Gemilang Ku

Gemilang Ku
52 ~ Rencana licik


__ADS_3

Hembusan angin malam, menemani dua manusia yang masih terdiam sembari duduk di bangku taman rumah sakit.


Menatap manusia yang berlalu lalang dengan raut wajah khawatir, entah apa yang mereka khawatirkan padahal perkara hidup bukankah milik Tuhan semata, kita sebagai manusia tidak bisa berbuat apa-apa ketika garis sudah tertulis.


"Kamu menangis bukan karena Bara kan?" ucap Gemilang menatap wajah cantik yang tengah duduk disampingnya.


Setelah kejadian tadi Gemilang mencari alasan untuk mengajak Mou keluar, dan makan adalah alasannya.


"Kalau aku jawab iya, apakah kamu akan kecewa" balas Mou tersenyum samar pada Gemilang.


"Iya!"


Mou menyesap kopi yang sedari tadi berada di genggamannya "mungkin setelah ini, kamu akan lebih kecewa lagi padaku" ucap Mou lirih.


Gemilang sontak menoleh "ada masalah apa?".


Mou mendekat pada Gemilang, memangkas jarak yang sebelumnya tercipta begitu jauh.


Mou sandarkan kepalanya pada pundak kokoh dan nyaman itu, masih menikmatinya. Karena ia tidak tahu entah sampai kapan ia bisa merasakan sandaran senyaman ini lagi.


"Aku menerima perjodohan itu Gem, dan aku akan segera bertemu dengannya minggu depan".


Dunia Gemilang bagaikan berhenti detik itu juga.


Helaan nafasnya terdengar begitu berat "Kita baru memulainya, tidak bisakah kamu bertahan sebentar saja" ucapnya begitu sesak.


Ia bisa berjuang hingga titik darah penghabisan, namun jika yang diperjuangkan pasrah seperti ini, bisa apa dirinya.


Mou semakin menelusupkan kepalanya pada dada bidang itu "pada akhirnya kita akan semakin tersakiti oleh harapan" ucap Mou sembari melingkarkan tangannya pada perut rata berotot itu.


"Lalu kenapa kamu memelukku seolah tidak ingin melepaskanku" ucap Gemilang begitu menusuk.


Mou sontak menjauh, namun Gemilang segera menahannya dan merengkuh tubuhnya dengan erat "bibirmu memang berkata akan menerima, namun tidak dengan hati dan tubuhmu".


Isakan kecil terdengar begitu pilu, Mou tidak bisa berpura-pura ataupun menyembunyikannya.


"Ki-kita tida boleh seperti ini Gem hiks".


Untuk beberapa saat Gemilang membiarkan wanita ini menumpahkan tangisnya.


"Cukup kamu meminta ku untuk memperjuangkan mu Mou, maka sepenuhnya aku akan berjuang sekuat tenaga ku mulai detik ini juga" ucap Gemilang mengusap rambut Mou.


Mou menggeleng lalu sedikit menjauhkan tubuhnya "Cukup sampai disini Gem, kita tidak bisa lebih jauh lagi, kamu pantas mendapatkan wanita yang lebih baik".


Kata-kata tajam itu begitu menusuk relung hati Gemilang, ia segera berdiri dan menatap Mou penuh dengan kekecewaan.


"Baik, jika itu mau mu" ucap Gemilang dengan rahang yang mengeras, bahkan ia sudah cukup bersabar ketika melihat Mou berpelukan dengan mantan kekasihnya di depan matanya tadi.


Seharusnya Mou senang bukan dengan jawaban Gemilang, tapi kenapa malah hatinya seperti tertusuk pisau tajam.


"Berbahagialah dengan pilihan mu, Mouresa!".

__ADS_1


Pergi melangkah meninggalkan Mou tanpa sepatah katapun.


Mata Mou terpejam bersamaan dengan air mata yang luruh, membasahi pipi putihnya.


"maafkan aku" isaknya merasa bersalah, ia menutup wajahnya dengan kedua tangannya.


Air matanya tidak mau berhenti mengalir.


Tanpa ia sadari ada hati yang terluka, ketika melihat semuanya sedari tadi.


Mulai dari berpelukan penuh sayang satu sama lain sampai Gemilang pergi.


Ibel tersenyum kecut atas apa yang ia lihat barusan, sekuat apapun ia mencoba menelan kenyataan ini, semakin kuat pula rasa sakitnya, air matanya tak tertahankan.


