Gemilang Ku

Gemilang Ku
51 ~ Undangan mantan


__ADS_3

Suasana ruang keluarga yang seharusnya adalah ruangan terhangat untuk berkumpul, namun kini menjadi mencekam karena kedatangan laki-laki paruh baya itu.


Sam tidak peduli, tidak menghiraukan laki-laki tua itu, ia hanya menatap keluar jendela dan menunggu Roman yang katanya sedang ke kamar sebentar.


"Papa lihat semua prestasi kamu" ucap Toro memecahkan keheningan "Papa bangga Sam, kamu memang pemberontak, tapi dibalik semua itu papa tahu hasilnya akan memuaskan seperti ini" Toro menatap lekat-lekat putranya yang sedingin es batu itu.


Sam berdecak, sedikit mengangkat bibirnya lalu menatap sekilas pada laki-laki paruh baya yang ternyata sudah semakin tua itu "saya pasti akan mengembalikan semua uang anda, tunggu sebentar lagi".


"Papa tidak perlu semua itu, yang penting kamu telah tumbuh dengan baik dan dengan semua prestasi mu. Semuanya sudah lebih dari cukup". ucap Toro begitu berat, hatinya begitu pedih dengan kelakuan Sam yang sebenarnya tidak beda jauh darinya ketika waktu muda.


"Saya tidak perlu pujian dari anda".


Dada Toro begitu sesak, ia jauh-jauh dari Bali hanya untuk menebus rindunya pada Sam. Namun ternyata Sam belum bisa memaafkannya.


"apa Papa perlu berlutut, agar kamu memaafkan papa" ucap Toro dengan mata yang memerah.


"bahkan dengan kematian anda pun rasanya tidak bisa menebus rasa sakit hati saya".


"Sam cukup!" teriak Roman dari seberang sana, ia segera menghampiri mereka. Roman mencengkeram erat kerah kemeja Sam.


"Mau jadi anak durhaka kamu ha?".


Plak!


Satu tamparan keras mendarat pada rahang Sam "mau seburuk apapun papa, dia tetap orang tua kamu" ucap Roman yang sudah jengah akan tingkah adiknya itu.


Sam tersenyum kecil mengusap pipinya yang sedikit kebas "Abang lupa sudah bertahun-tahun aku meninggalkan nama Munaj dan juga keluarga ini".


"Roman jangan begitu dengan adikmu" ucap Toro menahan lengan Roman ketika Roman hendak melayangkan pukulannya kembali.


"biar Roman beri pelajaran pada anak kurang ajar ini pa" ucap Roman emosi.


"dia hanya sedang beranjak dewasa" itu kata yang selalu diucapkan Toro ketika Sam berlaku kurang ajar.


"Jangan membelanya pa, dia memang butuh dikasih pelajaran" ucap Roman yang hendak melayangkan pukulannya. Namun ia sedikit terkejut ketika Mou yang baru saja datang dan memeluk Sam.


"Abang cukup" ucap Mou terisak di pelukan Sam.


"Mou" ketiga laki-laki itu berucap bersamaan.


"Jangan nangis dek" ucap Sam mengusap punggung Mou.


"Abang jangan berantem kayak gini" isak nya.


Mou menatap Roman dan Papa nya "semuanya bisa dibicarakan baik-baik kan".


.


.


.


Roman telah memberikan wejangan panjang lebar untuk adiknya. Namun Sam tetap acuh dan tidak peduli.


"Papa sudah benar-benar tidak ada hubungan lagi dengan Tante Ayu" ucap Toro memberikan penjelasan.

__ADS_1


Mou tersenyum samar pada papa, itu pasti karena dirinya. Mou kan sudah berjanji akan mau dijodohkan jika papa putus dengan wanita itu.


Jadi bagaimana bisa ia mengecewakan papanya?


"Kenapa harus putus" ucap Sam tersenyum mengejek.


"Sam!" Roman menatap tajam pada adiknya.


"Mou yang mau papa putus" lirih Mou yang membuat semua menatapnya.


"Dek" ucap Sam seolah tak percaya.


"Mou ingin Abang segera memaafkan papa, Mou tahu Abang cuma butuh waktu saja" Mou yang sebelumnya duduk disebelah Sam, berdiri dan menuju Papa.


