
"Jangan nangis" ucap Gemilang mengusap air mata Mou yang mulai berjatuhan.
Bagaimana tidak sedih, baru kali ini ia tahu rasanya diperjuangkan. Baru kali ini ada yang mencintainya setulus ini.
"Papa nggak apa-apain Abang kan" ucap Mou tercekat.
Menghirup dalam-dalam aroma rambut Mou yang begitu candu untuk ia cium, lelahnya tak seberapa setelah merasakan kehangatan dari wanita ini.
"Papa kamu kasih aku lampu kuning" ucap Gemilang yang membuat Mou mengernyit.
"Lampu kuning?" ulang nya begitu tak paham.
"Iya lampu kuning, kalau lampu hijau sudah aku nikahi kamu sekarang juga" ucap Gemilang terkekeh.
Membuang nafasnya merasa sedikit lega, iya hanya sedikit saja, kan baru kuning bisa jadi merah atau kemungkinan juga hijau.
"Ngebet banget ya emang pengen nikah" ucap Mou meraih selembar tissue yang berada di tasnya. Segera menghapus pipinya yang basah.
"Iya dong" jawab Gemilang begitu lantang dan bersemangat.
"Memangnya mau ngapain kalau udah nikah" ucap Mou tanpa sadar.
Eh, seperti nya aku salah bicara.
Mou menggigit bibir bawahnya dengan wajah yang sudah semerah tomat, merutuki kebodohannya sendiri karena sembarangan berbicara.
"Hahahahha" suara tawa Gemilang pecah mendengar Mou bertanya soal hal itu, tapi pipi bulatnya menjadi bersemu malu sendiri akibat pertanyaannya.
"Mau apa ya" goda Gemilang mendekati wajah Mou, hingga tak tersisa jarak lalu menggigit bibirnya sendiri dengan sensual.
"Abang bukan itu maksud Mou" ucap Mou mendorong jauh dada bidang Gemilang yang masih terbalut kemeja panjangnya.
"Sepertinya otak kamu benar-benar harus dicuci" ucap Gemilang mengacak-acak gemas rambut Mou.
"Abang, nggak gitu!" gerutu Mou kesal sembari membernarkan rambutnya yang berantakan.
Menempelkan jari telunjuknya di dahi Mou Gemilang tersenyum kecil "Buang jauh-jauh pikiran kotor mu, hanya aku yang boleh membayangkan hal itu".
"Abang!!" ucap Mou memberengut kesal.
"Bercanda Mouresa" sahut Gemilang segera mendekap tubuh Mou dengan erat "Gemesin banget sih".
.
.
__ADS_1
.
"Cepet banget Gem, perasaan baru tadi deh kamu pulang darisini. Eh, ini udah datang lagi" ucap Jen tampak gemas dengan pasangan muda ini.
"Kak Jen kayak nggak pernah jatuh cinta aja" ucap Gemilang yang tengah duduk disofa menunggu kekasih hatinya yang katanya masih berdandan.
"Tapi nggak sebucin ini" ejek Jen yang tengah menggendong Ara yang terlelap.
Gemilang menatap Jen penuh arti, senyuman tersungging di sudut bibirnya "Nggak inget dulu sebucin apa sama Exel" ucapnya mengingatkan, siapa tahu kakaknya ini lupa hahaha.
"Ssstttt" Segera membungkam mulut Gemilang dengan sebelah tangannya, menoleh kesana-kemari takut ada yang mendengar.
"Jangan bicara sembarangan kamu, Abang kamu cemburu banget kalo denger nama dia" ucap Jen akhirnya memilih duduk disebelah Gemilang.
"Tanda cinta itu kak".
"Tapi kadang terlalu berlebihan" ucap Jen dengan pandangan kosongnya, lalu kembali menatap Gemilang "Bagaimana kabarnya sekarang?" tanya nya lirih.
"Masih seperti yang dulu, kak Jen tahu sendiri kan seperti apa dia setelah kakak memutuskan untuk menikah" ucap Gemilang yang begitu menusuk di hati Jen.
"Tapi itu bukan salah kakak, dia aja yang lambat. Gemilang tahu semua wanita memang butuh kepastian" ucap Gemilang menenangkan.
Membuang nafasnya dan memejamkan matanya sejenak "Kakak yang salah Gem, kakak nggak bisa nunggu dia lebih lama lagi" ucap Jen kemudian menundukkan kepalanya "kakak tidak bisa menemaninya berjuang".
