sepi seperti hembusan angin yang bertiup semakin kencang. Guratan langit yang tampak mendung diselimuti oleh kabut awan.
Karena tak kunjung digubris, Adrian menghampiri Nadine dan mendudukkan dirinya pada ujung sofa. "Can we just have a civil talk, Nad? Jangan mendiamiku seperti ini. Aku tidak suka."
Adrian akhirnya merasakan juga bagaimana tidak enaknya saat dicueki oleh seseorang yang sedang diajak berbicara. Nadine tak lagi asing dengan hal ini sebab sejak awal pertemuannya dengan Adrian hingga keduanya menikah sampai sekarang, Nadine masih kerap kali diabaikan.
"Kamu harus tahu kalau ini tidak seperti yang kamu pikirkan Nadine. Aku--"
Belum selesai Adrian menyelesaikan ucapannya, Nadine tiba-tiba beringsut dari sofa bed melepaskan selimut yang menutupi tubuhnya.
Dengan langkah kaki yang kecil, Nadine mendekat pada tepian kasur untuk mengambil sebuah kotak P3K dari dalam laci bedside table. Setelah didapatkan, Nadine kembali berjalan ke arah Adrian.
"Sini tangan kamu, biar aku obati." Nadine tetap menunjukkan perhatiannya pada Adrian sekalipun ia sedang dalam suasana hati yang tidak baik.
Adrian mengulurkan tangannya tanpa suara. Dia menurut dengan alasan tak mau membuat mood Nadine memburuk. Tanpa ingin berlama-lama, Nadine membersihkan darah kering yang menempel pada area batang tangan Adrian hingga pergelangannya.
Setelahnya, ia membubuhkan obat merah yang ditotol kapas agar lukanya tidak infeksi. Dan terakhir, Nadine membalutnya dengan kasa steril dan perban plester untuk menutupi luka tersebut. Jika dilihat sekilas sebenarnya tidak terlalu parah, tapi ketika diamati secara detail goresannya cukup panjang dan dalam.
"Aku baik-baik saja Nadine."
"No..aku yakin kalau luka kamu itu enggak hanya di tangan aja! Lepas kemeja kamu sekarang juga, atau aku akan semakin marah Adrian."
Nadine menatap Adrian secara intens, seakan-akan ia tak ingin dibantah. Tensi keduanya semakin memanas, membuat Adrian berdecak kesal karena tak bisa menolak. Niat hati ingin menyembunyikan luka ini dari Nadine, tapi ujung-ujungnya akan ketahuan juga. Feeling istri lagi-lagi tak pernah salah.
Dengan malasnya, Adrian membuka kancing kemejanya dan menampakkan luka bekas tusukann pada bagian perut bawah. Sontak saja, air mata Nadine luruh seketika. Dia tak lagi kuasa menahan tangis melihat tubuh Adrian yang tersayat. Mulutnya terbuka lebar karena belum pulih dari keterkejutan.
"Who did this to you?" tanya Nadine terisak.
"Siapa lagi kalau bukan musuhku." sarkas Adrian tanpa ada gurat kekhawatiran sama sekali.
"Aku tanya serius Adrian..siapa yang melakukan ini padamu? Kenapa bisa, aku mohon jawab yang jujur..."
Adrian menarik nafasnya dalam-dalam kemudian membuangnya perlahan sebelum menjelaskan semuanya pada Nadine.
"Kelvin.." Adrian menjeda ucapannya sejenak. "Kelvin yang melakukannya. Dia menyuruh beberapa orang untuk menguntit mobilku saat aku dan Arjuna sedang dalam perjalanan pulang. Kami sempat dihadang dan berakhir dengan berkelahi."
__ADS_1
"Terus...apa mereka sudah ditangkap? Mereka mau apa?" Nadine memberondong Adrian dengan berbagai pertanyaan yang membuncah dari dalam kepalanya.
