
"Maaf," lirih Mou yang semakin menelusup kan kepalanya pada bahu ternyaman.
Mengecup kening Mou bertubi-tubi. Laki-laki itu menghela napas panjangnya. Mencoba meredam emosi yang sempat ia luapkan.
"Tidak apa-apa, jangan seperti itu lagi." Mengusap air mata Mou dengan ibu jarinya.
Mou mengangguk dengan posisi masih memeluk tubuh kekar suaminya. Hangat sekali pelukan ini, tidak terbayangkan sebelumnya bagaimana jika pelukan ini adalah milik wanita lain.
"Sudah malam, ayo tidur." Gemilang mengusap pelan punggung Mou saat wanita itu tidak mau terlepas darinya.
Mou menuruti kata Gemilang, berbaring dan segera bergelung dengan selimutnya tidak lupa mendekap tubuh Gemilang lagi.
"Sepertinya kamu memang tidak bisa jauh dari ketek aku," ucap Gemilang terkekeh saat Mou terus menempel padanya.
Tidak peduli dengan ucapan Gemilang, justru malah membawa tangan Gemilang untuk memeluknya. "Mou kangen sama Abang." Bayangkan saja sudah berapa tahun lamanya Mou memendam rasa rindu tanpa temu.
"Masih sakit ya?" tanya Gemilang yang tidak bisa menahan diri saat melihat tingkah manja Mou.
"Apa?" Mou mendongak menatap penuh tanya karena tak paham.
"Aku sedang menginginkan mu, Mouresa." Suara berat laki-laki itu membuat Mou menunduk dengan pipi yang bersemu.
"Abang nggak capek." Membawa jemari lentiknya untuk membuat tulisan abstrak pada dada bidang laki-laki itu.
Darah Gemilang semakin berdesir saat Mou menyentuhnya seperti ini. Apa wanita ini tidak tahu betapa tubuhnya seperti tersengat listrik saat bersentuhan dengannya.
"Tidak, tapi kalau kamu yang capek nggak papa. Lebih baik tidur saja, toh, sudah malam." Belum sempat Gemilang menutup bibirnya Mou sudah mendekati wajahnya dan mengecup pipinya.
"Pelan-pelan ya," ucapnya dengan manis. Gemilang tak kuasa menahannya lagi. Segera menindih tubuh Mou, menyentuhkan dengan lembut agar wanitanya tidak merasakan sakit.
Menyatu dalam erangan penuh cinta pada malam dingin bertabur bintang ini. Meluapkan segala emosi yang sempat tertahan hari ini.
Hingga akhirnya lega dan bahagia memenuhi perasaan keduanya.
"Terimakasih," ucap Gemilang yang merasa bahagia sekaligus puas.
Mata Mou terpejam dengan napas yang tersengal, segera berlabuh pada alam mimpi yang membawa raganya untuk beristirahat sejenak dari pahit manisnya kenyataan.
.
.
.
__ADS_1
Rintik hujan menyapa dengan derasnya. Membuat dua manusia yang masih tertidur pulas itu semakin mencari kehangatan satu sama lain.
Sepasang mata baru saja terbuka perlahan. Pemandangan luar biasa di depan mata yang membuat bibirnya melengkung sempurna.
Masih saja tidak menyangka bahwa wanita ini menjadi teman hidupnya. Sosok yang selalu ia dambakan dan menempati penuh pada hatinya.
Mengusap pipi halus itu dengan lembut hingga membuat pemiliknya menggeliat dalam tidurnya. Gemilang tak kuasa untuk mengecup pipi bulat itu.
Mata lentik itu mengerjap saat merasa tidurnya terganggu. Sedikit terlonjak ketika mendapati wajah Gemilang berada tepat di hadapannya.
"Kenapa?" tanya Gemilang bingung saat Mou terlihat kaget sampai-sampai tubuhnya menjauh lima centi meter darinya.
Mou membuang napasnya, masih saja kaget saat terbangun melihat Gemilang di depan matanya. Kemarin juga seperti itu tapi Gemilang tidak melihatnya.
"Masih belum terbiasa," ujar Mou sembari menarik selimut untuk menutupi tubuh telanjangnya.
