
Seorang wanita cantik keluar dari Munaj Hotel's dengan pakaian yang sudah rapi, dan sesekali melemparkan senyumnya pada pegawai disana.
Hari kedua magangnya mungkin akan lebih sibuk, namun ia harus tetap bersemangat untuk itu..
Senyuman manis dipagi hari untuk menyemangati diri sendiri dan orang-orang yang melihatnya.
Langkahnya terhenti tatkala melihat sosok tampan dan gagah itu, bersandar di mobil sportnya dengan bersedekap dada.
Senyuman manis langsung ia lemparkan pada Mou, yang tampaknya masih tercengang melihat sosok sempurna itu.
Dengan langkah ragu Mou menghampiri nya "ngapain disini?" tanyanya yang memudarkan senyuman Gemilang.
"mau jemput kamulah, apalagi coba" jawab nya sembari melepaskan kacamata hitamnya.
"kan aku udah ada supir" ucap Mou menoleh kesana-kemari mencari sosok laki-laki paruh baya yang biasanya sudah parkir disini.
"pak Ji udah aku usir" ucap Gemilang dengan santainya.
Mou mendengus kesal karena itu "kalo gitu aku naik taksi aja deh" ucapnya hendak melangkah, namun Gemilang menarik tangannya dengan cepat.
"kamu kenapa sih, masih PMS?" tanya Gemilang yang membuat Mou mendelik kesal.
"iya aku lagi pms, emang kenapa?" ucap Mou tak kalah galak.
Namun Gemilang malah tersenyum melihat wanita yang sok galak ini, ia menarik tangan Mou dengan lembut lalu membukakan pintu mobil untuknya.
tuh kan, hanya seperti ini saja sudah luluh. .
"udah sarapan?" tanya Gemilang saat ia sudah melajukan mobilnya.
"sudah".
"nggak mau beli apa gitu?" tawar Gemilang.
"enggak".
"jadi langsung ke kantor aja?"
"iya".
Oh sungguh, apakah semua wanita yang pms akan seperti ini, menatap Gemilang pun tidak, padahal kemarin masih baik-baik saja.
Sepanjang perjalanan bibir Mou terus manyun ke depan, entah apa yang wanita itu rasakan, karena tangannya terlihat memegang perutnya.
Gemilang memang pernah membaca artikel bahwa perempuan yang sedang menstruasi akan mengalami sakit perut, juga mood nya akan berubah, dan itu nampak nyata sekarang di depannya.
"sakit ya?" ucap Gemilang mengusap rambut Mou dengan lembut.
Akhirnya Mou menoleh pada Gemilang, ia menganggukkan kepalanya "iya" jawabnya lemah.
"mau beli obat?"
Mou menggeleng "aku nggak biasa"
"terus biasanya diapain kalo sakit?" tanya Gemilang masih kepo seputar pms.
"ditahan" ucap Mou lagi-lagi dengan judes.
"kuat?"
"kamu nyepelein aku" ucapnya menantang.
oh my God, shittt!
__ADS_1
Sepertinya Gemilang menjemput Mou diwaktu yang kurang tepat, seharusnya ia langsung ke kantor saja tadi, kan bisa lain kali menjemput Mou waktu ia tidak pms kan.
"maaf" akhirnya Gemilang memilih diam.
.
.
.
Karena parkiran Gemilang sudah dikhususkan, jadi Mou tidak perlu repot-repot bersembunyi dari karyawan lainnya.
Lagi-lagi Mou memberengut kesal, ketika Gemilang membukakan pintu mobil untuknya.
"ini dikantor" ucapnya lagi-lagi mengerucutkan bibirnya.
Sungguh Gemilang ingin sekali menggigit bibir merah jambu yang terus memberengut itu.
"la emang kenapa kalo dikantor" ucap Gemilang santai.
"ya harus inget siapa yang bos, siapa yang bawahan" ucap Mou lalu keluar dari mobil.
Gemilang mengusap rambut Mou dengan gemas "ini kan masih belum masuk perusahaan" ucap Gemilang tersenyum samar sembari menatap Mou.
Mou menoleh sekitar, memang hanya mobil Gemilang saja yang terparkir disini, lalu ia bernafas lega.
Mou tiba-tiba mendekati Gemilang, lalu menyandarkan dahinya pada dada Gemilang.
"Sebentar aja Gem" ucap Mou menutup matanya sembari menghela nafasnya "kepala aku pusing banget".
"kamu sakit?" tanya Gemilang mengusap lembut rambut lurus Mou.
"udah biasa kalo pms gini" ucapnya masih diposisi yang sama.
Dan sayangnya Mou bukan orang seperti itu, meskipun ia dekat dengan Gemilang tapi tidak bisa seenak jidatnya dalam urusan bekerja.
