
Kepulan putih dari batang nikotin itu terlihat menari-nari di udara. Menemani laki-laki yang termenung sendirian di teras rumah, dibawah naungan langit malam. Ia hisap penuh kenikmatan, sebelum asap kembali berterbangan.
"Kamu ngerokok lagi," ucap Mila mendengus kesal. Duduk dihadapan Gemilang yang terus menatap kosong.
"Kali ini aja Mam," ucap Gemilang lirih. Hanya rokok dan alkohol yang membuat dirinya tenang saat ini.
"Kalau kamu memang benar-benar cinta sama Mou. Pertahankan, apa salahnya LDR?" ucap Mila yang sebenarnya juga jengah melihat Gemilang seperti ini.
Gemilang hanya menggeleng lemah.
"Sudah nggak kuat? Sudah ngebet pengen nikah?" Lagi-lagi Gemilang hanya terdiam. "Biar Mamii yang carikan kalau kamu benar-benar pengen nikah."
Lagi-lagi hanya kepulan yang mengudara yang menjawab.
Mila menggelengkan kepala melihat Gemilang yang benar-benar kacau. "Kamu tadi ngomong apa sama Mou, sampai-sampai mata Mou sembab begitu. Kamu hanya perlu berpisah baik-baik Gem, tidak perlu seperti itu. Toh, malam ini Mou juga mau berangkat ke London."
DEG!
Mata Gemilang membulat, menatap tidak percaya pada sang Mamii. "Malam ini? ke London?"
"Iya, katanya sih penerbangan jam 7," jawab Mila melihat jam tangan miliknya. "Ini masih jam 6--"
Mila sudah tidak mendapati Gemilang dihadapan, dan menaikkan alisnya ketika melihat Gemilang berlarian menuju garasi.
Namun di detik selanjutnya ia tersenyum.
Perjuangkan cintamu Gem.
.
.
.
Gemilang melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi. Bahkan tidak perduli dengan kendaraan yang berada disekitarnya. Yang pasti saat ini pikirannya hanya tertuju pada wanita itu.
Berkali-kali menyalakan klakson pada saat lampu merah. Hanya berharap pengemudi didepannya cepat melaju, dan tidak lelet.
Menginjak pedal gas dengan kencang. Berkali-kali menyalip beberapa mobil dengan brutal. Tidak perduli jika setelah ini ia harus ke kantor polisi.
Gemilang mencoba menghela nafasnya. Ia memang marah dan kecewa pada Mou. Namun belum siap jika wanita itu pergi sekarang juga.
__ADS_1
"Tunggu sebentar saja," lirih Gemilang penuh penyesalan. Seharusnya dengan waktu yang tersisa, ia harus membujuk Mou agar tidak jadi pergi. Tapi dengan bodohnya ia malah membentak-bentak Mou tadi siang.
Membuka pintu mobilnya dengan kasar ketika sudah sampai parkiran bandara. Berlari dengan kencang, mencari kesana-kemari seperti orang bodoh.
Bahkan seorang Gemilang Galaxio Kusuma berlari di eskalator, memecah belah kerumunan orang-orang.
Gemilang menjambak rambutnya sendiri begitu frustasi ketika tidak menemukan sosok wanita itu. Dan bodohnya lagi ia tidak membawa ponselnya. Mencari tempat yang lumayan sepi. Gemilang berjongkok, menyandarkan tubuhnya pada tembok.
Matanya sudah memanas dan siap tumpah, tidak ada seorangpun yang boleh melihat kebodohan Gemilang. Lebih baik ia bersembunyi dibalik tembok.
.
.
.
Sedangkan seorang wanita cantik berjalan sendirian dengan koper besar di tangannya. Menoleh kesana-kemari untuk mencari kehadiran seseorang. Haha. . mengharap Gemilang kesini adalah ketidakmungkinan. Sore tadi saja laki-laki itu terlihat begitu marah padanya.
Mou tersenyum kecut sembari melanjutkan langkahnya. Perjalanan kali ini, ia memang melarang siapapun mengantarnya. Juga nantinya, tidak ada satu orangpun yang boleh menjemputnya.
Mou benar-benar ingin mandiri. Dan akan pulang jika ia sudah berhasil mewujudkan mimpi kecilnya. Sehingga nantinya, ia yang akan menuju keluarganya untuk membuktikan hal itu.
Keluarganya tidak perlu repot-repot mengantar ataupun menjemputnya. Karena perjalanan mimpi Mou dimulai dari sini. Melangkahkan kakinya tanpa siapapun, berdiri di atas tumpuan kakinya sendiri.
Namun saat ini Mou benar-benar merasakan kehangatan dan aroma yang ia rindukan. Laki-laki itu memeluk tubuh Mou dari belakang, menelusup kan kepalanya pada ceruk leher Mou.
