Gemilang Ku

Gemilang Ku
S2 104 ~ Masih cinta


__ADS_3

Mou mengusap punggung Mila. "Mou juga kangen Mam," ucapnya yang merasa terharu.


Mila menyentuh lembut rambut Mou. "Tambah cantik kamu, Mamii bangga sama kamu."


Mou tersenyum malu karena itu, "makasih Mam."


Mila menatap Gemilang yang tengah duduk di samping Jasmine. Melirik tidak suka pada wanita itu.


"Ikut Mamii sebentar ya," pinta Mila.


Mou masih bingung sebenarnya, ingin apa Mila mengajaknya untuk menjauh dari mereka.


"Iya Mam." Mou segera menggandeng tangan Mila untuk pergi dari sana.


"Jadi dia?" tanya Jasmine pelan.


Gemilang hanya mengangguk kecil dan terus menatap dua wanita yang menjauh dari sana.


.


.


.


"Makan dulu." Mila menyerahkan piring kecil yang berisi cheese cake pada Mou.


"Mamii sudah makan?" tanya Mou meraih cheese cake itu.


"Sudah, tadi sama Papii kamu."


Entah mengapa kata-kata Papii kamu membuat Mou senang. Mila masih berbaik hati menganggapnya sebagai anak. Bahkan mereka kerap bertukar kabar di waktu yang senggang.


Mou mengangguk, segera menyuapi dirinya dengan potongan cheese cake itu.


"Kamu nggak papa kan Mou?" tanya Mila khawatir.


"Mou nggak papa Mam." Mengusap sudut bibirnya dengan sehelai tissu.


"Mamii nggak suka lihat Gemilang sama Jasmine." Jujur Mila yang membuat Mou menoleh, mengerjapkan matanya masih bingung.


"Mamii tetap mendukung kamu jadi mantu Mamii. Mamii bakal bantuin kamu dapetin hati Gemilang lagi. Kamu masih cinta kan sama Gemilang." Mila mengucapkannya dengan bersungguh-sungguh.


"Tapi apakah masih ada kesempatan buat Mou?" Mou menatap kosong, tidak ingin berharap terlalu jauh lagi.


"Mamii yakin hati Gemilang masih utuh untuk kamu. Tidak ada satu wanita pun yang Gemilang perlakuan penuh cinta, seperti dia memperlakukan kamu Mou." Mila menggenggam tangan Mou seolah memberi keyakinan.


"Masih ada kesempatan, jangan ragu. Asalkan kamu yakin kamu pasti bisa."


Mou menghela nafasnya, kemudian menatap Mila.


"Mou mau memperjuangkan Abang. Mamii bantu Mou ya," ucap Mou dengan mantap.


Mila tersenyum dan segera memeluk Mou. "Mami pasti bantuin kamu sayang."


.


.


.


Pesta telah usai, hanya menyisakan beberapa keluarga saja menunggu hingga para tamu pulang.


"Gem, ayo pulang." Mila yang menggandeng Mou, menatap tidak suka lagi pada Jasmine. Mila memang menghabiskan waktu untuk mengobrol banyak hal dengan Mou. Bukan hanya berbicara tentang Gemilang, namun juga menasehati Mou yang karirnya sedang bermekaran.


"Aunty, Ara ngantuk." Rengek Ara yang tadinya duduk bersama Sam. Bocah kecil itu menarik-narik dress Mou meminta gendong.

__ADS_1


Mou segera merengkuh tubuh Ara dalam gendongannya. Menepuk-nepuk pelan punggungnya.


"Ara, sudah besar masa minta gendong sih." Mila mencubit gemas pipi Ara.


"Ngantuk," rengek Ara dengan mata yang sudah sayup-sayup terpejam.


"Iya, tidur saja sayang." Bisik Mou.


Sam berdiri, "ayo biar Abang antar ke kamar saja dek." Sam tak tega melihat tubuh Ara yang sudah tidak besar lagi meminta gendong pada Mou.


"Nggak usah Sam. Kamu anterin Zafra pulang saja, sudah malam." Mila tersenyum kecil dan melirik Gemilang.


"Gem, kamu bawa Ara ke kamar deh. Kasian Mou."


"Tapi Mam..."


"Cepat gem, Mamii tunggu di depan." Potong Mila cepat.


Mendengus kesal, Gemilang segera berdiri menghampiri Mou. Mengambil alih Ara dari rengkuhan Mou.


Mou tersenyum kecil, dan mengikuti langkah kaki Gemilang menuju lantai atas.


Gemilang dengan hati-hati merebahkan tubuh Ara pada kasur empuk bercorak hello kitty itu, kemudian melepaskan sepatu kecil yang melekat pada kakinya. Tak lupa menyibakkan rambut Ara yang menutupi wajah.


Semua itu tak luput dari perhatian Mou. Bahagia sekali melihat Gemilang yang penuh perhatian seperti ini. Ia merindukan sosok Gemilang yang dulu.


