
Suasana berubah menjadi canggung diantara kedua nya, sangat akward sekali ditinggal berdua seperti ini.
Mata Mou menelisik setiap sudut ruangan ini, ruangan yang luas , elegan dan mewah.
"diumur kamu yang terbilang muda, hebat juga ya bisa mimpin perusahaan sebesar ini" ucap Mou angkat bicara.
"masih belajar juga kok" jawab Gemilang tanpa menatap Mou.
"oh ya Gem, sebenarnya aku kesini sama mau nyerahin ini" ucap Mou mengeluarkan map coklat dari tasnya "ini hasil study aku, tapi kalo untuk Kartu Keluarga dan Identitas lainnya masih di Bali".
"ini aja nggak papa Mou, cukup".
"beneran?" tanya Mou meyakinkan "aku rencananya mau pulang ambil itu loh".
"nggak usah pulang" ucap Gemilang tiba-tiba dengan suara meninggi , Mou menaikkan alis nya bingung.
"maksud aku, lain kali aja hehe" ucap Gemilang mengusap tengkuknya.
"iya deh kalo gitu, makasih banyak ya Gem" ucap Mou menatap Gemilang dengan senyuman.
"sama-sama" entah mengapa rasanya Gemilang selalu terhipnotis saat Mou tersenyum, rasanya begitu manis matanya menyipit bak bulan sabit yang begitu cantik dan lentik.
Namun secepat mungkin Gemilang memutuskan kontak mata yang mematikan itu "ehmmm" ia berdehem sejenak.
"Rencananya kamu nanti akan menggantikan posisi sekretaris pribadinya Ben" ucap Gemilang menjelaskan.
"iya Ben udah bilang kok".
Gemilang memejamkan matanya sejenak, harus berbicara apalagi dirinya.
"kamu juga udah tahu pacar Ben juga kerja disini" ucap Gemilang dan Mou menggeleng.
"kamu tahu wanita yang duduk tepat di depan ruangan ku tadi"
"iya tahu, yang mbak-mbak seksi itu kan" ucap Mou dengan polosnya.
"ssssttt" Gemilang lalu tertawa.
"kenapa?" tanya Mou tak paham.
"dia pacarnya Ben"
"masa sih? , tapi kayaknya enggak seumuran ya sama kita" tanya Mou merasa salah berbicara.
"dia lebih tua emang, orang udah pernah nikah" ucap Gemilang.
"what?!" Mou masih menganga tidak percaya.
"santai aja mukanya" ucap Gemilang mengacak-acak rambut Mou gemas.
"Gemmm.." gerutu Mou merapikan rambutnya.
__ADS_1
"berarti dia janda dong" tanya Mou lirih di dekat telinga Gemilang.
Gemilang malah salah tingkah karena itu "iya , janda anak satu" jawabnya.
"tapi nggak papa kok, orang mbak nya juga cantik seksi lagi" ucap Mou begitu polos.
Kamu juga cantik dan seksi.
ingin sekali Gemilang berkata seperti itu, tapi ia masih punya urat malu yang harus ia jaga.
"kedepannya, kamu akan banyak membicarakan tentang pekerjaan bersamanya, dia baik kok" ucap Gemilang menjelaskan.
"udah lama ya kerja sama kamu?" tanya Mou lagi.
"lima tahunan lah".
Mou mengangguk paham "lama juga ya" sahutnya.
"iya Mou".
"Gem mau numpang ke kamar mandi dong" ucap Mou sambil menaruh tas nya diatas meja.
"disana" ucap Gemilang menunjuk sebuah pintu dipojokan.
"bentar ya" ucap Mou lalu berdiri merapikan roknya yang minim itu.
Sialan!
"Gem" panggil Mou yang baru saja keluar dari kamar mandi, membuyarkan lamunan Gemilang, ia sampai tidak sadar jika Mou sudah kembali.
"oh i-iya Mou".
"kamu udah makan siang?" tanya Mou kembali duduk.
"udah kok tadi sama Ben"
Mou melihat jam tangannya yang menunjukkan jam makan siang hampir habis "aku langsung pulang aja ya Gem, udah mau habis jam makan siang mu kan".
"santai aja Mou".
"gak papa, aku mau makan siang . . .laper" ucap Mou nyengir kuda sambil mengusap-usap perutnya yang datar.
"mau aku cariin makan aja?" ucap Gemilang yang membuat Mou bingung.
"Eh. . ." Repot sekali laki-laki ini batin Mou.
Namun pembicaraan mereka teralihkan pada suara ketukan pintu.
"masuk" sahut Gemilang.
"permisi pak" ucap Yohan sopan, diikuti wanita cantik dengan rambut sebahu dibelakangnya.
__ADS_1
"ibu Laura dari NC Group".
Mou langsung merasa tidak enak karena itu, "Gem aku duluan ya" bisiknya kemudian melangkah pergi sembari tersenyum pada Yohan dan Laura.
"Pak Gemilang" ucap Laura dengan semenggoda mungkin yang masih terdengar samar di telinga Mou yang hendak menutup hendle pintu.
Mou hanya menggelengkan kepalanya, mengapa banyak wanita yang tidak punya harga diri hanya karena seorang Gemilang.
Seistimewa itukah laki-laki itu. . .
.
.
.
Tujuan Mou saat ini adalah rumah Abang nya yang berjarak lumayan jauh dari kantor Gemilang, dan tentu saja ia bersama supirnya yang selalu setia menemaninya kemanapun.
Mou menatap kosong pada jendela mobil yang menunjukkan riuhnya kota Jakarta, lamunannya kembali pada kenangan manis yang telah ia lewati bersama Bara.
Dulu memang ia tak pernah bisa jauh dari laki-laki itu, bagi Mou dahulu ialah separuh nafasnya , sosok yang egois dan semaunya sendiri tapi mengingat perhatian yang Bara berikan selama ini membuat Mou kembali sakit hatinya, apalagi Bara selalu ada untuk nya yang seorang diri ini.
Buliran bening itu berjatuhan mengenai pipi mulusnya, kini ia benar-benar seorang diri.
Tanpa mamahnya, tanpa papahnya, Tanpa Bara juga kakak-kakak nya yang sudah memiliki kehidupan sendiri.
Tangannya terulur untuk mengusap air matanya, lalu berusaha melengkungkan bibirnya dengan manis.
"Non, tidak apa-apa?" tanya laki-laki berotot itu memperhatikan Mou dari kaca spion.
"nggak papa kok pak Ji, mata Mou kelilipan" dalih Mou kembali tersenyum.
.......
Cukuplah kamu menjadi masalalu. . .
cukuplah kamu menjadi sejarah berarti dalam hidupku. . .
Semanis apapun kenangan yang telah kita rajut, namun hanya pahit , rasa yang aku rasakan. . .
Manismu hilang dan berganti dengan pahit, namun semua kenangan kita , tetaplah manis untuk aku ingat . . . . hanya luka yang kau tinggalkan saja begitu terasa pahitnya.
(Mouresa Munaj)
.
.
.
LIKE KOMEN AND VOTE GAESSS 💋
__ADS_1