
Gemilang mengemudikan mobilnya dengan bibir yang terus terangkat, entah apa yang didalam kepalanya kenapa ia bisa mengatakan seperti itu tadi.
Tapi Gemilang sungguh sangat merasa bersalah telah meninggal Mou sendirian disana, ia tadi memang berniat untuk kembali menyusul Mou, tapi ia dikejutkan oleh Mou yang menangis di tengah derasnya hujan.
Jika melihat Mou sedang lemah seperti itu, rasanya ingin sekali melindungi dan menjaga gadis cengeng itu.
.....
Gemilang melangkahkan kakinya memasuki rumahnya , jika dilihat dari mobil yang terparkir di garasi nya ia sudah tahu siapa yang saat ini bertamu.
Tujuan Gemilang adalah dapur, karena orang itu tidak jauh-jauh dari makanan jika kesini.
"woy brother! udah pulang?" sapa seorang laki-laki yang lebih tua sedikit darinya itu.
Exel Mawardi Utama, sepupu rasa sahabat yang menjengkelkan itu, sering sekali nangkring di rumahnya.
Gemilang menatap malas padanya, lalu menarik kursi untuk duduk disebelahnya.
"numpang makan atau nganterin orderan?" tanya Gemilang sinis.
Exel mengacak-acak rambut Gemilang dengan gemas , "numpang curhat" ucapnya kemudian tertawa.
"gue bukan mamah dd bambang" ucap Gemilang, ia sebenarnya hanya akan berbicara seperti itu jika tidak sedang ada orang tuanya saja.
"gue butuh pencerahan" sahut Exel sembari memasukkan sesendok cake dengan selai cokelat yang begitu meleleh itu.
"kisah Lo tuh seharusnya udah tamat, males banget gue tiap hari Lo ajak flashback" ucap Gemilang sinis.
"justru itu gue mau move on kampret" seru Exel.
"Lo udah ngomongin kata-kata itu semenjak dua tahun yang lalu, sampe kak Jen udah punya anak Bambang, kapan move on Lo, planning doang" gerutu Gemilang jengah setiap hari mendengar omongan Exel yang gagal move on.
"tujuh tahun Gem, tujuh tahun kandas gitu aja. . . Lo bisa ngebayangin jadi gue nggak sih"
"dih males banget jadi Lo".
"emang apa hebatnya Roman sih daripada gue?"
Gemilang sontak tertawa mendengarnya "dia dewasa, enggak labil dan cukup matang untuk diajak berumah tangga" ucapnya memuji.
"bangkek saja lah, kau niiii. . . seharusnya Lo itu bela gue tau".
"nggak ada bela-belaan , salah sendiri masih bayi udah pacaran aja" ucap Gemilang mencuri sepotong cake lalu meninggalkan Exel.
"Eh tunggu" ucap Exel menyusul Gemilang "Lo itu belum pernah pacaran jadi Lo belum ngerti rasanya".
__ADS_1
"terus Lo ngapain curhat ke gue bambangg!!".
"ya mau sama siapa lagi" sahut Exel dengan polosnya.
tuh kan, menjengkelkan malas sekali berbicara dengan orang yang tidak tahu malu seperti ini.
.
.
.
Sudah seminggu lamanya wajah gadis yang selalu menangis dihadapannya itu selalu terngiang-ngiang di kepala nya.
Pusing sudah Gemilang memikirkannya, kenapa juga ia harus memikirkan gadis yang bahkan baru ia kenal.
"maaf pak apa anda butuh sesuatu?" tanya Yohan assisten pribadi nya.
Gemilang bersandar pada kursi besarnya, ia memijat pelipisnya semakin ia mencoba untuk melupakan bayang-bayang nya , semakin kuat juga bayang-bayang wajahnya.
Tapi sepertinya itu wajar-wajar saja , Gemilang tidak pernah memeluk gadis manapun jadi mungkin karena sudah beberapa kali berpelukan dengan nya jadi otaknya blank.
"Han, belikan saya obat pusing" ucapnya sembari memejamkan matanya.
"baik pak" ucap Yohan keluar dari ruangan itu, mungkin benar bosnya itu sedang sakit kepala karena beberapa hari ini kinerjanya berbeda dari biasanya.
"Lo sakit?" tanya Ben yang baru saja datang, ia sempat berpapasan dengan Yohan yang mengatakan tentang keadaan Gemilang.
"cuma pusing aja".
"Lo sih , kebanyakan nge gym Minggu ini"
Gemilang sungguh geli dengan makhluk yang sok perhatian itu, ia seperti emak-emak rempong jika melihat Gemilang sakit sedikit saja.
"tanyain sama Yohan jadwal gue hari ini" ucap Gemilang.
"udah dikosongin semua, kan nanti malem ulang tahun si Juna , Lo nggak lupa kan?" seru Ben.
"oh ya".
"tuh kan lupa , pasti belum nyari kado".
"masalah gampang" ucap Gemilang santai.
"pestanya di kafe nya jam enam nanti".
__ADS_1
Mendengar hal itu sedikit terbesit harapan untuk bertemu dengan Mou, ahhhh tidak sebenarnya ada apa dengan otak geniusnya ini.
.
.
.
Suasana kafe tampak riuh malam ini, hanya teman-teman Juna saja yang berada disana.
Alunan musik yang begitu kencang serta remang-remang lampu membuat kafe ini lebih mirip dengan bar.
Seperti itulah Juna menyulap kafenya dihari ulang tahunnya.
Gemilang, Juna, Ben dan juga Axel nampak berbincang bincang di lantai atas.
"si nenek lampir nggak Dateng Jun?" tanya Ben Ben meneguk minumannya.
"Ibel udah otw katanya" sahut Juna.
"tumben lama, dia nggak mungkin dandan kan?" ledek Ben kemudian tertawa.
"loh itu ya Ben kalo ada berantem mulu kalo nggak ada aja nyariin" sahut Exel.
"nggak rame aja kalo nggak ada nenek lampir" sahut Ben.
"Raisa nggak Lo ajak?" tanya Juna.
"dia lagi pulang kampung" jawab Ben.
Disaat teman-teman sedang berbincang , tatapan Gemilang tertuju pada dua wanita yang baru saja datang.
Namun tetap satu wanita yang mencuri perhatiannya, ia berjalan dengan anggun mengenakan mini dress hitam bercorak bunga-bunga itu, bibirnya selalu tersenyum saat berbicara dengan Ibel.
"gilaaaaaa, bening banget cuy , siapa itu yang sama Ibel" ucap Exel ikut terhipnotisnya dengan kecantikan Mou.
"oh itu, namanya Mouresa temennya Ibel" jawab Juna yang tidak mengalihkan pandangannya terhadap Mou.
semua laki-laki disana menatap penuh kagum dengan wajah Mou yang begitu berbeda dan bersinar diantara yang lainnya.
.
.
.
__ADS_1
LIKE KOMEN AND VOTE GAESSS 💋