Gemilang Ku

Gemilang Ku
S2 131 ~ Mengubur mimpi


__ADS_3

"Selamat siang, Bu." Semua karyawan tampak menyapa Mou silih berganti. Entah mengapa ia malah risih saat semua orang bersikap berlebihan seperti ini.


"Siang," jawab Mou tersenyum sembari melangkahkan kakinya.


"Ibu tidak perlu menjawab jika merasa tidak nyaman." Jasmine berucap sembari menekan tombol lift khusus.


"Kamu ngapain ikut-ikutan memanggil aku kayak gitu." Mou mendelik pada Jasmine yang justru bersikap formal kepadanya. Apalagi harus menjemput dirinya di lobby. Apa-apaan ini.


"Ibu sekarang istri bos saya loh, jadi memang sepantasnya harus seperti itu." Menunduk sopan saat Mou terus menggerutu.


"Jasmine!"


Nyengir kuda saat Mou terlihat menggemaskan ketika sedang marah. "Iya-iya Mou, tapi kalau di depan pak Gemilang iyain aja."


"Memang kenapa?" Mendekati Jasmine untuk mencari tahu.


Mendesah malas dan menatap Mou dengan memelas. "Kamu lupa suami kamu itu galaknya minta ampun. Mulutnya udah kayak boncabe level 18+."


Mou melongo mendengar kata-kata Jasmine. "Hussst..." Memukul pelan lengan Jasmine kemudian menunjuk CCTV. "Dia kadang lihat dari situ loh."


Jasmine menepuk jidatnya karena tidak menyadari hal itu. "Semoga nggak dengar," ucapnya dengan jantung maraton.


Setelahnya Mou bergidik ngeri membayangkan betapa seramnya seorang Gemilang ketika sedang marah. Menggeleng sendiri dan mengurungkan niatnya untuk meminta pendapat Gemilang tentang tawaran bermain film.


Gemilang tersenyum lebar saat melihat sosok cantik memasuki ruangan dengan rantang susun di tangannya.


"Waktunya istirahat, Abang." Mou menuju sofa dan menyiapkan makan siang untuk suaminya.


"Sedikit lagi," ucapnya kembali menggerakkan jemarinya di atas keyboard.


Mou mendekati suaminya mengalungkan tangannya pada leher Gemilang. Matanya ikut tertuju pada monitor di hadapan laki-laki itu.


"Sebentar ya." Tersenyum manis saat harum Mou yang menenangkan menyeruak masuk indera penciumannya.


Mencium pipi Gemilang yang di penuhi oleh bulu halus. "Kamu ganteng kalau lagi sibuk kerja gini," ucap Mou tersipu sendiri saat mengucapkannya.


"Dari dulu bukannya," sahut Gemilang yang tidak sabar untuk merengkuh tubuh istrinya.


"Tapi dulu nggak berani peluk-peluk gini." Semakin mengeratkan pelukan pada leher Gemilang.


"Kok sekarang berani?"


"Soalnya kamu milikku sepenuhnya bapak Gemilang Galaxio Kusuma."


Mou terkejut saat Gemilang membalikkan kursinya dan menarik Mou dalam pangkuannya.


"Abang!" gerutu Mou merasa tidak pantas di posisi seperti ini saat berada di kantor.


"Kenapa? kan kamu juga milikku seutuhnya Nyonya Kusuma." Melingkarkan tangannya pada perut datar Mou, kepalanya sudah bersandar pada tempat ternyaman miliknya.


Mengusap rambut Gemilang dengan lembut. "Abang.." ucap Mou dengan ragu.


"Apa?"


"Nggak jadi deh."


"Lah, gimana sih." Mengecup tangan halus istrinya.


"Ehmm... Mou nggak suka semua orang memperlakukan Mou dengan berlebihan seperti itu. Mou nggak butuh mereka hormat sama Mou sampai segitunya," gerutu Mou.

__ADS_1


"Kamu kan istri aku, istri yang punya perusahaan jadi wajarlah mereka cari muka sama kamu."


"Cari muka?" Mou menatap tidak percaya pada Gemilang yang malah berpikiran seperti itu.


"Udahlah cuekin aja."


.


.


.


Dengan tangan yang saling bertaut dan bibir yang saling melemparkan senyuman satu sama lain. Mou dan Gemilang memasuki rumah dengan perasaan berbunga penuh cinta.


Mou memutuskan untuk menunggu Gemilang sampai selesai bekerja agar bisa pulang bersama.


Di ruang tamu tampak ramai dengan beberapa manusia yang tengah duduk di sana.


"Papa." Mata Mou tertuju pada sosok laki-laki paruh baya yang sangat ia rindukan.


Melepaskan diri dari Gemilang dan berlari kecil menuju sang papa. "Mou kangen," ucap Mou memeluk tubuh tegap Toro.


"Papa apalagi.." jawab Toro saat Gemilang mencium tangannya.


"Wah, aura pengantin baru benar-benar bersinar ya," ucap Jen yang tengah memangku Darren.


