
Setelah Elang pergi, ruangan benar-benar hening. Mereka duduk berhadapan dengan Mou terus menunduk, sesekali melirik mata tajam yang seolah-olah ingin menerkamnya.
"Aku harap kita bisa berkerja sama dengan profesional." Gemilang membubuhkan tandatangannya pada kertas putih yang sudah dipenuhi oleh deretan huruf.
Mou mengangguk, tersenyum pada Gemilang yang tengah menyerahkan kertas itu padanya.
"Tanda tangan disini," kata Gemilang menunjuk bagian kosong dari kertas itu.
Setelah Mou menandatangani kontrak, ia merasa begitu lega. Lalu kembali menatap Gemilang. "Kamu sudah baca isi kontraknya?"
Dahi Gemilang mengernyit ketika mendengar hal itu. Tanpa ia sadari kebodohannya kembali muncul saat dihadapan wanita ini.
Segera mengambil kembali lembaran itu, namun tangan Mou menahannya.
"Kamu tenang saja, nggak aneh-aneh kok. Hanya saja perjanjiannya aku tidak dibayar dengan uang." Mou begitu bahagia, Gemilang tidak meronta saat tangannya ia genggam.
"Lalu?" tanya Gemilang menaikkan sebelah alisnya.
"Sebagai imbalannya, aku ingin kamu mengajariku tentang bisnis dan kepemimpinan."
"Kenapa?" Gemilang bertanya dengan nada tidak suka. "Kamu mau lanjutin S3 lagi?" menampilkan smirk sembari mengalihkan pandangannya.
"Bukan," tutur Mou dengan lembut. "Aku akan menjawabnya jika kamu mau ikut denganku ke suatu tempat, sore ini."
Berdehem sejenak, Gemilang segera melepaskan tangannya. Entah baru sadar atau memang terlalu nyaman bersentuhan dengan Mou.
"Aku bukan pengangguran, masih banyak hal penting yang harus aku urus daripada mengurusi hal yang tidak jelas." Gemilang segera berdiri, kemudian menatap jam tangannya.
"Tapi Papii sudah menyetujuinya, kamu juga sudah tandatangan." Mou paling tahu Gemilang tidak bisa menolak kata-kata Papii nya.
"Ya," jawaban singkat dengan dengusan kesal.
"Urusan kita sudah selesai.." ucap Gemilang terhenti tatkala pintu ruangan tiba-tiba terbuka.
Ben membulatkan matanya seketika ketika melihat sosok cantik berada di sana.
"Mou.. Mouresa!" pekiknya begitu tak percaya melihat Mou berada di sana.
"Selamat pagi menjelang siang, Pak Ben." Mou tersenyum pada mantan atasannya.
"Apa kabar?" tanya Ben segera mendekat, tangannya membentuk kepalan, untuk tos dengan Mou.
"Baik," jawab Mou segera menyambut tangan Ben.
Ben menghela nafasnya dengan lega. "Akhirnya kalian balika...aw!" pekik Ben kesakitan saat tiba-tiba Gemilang menginjak kakinya.
"Waktunya kerja bukan ngobrol." Gemilang menatap sinis pada Ben.
__ADS_1
"Iya-iya," ucap Ben dengan kesal. "Kalian balikan?" cicitnya tanpa rasa sungkan.
"Ngomong apaan sih," jengkel sudah hati Gemilang. "Lebih baik lo pergi," ucap Gemilang beralih menatap Mou. "Kita juga sudah tidak ada urusan lagi."
Mendengus kesal, "galaknya kumat deh." Ben segera mengambil sesuatu dari dalam sakunya.
"Ini buat kamu Mou, datang ya." Ben tersipu ketika mengucapkannya.
Mou melongo ketika Ben menyerahkan secarik kertas berwarna putih itu padanya. Menutup mulutnya tak percaya melihat nama Ben berada di sana.
"Ya ampun, Ben." Mou begitu heboh saat melihat nama Raisa juga berada di sana. "Akhirnya, congratulation ya.."
Tersenyum lebar Ben menyenggol lengan Gemilang. "Kalian cepat nyusul ya,"
"Apaan," sahut Gemilang dengan mata yang mendelik.
"Doain aja ya Ben," sahut Mou yang masih menatap undangan itu.
"Oh jadi nggak mau." Ben melirik jahil pada sahabatnya. Beralih mendekati Mou.
