Gemilang Ku

Gemilang Ku
S2 119 ~ Kamu pemenangnya


__ADS_3

Mou mengerutkan keningnya bingung ketika menginjakkan kakinya pada tempat yang sudah Gemilang pesan. Restoran mewah di pinggir pantai ini begitu sepi pengunjung.


"Silahkan nona," ucap salah satu waiters mempersilahkan Mou memasuki restoran terbuka itu.


Mou hanya menurut, lalu duduk pada kursi berbahan dasar kayu itu. Menatap langit jingga yang begitu teduh nan indah.


Perpaduan antara pantai dan langit jingga adalah ketentraman hatinya selama ini. Mata lentiknya tak bosan-bosan memandangi keindahan tuhan yang berada di hadapannya.


Suara angin yang berbisik, berpadu dengan desir ombak yang berlarian begitu merdu pada telinganya.


Dulu waktu ia masih menetap di Bali, pemandangan seperti ini setiap hari selalu ia nikmati, dan kini ternyata ia merindukan Bali bersama seluruh kenangannya.


Ingatan sewaktu bertemu Gemilang yang menyelamatkan hidupnya membuat ia tersenyum simpul.


Laki-laki itu seperti superhero baginya. Datang di waktu yang tepat, membopong tubuhnya tanpa permisi. Bahkan sampai saat ini laki-laki itu selalu menjadi pelindung baginya.


"Mbak nggak berniat untuk bunuh diri lagi kan?" Seseorang menutup mata Mou dari belakang.


Tidak usah di tanya siapa, Mou hafal betul dengan suara juga wangi dari laki-laki ini.


Harumnya saja sudah menyeruak begitu mendebarkan dada.


"Abang," ucap Mou sembari menyentuh tangan laki-laki itu.


"Sudah dari tadi?" tanya Gemilang melabuhkan kecupan singkat pada rambut halus Mou.


"Baru kok," tutur Mou sembari menepuk-nepuk kursi kosong di sampingnya.


Dengan senang hati, Gemilang segera mendudukkan tubuhnya di sana. Merangkul bahu wanita itu dengan perasaan yang berbunga.


"Suka?" tanya Gemilang sembari merapikan rambut Mou yang berterbangan karena hembusan angin.


Mou mengangguk, "suka banget." Menoleh pada Gemilang dan menatap wajah rupawan itu.


"Kenapa?" ucap Gemilang tersenyum karena Mou terus menatapnya.


"Terimakasih, sudah hadir dalam hidup Mou." Membenamkan kepalanya pada bahu Gemilang. Tangannya sudah melingkar pada perut laki-laki itu.


"Seharusnya aku yang bilang begitu." Membalas dekapan hangat Mou.


Mou menggeleng, sebelum bertemu dengan Gemilang, hidupnya begitu gelap dan suram. Hingga sosok tampan bak pangeran ini mengisi warna-warna dalam hidupnya.


"Mungkin jika Abang tidak datang waktu itu, Mou sudah hanyut bersama ombak."


Terkekeh kecil Gemilang menaruh telunjuknya pada kening Mou. "Aku benci cara berpikir pendek mu waktu itu, tetapi entah mengapa sekarang aku begitu mencintai segala kekuranganmu."


Mou mengerucutkan bibirnya, mendongak menatap Gemilang. "Aku iri dengan Abang yang begitu sempurna."

__ADS_1


"Tidak ada manusia yang sempurna, Mouresa. Aku laki-laki galak yang selalu menyimpulkan apa-apa sendiri juga menyebalkan."


Beberapa waiters membawakan berbagai makanan dan menaruh di atas meja.


"Abang," geram Mou ingin melepaskan pelukannya, tapi ia kalah karena Gemilang menahannya.


"Silahkan tuan, nona."


"Iya, makasih mbak." Gemilang berucap dengan santainya, mengabaikan Mou yang meronta-ronta ingin terlepas.


"Abang, malu," gerutu Mou menatap kesal laki-laki itu.


"Sudah pergi mereka," ucap Gemilang lalu menyerahkan es degan itu pada Mou.


"Apa ini?" tanya Mou mengernyit heran ketika melihat lipatan kertas di bawah kelapa muda itu.


Gemilang hanya mengedikkan bahunya tanda tak tahu.


Mou membuka lipatan kertas itu, "Selamat anda mendapatkan hadiah dari restoran ini. Hanya berlaku untuk booking penuh dua puluh empat jam." Mou membacanya sembari melihat Gemilang.


"Kamu booking dua puluh empat jam?" tanya nya tak percaya. "Untuk apa sih bang." Kesal sekali selalu menghamburkan uang begini.


"Karena aku ingin di hari dan tanggal ini, hanya kenangan milik kita berdua yang terekam di sini."