Segera berdiri menghampiri Mou yang masih mematung dan bersandar pada pintu. "Bersihkan bedak Ara," ucap Gemilang penuh perintah.


Mou mengangguk dan tersenyum pada sosok tampan itu, selalu berhasil membuatnya terhipnotis jika sedang memandangi wajahnya.


"Abang!" panggil Mou ketika Gemilang membalikkan tubuhnya hendak pergi dari sana.


Langkah kaki Gemilang terhenti, namun tidak membuatnya menoleh.


"Mou masih cinta sama Abang." Mou menggigit bibirnya begitu gugup.


"Mou akan buktikan, Mou akan berjuang untuk Abang." Teriak Mou yang sebenarnya ragu, tapi tidak apa kan sebelum janur kuning melengkung. Jika nanti Gemilang memang tidak bisa ia miliki, lebih baik melajang saja seumur hidupnya.


Gemilang tersenyum kecil, segera mempercepat langkah kakinya tanpa memperdulikan itu semua.


.


.


.


Pagi ini nampak cerah, burung-burung berterbangan di luar sana. Matahari tampak menghangatkan bumi dan menyinari bunga yang tengah bermekaran.


Mekar seperti wanita yang tengah sibuk bergelut dengan alat makeup nya. Lalu memoleskan lipstick berwarna merah muda pada bibirnya.


"Selesai," ucapnya lalu merapikan kemejanya yang sedikit kusut.


Memandangi penampilannya dari pantulan cermin. Hari ini ia berpakaian lebih rapi dari biasanya.


"Mou!" panggil seseorang dari balik pintu. "Ayo sarapan."


"Iya, sebentar." Mou buru-buru meraih tas jinjingnya.


.


.


.


"Abang nggak yakin kamu mau nyetir sendiri." Sam menggenggam erat kunci mobilnya.

__ADS_1


Mou menghela nafasnya ketika tiga laki-laki ini terus mengajaknya berdebat.


"Biar Abang saja yang antar." Roman yang mengenakan dasinya menyela.


"Papa juga lagi nganggur kok. Tunggu sebentar biar papa mandi dulu." Tentu saja Toro khawatir dengan putri nya yang hendak mengemudikan mobil sendiri.


"Bang, Pa." Mou menatap mereka secara bergantian. "Mou sudah belajar nyetir di London berbulan-bulan. Disana juga nyetir sendiri, Mou sudah bisa sekarang."


"Abang masih nggak percaya Mou, nanti kalau kamu kenapa-kenapa gimana." Roman menggeleng-gelengkan kepalanya.


"Kalau nggak percaya tanya saja sama kak Edwin. Louis yang mengajari Mou, ponakannya kak Edwin." Jelas Mou frustasi.


"Sudahlah, nggak papa. Biar Mou bawa mobil sendiri." Jen yang baru saja datang, tersenyum mendengar perdebatan mereka.


"Baiklah." Toro mengucapkannya dengan sangat terpaksa.


"Makasih papa." Mou tersenyum lebar dan segera memeluk Toro.


.


.


.


Tujuan Mou adalah tempat yang sudah dua tahun ini sangat ingin ia kunjungi. Segera memarkirkan mobil Sam pada parkiran. Ia memang belum sempat untuk membeli mobil sendiri.


Mou tersenyum menatap bangunan dua lantai yang lumayan besar ini.


Moon Beauty House


Mou segera melangkah kakinya, tidak sabar ingin masuk ke dalamnya.


Pintu utama yang berbahan dasar kaca itu terbuka dengan otomatis. Seorang wanita membungkuk padanya.


"Selamat pagi, selamat datang di Moon Beauty House." Sapanya sopan. "Ada yang bisa dibantu?"


Mou tersenyum dan mengangguk pada wanita yang mengenakan kebaya Bali modern itu. Semua karyawan disini memang mengenakan pakaian seperti itu. Dan Mou juga senang para karyawan tampak biasa-biasa saja, meskipun mengetahui Mou adalah model terkenal. Itu sangat membuatnya nyaman.


"Bu Zafra nya ada?" tanya Mou.


"Maaf, Bu Zafra sedang meeting di lantai atas. Nona bisa menunggu disana," ucapnya menunjuk sebuah sofa.


"Baik," jawab Mou dengan senyuman.


Setelah beberapa menit menunggu, akhirnya wanita yang Mou tunggu datang juga. Zafra berlari kecil menuruni tangga.


"Kalian ini gimana sih," omelnya pada karyawan disana.


"Kenapa Bu?" Tanya salah satu karyawan menghampiri.


Zafra segera mendekati Mou. "Dia ini owner Moon Beauty House. Bos kalian yang sesungguhnya."


Para karyawan tampak berpandangan satu sama lain, masih terkejut mendengarnya.


"Masa disuruh nunggu disini."


Mou tersenyum pada Zafra yang terus mengomel. "Za, jangan berlebihan."


.


.


.


MAKASIH BANYAK BUAT SUPPORT NYA.

__ADS_1


LIKE, KOMEN, AND VOTE GAES 💋


__ADS_2