"Kita jangan membicarakan ini lagi ya" pinta Mou yang pelupuk matanya sudah basah "kita bicarakan tentang perjodohan Mou saja" ucapnya begitu sesak.


Toro tersenyum hangat pada Mou "Papa kesini juga karena ingin segera mengatur pertemuan keluarga" Toro menyelipkan anak rambut Mou.


Mou mengangguk sembari membalas senyuman Papa.


Apakah dengan begini keluarga kita bisa utuh kembali?


Berkorban perasaan sedikit saja tidak akan membuatmu mati kan Mou.


.


.


.


Dengan langkah gontai Mou menuju ruangan Ibel. Kakinya terasa berat untuk dipijak kan. Masih teringat jelas bagaimana semangat nya ketiga laki-laki itu ketika membicarakan tentang perjodohan. Calonnya saja belum jelas tapi mereka sudah menentukan waktunya, aneh bukan. Mereka ingin ia menikah setelah wisuda.


"Mou" panggil seseorang yang membuyarkan lamunan Mou.


Mou berbalik dan sedikit kaget ketika melihat nya "Bara".


Bara tersenyum kemudian menghampiri Mou "apa kabar?" tanya Bara berbasa basi.


"baik, kamu?"


"aku juga baik, sebenarnya aku tadi mencari kamu di hotel dan tidak ada" ucap Bara menggaruk tengkuknya.


"ada apa Bar?" tanya Mou mengerutkan keningnya.


Bara menyodorkan sebuah kertas, bukan . . . lebih tepatnya undangan.


Mou dengan ragu menerimanya, Namun ia membelalakkan matanya seketika ketika melihat nama Bara yang tercetak disana.


"Ka-kamu mau nikah?" tanya Mou.


"I-iya Mou, aku pengen kamu jadi yang pertama menerima undangan ini".


Mou tersenyum kecil "mau pamer ya".


"bukannya gitu maksud aku" ucap Bara gugup.

__ADS_1


"iya-iya aku paham".


"Datang ya" ucap Bara penuh harap.


Mou mengangguk tak lupa menyelipkan senyuman nya "iya, pasti".


"Mou, aku memang bukan manusia baik, setelah apa yang aku lakukan padamu. Aku benar-benar sadar betapa tidak mudahnya kehilangan mu, tapi kini aku mau belajar untuk tidak menjadi pengecut".


" Aku akan mempertanggungjawabkan perasaannya yang selama ini sudah aku mainkan. Karena aku tahu jika denganmu tidak akan mungkin, aku paham betul betapa kecewanya dirimu atas sikap ku dulu. Oleh karena itu yang bisa aku sampaikan hanyalah kata maaf".


"aku memaafkan mu Bar, terimakasih untuk semuanya. Selamat menempuh hidup baru" ucap Mou begitu iklhas, tidak ada rasa sesak sedikitpun saat mengatakan nya.


"Boleh nggak sih aku peluk kamu sekali saja" ucap Bara seolah tak ikhlas melepas wanita sebaik Mou.


Mou merentangkan tangannya "untuk yang terakhir kalinya" ucapnya tertawa kecil.


.


.


.


"Apa! , Bara mau nikah?" ucap Ibel begitu nyaring.


Setelah Mou mendarat tubuhnya pada kursi.


"iya" jawab Mou.


"Siapa yang mau nikah?" tanya Juna yang masih setia duduk disana.


"Bara" ucap Ibel segera melihat undangan itu.


"Bara?" ulang seseorang yang baru saja datang.


"Gem, darimana?" tanya Mou.


"Bara mau nikah?" tanya Gemilang yang mendengar kata itu samar.


"Iya" sahut Ibel "sama cewek itu lagi, huh gedek gue" ucap Ibel geram sendiri, lalu beralih menatap Mou yang terdiam.


"Lo nggak papa kan Mou?" tanya nya khawatir.


Mou membalasnya dengan senyuman tipis "ya nggak papa lah, emangnya mau kenapa".


Ibel malah bangun dan segera memeluk Mou "gue tahu Lo nggak bisa bohong, nangis aja kalo mau nangis" ucap Ibel mengusap punggung Mou.


"Eh, bel" ucap Mou yang bingung dengan sikap Ibel.


Gemilang yang masih berdiri menatap tidak percaya.


Tidak mungkin kan Mou sedih.


.


.

__ADS_1


.


LIKE KOMEN AND VOTE GAESSS 💋


__ADS_2