"Jangan lupa bawa pasangan ya, Mou. Nanti akan ada acara dansa soalnya."
Mou mengerjapkan matanya, baru menyadari jika Gemilang sudah ada Jasmine. Jadi ia harus datang dengan siapa nanti.
"Jangan khawatir mau dansa sama siapa, temen gue banyak yang jomblo." Ben sengaja berkata dengan nyaring agar telinga Gemilang meledak mendengarnya.
"Sana cari yang ganteng dan keluar dari sini!" Gemilang menunjuk pintu dengan tatapan tajamnya.
"Tuh kan cemburu," bisik Ben yang masih terdengar di telinga Gemilang.
"Ayo pergi saja Ben. Sebelum ada yang menerkam kita hidup-hidup." Mou terkekeh, segera melangkahkan kakinya pergi dari sana dan disusul Ben dibelakangnya.
Namun senyumnya memudar ketika sudah diambang pintu. Jasmine hendak masuk dengan membawa nampan berisi kopi yang masih mengepul.
"Aku pulang dulu, Ben." Melangkahkan kakinya begitu saja tanpa menyapa pada Jasmine.
.
.
.
Terbenamnya matahari bersamaan dengan Gemilang yang baru saja memarkirkan mobilnya. Melonggarnya dasinya ketika memasuki rumah.
Sudah lama ini ia sangat bosan dengan kehidupannya sendiri. Pagi bekerja sampai malam, lalu tidur dan kembali lagi ke pagi. Tidak ada yang spesial sama sekali.
Melangkahkan kakinya dengan malas menuju kamarnya. Menghempaskan tubuhnya pada kasur yang empuk, sembari memejamkan matanya sejenak.
__ADS_1
"Capek?" ucap seseorang yang sangat ia kenali suaranya, atau ini hanya ilusinya saja.
"Mandi dulu gih, baru istirahat."
Gemilang segera membuka matanya, sedikit terkejut saat semua itu nyata. Wanita itu tersenyum padanya, dengan tangan yang sibuk menimang bayi mungil itu.
"Kamu ngapain disini?" Gemilang mendelik ketika Mou malah membaringkan Darren disampingnya.
"Ponakan aunty capek ya, minta bobok." Mou tersenyum karena itu, padahal Darren sudah nyaman sekali di gendongannya.
Tatapan Gemilang sedikit menghangat ketika melihat sosok Darren yang lucu, kakinya menendang-nendang dan senyumnya tak pudar ketika Mou terus menciumi pipinya.
Mou ikut berbaring dengan posisi tubuh miring. Menyangga kepalanya dengan sebelah tangannya. Terus menatap sosok tampan yang tampaknya juga gemas dengan Darren.
"Mandi dulu, aku udah masakin buat kamu." Gemilang menoleh dan tersadar.
"Kamu mau apalagi sih," ucap Gemilang dengan lemah.
"Kalau Jasmine tunangan kamu, kenapa kamu nggak pernah ngajak dia kesini?" tanya Mou yang membuat Gemilang terdiam.
"Bukan urusan kamu." Gemilang segera duduk, menoleh pada Darren yang terus mengoceh. Tangannya tak kuasa untuk mencubit pipi bulat itu, namun ditahan oleh Mou.
"Mandi dulu," ucap Mou penuh perintah. "Nanti baru boleh pegang-pegang."
Mendengus kesal segera beranjak dan menuju kamar mandi.
.
.
.
Gemilang keluar dari kamar mandi dengan badan yang sudah fresh. Kaos polos putih, dengan celana pendek hitam, membuat ketampanannya semakin terpancar.
Senyuman kecil tersungging pada sudut bibirnya. Wanita itu malah tertidur pulas di atas ranjangnya. Segera mendekat saat Darren hampir menangis, merengkuhnya dalam dekapan.
"Jagoan jangan berisik." Gemilang menimang-nimang bayi mungil itu dengan susah payah. Dia memang bodoh dalam hal ini, tapi Darren sudah lebih besar. Itu yang membuatnya berani untuk menimangnya.
Matanya kembali terfokus pada sosok cantik yang masih terpejam. Entah perasaan apa yang saat ini ia rasakan. Mungkin jika Mou dulu tidak keras kepala, mereka pasti sudah memiliki anak dan bisa seperti ini, keluarga kecil yang bahagia.
Seandainya, wanita ini tidak memilih pergi darinya...
.
.
.
__ADS_1
DUKUNGANNYA YA GAESSS ❤️