Tapi semua sudah terlambat, dulu saja Exel selalu mengabaikan pembicaraan Jen tentang pernikahan, ia kira Jen hanya bercanda. Tapi Exel salah, Jen tidak main-main soal itu.
Dan dengan bodohnya Exel selalu sibuk bekerja tanpa menggubris perkataan Jen dan justru perhatian nya ke dia sangat berkurang, hingga akhirnya wanita itu memilih laki-laki yang mampu membuktikan cintanya lewat sebuah ikatan.
Roman tidak mengajaknya untuk berpacaran, ia mengajak Jen untuk menikah dan malam itu juga Roman datang pada ayah Jen.
"Sudahlah, jangan dibahas" ucap Gemilang yang tahu akan kesedihan Jen atas rasa bersalahnya.
"Tuh Ara bangun" ucap Gemilang mencubit gemas pipi Ara yang begitu lembut.
"Kamu yang bangunin Gem" gerutu Jen segera menjauhkan tangan Gemilang.
"Maaf ya lama" ucap seorang yang baru saja datang.
Mata Gemilang tak berkedip tatkala melihat sosok bidadari yang baru saja turun dari tangga.
Gaun panjangnya yang menjuntai ke bawah, dan gaun berwarna navy itu tampak sempurna ketika melekat pada tubuh Mou. Sentuhan make up natural tidak berlebih-lebihan membuat segalanya benar-benar sempurna.
"Cantik" puji Gemilang terang-terangan, menatap penuh cinta pada wanita yang berdiri dihadapannya.
Tentu saja Mou tersipu mendengarnya. .
__ADS_1
Jen hanya menggelengkan kepalanya melihat tingkah mereka "udah cepetan sana berangkat" usir nya.
"Galak banget sih" ucap Gemilang mencubit gemas pipi Ara sekali lagi dan segera membawa tangan Mou untuk pergi darisana.
"Gemilang!" Omel Jen karena Ara tampak terbangun.
.
.
.
Pernikahan Bara diadakan pada salah satu hotel mewah kota Jakarta, tapi tentu saja bukan hotel keluarga Munaj.
Mou terus mendekap erat lengan Gemilang, rasa gugup itu datang tiba-tiba. Bagaimanapun kebersamaannya dengan Bara adalah sebuah kenangan yang tak bisa ia lupakan begitu saja.
Gemilang mengusap-usap tangan Mou yang tampak dingin "Cukup pikirkan aku, jangan yang lain" bisiknya ketika mereka mulai memasuki aula besar itu.
Mou mengangguk, melengkungkan bibirnya dengan paksa "Abang, Mou hanya gugup karena semua orang menatap Mou penuh kasihan" ucap Mou menatap kesana-kemari. Memang kerabat dan juga keluarga Bara sudah mengenal dirinya.
"maka dari itu, pasang senyum terbaikmu jangan biarkan orang-orang ini menatapmu penuh kasihan. Buktikan jika kamu begitu baik-baik saja setelah berpisah dengan Bara dan sekarang kamu adalah milikku. Kamu adalah calon istri dari Gemilang Galaxio Kusuma" Gemilang mengusap lembut rambut Mou.
Mou tersenyum haru dan menatap Gemilang, benar katanya laki-laki hebat yang berada dihadapannya saat ini adalah seseorang yang sangat jauh dan lebih baik daripada Bara.
"Seluruh orang mengenalku disini, maka dari itu angkat dagu mu tinggi-tinggi dan sombong lah karena telah berhasil meluluhkan hati seorang pewaris Elang Group" ucap Gemilang bercanda namun sebenarnya serius ingin Mou seperti itu.
Oh terharu sekaligus beruntung atas semua perkataan Gemilang yang begitu dewasa. Bukankah seharusnya laki-laki itu marah karena Mou masih seperti ini ketika ke pernikahan mantannya.
"Abang" ucap Mou menghela nafasnya, ia genggam tangan besar milik Gemilang.
"iya" jawab Gemilang begitu serius saat melihat ekspresi Mou, sejujurnya ini sedikit menyakitkan baginya. Melihat Mou yang seperti ini takut-takut rasanya dengan Bara belum hilang dengan sempurna.
"Mou pengen banget peluk Abang sekarang, tapi banyak orang" ucap Mou melihat-lihat sekitar.
Grep.
Tanpa menunggu lama Gemilang merengkuh tubuh Mou begitu saja, mana bisa ia menahan diri saat wanita ini begitu menggemaskan.
.
.
.
LIKE KOMEN AND VOTE GAESSS 💋
__ADS_1