Favorite Sin

Favorite Sin
TERROR


__ADS_3

AUTHOR POV


"Bisa tolong kamu cek isi dari brankas tersebut? Siapa tahu ada petunjuk disana yang bisa menuntun kita pada Galih!!" kata Adrian yang mulai tidak sabaran.


"Okay, tunggu sebentar! Aku bawa dulu brankas nya kesini."


Nadine lalu mengambil brankas milik ayahnya yang tadi dia simpan dalam kamar. Untungnya ukuran brankas tersebut tidak terlalu besar, sehingga memudahkan Nadine untuk mengangkatnya. Ketika brankas sudah ditangan, Nadine segera kembali menuju ruang tengah dimana kedua tamunya sedang menunggu.


"Ini brankas-nya." Nadine meletakkan benda yang berbentuk kotak dan berwarna hitam itu di meja.


Adrian mendekat pada kotak brankas tersebut dan memegangnya. "Kode atau password-nya?" tanya Adrian.


"Oh iya, maaf lupa!" Nadine menepuk jidatnya pelan karena dia lupa memencet kode brankas tersebut.


"1...8...7...3...4...7...2..."


Dengan perlahan dan hati-hati, Nadine menekan angka-angka tersebut pada tombol yang tersedia sehingga brankas berhasil terbuka. Tanpa ada keraguan lagi, Nadine mempersilahkan Adrian untuk mengecek sendiri apa yang ada didalam brankas milik Harun itu.


Saat isi brankas mulai dirogoh, Adrian mengerutkan keningnya seakan merasa ada keanehan. Sedangkan Nadine dan Ray hanya bisa memandang satu sama lain tanpa mengeluarkan suara ketika melihat raut wajah Adrian yang sulit untuk digambarkan.


Tak lama..dikeluarkanlah beberapa kertas dan map-map file yang ada didalam brankas itu. Merasa tak puas, Adrian mencoba lagi untuk melihat dan merogoh isi dari brankas tersebut lebih dalam hingga ke akar-akarnya.


"Gimana? Apa flashdisk nya ada didalam?" Nadine bertanya sambil melihat Adrian yang masih sibuk mengeluarkan beberapa barang dari kotak hitam itu.


Adrian menggelengkan kepalanya. Jika sudah begitu, bisa dipastikan bahwa isi dari brankas tersebut tidak sesuai ekspektasi Adrian sebelumnya. Didalamnya memang hanya terdapat tumpukan kertas dan beberapa buku bacaan berukuran kecil. Karena penasaran, Adrian membuka buku-buku itu satu persatu. Dia juga membuka map yang berisi file-file untuk memastikan apa yang tertulis disana.


"Berarti, besar kemungkinan Galih sudah mengambilnya Pa-"


Belum selesai Ray berbicara, Adrian seketika memelototinya dengan mata yang tajam. Bisa-bisanya Ray hampir saja keceplosan memanggilnya dengan sebutan 'Pak'. Padahal Adrian memperkenalkan dirinya sebagai teman Ray saat pertama kali menginjakkan kaki di apartemen Nadine.


"Mak..maksud saya..besar kemungkinan flashdisk nya sudah diambil oleh Galih, Adrian.." Ray menjadi tidak enak hati dan sungkan sendiri karena memanggil nama atasannya itu tanpa menggunakan embel-embel 'Pak' atau 'Mas' didepannya.

__ADS_1


Rasanya seperti tidak sopan saja. Tapi demi menepis kecurigaan dalam diri Nadine, dia harus meneruskan sandiwara itu.


"Entah kenapa hati kecil saya mengatakan bahwa Galih belum mendapatkan flashdisk itu, Ray!!" ucap Adrian pada Ray. "Bukan tanpa sebab Pak Harun menitipkan brankas ini pada kamu, putrinya." Pandangan Adrian beralih pada Nadine.


"Tapi bukannya itu hal yang normal ya? Sebelum ayah saya meninggal, beliau pasti memang menitipkan semua itu pada saya sebagai wasiat. Apalagi didalam situ hanya berisi kertas-kertas dan beberapa buku bacaan koleksi ayah saya, beliau sangat suka sekali membaca."