"Kak Jen," ucap Mou memalu.


"Ayo pak Toro, katanya mau main golf." Elang yang baru saja datang membuat mereka semua menoleh.


"Ayo pak Elang." Mata Toro kembali menatap Mou. "Nanti ngobrol lagi ya sayang."


"Papii yang akur ya sama besan," ucap Gemilang terkekeh saat Elang merangkul pundak Toro.


"Makannya cepat-cepat kasih kita cucu Gem, biar bisa di ajak main," ucap Toro menoleh sekilas.


Elang membulatkan matanya saat mendengar hal itu. "Pak Toro.." ucapnya lirih namun penuh penekanan.


"Kenapa pak Elang?"


Elang melihat-lihat sekitar, untung istrinya tidak ada. Nanti yang ada malah ia yang di salahkan karena berbicara tentang cucu lagi. "Tidak apa-apa pak Toro, aman." Mengacungkan jempolnya dan mengajak Toro segera berlalu.


"Gimana honeymoon kalian?" tanya Jen saat dua manusia itu duduk dengan posisi menempel satu sama lain.


"Semuanya aman terkendali atas saran kak Jen. Makasih sudah ngajarin Mou," ucap Gemilang dengan santainya dan mendapat cubitan dari sang istri.


"Aw! sakit sayang." Menatap gemas pada Mou yang begitu hobi mencubit dirinya.


"Masih malu-malu biasalah," ucap Jen terkekeh geli melihat mereka. "Tapi nggak nangis kan?" tanyanya lagi dengan jahil, mumpung suaminya tidak ada. Roman akan marah saat dia membicarakan hal itu di hadapannya. Mungkin masih belum rela melepaskan adik kecilnya.


"Sampai sekarang aja masih nangis." Membalas senyuman jahil Jen.


Mou menyembunyikan wajahnya yang sudah memerah dalam dada bidang Gemilang.


"Hahahah..." tawa Gemilang pecah saat melihat tingkah Mou yang malu-malu kucing.


.


.

__ADS_1


.


Menatap kosong pada luar jendela kamar yang menampilkan gelapnya langit kota Jakarta malam ini. Pikirannya masih menerawang jauh tentang tawaran bermain film tadi. Di lubuk hatinya yang paling dalam, Mou sangat ingin belajar sesuatu hal yang bari.


Tapi di sisi lain, ia juga paham Gemilang tidak akan mengijinkan dirinya. Bekerja saja harus di batasi waktu, apalagi syuting.


"Sayang.." panggil Gemilang yang tidak membuat Mou menoleh.


Segera mendekat dan mencium bibir Mou sekilas. "Mikirin apa sih sampai-sampai aku panggil nggak dengar?"


"A-abang sudah selesai?"


"Ada apa sayang?" Mengusap rambut Mou dengan lembut. "Mikirin Ibel? kan sudah aku bilang besok saja. Aku ngantuk banget kemarin tidurnya sebentar."


Mou menggeleng cepat. "Abang tidur saja, biar Mou pijitin."


Dahi Gemilang mengernyit karena itu. "Tumben?"


Menyuruh Gemilang untuk segera berbaring dan membawa kaki besar suaminya pada pangkuannya. "Cepat tidur," ucapnya sembari memijit kaki berotot itu.


Gemilang tersenyum kecil menikmati hal itu. Meskipun sebenarnya pijatan tangan kecil Mou tidak terasa sama sekali tetapi ia tetap menghargai usaha istrinya.


"Kemarin kan nggak jadi, mau sekarang?" tanya Gemilang dan Mou sudah tahu arah pembicaraan suaminya.


"Abang kan lagi capek. Besok pagi saja kalau belum benar-benar pengin." Mou tidak menolak hanya saja memberi saran.


"Baiklah." Memejamkan matanya saat tentram dan damai melingkupi seisi hatinya.


.


.


.


Masih bergelung dalam selimut tebal dengan tubuh yang masih telanjang. Mou menatap layar ponselnya karena suaminya kembali tidur setelah berhubungan.


[Ini dia pentingnya Totalitas Peran di Industri Film]


[Cara mendalami akting bagi pemula]


Suara ponsel itu membuat Gemilang membuka matanya perlahan. Kembali memeluk istrinya dengan mata yang terpejam saat melirik luar jendela masih pagi buta.


"Nonton apa sih?" tanya Gemilang dengan suara seraknya.


Segera mengunci ponselnya dan meletakkan di atas meja. "Enggak kok, cuma nggak bisa tidur lagi aja."


"Sayang banget sama kamu." Mengecup punggung telanjang istrinya yang begitu harum dan menggoda.


"Mou juga." Menggenggam tangan kekar itu dengan lembut.


Sepertinya Mou harus mengubur mimpi Mou dalam-dalam. Karena hidup Mou sudah sepenuhnya milik Abang.


.


.


.


LIKE, KOMEN, AND VOTE GAES 💋

__ADS_1


komentar yang banyak biar cepat kelar xixixixixi


__ADS_2