Tersenyum geli, Gemilang segera meraih tubuh Mou agar kembali mendekat. "Mulai sekarang harus terbiasa, karena aku adalah orang yang akan selalu di sampingmu. Mulai dari tidur hingga bangun."
Mou mengangguk, tangannya mendekap erat selimut itu. Begitu takut dan malu jika kembali bersentuhan dengan Gemilang.
"Masih sakit ya?" tanya Gemilang mengingat kemarin ia sedikit kasar.
Mou mengangguk, memang masih nyeri tapi tidak terlalu sakit seperti kemarin. "Sepertinya belum terbiasa saja. Kata kak Jen itu biasa kok." Mengalihkan pandangan begitu malu.
"Nggak gitu Abang," kesal Mou.
"Lain kali boleh dong kamu yang ride me." Senyuman kecil tak tertahankan melihat kekesalan istrinya.
"Abang ngomong apa sih." Segera meraih baju tidurnya yang berada di meja. Mou bergegas untuk mandi.
Kenapa Gemilang jadi semesum itu?
.
.
.
"Abang kenapa nggak ada orang?" ucap Mou menuju dapur di susul Gemilang di belakangnya.
"Aku suruh main ke laut," ucap Gemilang dengan santainya. Segera duduk di kursi menunggu Mou yang sibuk mencari bahan makanan di dapur.
Mendesah kesal, Mou sudah tahu maksud Gemilang. Pantas saja sudah hampir siang tetapi tidak mendengar siapapun.
__ADS_1
"Mau makan apa?" tanya Mou.
"Telur dadar saja." Gemilang tampak sibuk dengan ponsel istrinya, mengingat kemarin ponselnya hancur lebur. Jadi, sekarang sibuk membaca berita di ponsel Mou.
"Cuma itu aja?" tanya Mou mengernyit heran.
"Iya sayang, yang penting kamu cepat sini. Suapin aku, makan sepiring berdua saja."
"Yakin nggak mau sayur, atau apa gitu?" tanya Mou yang sudah mengambil satu telur dari kulkas.
"Nggak usah, yang penting kamu cepetan sini." Menepuk-nepuk kursi kosong di sampingnya.
Mou menuruti kata-kata laki-laki itu. Segera duduk di sampingnya saat telur dadar sudah ia siapkan. Menyuapi suaminya dengan telaten.
"Manja banget sih," ucap Mou sembari membersihkan sisa nasi yang menempel pada sudut bibir Gemilang.
"Nggak papa, sama istri sendiri." Tersenyum kecil dan segera merengkuh pinggang Mou.
Senyuman itu menular sampai ke Mou. Rasanya senang bisa perhatian pada Gemilang seperti ini. "Abang, kita honeymoon nya ngapain aja?"
"Jalan-jalan di pantai sampai sore, lalu malam sampai paginya melakukan kegiatan panas seperti tadi." Gemilang mengatakannya dengan serius.
"Abang!"
"Aku serius loh Mou, biar bulan madu kita berkualitas berbeda dengan yang lainnya. Intinya tujuanku adalah supaya kita bisa lebih memahami satu sama lain dan aku bisa cepat menghamili mu."
"Uhuk-uhuk.." Mou sampai susah payah menelan makanannya mendengar ucapan Gemilang barusan.
"Pelan-pelan," ujar Gemilang segera mengambilkan minuman untuk Mou.
"Aku ingin segera memiliki anak denganmu." Mou hanya tersenyum kecut mendengar hal itu. Takut membuat laki-laki itu kecewa nantinya.
"Abang tahu sendiri kan, Mou mengonsumsi obat tidur sudah cukup lama dan hal itu bisa menyebabkan susah-"
"Ssssssttttt..." menutup mulut Mou dengan telunjuknya. "Setiap kata adalah doa Mou. Jangan berbicara sembarangan. Setelah pulang berbulan madu aku akan menemanimu ke dokter. Ke luar negeri kalau perlu."
.
.
.
YOK GAIS, GAS POLLL LIKE KOMEN AND VOTE NYA 💋
__ADS_1