
AUTHOR POV
Sesuai janji mereka kemarin, hari ini Adrian akan menemani Nadine untuk check-up rutin mengenai kandungannya. Nama Nadine telah dipanggil oleh seorang perawat untuk segera memasuki ruangan pemeriksaan dokter.
Namun ketika hendak masuk, langkah kaki Adrian berhenti secara tiba-tiba membuat tangan Nadine tertarik ke belakang sebab mereka berjalan dengan bergandengan.
"Kenapa berhenti? tanya Nadine kebingungan.
"Aku tidak mau masuk Nadine." Adrian menggeleng panik. "Bisakah aku menunggu di luar saja? Aku...takut tidak bisa mengontrol emosiku di dalam nanti." lirih Adrian pelan.
"Kamu sudah janji kan mau menemani aku, lantas kenapa sekarang berubah pikiran?"
"Aku tidak tahu, aku hanya merasa tidak ingin masuk ke dalam sana. It's too much, even for me," wajah Adrian tampak memelas dan tangannya berkeringat dingin.
Nadine sudah mulai terbiasa menghadapi sisi lemah Adrian yang seperti ini. Biasanya dia akan mengalah dan membiarkan Adrian memproses semuanya. Tapi tidak untuk kali ini, Nadine tidak akan menyerah. Keduanya sudah berdiri di depan ruangan dokter dan tidak ada kata untuk kembali.
"Please Adrian, lakukan ini demi aku. Demi anak kita. Aku akan selalu ada disamping kamu selama pemeriksaan USG nanti. Kamu jangan tegang...I'm here!"
Adrian menarik napasnya dalam-dalam kemudian menghembuskannya secara kasar. Adrian mendongakkan kepalanya keatas mencoba menetralisir kegelisahannya.
"Okay. Aku akan coba. Jangan lepaskan tanganku, kumohon!" pinta Adrian.
Nadine tersenyum memiringkan kepalanya. "Tidak akan, kamu bisa terus genggam tanganku nanti!"
Setelah melalui perdebatan singkat tersebut, Adrian akhirnya mengalah dan menuruti permintaan Nadine untuk ikut masuk. Kedatangan mereka berdua langsung disambut oleh dokter yang menangani.
(Notes: percakapannya langsung di translete pakai Bahasa Indonesia aja ya, meskipun mereka periksanya di rumah sakit LA 😊)
"Halo, selamat pagi. Perkenalkan, nama saya Dokter Gemma. Senang bertemu dengan anda" dokter tersebut memberikan sapaan yang ramah dan begitu welcome.
"Halo Dokter Gemma, saya Nadine dan ini suami saya Adrian. Senang bertemu dengan anda juga," balas Nadine.
"Kalau begitu, kita bisa langsung periksa saja. Nyonya bisa segera naik ke sebelah sini!"
Adrian kemudian membantu membaringkan tubuh Nadine ke atas ranjang. Setelah posisi Nadine sudah tiduran terlentang, seorang asisten dokter sedikit mengangkat kain kemeja atasan Nadine dan mengusapkan jelly USG gel di sekitaran area perutnya.
"Mereka mau ngapain kamu?" tanya Adrian berbisik. Dia tidak begitu familiar dengan konsep USG pada umumnya.
"Kalau lagi USG ya memang begini, harus dikasih gel dulu perutnya supaya janin yang diperiksa bisa terlihat dengan jelas dan tertangkap sama alat doppler-nya," jelas Nadine.
"Aku mana tahu, saat pemeriksaan pertama aku sedang tidak bersama kamu. Yang aku tahu, kamu tiba-tiba sudah dirawat inap begitu saja!"
"Kan itu juga gara-gara kamu sendiri yang main tinggal-tinggal aku! Udah tahu istri lagi hamil, eh malah kabur!" sindir Nadine.
"Move the topic, aku tidak ingin membicarakan itu!" Adrian memutar bola matanya malas, membuat Nadine gemas.
__ADS_1
"There you go!" suara dokter menginterupsi percakapan mereka sesaat. "Bisa dilihat janinnya di sebelah sini. Ukurannya sudah lumayan membesar mengingat usia kandungannya menginjak 10 minggu," lanjut Dokter Gemma sembari menggeser alat transduser-nya.