"No! Ini bukan hanya sekedar tumpukan kertas, dan map, atau buku biasa!! Jika diperhatikan dengan detail, beberapa lembar halaman dalam buku-buku ini banyak yang hilang. Seperti dirobek dengan paksa, kalian lihat.." Adrian menunjukkan satu buku yang halamannya sudah dirobek.


"Jelas ini dirobek, karena halaman yang terlepas dari cover buku tidak akan seperti ini bentuknya. Dan yang membuatnya misteri, bukan cuman satu buku aja yang dirobek...buku lainnya juga sama."


"Saya masih belum paham dengan ini semua, apa kaitannya halaman buku yang dirobek dengan flashdisk yang kalian cari?" Nadine semakin bingung mendengar penjelasan Adrian.


"Sepertinya Ayah kamu meninggalkan pesan lewat buku-buku ini. Pesannya memang tidak secara gamblang, semacam teka-teki yang harus dipecahkan dulu. Dan pesan itu akan menuntun kita untuk mengetahui dimana keberadaan flashdisk itu."


"Perhatikan judul dari 5 buku ini!! Easter Island, Firestarter, Gone Girl, Hidden, dan terakhir Insurgent. Judulnya urut sesuai dengan abjad, E..F..G..H..I.."


"Dan lagi, halaman yang dirobek dari setiap buku-buku ini adalah halaman yang tertentu. Ada halaman 78, halaman 34, lalu halaman 9. Ini seperti pola yang harus dicari dulu bagaimana urutannya." Adrian menjelaskan pada Nadine sambil membolak-balikkan halaman dalam buku-buku itu.


Saat tengah mengobrol, ketiganya dikejutkan dengan kaca jendela di apartemen Nadine yang tiba-tiba pecah tanpa ada angin ataupun hujan. Suaranya begitu kencang hingga membuat Nadine sedikit berteriak.


"Arghhh...astaga, itu kaca jendelanya pecah!!" pekik Nadine.


Letak jendela itu tidak terlalu jauh dari tempat dimana mereka bertiga duduk, karena yang pecah itu memang kaca jendela ruang tengah. Dan hampir saja pecahan beling itu mengenai mereka bertiga, tapi untungnya tidak ada yang terluka.


Yang lebih mengagetkan lagi, bukan hanya kaca jendela saja yang pecah. Bersamaan dengan itu, terlihat ada beberapa batu besar serta noda merah yang menempel diantara sela-sela pecahan kaca. Noda merah itu terlihat seperti darah.


Untuk memastikannya, Ray mendekat kearah jendela dan meraba noda merah itu sambil mencium baunya. "Ini bau darah hewan yang sudah mati" kata Ray.


Tidak bisa dipungkiri, bau darah itu sangat amis dan busuk..teksturnya juga pekat. Bisa jadi dugaan Ray benar, kalau itu adalah darah dari hewan yang mati meski belum tentu juga. Baunya yang sangat menyengat, membuat Ray sampai menjauhkan wajahnya dari tangannya yang sudah terlanjur memegang darah.


Karena penasaran, Adrian dan Nadine mencoba untuk mendekat. Namun ketika Nadine hendak melangkahkan kaki, Adrian langsung menahannya. "Kamu tunggu situ aja!!" ucapnya dengan nada dingin.

__ADS_1


Nadine hanya mengiyakan perintah Adrian itu, pikirnya agak sedikit berbahaya juga apabila dia ikut-ikutan mengecek. Biarkan itu menjadi urusan para lelaki.


Melihat Adrian dan Ray yang saling berbisik cukup lama, Nadine berinisiatif untuk membuka obrolan. "Apa tidak sebaiknya kita minta tolong sama pihak security apartemen untuk membuka kamera CCTV nya? Dari situ bisa ketahuan kan siapa pelakunya?!!"


"Jangan sekarang!!!" Adrian mengangkat tangan kanannya. "Percuma juga kamu minta tolong sama security disini..tidak akan dapat apa-apa!! Pelakunya pasti pakai masker dan menutupi identitasnya, mana bisa wajahnya dideteksi lewat CCTV yang kameranya kecil!"


