Gemilang Ku

Gemilang Ku
94 ~ Tatapan dingin


__ADS_3

Melihat televisi pada pagi hari benar-benar seperti nyanyian tidur bagi Mou, matanya terasa berat dan ingin terpejam.


"Udah, tidur aja kalau ngantuk." Jen yang sedang memakai masker wajah menatap heran pada Mou yang terus menguap.


Mou menggeleng, "ini masih pagi kak, masak tidur sih."


"Kamu kemarin begadang ya jagain Ibel," Mou menelan ludahnya kasar ketika mendengar hal itu, ia memang memakai Ibel sebagai alasannya tidak pulang tadi malam.


"A-aku nggak bisa tidur di rumah sakit," bohongnya.


Jen hanya mengangguk dan kembali menatap layar televisi. Namun hanya selang beberapa saat ia menoleh, Mou sudah terpejam dengan posisi bersandar pada sofa.


"Dasar," gumam Jen tersenyum kecil dan segera menyelimuti tubuh Mou.


.


.


.


Sore ini Mou nampak sibuk dengan beberapa olahan makanan lagi, ia memang suka memasak, tapi ia tidak suka memakan masakannya sendiri.


Rantang susun itu sudah dipenuhi dengan berbagai macam lauk pauk.


"Mau kemana dek?" tanya Sam yang baru saja memasuki dapur, masih dengan jas putih yang melekat pada tubuhnya.


"Mau bawain makanan buat Ibel bang," jawab Mou sembari memasukkan rantang itu pada tas khusus.


Sam tampak mengangguk, "nanti telepon Abang saja kalau suruh jemput."


"Iya bang, Mou berangkat dulu ya. Baru saja Mou melangkahkan kakinya, namun ia berbalik menghadap Sam lagi.


"Ada apa lagi," tanya Sam menaikan sebelah alisnya.


"Besok temani Mou ke rumah Gemilang ya bang." Mou begitu sungkan ketika mengatakan hal itu.


"Mau apa lagi?" Sam mendekat pada sang adik.


"Mou cuma mau minta maaf karena sudah membuat orang tua Gemilang kecewa sama Mou. Sekalian mau pamitan."


Sam mengusap-usap puncak kepala Mou, "iya dek, yang penting kamu bahagia."


Mou tersenyum hambar kemudian mengangguk. "Sekalian besok mau ke tempat mama, Mou mau pamitan juga."


Mendengar kata mama membuat Sam segera memeluk Mou. "Iya, Abang juga kangen sama mama."


.

__ADS_1


.


.


"Wah enak nih," Ibel menatap berbinar pada makanan yang baru saja dibuka oleh Mou.


"Sesuai pesanan kamu, tapi aku juga sudah tanya dokter kok mana yang boleh dan mana yang enggak." Mou segera menyiapkan makanan untuk Ibel yang katanya sudah bosan dengan makanan rumah sakit.


"Biar aku makan sendiri saja," ucap Ibel bersemangat.


"Iya," ucap Mou kemudian menatap pada punggung Ibel yang dipenuhi oleh helaian rambut yang rontok. Segera membuangnya dengan telaten.


"Gue nggak papa kok," ucap Ibel tanpa menatap Mou, tapi ia tahu betul bahwa Mou sedang menangisi dirinya.


"Gue nggak papa Mou," ulang Ibel. "Kalau habis kemoterapi memang gitu, tapi udah biasa kok."


Segera melanjutkan makannya.


Mou menghapus air matanya. "Iya, nanti aku belikan topi rajut di London."


"Boleh-boleh, kayaknya gue keren deh kalau pakai gituan." Ibel terkekeh kecil dengan mulut yang terus mengunyah. Terus melahap makanan yang dibuatkan Mou hingga tandas.


"Minum dulu," Mou menyerahkan air putih pada Ibel.


Suara pintu yang tengah terbuka membuat mereka menoleh secara bersamaan. Juna sosok pertama yang muncul dibalik pintu itu, disusul dengan Ben dan terakhir Gemilang.