Kedua mata Adrian hampir tak berkedip menatap layar monitor yang berada tepat persis didepannya. Entah apa yang bisa menggambarkan perasaannya saat ini.
Takut, cemas, khawatir, atau mungkin senang? Adrian tidak tahu. Dia tetap fokus mengarahkan pandangannya untuk melihat benih kecil hasil dari perbuatannya yang kerap bercocok tanam dengan Nadine di setiap malam.
Berbeda dengan reaksi Adrian yang tegang, Nadine malah menunjukkan perasaan sumringahnya dengan mata yang penuh dengan pantulan cahaya kebahagiaan.
Ada perasaan hangat kala monitor menampilkan gambar ultrasound dari janin yang sedang dikandungnya. Yang membuatnya lebih spesial lagi, check-up kali ini Nadine ditemani oleh sang suami.
"Jadi, yang terpampang di ultrasound itu benar-benar anak kita?" tanya Adrian masih tak percaya.
"Exactly, that's our baby!" Nadine mengusap sisi wajah Adrian dan mengelus rahangnya penuh kelembutan.
Adrian kini ikut meraih tangan Nadine yang berada di pipinya, hingga kedua tangan mereka saling bertumpukan.
"Dari beberapa artikel yang aku baca, awalnya kantung janin dalam kandungan berukuran kecil seperti biji kacang. Tapi yang sedang aku lihat, bentuknya berbeda!" tukas Adrian.
Tanpa sepengetahuan Nadine, sedikit-sedikit Adrian banyak belajar dari internet mengenai info-info seputar bayi. Bahkan belum lama ini, Adrian sengaja membeli buku-buku parenting.
"Tentu saja beda, kan usianya udah 10 minggu. Toh juga saat pertama kali aku tahu mengandung, tiba-tiba udah 8 minggu saja. Makanya ukurannya tidak kecil seperti biji kacang lagi!" sahut Nadine.
"Dia terlihat kecil ya, meskipun bentuknya sudah terlihat jelas." celetuk Adrian. Dan yang di maksud dia disini adalah bayinya.
"Sekarang memang kecil, tapi lambat laun dia pasti akan bertumbuh besar!" balas Nadine.
"Tentu saja Dokter, tolong copy-an nya di print dua kali" jawab Nadine bersemangat.
"Baiklah, kalian bisa tunggu sebentar disana!" dokter Gema menunjuk kursi tamu yang ada di seberang meja kerjanya.
Selesai melakukan proses USG, Nadine segera turun dari brankar pemeriksaan dibantu oleh Adrian. Dokter Gemma kemudian menjelaskan tentang kondisi kandungan Nadine yang dideteksi lemah.
Sama seperti pemeriksaan Nadine sebelumnya di rumah sakit Rio, dokter disana juga berkata bahwa kandungan Nadine lemah hingga mengharuskannya untuk bed rest total dan mengkonsumsi obat penguat kandungan.
Apalagi beberapa hari terakhir Nadine mengalami flek dan perutnya seringkali merasakan kram, yang semakin menguatkan pernyataan dokter bahwa kandungan Nadine memang lemah dan bisa rawan keguguran.
Dokter berpesan agar Nadine tak melakukan banyak aktivitas terlebih dahulu dan lebih banyak beristirahat di rumah. Tidak boleh terlalu stress dan menjaga pola makan yang teratur agar senantiasa sehat.
***
Adrian dan Nadine kini sedang berada didalam mobil mereka untuk melakukan perjalanan pulang setelah dari rumah sakit.
"Kamu lihat, tidak terlalu buruk kan waktu USG tadi?" ujar Nadine.
"Tidak buruk. Tapi aku tetap gugup sepanjang waktu pemeriksaan." sahut Adrian yang sedang fokus menyetir.
__ADS_1
"Iya, aku bisa merasakan kalau kamu begitu tegang. Nih, keringatnya aja masih menempel. Tangan kamu juga masih keringatan basah." Nadine mengusap peluh di kening Adrian dangan tisu kering.