"Jangan pergi," lirihnya tercekat. Mou bisa merasakan nafas hangat dari laki-laki ini.
"Kamu datang ternyata," tersenyum kecut sembari mengusap-usap rambut Gemilang.
"Aku mohon, kali ini saja ikuti kemauanku. Aku tidak akan mengekang ataupun posesif berlebihan lagi. Aku akan memberikan dirimu kebebasan, selama kamu mau tinggal disini." Gemilang berkata panjang lebar dengan isakan kecil.
Perlahan Mou melepaskan pelukan itu, berbalik, dan memeluk Gemilang tak kalah eratnya. "Abang jahat," lirihnya memukul pelan punggung Gemilang. "Abang bentak Mou tadi," tangis Mou pecah detik ini juga.
Gemilang berkali-kali mengecup rambut Mou dan mengatakan maaf. Baru kali ini seorang Gemilang menangis dihadapan wanita. Karena saat ini apapun sudah tidak penting lagi kecuali wanita yang berada di pelukannya.
"Kenapa Abang bentak Mou. Mou takut, Mou nggak mau Abang kayak gitu." Saat ini Mou tidak melepaskan tubuh Gemilang sejengkal pun.
"Maaf, maafkan Abang Mou." Gemilang menangkup pipi Mou, memberi kecupan pada mata yang tengah basah.
"Abang jangan nangis." Tangan Mou mengusap rahang Gemilang yang sudah basah entah mulai kapan. "Abang nggak boleh nangis, Mou pergi cuma sebentar."
__ADS_1
Gemilang menggeleng, "kamu nggak boleh pergi, London terlalu jauh Mou. Aku tidak bisa menggapai mu."
"Tapi Abang--" Mata Mou membulat ketika Gemilang tiba-tiba menyudutkan dirinya pada tembok. Menghimpit tubuh Mou dengan bibir yang sudah menelusuri bibir manis Mou. Tidak membiarkan Mou untuk berbicara apapun. Kali ini Mou begitu pasrah, mengikuti gerak bibir Gemilang. Bahkan tangan laki-laki itu merengkuh pinggang Mou dengan eratnya.
Dengan nafas yang terengah-engah, mereka saling berpandangan. Menghirup dalam-dalam udara yang tadinya mereka lewatkan. Gemilang mengusap bibir Mou yang sudah bengkak dan sedikit basah.
"Jangan pergi." Sorot mata Gemilang memancarkan ketakutan mendalam.
Mou menggeleng lemah, mengusap lembut rahang tegas Gemilang.
Sekali lagi Gemilang menarik Mou dalam pelukannya. Menelusup kan kepalanya pada ceruk leher Mou. Detik selanjutnya bibirnya bergerak, membuat Mou mencengkeram kaus Gemilang.
Sekujur tubuhnya beku ketika bibir Gemilang bermain pada lehernya. Mata Mou terpejam merasakan geleyar aneh dalam tubuhnya. Gemilang mengakhirinya dengan kecupan kecil, tersenyum samar setelah melihat beberapa jejak merah yang telah ia tinggalkan pada leher mulus Mou.
"Kuliah disini saja, ya?" Masih mencoba meyakinkan Mou.
Tiba-tiba panggilan dari pesawat Mou sudah menggema di ujung sana. "Abang, Mou harus berangkat sekarang." Mou menggenggam tangan Gemilang dengan erat.
"Mou harus pergi karena ada mimpi yang harus Mou raih." Air mata melintas tanpa permisi disudut mata keduanya.
Untuk kali ini, Gemilang benar-benar mengubur harga dirinya. Berlutut sembari terus mengecup kedua tangan Mou. "Aku mohon."
"Abang jangan gini." Mou membantu Gemilang untuk berdiri, namun laki-laki itu menolak dan kekeh pada posisinya.
"Ini yang terakhir Mou.. ini yang terakhir aku memohon padamu untuk tetap tinggal. Jika kamu melangkah sejengkal saja, aku anggap kita akan benar-benar berakhir."
Mou ikut berjongkok, mengusap lembut wajah Gemilang. Meninggalkan kecupan pada kedua pipi, kening, dan bibir begitu lama.
"Abang, ijinkan Mou membuktikan kepada dunia. Bahwa Mou bukan hanya manusia lemah yang bisanya hanya menangis." Mou meraih tangan Gemilang untuk ia kecup.
"Mou cinta sama Abang." Segera berdiri meraih kopernya, melangkahkan kakinya untuk benar-benar meninggalkan Gemilang. Berusaha untuk tidak menoleh meskipun terus terisak.
Mou menghapus air matanya dengan kasar, dan berlari kecil karena waktunya hampir habis terpangkas.
.
.
.
Ini sih yang paling melow menurut ku.
__ADS_1
Jangan lupa dukungannya gaes ❤️