"Tapi seenggaknya, perawakan dari pelaku itu bisa diidentifikasi. Tidak ada salahnya kita kesana, kalau belum dicoba mana tahu. Mungkin aja mereka tidak pakai topeng atau masker?!" Nadine mendebat Adrian.


"Kita akan cek CCTV itu dilain waktu, tidak sekarang! Ini jebakan..siapapun yang melakukannya itu sudah di setting untuk merusak kaca jendelamu dengan sengaja. Kalau salah satu dari kita berpencar dan pergi menuju ruang CCTV, itu akan menjadi celah untuk mereka menyerang kita. Saat kita keluar dari apartemen ini, kita tidak tahu apa yang bakal terjadi! Yang jelas, secara jumlah mereka pasti lebih banyak, sedangkan kita cuman bertiga."


Kedatangan Adrian dan Ray untuk menemui Nadine kali ini memang tidak didampingi oleh bodyguards. Alasannya, Adrian tidak ingin menarik perhatian banyak orang jika dirinya membawa iring-iringan. Maka dari itu, mereka hanya pergi berdua saja ke apartemen Nadine. Adrian juga terkesan santai. Dia berpikir bahwa tidak bakal ada kejadian apa-apa hari ini. Tapi keputusannya untuk tidak membawa bodyguards kurang bijak, karena ternyata ada serangan mendadak.


"Kenapa kamu bisa berpikir sejauh itu? Bisa aja ini semua hanya karena orang iseng?" Nadine berusaha untuk memahami kejadian ini semua dengan pikirannya yang masih dilanda kebingungan.


"Mana ada orang iseng melempar batu besar dan darah hewan mati ke jendela apartemen kamu sampai rusak begini!" Adrian mulai menunjukkan taringnya. "Hal seperti ini adalah bagian dari terror, saya tahu karena saya sudah terbiasa" ujar Adrian dengan nada tegas.


"Tapi buat apa mereka meneror saya? Saya aja tidak tahu apa-apa dan tidak kenal sama mereka!" tanya Nadine.


"Seperti dugaan saya sebelumnya, flashdisk milik Ayahmu itu belum mereka dapatkan! Alhasil, kamu jadi kena korban terror. Asumsi mereka, kamu pasti tahu dimana letak flashdisk itu, yang padahal.. kenyataannya kamu tidak tahu apa-apa?!" jawab Adrian yang masih memasang wajah datar.


"Gini aja..lebih baik kamu ikut saya!" tidak mau basa-basi lagi, Adrian langsung mengajak Nadine untuk ikut serta bersamanya.


"Saya?!! Ik..ikut kamu? Untuk apa?" ucap Nadine terbata-bata.


"Untuk keamanan kamu sendiri. Seperti yang saya bilang tadi, kamu sedang di terror dan hidup kamu dalam bahaya. Kalau kamu ikut saya, tentu kamu akan dapat perlindungan. Paling tidak sampai kita bisa memecahkan misteri dari kode brankas milik Ayah kamu itu dan membekuk pelaku penembakannya."


"Tapi kita kan..juga baru kenal! Hal apa yang membuat saya harus percaya sama kamu? Bisa aja kamu sama dengan mereka. Atau mungkin kamu salah satu dari mereka yang mau memanfaatkan saya?" balas Nadine.


"Kalau saya mau berbuat jahat sama kamu, pasti sudah saya lakukan sejak tadi. Tidak perlu berlama-lama menunggu. Hanya perlu hitungan menit untuk menyingkirkan kamu!" pernyataan Adrian tersebut membuat Nadine merinding.


"Pilihannya ada dua, kamu mau ikut saya dan aman..atau kamu mau tetap disini tapi ketakutan dan merasa tidak tenang. Saya berani bertaruh, kalau mereka pasti akan melakukan teror lagi. Tinggal menunggu waktu aja..."

__ADS_1


Berbagai pertanyaan muncul dibenak Nadine. Bagaimana ini, apakah dia harus percaya pada kedua pria yang ada didepannya ini dan menerima ajakan Adrian atau tidak??? Semakin bingung saja dibuatnya.


__ADS_2