Favorite Sin

Favorite Sin
LUNCH


__ADS_3

NADINE POV


"Nad, kerjaan kamu udah selesai belum?", tanya Kelvin, teman satu ruanganku di kantor.


"Udah Vin, barusan aja selesai."


"Kan ini udah masuk jam makan siang, kita cari makan yuk diluar! Mau ga? Aku lagi bosen sama makanan kantin nih!"


"Boleh, bentar aku ambil tas dulu!"


Sudah menjadi kebiasaan bagiku dan Kelvin untuk makan siang bersama-sama saat jam istirahat tiba. Seringnya kita berdua makan di kantin kantor, tapi beberapa akhir ini Kelvin malah sering mengajakku makan diluar. Kelvin sendiri adalah teman dekatku di kantor.


Bukan hanya di kantor saja sih, saat diluar kantor pun kita berdua juga bisa dibilang cukup akrab. Beberapa kali, kita sering pergi bersama untuk menonton bioskop, nongkrong di cafe, atau jalan-jalan ke mall.


Kelvin orangnya asyik, dia juga ramah, cekatan, disiplin, dan enak buat jadi teman curhat..makanya aku cocok berteman sama dia. Selama satu tahun setengah aku mengenalnya, dia selalu membantuku dalam banyak hal. Terutama soal pekerjaan.


Karena kedekatanku dan Kelvin yang cukup intens, banyak orang-orang diluar sana berpikir bahwa kami berdua pacaran. Termasuk ayah dan Kak Nathan. Sampai-sampai, dulu mereka pernah mencecar Kelvin dengan berbagai pertanyaan yang mengintimidasi. Hanya karena Kelvin sering mengantarku pulang dari kantor atau mengajakku jalan-jalan keluar.


Padahal faktanya, aku dan Kelvin itu memang murni berteman biasa. Kita sama sekali tidak memiliki ketertarikan satu sama lain. Dengan menjadi sahabat yang saling pengertian, saling support, dan tahu mengenai batasan-batasan satu sama lain..itu sudah lebih dari cukup untuk kami berdua.


Saat ini, aku dan Kelvin sudah sampai di jalanan yang terdapat para pedagang PKL sedang berjualan menjajar. Karena jarak dari kantor ke tempat ini tidak terlalu jauh, kita berdua hanya naik motor tadi. Disamping itu, memudahkan kita berdua untuk bisa balik ke kantor dengan cepat.


"Mau makan apa Nad?" tanya Kelvin.


"Ga tahu juga nih..tiap kali kamu ajakin aku makan kesini aku selalu bingung. Banyak pilihan soalnya, mana enak-enak semua lagi!"


Makanan-makanan yang dijual di sepanjang jalanan ini memang sangat beragam. Warung PKL di daerah sini terkenal ramai karena harganya yang murah, tempatnya yang bersih, dan tentunya rasanya yang enak. Apalagi saat jam makan siang anak kantor, bisa membludak pelanggannya.


Aku dan Kelvin merasa beruntung karena tempatnya dekat dari kantor. Jadi kita bisa datang lebih awal dan tidak pernah kehabisan tempat, itu alasan mengapa kita sering makan disini.


"Makan bakso aja Vin, mau gak? Kayaknya enak deh..pake sambel yang pedes-pedes terus minumnya es jeruk!" aku menawari Kelvin untuk makan bakso saja. Udah dari kemarin-kemarin aku ingin makan bakso tapi belum keturutan.


"Oke deh aku ngikut aja, biar kenyang aku nanti pesennya bakso campur pake lontong." Kelvin pun mengiyakan permintaanku yang mengajaknya makan bakso.

__ADS_1


Aku dan Kelvin langsung pergi menuju warung bakso yang letaknya ada di paling ujung jalanan ini. Sambil menunggu aku memesan baksonya, aku menyuruh Kelvin untuk mencari tempat duduk yang enak untuk kita berdua makan. Setelah selesai memesan, aku menghampiri Kelvin yang duduk di pojokan.


Tak lama...2 bakso campur dan 1 porsi lontong beserta 2 es jeruk sudah dihidangkan di meja kami. Aku dan Kelvin yang sudah terserang rasa lapar sejak tadi segera melahap bakso itu.


Rasanya memang lezat, baksonya padat dan full daging, kuah kaldunya juga nikmat dan segar. Apalagi sambelnya...beuhhh, juara! Ditambah lagi, cuaca siang hari ini yang dingin-dingin mendung. Tidak salah kalau menu makan siang kita kali ini disponsori oleh Bakso Pak Mujairi.


"By the way, Vin...kemarin pas kamu 4 hari ga masuk itu Cindy nanyain terus loh! Katanya, 'Kelvin kemana aja sih Nad, udah 3 hari ga masuk...aku khawatir'banget', begitu kata dia."


Yang aku sampaikan ke Kelvin memang benar. Cindy, teman kantorku yang bekerja di divisi pemasaran itu sering menanyakan kabar Kelvin. Apalagi saat kemarin Kelvin tidak masuk kerja selama 3 hari karena dia sedang sakit demam dan flu, baru hari ini Kelvin sembuh dan bisa masuk kerja lagi.


Cindy tahu Kelvin tidak masuk, karena dia mengamati aku yang 3 hari belakangan ini selalu makan di kantin kantor sendirian. Biasanya kemana-mana aku dan Kelvin memang nempel terus.


"Iya Nad, aku tahu kok. Pas aku sakit aja, dia suka nelponin aku setiap hari. Bahkan dia bela-belain kirimin aku makanan yang sehat-sehat..kayak catering ala-ala orang yang lagi diet gitu!"


