
Bara tampak sudah berdiri dengan gagah didepan sana. Menunggu mempelai wanita yang baru saja memasuki aula itu, dengan menggandeng papa nya. Wanita itu terlihat cantik dengan gaun putih tanpa lengan.
"Masih nggak nyangka banget Bara buang kamu hanya karena cewek kaya gitu" ucap Haris tiba-tiba saat mempelai wanita melewati mereka.
Bisa dikatakan memang Mou lebih segalanya daripada wanita itu, ya memang Bara saja yang bodoh sampai tergoda wanita seperti itu.
"Masih kalah jauh Mou, tenang aja" ucap Rama menimpali.
Bukannya memperdulikan perkataan mereka Mou malah mempererat genggaman tangannya, membawa tangan Gemilang pada pahanya.
Menatap laki-laki itu yang tak tersenyum sama sekali sedari tadi.
Mou memberi usapan kecil pada tangan Gemilang "Abang mau brownis?" tanya Mou karena Gemilang hanya minum saja sejak tadi.
"Enggak" jawabnya pura-pura memperhatikan pengantin. Padahal ia sangat kesal pada Dion yang menatap miliknya penuh damba. Katakanlah ia memang seorang pencemburu, Gemilang tak perduli.
Karena ia sangat susah menaruh hati, dan beginilah jika hatinya sudah ia pasrahkan pada Mou. Ia sangat tidak rela Mou dilirik oleh siapapun!.
........
Gemilang terus berdiri tegap di belakang Mou ketika mereka mengantri untuk memberi ucapan selamat pada pengantin. Tidak membiarkan seorangpun menyentuh Mou.
"Ayah" ucap Mou ketika pandangannya bertemu dengan laki-laki paruh baya itu.
"Mou" ucap ayah Bara segera memeluk Mou "Maafin ayah ya" ucapnya menepuk-nepuk pundak Mou.
Mou mengangguk belum sempat ia menjawab, bunda ikut memeluk Mou dengan erat. Air matanya tak segan untuk jatuh ketika melihat sosok gadis yang dulu di idamkan sebagai menantunya.
"Bunda jangan gini" ucap Mou membalas pelukannya. Ia sendiri bahkan menangis, bukan karena Bara tapi karena kedekatan nya dengan kedua orang tua Bara selama ini.
"Bunda pengen Mou yang jadi anak bunda" lirihnya.
Mou segera menghapus air matanya dan tersenyum "Emang Mou bukan anak bunda?" ucap Mou mencoba mencairkan suasana.
"Kamu tetap anak bunda, sampai kapanpun rumah bunda selalu terbuka lebar untuk Mou" lagi-lagi bunda menyeka air matanya.
"Maafin Bara nak" lirihnya begitu pilu, mengingat perlakuan anaknya yang telah menyakiti hati orang Mou.
Mou menggeleng "Bunda jangan dibahas lagi. Bara sudah bahagia dengan pilihannya, begitupula sebaliknya, Mou juga bahagia dengan pilihan Mou" ucap Mou bersamaan menatap laki-laki yang berdiri dibelakangnya.
Ayah menepuk-nepuk pundak Gemilang "Jaga Mou baik-baik nak".
"iya pak" jawab Gemilang tersenyum. Tanpa disuruh pun itu akan ia lakukan sebenarnya.
Lalu tatapan mereka beralih pada mempelai laki-laki yang kini tengah menatap mereka.
"Mou" ucap Bara yang hendak memeluk Mou, namun tangan Gemilang segera menghalanginya.
"Gue mohon, ini yang terakhir kalinya" ucap Bara sendu.
Gemilang beralih menatap Mou "terserah Mou saja" jawab Gemilang masih sedingin bongkahan es.
__ADS_1
Mou melingkarkan tangannya pada lengan Gemilang, lalu mengulurkan tangannya pada Bara "Selamat ya Bar, semoga bahagia selalu" ucap Mou begitu ikhlas.
"Ijinkan aku memeluk mu untuk yang terakhir kalinya" ucap Bara penuh harap.
"Maaf bar, aku tidak bisa. Ada hati yang harus aku jaga. Begitupun kamu" ucap Mou menunjuk istri Bara dengan dagunya.
Wanita itu terlihat kesal, padahal disini yang merebut Bara adalah wanita sialan ini. Tapi yasudah lah memang sampah cocok dengan sampah.
Gemilang sedikit mengangkat bibirnya ketika mendengar itu, Kemudian segera memeluk Bara dan menepuk-nepuk punggung nya "Gue harap Lo gak ganggu-ganggu Mou lagi" bisik Gemilang "jangan salahin gue kalo perusahaan Lo kenapa-napa karena itu" lanjutnya.
