Gemilang Ku

Gemilang Ku
S2 120 ~ Wejangan


__ADS_3

"Kenapa?" tanya Gemilang melirik wanita di sampingnya yang sepertinya tengah memikirkan sesuatu.


Tersenyum kecil dan menatap Gemilang. "Tidak apa-apa," jawabnya lalu menatap luar jendela mobil. Rintik hujan menyapa dengan teduh malam ini, hujan yang tenang namun tak kunjung terang.


"Masih kurang ya, main ke pantainya?"


Mou menggeleng, jawabannya yang sebenarnya adalah karena ia belum sempat menyampaikan sesuatu yang mengganjal pada benaknya.


"Papa juga sudah menelepon sejak tadi, katanya nggak boleh pergi-pergian terus kalo mau nikah."


"Oh ya," tersenyum kecil meraih tangan Mou. "Nanti aja kalau habis nikah kita main sepuasnya," ucap Gemilang yang membuat dahi Mou berkerut.


"Ma-main keluar maksudnya." Gemilang mencubit gemas pipi wanita itu. "Udah mulai mikir yang enggak-enggak ya," ucapnya terkekeh.


Mata Mou mendelik mendengarnya. "Abang nggak gitu ya," ucapnya memegangi pipinya yang terasa panas.


"Kalo iya nggak papa sih, kan wajar sebentar lagi--"


"Aw!" pekik Gemilang saat Mou tiba-tiba mencubit lengannya.


"Abang nakal!" ucapnya kesal.


.


.


.


Mereka berdua baru saja memasuki rumah Roman, di sana begitu ramai dan gaduh. Suara Ara yang bernyanyi ria terdengar menggelegar di ujung pintu.


"Uncle!" teriak Ara saat melihat Gemilang yang baru saja datang. Merentangkan kedua tangannya dan berlari kecil memeluk laki-laki itu.


"Oh gitu ya, sekarang aunty di lupain." Mou yang berada di belakang punggung Gemilang pura-pura kesal saat Ara tidak melihat dirinya.


"Aunty kan sudah setiap hari bertemu," ucap Ara terkikik geli.


"Ya sudah kalau begitu aunty sama Darren saja." Mou segera menghampiri Darren yang berada di pangkuan Roman.


"Aunty nggak boleh!" kesal Ara berkecak pinggang.


"Ara nggak boleh gitu sayang," ucap Jen meraih tangan mungil Ara.


"Baru pulang?" tanya Toro yang baru saja dari lantai atas.


"Iya, Pa." Gemilang mencium tangan laki-laki paruh baya itu dan di susul oleh Mou.


"Gem, ngobrol bentar yuk sama papa." Menepuk bahu calon menantunya.


Gemilang mengangguk, "boleh."


"Kamu nggak usah ikut, ini urusan laki-laki," ujar Toro sembari mengusap rambut Mou.

__ADS_1


Mendengus kesal Mou hanya mengangguk kecil. Kembali duduk di samping Roman. "Ada apa sih bang? nggak biasa-biasanya."


"Mau dapet wejangan paling," sahut Jen merapikan rambut Ara.


"Wejangan?" ulang Mou.


"Iya dek, kamu kan sebentar lagi mau nikah. Apalagi kamu anak cewe satu-satunya, papa pasti berat banget lepas kamu." Roman menatap sang adik dengan sendu, mengingat sebentar lagi ia akan lepas tanggung jawab, meskipun tidak sepenuhnya.


"Abang jangan gitu dong, Mou kan sedih." Mengusap ujung matanya yang sedikit berair.


"Kalian berdua ini ya, kayak nikahnya sama siapa aja, orang sama Gemilang yang sudah menjadi bagian dari keluarga ini. Paling-paling kamu cuma pindah rumah saja Mou." Jen sedikit mencairkan suasana.


.


.


.


Menyesap kopi susu yang masih mengeluarkan kepulan putih di atasnya. Toro kembali menatap Gemilang yang duduk di hadapannya.


"Papa percaya sama kamu Gem, kamu pasti bisa menjaga Mou dengan baik. Karena detik selanjutnya setelah kalian menikah, tanggung jawab pada Mou sepenuhnya milikmu."


Gemilang mengangguk, menaruh kembali cangkir itu di atas meja. "Gemilang tidak akan berjanji apa-apa pa, Gemilang hanya akan membuktikan pada papa bahwa Gemilang mampu menjaga Mou dengan baik."


