
AUTHOR POV
-Flashback On-
"BANGUN!!!"
Adrian berteriak lantang sambil membawa tongkat besi, memaksa bangun delapan tawanannya yang sedang tertidur pulas di markas.
Tangg...tangg..tangg...
Dihentak-hentakkannya tongkat tersebut ke sembarang objek benda sehingga suaranya terdengar nyaring memekakkan telinga. Adrian marah. Sangat-sangat marah. Auranya begitu datar, dingin, dan kejam.
Emosinya sudah panas membuncah hingga berada di puncak ubun-ubun. Jika mau, Adrian bisa saja menghancurkan markasnya sendiri dalam hitungan menit saking kelewat amarahnya.
"BANGUNN!!!" teriak Adrian sekali lagi. Begitu kerasnya ia berkoar-koar, sampai urat lehernya nampak dengan jelas.
Sebenarnya delapan orang tadi itu sudah membuka matanya, hanya saja mereka terlalu lemah untuk menopang tubuh mereka sendiri agar dapat berdiri tegap.
Maklum, semenjak mereka ditangkap dan disandera di tempat ini, mereka sama sekali tak diberi ampun atau sekedar beristirahat sejenak. Berbagai serangan dan pukulann bertubi-tubi dilayangkan oleh anak buah Adrian untuk mereka setiap jamnya.
"Jino...Samir...siram tubuh mereka supaya matanya melek dan tidak lembek begini!" perintah Adrian.
Jino dan Samir langsung sigap, datang berbondong-bondong membawa dua jeriken air berukuran 25 liter berisikan air bah kotor. Dan,
Byurr...byurr..
Air tersebut diguyur secara kasar kepada delapan pelaku yang telah membuat dirinya dan Nadine celaka. Mereka terlihat sedikit gelagapan dan sulit bernafas setelah disiram air bah tersebut.
"Kemarin saja, kalian begitu semangat dan bersikap sok mau mencelakai keluarga saya. Tapi lihat sekarang, kalian malah loyo bagaikan kapas! Cupu!! Bangun kalian!" Adrian meludahh kearah delapan orang tersebut.
Cukup lama Adrian berjalan kesana-kemari, mengitari tawanannya ini dengan tatapan yang nyalang serta bibir yang terkatup rapat akibat menahan emosi.
"Sekarang saya tanya. Mana yang namanya Jonah Wang?"
Hening.
__ADS_1
Tak ada yang berani menjawab. Antara itu karena mereka takut, atau memang mereka tak bisa mengeluarkan suara sebab sudut bibir mereka kebanyakan memerah hingga sobek.
"Sekali lagi saya tanya. MANA YANG NAMANYA JONAH WANG!!" suara Adrian terdengar seperti orang yang muntab.
"Ss--saya...Jj--Jonah" salah satu pria berwajah oriental dengan tinggi tubuh yang tak seberapa itu akhirnya mengaku.
"Ohh..kamu Jonah Wang?" Adrian tersenyum sinis. "Maju! Sini kamu.."
Tubuh pria itu limbung. Lututnya lemas tak sanggup berdiri. Sampai akhirnya Adrian menarik kerah bajunya yang sudah hampir seminggu ini tidak diganti.
Bughhh...
Sebuah tinjuan Adrian layangkan pada Jonah tepat di wajahnya.
Krekk..
"Arghhhh..." pria yang bernama Jonah itu menjerit dan meraung kesakitan karena tulang tangan kanannya dibuat patah oleh Adrian.
"Tangan kanan ini..adalah tangan yang kemarin kamu gunakan untuk menjambak rambut istriku serta menyeretnya secara paksa untuk keluar dari mobil."
Giliran tangan kiri yang dipatahkan.
"Arghhhh...berhenti!!!" Jonah kembali berteriak. Kali ini suaranya lebih kencang dan rasanya pasti lebih sakit. Buktinya pria itu sampai mengeluarkan secuil air mata di sudut netranya.
"Untuk tangan kirimu yang laknat ini, memang harus diberi pelajaran karena dengan tangan inilah kamu mendorong istriku jatuh ke aspal hingga ia pendarahan dan harus melahirkan secara prematur."
Bughh..
Tubuh Jonah luruh ke lantai setelah dihempaskan dari genggaman Adrian.
Kini pandangan Adrian beralih pada 7 orang lainnya dibelakang Jonah. "Kalian ini miris sekali ya ternyata. Mau-maunya dibodohi sama Kelvin, hanya demi uang yang tidak seberapa pula."
"Jino..tolong perlihatkan pada mereka bagaimana kabar keluarganya di rumah. Kasih tahu, apakah anak istri mereka dalam keadaan baik-baik saja atau sedang dalam masa teror?" Adrian menyunggingkan sudut bibirnya tipis.
Sontak saja kedelapan orang tersebut membelalakkan matanya lebar-lebar. Tubuh mereka berontak, ingin melepaskan borgol yang membelit tangannya. Satu persatu tubuh mereka sudah diikat pada sebuah bangku.
__ADS_1
Tujuh buah video berbeda dengan durasi sama yaitu lima menit, ditampilkan pada masing-masing berandal itu.
Video itu menunjukkan bagaimana anak, istri, beserta orang tua dari kedelapan pria tersebut mengalami teror ancaman dari anak buah Adrian. Tubuh mereka didorong paksa hingga jatuh terluka. Tempat tinggal mereka dihancurkan hingga menjadi puing-puing. Kendaraan mereka dihancurkan hingga rusak parah.
"Lepaskan mereka saya mohon!"
"Jangan sakiti anak saya!"
"Hentikan...jangan ambil istriku!"
"Mereka tidak bersalah, tolong bebaskan mereka!"
"Hukumlah kami saja..."
Teriakan-teriakan permohonan dari para pelaku tersebut tidak digubris oleh Adrian. Dia menganggap bahwa semua itu hanyalah angin lalu.
"Sampai kalian menangis darah pun, saya tidak akan mendengarkan. Kalian berurusan dengan orang yang salah. Itulah balasan yang tepat karena kalian sudah berani mengusik ketenangan keluarga saya." ucap Adrian dengan wajah datarnya.
-Flashback Off-
***
"Sudahlah Nad, lupakan soal itu! Kamu sudah berjanji untuk tidak melarangku menghukum mereka." kata Adrian.
"Aku memang mengatakannya. Tapi bukan berarti kamu bisa bersikap seenaknya Adrian. Apa yang kamu maksud dengan memberi guncangan pada anak dan istri dari para pelaku? Mereka kan tidak bersalah apa-apa, kenapa harus ikut terseret pula?" Nadine mulai mendebat.
Adrian memilih untuk bungkam. Keputusannya sudah tidak bisa diganggu gugat. Semuanya sudah terjadi.
"Sayang, aku mohon gunakan hati nurani kamu! Kalau mau menghukum cukup si pelakunya aja, enggak perlu lah kamu kasih therapy shock sama anak dan istrinya juga atau anggota keluarga mereka lainnya." Nadine sedikit merengek.
"Kamu harus ingat akan satu hal. Kamu ini sekarang sudah menjadi seorang ayah dari dua anak sekaligus. Bayangkan saja betapa sakitnya hati para orang tua kala melihat anaknya tersiksa!" ocehnya lagi panjang lebar.
"That's exactly my point, Nadine...aku ingin mereka merasakan apa yang aku rasakan. Aku hampir saja kehilangan dua anakku karena para berandalan itu hendak melukai kamu. Itu balasan yang setimpal untuk mereka..." lirih Adrian
***
__ADS_1