Mou kembali membaca lanjutannya. "Hadiahnya ada di dalam pasir, di bawah kaki anda."


"Nggak usah kalau nggak ada," ucap Mou menyentuh bahu Gemilang yang terkesan malah berlutut di hadapannya.


"Ketemu," ucap Gemilang menggenggam kotak kecil berwarna merah itu. Kemudian membukanya, kotak itu menampilkan cincin berlian indah yang hanya ada satu di dunia.


"Mouresa Munaj... Will you marry me?"


Laki-laki yang sudah berlutut di hadapannya itu membuat Mou menutup mulutnya tak percaya.


Matanya membesar seketika, apalagi lagu marry you milik Bruno Mars sudah di putar disana.


"Mau kah kamu hidup denganku, menjadi teman hidup laki-laki yang menyebalkan ini?"


Rasa haru melingkupi seisi jiwa yang membuat Mou menitihkan air matanya tanpa terasa. Mengangguk dengan yakin. "I will," ucapnya dengan suara tercekat lalu mengusap ujung matanya yang basah.


Gemilang segera meraih jemari lentik itu, mengganti cincin sebelumnya dengan cincin yang baru.


"Kenapa di ganti lagi?" lirih Mou.


"Kamu terlalu berharga untuk di beri cincin ini." Memang Gemilang terburu-buru saat mencarikan cincin untuk konferensi pers. Jadi ia sudah berniat mengganti dengan yang lebih mahal, bahkan hanya satu di dunia.


Gemilang mengecup tangan Mou saat cincin itu sudah melingkar dengan indahnya pada jari manis Mou.

__ADS_1


"Selamat terjebak dengan ku selamanya, nyonya Kusuma." Gemilang segera memeluk tubuh Mou yang terus menangis.


Mou malah memukul pelan punggung laki-laki itu. "Kita nikahnya seminggu lagi, kamu baru lamar aku," ucapnya dengan kesal.


Terkekeh geli Gemilang malah mengecup pipi yang mengembung itu bertubi-tubi. "Maaf telat, kan aku nggak ada niat baikan sama kamu."


"Abang, jahat! Abang biarin Mou ngemis-ngemis sama Abang."


"Maaf sayang ku." Kembali memeluk tubuh Mou lagi. "Aku hanya suka jika kamu mau memulai semuanya duluan, bilang cinta, peluk-peluk, cium-cium.."


"Abang udah!" Mou malu sekali saat Gemilang mengatakan semuanya dengan gamblang.


"Hehe iya, ayo makan dulu..


Setelah menghabiskan berbagai menu makanan yang Gemilang pesan sesuai selera Mou, yaitu pedas. Sekarang mereka sudah kembali menempel dengan menatap matahari yang mulai tenggelam.


"Katanya kemarin mau ngomong?" tanya Gemilang yang mendekap erat tubuh Mou.


"Abang dulu saja, jelaskan hubungan antara Abang dengan Jasmine."


Gemilang mengangguk, "aku sudah putus dengan Jasmine semenjak berita pertunangan itu beredar." Mata Mou membulat seketika lalu memukul pelan dada laki-laki itu.


"Abang bohongin Mou!"


Gemilang menangkap tangan mungil itu. "Maaf Mou, aku memang meminta Jasmine untuk berakting jadi pacarku saat kamu ada. Semua karena aku tidak bisa mengendalikan perasaanku saat berdekatan denganmu."


"Selama ini kan Abang selalu berganti pacar, berarti Abang ada rasa kan sama mereka? Abang pernah ngapain saja sama mereka." Mou mengatakan dengan kesal.


"Tidak sedikitpun aku pernah menyentuh mereka. Bahkan hanya menatap mereka, membuatku tidak nyaman. Hatiku sepenuhnya milikmu Mouresa."


Mou menatap laki-laki itu mencari-cari kebohongan di matanya, tapi tidak ada dan Mou tahu bahwa laki-laki itu tidak suka berbohong sejak dulu.


"Aku hanya mencoba mengalihkan perasaanku padamu saat itu, tapi tidak bisa. Dengan Jasmine pun aku membuat perjanjian bahwa akan putus setelah waktu yang di tentukan jika tidak juga saling suka."


"Benarkah?" Mou semakin menatap dalam-dalam mata tajam nan teduh itu.


"Iya, hanya kamu pemenangnya di dalam sini." Membawa tangan Mou dalam dadanya yang sudah berdebar tak karuan.


.


.


.


**LIKE KOMEN AND VOTE GAES 💋


SELAMA PUASA SLOW UPDATE YA..

__ADS_1


UNTUK INFO UP BISA GABUNG DI GC ATAU FOLLOW IG AKU @blueskyma1**


__ADS_2