"Semuanya sudah beres. Para berandal itu sudah ditangkap dan diamankan. Ray yang mengurusnya. Aku sendiri belum tahu pasti motif mereka apa. Aku akan cari tahu setelah ini dengan mengintrogasi para berandal itu."
"Terus kamu dan Arjuna tidak apa-apa kan? Arjuna terluka tidak? Aku mau mengeceknya juga sekarang..." Nadine hendak berdiri namun ditahan oleh Adrian.
"Tenang dulu bisa? Aku dan Arjuna tidak apa-apa. Buktinya kami bisa selamat sampai di rumah. Kalau ada apa-apa, kamu tidak akan mungkin bertemu denganku."
Nadine memejamkan matanya sambil memegangi kepalanya yang mulai pusing. "Ya Tuhan, mau sampai kapan ini berakhir Adrian? Bukankah kamu sudah janji kalau keluarga kita akan jauh dari marabahaya?"
"Baru saja kita bisa lepas dari Galih. Sekarang Kelvin..besok-besok apa?" keluh Nadine yang tak kuat menghadapi masalah yang selalu menimpa mereka.
Adrian mengangkat tangannya untuk menyentuh pipi Nadine, memberikan usapan lembut yang menenangkan. "Aku minta maaf karena kamu harus ikut terseret dalam masalahku yang begitu pelik. Aku janji akan bereskan ini secepatnya."
"Kamu juga harus janji untuk selalu baik-baik saja Adrian. Aku mohon jangan bertindak nekat. Aku sedang hamil tua dan sebentar lagi akan melahirkan. Aku butuh kamu untuk mendampingiku saat proses persalinan nanti."
"Aku enggak pernah minta yang muluk-muluk, aku hanya mau kamu pulang ke rumah dalam keadaan sehat dan selamat. Tolong Adrian, kalau kamu tidak mau menurutiku, setidaknya lakukan ini demi anak kamu! Kedua anak kita membutuhkan Daddy-nya." ucap Nadine yang menangis sesenggukan.
"Hey..stop crying!" Adrian menarik tubuh Nadine untuk masuk kedalam pelukannya yang tidak terlalu erat karena terhalang oleh perut buncit Nadine.
"I'll be fine, Nad..." sebisa mungkin Adrian meyakinkan Nadine untuk tak perlu khawatir.
"Aku takut Adrian...aku takut kamu pergi! Aku sudah pernah kehilangan Ayah. Aku enggak mau lagi merasakan hal yang sama kedua kalinya."
Adrian terus mengecupi puncak kepala Nadine dan memberikan belaian-belaian hangatnya. "Kamu tahu betul jika aku tidak pernah mau menerima kekalahan Nadine. Percayalah pada suamimu ini. Aku bisa mengatasi Kelvin."
"Janji?" Nadine menguraikan pelukan mereka dan menyodorkan jari kelingkingnya.
Adrian hanya bisa menggeleng dan tertawa pelan. "I promise."
"Sakit enggak ini? Tadi soalnya aku kan peluk kamu.." Nadine meraba luka di perut Adrian. Dia sangat takut jika pelukan mereka tadi menekan luka itu.
"Tidak. Aku sudah biasa dengan hal ini." sahut Adrian dengan entengnya.
Nadine tidak kaget lagi, karena setiap kali ia mengobati Adrian, suaminya itu tak pernah meringis kesakitan. Ekspresinya selalu datar seolah-olah tak terjadi apa-apa.
"Sekarang katakan padaku, kamu mau apa? Aku akan turuti permintaan kamu, supaya kamu tidak bersedih lagi. Mintalah apapun, akan aku turuti..bebas!" Adrian mengajukan sebuah penawaran.
"Serius?" Nadine mengernyitkan dahinya tak percaya.
"100 persen serius. Lagipula selama ini kamu tidak pernah ngidam. Jadi katakan saja kamu sedang ingin apa sebelum aku berubah pikiran..."
__ADS_1
"Baiklah!" Nadine tersenyum jahat karena ia sedang merencanakan sesuatu untuk mengerjai Adrian.
***