"Gem, papa pikir kamu sudah mengenal Mou dengan segala kekurangannya. Dia cengeng, dia manja, dia selalu berpikir pendek... bahkan masih banyak lagi kekurangan yang menurut papa adalah kesempurnaan di mata papa. Apakah kamu siap menerima seluruh kekurangannya?" Toro berbicara sangat serius kali ini bahkan tidak ada senyuman yang biasanya terlukis di bibirnya.


"Gemilang siap pa, sangat siap," jawab Gemilang mantap.


"Pa.." lirih Gemilang merasa terenyuh.


"Dia segalanya buat papa Gem, Mou adalah tuan putri dalam keluarga Munaj, yang tidak terasa sebentar lagi akan menjadi istrimu dan akan mengabdikan seluruh hidupnya untukmu." Toro menghela napasnya yang terasa sesak.


"Gemilang akan mencintai Mou dengan seluruh napas, akan menjaganya walaupun nyawa yang menjadi taruhannya. Seluruh dunia Gemilang, akan Gemilang berikan untuk putri papa."


"Papa percaya sama kamu," ucap Toro beranjak dari tempatnya. Menepuk-nepuk bahu Gemilang. "Seorang laki-laki itu yang di pegang ucapannya Gem." Berlalu dari sana karena tidak mungkin ia menangis di hadapan Gemilang.


Sedangkan Gemilang masih termenung di sana. Meresapi kata-kata Toro yang baru saja ditujukan kepada dirinya. Sebentar lagi tanggung jawabnya sebagai laki-laki akan benar-benar ia buktikan.


"Aku akan mencintai Mou dengan seluruh hidup ku, Pa," gumamnya pelan. "Aku tidak akan mengecewakan papa sekeluarga."


.


.


.


Gemilang tersenyum kecil melihat sosok cantik yang tengah menimang bayi kecil itu. Darren terlihat begitu pulas dalam dekapan Mou.


"Sudah pantes ya," goda Gemilang sembari menghempaskan tubuhnya di samping Mou.


"Iya, Gem pokoknya langsung gas pol saja nanti," ucap Jen terkekeh.

__ADS_1


Sedangkan Mou hanya menatap kesal pada mereka, takut Darren terbangun jika ia bersuara.


"Bang Roman mana kak?" tanya Gemilang.


"Itu Ara mau tidur minta di kelonin."


"Oh," jawabnya mengangguk kemudian kembali menatap Mou. Mengusap-usap rambut Darren yang begitu lembut.


Mou sedikit terkejut tatkala Gemilang meletakkan dagunya pada pundaknya. "Dia lucu ya," ucapnya yang membuat Mou begitu tegang.


Jen terkekeh melihat pemandangan di hadapannya. "Dasar," gumamnya yang tak di gubris oleh Gemilang.


"Kak kayaknya dia haus deh," ucap Mou saat Darren terus bergerak mencari ASI nya.


"Yasudah, kalian ngobrol saja biar Darren minum di kamar."


Setelahnya, ruang tengah hanya menyisakan dua manusia yang seolah enggan untuk berjauhan. Mou mengusap rahang laki-laki yang masih berada di pundaknya.


"Tadi ngomong apa sama papa?"


"Hanya sedikit wejangan," jawab Gemilang mengecupi bahu wanita itu.


"Abang!" Mou menggeliat geli karena itu.


"Cepetan ngomong, tadi katanya mau ngomong, keburu aku di usir sama papa kamu."


Mou membawa tangan Gemilang dalam genggamannya, menyatukan jemari keduanya.


"Maaf ya, Mou baru berbicara sekarang, Mou tidak ingin masalah kemarin menjadi runyam." Seolah ragu untuk mengatakannya.


"Ada apa sayang?"


"Abang, Mou nggak pernah merebut kak Edwin dari istrinya.."


Gemilang menaikkan sebelah alisnya, lalu membawa dagu Mou agar menghadap padanya. "Kenapa membahas hal itu lagi?"


"Mou nggak ada perasaan apa pun dengan kak Edwin," lirih Mou dengan kekhawatiran.


"Iya aku tahu, lalu apa masalahnya?"


Mou menunduk tidak berani menatap netra tajam itu. Meremas tangan Gemilang dengan erat. "Sebenarnya kak Edwin pernah menyatakan perasaannya pada Mou."


Detik itu juga dada Gemilang terasa sesak. "Maksud kamu?" masih berusaha mencari jawaban, dan berharap dugaannya salah.


"Jawab aku Mou!" Gemilang menangkup kedua pipi Mou saat Mou terus mengalihkan pandangannya.


.


.


.

__ADS_1


VOTE YANG BANYAK BIAR NYAMPE PUCUK 💋


__ADS_2