Tapi menghirup aroma maskulin yang begitu menenangkan ini membuat rasa sakitnya sedikit berkurang, dekapan yang begitu nyaman ini . . .
oh sungguh Mou tidak mau berpaling sedikitpun.
"uhuk. . uhuk. . " terdengar suara batuk yang begitu nyaring dengan sengaja diseberang sana.
Mou sontak melepaskan pelukannya dengan cepat, lalu menoleh ke sumber suara.
Oh sialan!
Gemilang ingin sekali menonjok si Ben sialan itu, disaat Mou dengan sukarela mau ia peluk namu malah datang si kunyuk sialan ini.
"masih pagi bos, inget tempat" ejek Ben yang tidak bisa menahan senyumnya.
"Be-ben sejak kapan kamu-" ucap Mou terbata.
"Sejak ada yang peluk memeluk" ucap Ben menggelengkan kepalanya, bagaimana seorang Gemilang Galaxio Kusuma sudah mesum sepagi ini.
"Ben ini tuh nggak seperti-" ucap Mou terpotong karena Gemilang menggenggam tangannya.
"udah, ngapain juga dijelasin sama dia, nggak penting" ucapnya kemudian menarik tangan Mou untuk pergi darisana, dan diikuti Ben dari belakang.
.
.
.
__ADS_1
"Mou ada titipan" ucap Raisa menerobos ruangan itu begitu saja, karena ini sudah jam makan siang dan hanya ada Mou yang tengah menyandarkan kepalanya pada kursi kerjanya.
"kamu kenapa?" tanya Raisa menaruh paper bag dimeja Mou , lalu duduk di depan Mou.
"biasa mbak lagi pms" ucapnya kemudian memegangi perutnya.
"oh pantes, ini ada titipan dari pak bos" ucap Raisa menyodorkan paper bag itu.
"apa?" tanya Mou kemudian membukanya.
Sungguh mengejutkan, ada kompres perut, teh hangat dalam botol dan juga sekotak nasi.
"ternyata dibalik sikapnya yang galak bisa sweet juga ya pak Gemilang" ucap Raisa tersenyum.
"galak?" tanya Mou yang memang belum dimarahi Gemilang.
"banget" ucap Raisa bergidik ngeri membayangkan nya "pak Gemilang itu galak banget sumpah, kalo sampai ada yang teledor sedikit saja pasti habis" lanjutnya.
"masa sih?" tanya Mou masih tak percaya.
"iya Mou".
"permisi" tiba-tiba seorang wanita paruh baya yang sedikit gemuk itu memasuki ruangan.
"Bu Heni" sapa Raisa tersenyum.
"Eh, mbak Raisa ini saya mau nitip berkas untuk pak Ben" ucap Heny menyerahkan map coklat itu.
"kasih saja pada Mou Bu, dia yang menggantikan Bu Desy untuk sementara".
"oh namanya Mou ya, sebenarnya saya juga penasaran dengan sekretaris baru pak Ben yang katanya anak-anak cantik itu. . . eh, beneran cantik, banget malah" ucapnya lalu ikut duduk.
"ibu bisa aja" ucap Mou sungkan.
"bener kok Mou, eh nitip ya buat pak Ben" ucap Heni lagi.
"iya Bu"
Bu Heni menepuk pelan paha Raisa "saya kira kamu double date sa" ucapnya heboh "kan tadi pak Gemilang sama pak Ben keluar sama Bu Ilona ya".
Mou mengerutkan keningnya saat mendengar itu, memang ia tidak tahu apa-apa dan hanya berdiam diruangan nya semenjak tadi , bahkan Ben memintanya untuk tinggal di ruangan saja.
Tapi tunggu dulu, nama itu tidak asing ditelinga Mou.
"pak Gem cocok ya sama Bu Ilona" ucap Bu Heni lagi yang membuat Raisa menelan ludahnya kasar, karena ia tahu jika Mou juga sedang dekat dengan Gemilang.
Iya Mou mengingatnya, Ilona adalah wanita yang kapan hari diceritakan oleh Ibel, sosok sempurna yang katanya menjadi idaman seorang Gemilang.
"mereka kan cuma rekan kerja Bu" ucap Raisa menjelaskan sembari melirik ke Mou.
"iya tapi kan sama-sama pemimpin perusahaan, cocok banget aku ngefans sama mereka sa pokok" ucap Bu Heni heboh sendiri.
"biasa aja kok Bu" ucap Raisa lagi ketika melihat Mou terdiam.
Setelah itu Mou melengkungkan bibirnya dengan terpaksa, kenapa juga tiba-tiba hatinya menjadi tidak nyaman mendengar betapa Bu Heni menyanjung Gemilang dan Ilona.
Ah, mungkin ini cuma pengaruh pms saja.
.
.
.
__ADS_1
LIKE KOMEN AND VOTE GAESSS 💋