Mou menelan ludahnya kasar ketika tatapan matanya bertemu dengan netra tajam milik laki-laki itu. Menunduk dalam ketika batinnya seperti diremas kencang saat ini.


"Iya Jun, aku cuma memastikan Ibel makan banyak." Mou tertawa hambar, jelas sekali bibirnya melengkung dengan terpaksa.


Ben dan Gemilang segera menyusul Juna untuk duduk. Sebenarnya Ben yang memaksa Gemilang untuk ikut kerumah sakit. Katanya laki-laki itu terlalu gengsi untuk menemui Mou, jika bukan tanpa disengaja.


Seulas senyum tipis Ibel lemparkan pada Gemilang, memang sudah beberapa kali ini Gemilang selalu menjenguk dirinya. Tapi tetap saja laki-laki itu masih saja dingin padanya.


Mou menggigit bibirnya begitu gugup, kenapa ia masih saja takut jika Gemilang menatap dingin padanya.


"Lo sama siapa Mou?" tanya Ben menyandarkan tubuh lelahnya pada sofa.


"Sendiri ben," masih saja Mou tidak mau menatap mereka, dan pura-pura sibuk dengan rantang yang sudah kosong.


Ben hanya mengangguk, lalu melirik Gemilang yang juga berpura-pura sibuk dengan ponselnya.


"Bel," tangan Mou menyentuh lembut lengan Ibel.


"iya," jawab Ibel yang sebenarnya tahu, Mou pasti sangat canggung dengan suasana seperti ini.


"Aku pamit dulu ya, bang Sam sudah dibawah." Sembari melihat jam tangannya Mou kembali menatap pada Ibel.

__ADS_1


"Iya, hati-hati ya Mou. Makasih sudah dimasakin makanan yang enak."


"Iya, tapi kayaknya aku nggak bisa bawain makanan lagi besok." Mou mencoba tersenyum pada Ibel, meski matanya sudah dipenuhi oleh buliran yang siap tumpah.


Ibel segera merengkuh tubuh sahabatnya, mengusap-usap punggung Mou. "Jangan tangisin gue, yang penting lo mikirin masa depan lo aja."


Mou mengangguk dalam pelukan Ibel. "Kamu harus sembuh bel."


"Gue nggak janji," Ibel menjawabnya dengan kekehan kecil.


"Kalian kayak mau pisah jauh aja," sindir Ben yang tengah bersedekap dada.


"Iri aja lo," semprot Ibel, menatap Ben dengan penuh permusuhan.


Mou segera melepaskan pelukannya, beralih menatap kearah tiga laki-laki yang tengah duduk disofa.


"Semuanya, aku pamit dulu ya. Sudah dijemput soalnya." Mencoba tersenyum sekuat tenaga. Mencoba tidak lemah saat matanya bertemu dengan manik mata hitam yang menatap dingin padanya.


"Hati-hati, Mou." Juna tersenyum sekilas pada sosok yang baginya seperti malaikat itu.


"iya."


"Dijemput siapa Mou?" Ben menatap pada Gemilang, padahal bertanya nya pada Mou.


"Sama bang Sam," sekali lagi Mou tersenyum. "Aku pamit ya." ucapnya sebelum benar-benar melangkahkan kakinya dari sana.


"Susul," bisik Ben ketika melihat Gemilang hanya menatap Mou tanpa mengatakan sepatah katapun.


"Nggak," ucap Gemilang mencoba untuk tidak goyah.


"Cepat, keburu jauh." Siku Ben menyenggol lengan Gemilang.


"Nggak Ben," masih berusaha menahan diri untuk tidak menggerakkan kakinya.


"Terserah lo!" ucap Ben kesal.


"Ada apa sih?" tanya Juna menatap dua manusia yang terus bersilat lidah itu.


"nggak ada," jawab Gemilang lemah.


.


.


.


Bisanya segini dulu maaf ya.

__ADS_1


siapkan tissu untuk episode selanjutnya wkwk, siapa tahu mau menangis bahagia, kalo nggak nangis sedih 😂


Jgn lupa dukungannya 💋


__ADS_2