"Nad, apa ada sesuatu yang sedang kamu inginkan saat ini?"
"Disneyland!" jawab Nadine menoleh cepat.
"No, selain itu!" sahut Adrian.
"Tapi kamu sudah janji sama aku kemarin!" Nadine memelas dengan wajah yang cemberut. "Aku mau beli bando karakter princess disana!"
"Aku bilang janji, tapi dengan catatan jika dokter mengizinkan. Kamu lupa dengan perkataan dokter? Dia melarangmu melakukan aktivitas di luar yang berpotensi membuat kamu lelah. Kandungan kamu lemah, Nadine!" omel Adrian panjang lebar.
Nadine berdecak kesal. "Ckkk...ya kan tadi kamu sendiri yang nawarin, aku sedang ingin apa! Pas aku udah jawab, kamunya enggak mau mengabulkan!"
Adrian membuang muka dan menghela nafasnya kasar. "Bermain-main di Disneyland bukanlah sebuah opsi Nadine! Kita masih punya banyak waktu untuk pergi kesana, tapi tidak untuk saat ini."
"Okay..." Nadine mengalah.
Dia sadar jika dirinya tak boleh egois. Saat ini ada janin yang harus dia jaga. Benar kata Adrian, Nadine masih punya waktu untuk bersenang-senang. Suaminya itu kan kaya raya, tentu Nadine bisa kapan saja kembali ke LA dan bermain di wahana amusement park ketika sudah benar-benar fit.
"So, tell me what do you want apart from Disneyland! Kamu ingin makan apa?" tawar Adrian.
"Athena dan Fiona sering melapor padaku jika kamu sulit sekali kalau disuruh makan akhir-akhir ini," ujar Adrian lagi.
"Itu memang karena aku sedang tidak berselera! Selama hamil, aku mengalami morning sickness dan rasa mual yang berlebih. Bahkan sering berlanjut sampai siang hari. Kalaupun makan, ujung-ujungnya juga akan muntahh.." Nadine mengakui.
"Tetap saja, perut kamu itu harus diisi! Tidak perduli meski nantinya akan muntahh atau tidak, kamu harus tetap makan Nadine!" Adrian sedikit meninggikan suaranya karena merasa kesal dengan sikap Nadine. "Dasar, ceroboh sekali!"
"Iya Maaf.." Nadine menunduk sambil memainkan jari-jarinya.
Adrian langsung melirik Nadine yang melengkungkan bibirnya kebawah. Lagi dan lagi, Adrian merutuki dirinya sendiri yang tanpa sengaja membentak Nadine. Dan kini hatinya diliputi oleh rasa bersalah.
"Hey, I'm sorry okay. Aku tidak bermaksud. Aku hanya terbawa suasana." Adrian menurunkan egonya untuk meminta maaf.
"Kamu harus tahu Adrian, aku juga sebenarnya ingin memiliki pola makan yang teratur. Tapi apa daya, perutku selalu mual dan makanan itu susah masuk. Coba aja kalau kamu yang hamil, pasti akan tahu rasanya!" cibir Nadine.
"Iya..okay..aku minta maaf." Adrian meraih telapak tangan Nadine dengan tangannya yang tidak memegang setir.
"Sekarang kamu makan ya, ini udah mau siang. Tadi pas sarapan makannya sedikit. Kamu mau apa?" tanya Adrian sekali lagi.
Nadine mulai berpikir sembari mengetuk-ngetuk dagunya. "Cheese pizza, perhaps?! Sepertinya kalau makan makanan yang ada kejunya akan terasa enak. Or Mac n Cheese!" seru Nadine.
"Got it! Kita akan cari restoran sekitar sini yang menyediakan menu itu."
"Thank you so much!" Nadine bergerak mendekati wajah Adrian dan mencium pipinya sekilas.
__ADS_1
Wajah Nadine yang tadinya ditekuk, sekarang berubah sumringah. Dia tak lagi badmood. Beginilah lika-liku dari hormon ibu hamil. 5 menit menunjukkan ekspresi kesedihan, 5 menit lagi mendadak bahagia. Sulit untuk dipahami.