Ia memukuli dadanya yang begitu sesak. Tidak, ia tidak menyalahkan Mou ataupun gemilang, yang salah adalah dirinya. Karena mencintai seseorang tidak sesuai porsinya.


Berharap pada Gemilang sedikitpun ia tidak berani, tapi ia tidak pernah menyangka bahwa Mou, sahabatnya sendiri yang dengan teganya bermain dibelakangnya.


Ibel pikir Mou lah orang yang paling mengerti dirinya di dunia ini, ternyata ia salah.


Ibel mengusap air matanya dengan kasar kemudian pergi melangkahkan kakinya penuh rasa kekecewaan.


.


.


.


"Oh iya, bukannya tadi--".


"Udah ayo pulang saja" ucap Juna menyerahkan tas itu "biar aku antar".


Mou tersenyum tipis "tidak usah Jun, aku masih ingin ke suatu tempat".


Bukannya ke suatu tempat, Mou melangkahkan kakinya sendirian menyusuri dinginnya angin malam yang menerpa tubuhnya.


Berjalan tanpa tahu arah yang akan ia tuju.


Masih teringat jelas di angannya atas kekecewaan laki-laki itu padanya.


Mou menatap langit malam yang bertaburan bintang-bintang.


Jika aku ditakdirkan untuk dirinya, permudah lah, berikan aku jalan pintas agar tidak tersesat saat menuju tempat pulang ku(dia) , Tuhan.


.


.


.


"Gem, cukup!" sentak Ben merebut gelas sloki kecil dari tangan Gemilang.

__ADS_1


"Lo apa-apaan sih nyuk" ucap Gemilang mendelik kesal pada sahabatnya itu.


Ben menggelengkan kepalanya, ia buru-buru ke apartemen Gemilang saat ia baru mendarat. Namun setelah ia sampai sana malah dikejutkan oleh Gemilang yang sudah menghabiskan dua botol bir.


"Ada masalah apa" ucap Ben kesal "nggak gini ya Gem caranya, Lo udah habis banyak" ucap Ben segera meneguk minuman itu.


Gemilang tersenyum kecil "bahkan mau sepuluh botol pun rasanya tidak akan membuatku melupakan wajahnya sedetikpun".


"Ada apa sama Mou?" tanya Ben yang sudah paham apa yang dimaksud oleh Sahabatnya itu.


Gemilang menyandarkan tubuhnya pada sofa, sembari memijit pelipisnya "Gue nggak paham sama tu cewe, kemaren-kemaren kita udah deket banget kayak orang pacaran, tapi hari ini dengan seenaknya dia bilang menerima perjodohan itu, dan akan segera bertemu minggu depan".


Ben tertawa kecil karena itu "Kita lihat aja calonnya, gue yakin nggak bisa ngalahin Lo" ucap Ben yang membuat Gemilang terdiam.


"Lo jangan lemah gini bangsad!, buktiin kalo Lo bisa tanpa dia dan buktiin kalo Lo lebih baik dari cowok itu".


"Terus, memang dengan seperti itu akan membuat Mou mengakui perasaannya ke gue" ucap Gemilang yang bodoh soal wanita.


"yup, itukan yang Lo mau, bikin dia bertekuk lutut sama Lo, gue ada rencana licik" ucap Ben menaikkan alisnya.


"apa?".


.


.


.


"Mou, tolong anterin kopi ini ke tempatnya pak Gemilang ya" ucap Raisa pada Mou yang sepertinya habis makan siang.


Mou mengerjapkan matanya, ingin sekali ia menolak, tapi itu adalah hal yang tidak mungkin.


"iya mbak" ucapnya sopan, ia segera meraih nampan yang berisikan tiga cangkir kopi hitam itu.


"ada tamu ya?" tanya Mou pada Raisa yang sepertinya super sibuk itu, bahkan ia tidak makan siang hari ini dan hanya memakan roti untuk mengganjal perut nya saja.


"iya" ucap Raisa tanpa mengalihkan pandangannya dari layar komputernya.


Mou berkali-kali menghela nafasnya ketika hendak memasuki ruangan itu.


"masuk" suara diseberang sana membuatnya segera memasuki ruangan itu.


Mata Mou membulat tatkala melihat wanita itu disana, iya. . . Ilona sedang bersendau gurau bersama mereka.


Ben duduk dikursi singlenya, sedangkan Gemilang dan Ilona duduk begitu dekat, mereka tak henti-hentinya melemparkan senyuman satu sama lain.


.


.


.

__ADS_1


LIKE KOMEN AND VOTE GAESSS 💋


__ADS_2