Selama Kelvin sakit, Cindy begitu perhatian. Mereka sudah bagaikan orang yang pacaran saja. Mengabari satu sama lain, mengkhawatirkan satu sama lain, jadi so sweet lihat mereka berdua.


"Semakin ada kemajuan nih! Kemarin-kemarin aja cuek banget sama Cindy, sekarang luluh juga akhirnya," aku menggoda Kelvin yang suka bersikap jual mahal terhadap Cindy.


Padahal Cindy itu orangnya cantik, kulitnya putih, orangnya baik, badannya yang kecil membuatnya terlihat lucu dan imut. Cocok sama Kelvin yang tinggi, manis dan humoris.


"Udahlah Nad, jangan bahas Cindy dulu! Kamu kan tahu aku masih dalam proses move on dari mantanku yang selingkuh itu. Aku masih belum siap membuka hati."


"Iya Vin, aku tadi juga cuman bercanda. Kamu memang harus memantapkan hati dulu. Jangan sampai Cindy hanya jadi pelarian aja, gitu-gitu dia baik lho!"


"Iya, iya...jangan ceramah mulu deh! Kamu sendiri gimana? Udah ada gebetan baru lagi belum?" sekarang Kelvin yang gantian menggodaku, dia memang pintar mengalihkan pembicaraan.


"Boro-boro gebetan, dideketin cowok aja enggak! Ga tahu lagi deh, mungkin emang takdir aku yang jomblo! Ha..ha..ha!"


"Menurut aku nih ya, sebenarnya cowok-cowok itu mau aja deketin kamu. Tapi mereka takut sama kakakmu yang super galak itu. Belum sempat diajak pergi, udah keburu p*pis di celana duluan habis kena tatapan horor dari Kak Nathan. Kalau ayahmu sih masih bisa melunak.."


Kalau dipikir-pikir, Kelvin ada benarnya. Aku memang beberapa kali sempat membawa cowok ke rumah untuk dikenalkan sama ayah dan Kak Nathan. Tujuannya supaya mereka berdua bisa tahu dengan siapa saja aku bepergian, karena aku selalu pamit.


Aku selalu memastikan untuk mendapatkan restu dari Kak Nathan atau ayah dulu, untuk pergi jalan-jalan. Kalau memang tidak diizinkan, aku tidak akan membantah. Tapi, setelah aku kenalkan mereka pada ayah dan Kak Nathan..besok-besoknya mereka tidak pernah menghubungi aku lagi. Beneran takut kayaknya!

__ADS_1


Hanya Kelvin nih, satu-satunya cowok yang berhasil lulus tes dari mereka untuk bisa dekat-dekat dengan aku. Buktinya kalau aku mau pergi sama Kelvin, ayah dan Kak Nathan tidak pernah melarang.


Ngomong-ngomong soal Kak Nathan, tiba-tiba saja aku mendapat panggilan telepon darinya. Apa jangan-jangan dari jauh, dia kerasa ya kalau sedang diomongin?


"HP kamu bunyi tuh..angkat dulu gih!" ucap Kelvin. Seraya aku menganggukan kepala dan langsung mengangkat telponnya.


"Halo, Kak Nathan!"


..."Hey Nad...maaf nih kakak ganggu waktunya. Hmm..ini..kakak mau kasih tahu, kalau nanti sore kakak gak bisa jemput kamu dulu, ayah juga. Kita berdua lagi ada urusan yang gak bisa ditinggal. Kamu bisa pulang sendiri kan?"...


"Santai aja kak, aku kan udah biasa pulang sendiri. Tapi ini kakak sama ayah ga kenapa-napa kan? Kok suaranya beda banget hari ini, kayak orang panik...ada masalah serius emang?"


^^^"I'm okay Nadine, cuman masalah kantor aja. Kamu udah makan siang kan?"^^^


"Udah kak, ini habis makan bakso sama Kelvin. Kakak jangan lupa makan siang juga yah.."


^^^"Iya ini kakak baru mau makan tadi habis pesan lewat aplikasi. Inget ya, nanti sore habis dari kantor langsung pulang! Jangan ngeluyur kemana-mana, kalau boleh kamu pulangnya bareng sama Kelvin aja."^^^


"Oke kak, nanti aku coba tanya dia bisa apa enggak nebengin aku."


^^^"Kabarin kakak ya pas kamu mau pulang dan sudah sampai di rumah. Soalnya ayah kan ikut kakak, otomatis kamu sendiri di rumah?"^^^


"Siap boss!"


^^^"Kakak tutup dulu telponnya, bye adik cantik.."^^^


"Yes, kakak ganteng-ku"


Kelvin yang sejak tadi memperhatikanku saat menelpon kak Nathan pun sudah penasaran dan langsung bertanya.


"Panjang umur tuh Kak Nathan, habis diomongin langsung telpon orangnya. Ada apa emang Nad?"


"Ini Kak Nathan nanti sore ga bisa jemput aku di kantor, katanya lagi ada urusan sama ayah" jawabku santai.

__ADS_1


"Bareng aku aja pulangnya, kita kan rumahnya kan...sekalian!" ternyata Kelvin sudah berinisiatif duluan untuk menawariku pulang bersama. Untung deh..aku jadi gak perlu repot-repot pesen taksi online!


Hanya saja, aku masih kepikiran soal ayah dan Kak Nathan. Sepertinya mereka ada masalah yang cukup serius di kantor. Tadi saja saat telpon, aku bisa merasakan kekhawatiran Kak Nathan hanya dengan mendengar suaranya. Saat ini aku berharap pada Tuhan agar tidak terjadi sesuatu dengan mereka.


__ADS_2