Gemilang sudah sedikit memperingatkan Bara usai kecelakaannya dulu. Ia tidak bermain kasar, cukup bermain halus di bidang bisnis. Karena dengan itu tidak akan ada yang mampu mengalahkannya.
"Selamat ya" ucap Mou tersenyum pada istri Bara meskipun tidak dijawab.
"Mau foto?" tawar Bara.
Mou menatap Gemilang untuk meminta persetujuan, dibalas anggukan yang berarti boleh.
Mou dan Gemilang berfoto bersama mereka juga ayah dan bunda dari Bara.
"Mantan mana yang nggak nyesel kalo lihat Mou tambah cantik dan mulus gitu" ucap Haris yang tengah memperhatikan mereka mengambil foto.
"Cantiknya Mou itu bukan dari wajahnya, hatinya juga seperti malaikat" sahut Dion masih meratapi kesedihan nya.
"Nyesel gue temenan sama Bara" ucap Rama yang membuat dua sahabatnya menoleh "Kemarin tuh gue ngerasain banget gimana sakit hatinya kalo jadi Mou" jawabnya begitu lebay.
.
.
.
Tak berbicara sepatah katapun pada wanita yang sedari tadi tak henti-hentinya memandangi wajah nya.
"Abang marah?" tanya Mou yang tak mengalihkan pandangannya pada sosok sempurna disampingnya.
"Nggak".
"Abang kesel sama Dion ya?".
"Enggak".
"Abang lihat mata Mou" ucap Mou sedikit meninggi.
"masih nyetir" jawab Gemilang santai.
"Abang ngeselin" ucap Mou lemah, segera membenarkan posisi duduknya menatap ke depan.
Gemilang hanya mencoba meredam emosi nya, mencoba untuk setenang mungkin saat ini.
Hening..
__ADS_1
Tapi Mou tidak tahan dengan ini semua "Abang!" teriaknya tiba-tiba.
Gemilang sedikit terkejut mendengarnya "apa?" jawabnya ikut tak santai.
"Kita ke hotel aku sekarang, kita bicarakan semuanya" ucap Mou yang membuat Gemilang menaikkan sebelah alisnya.
Mengapa seberani ini wanita ini mengajaknya ke hotel malam-malam begini. Bagaimana jika dirinya khilaf.
"Kamu mau Sam ngomel-ngomel" ucap Gemilang setelah mengingat bahwa manusia itu tadi menghubungi nya hanya untuk mengingatkan jangan kemana-mana dan cepat pulang.
Mou hanya diam sembari memejamkan matanya. Jangan sampai ia juga terpancing emosi, karena tak tahu apa maunya sih laki-laki ini.
"Kita ke apartemen aku aja, hotel kamu terlalu jauh" ucap Gemilang tiba-tiba. Melihat Mou seperti itu membuatnya tak tega dan memilih terkena Omelan Sam.
Menolehkan kepalanya kemudian Mou mengangguk.
........
Mou tampak menganga tatkala memasuki ruangan yang menampilkan pemandangan indah di bawah sana.
"wow, beautiful of Jakarta city" ucapnya melihat bawah sana. Dekorasi ruangan ini juga begitu elegan dan unik.
"suka?" tanya Gemilang menaruh secangkir teh hangat yang masih mengeluarkan kepulan putih diatasnya.
"suka" jawab Mou meraih teh hangat itu dan segera menyeruput nya.
"Kita bisa tinggal disini setelah menikah".
"uhuk-uhuk" Hampir saja Mou menyemburkan teh itu ketika mendengar ucapan Gemilang.
"pelan-pelan Mouresa" ucap Gemilang mengusap lembut punggung Mou.
"Udah nggak marah nih" ucap Mou tersenyum kecil.
Mendengus kesal Gemilang merebahkan tubuhnya pada paha Mou, menatap wajah cantik bulan sabitnya lekat-lekat.
Mata Mou selalu memancarkan sinar bak terangnya bulan sabit setiap malam. Dan itu juga yang membuat jantung Gemilang selalu berdebar menatap netra itu.
"Aku cemburu" ucapnya begitu serius bersamaan sorot mata yang mematikan itu.
.
.
.
...AUTHOR UDAH NULIS SERIBU KATA LEBIH YA PER PART NYA. PARA READERS TERCINTA JUGA KOMENTAR DENGAN KATA YANG PANJANG YA JGN NGIRIT-NGIRIT BIAR AUTHOR JUGA GK PELIT WKWK....
.
.
__ADS_1
.
LIKE KOMEN AND VOTE GAESSS 💋