
Menempelkan ponsel pada telinganya, laki-laki itu masih saja mondar-mandir tidak jelas. Wanitanya tidak bisa di hubungi sejak tadi.
Hatinya kacau, menjadi porak-poranda hanya karena satu kata yang bernama rindu.
"Gem, duduk gih. Mamii pusing lihatnya," ucap Mila sembari memasukkan sepotong kentang goreng pada mulutnya. Gemilang sudah seperti setrikaan tiga hari ini.
"Seharusnya kan kalau di pingit saja boleh Mam telponan." Mendesah kesal saat nomor Mou terus saja tidak aktif.
"Oh..." Mila tampak mengangguk. "Itu sih idenya Jen, Sam, sama Roman." Mengunyah kembali makanannya.
"Apa?" Menghentikan pergerakannya dengan mulut yang menganga.
"Iya, katanya biar kalian bisa saling menghargai waktu kalian bersama nantinya."
Menyunggar rambutnya begitu frustasi. Mereka pikir tiga tahun bukan waktu yang lama untuk saling menghargai.
"Sudahlah, sabar saja sebentar lagi Mou juga akan menjadi milikmu seutuhnya."
"Aku akan benar-benar gila karena merindukannya, Mam."
.
.
.
Gaun putih elegan, simple, dan mewah kini membalut indah pada tubuh langsing Mou. Make up natural membuat aura kecantikan wanita itu semakin terpancar. Tidak lupa mahkota berlian cantik bertengger di kepalanya, tanda bahwa sebentar lagi ia akan menjadi menantu keluarga Kusuma.
"Kamu cantik," puji Ibel terperangah melihat sosok bak dewi di hadapannya.
"Jangan berlebihan bel." Mou nampak malu saat memandangi wajahnya pada pantulan cermin.
"Tapi beneran kok Mou, kamu cantik banget," ucap Zafra mengambil foto pengantin wanita.
"Gemilang pasti akan kagum melihatmu," imbuh Ilona membenarkan gaun bawah Mou yang sedikit terlipat.
Sosok wanita yang baru saja datang membuat mereka semua terdiam. Jasmine tersenyum pada Mou.
__ADS_1
"Mau ngapain lo!" ucap Ibel tak santai.
"Bel," sela Mou merasa tidak enak.
"Lebih baik kita keluar saja, biar mereka berbicara berdua." Ilona membantu mendorong kursi roda Ibel di susul dengan Zafra.
"Selamat, Mou." Jasmine mengulurkan tangannya dan di sambut baik oleh Mou.
"Akhirnya kamu menjadi pemenangnya juga. Maaf telah membohongi mu, semua itu permintaan Gemilang."
Mou mengangguk. "Aku sudah tahu, terimakasih sudah membantu Abang. Karena aku lebih tidak rela jika ia bersama wanita lain." Mou tersenyum kecil.
"Kamu beruntung memiliki dia yang selalu memperlakukan mu seperti ratu," ucap Jasmine menghela nafasnya. Mengingat bagaimana selama ini Gemilang memperhatikan Mou tanpa sepengetahuan wanita ini membuat dirinya benar-benar iri.
"Iya, dia memang selalu melindungi ku." Senyuman manis tersungging pada sudut bibir Mou mengingat bagaimana Gemilang selalu ada untuknya.
"Aku hanya bisa mendoakan kebahagiaan kalian ke depannya. Asal kamu tahu Mou, sebenarnya aku sudah melupakan Gemilang sejak lama. Awalnya aku hanya ingin membalas dendam ku, tapi karena aku di kasih pekerjaan yang enak. Lebih baik membantunya saja untuk membuatmu cemburu." Jasmine terkekeh kecil mengingat hal itu.
Mou mengangguk. "Maaf sudah salah paham tentang mu."
"Tuan putri sudah siap belum?" ucap Toro yang baru saja datang, namun tiba-tiba mematung saat melihat Mou dengan balutan gaun itu.
"Papa," ucap Mou menyadarkan Toro.
"Kenapa kamu secantik ini." Toro mengusap sudut matanya yang tiba-tiba basah. "Kamu sangat mirip dengan Mama mu."
"Papa jangan nangis," Mou memegangi tangan besar milik papanya.
Menghela nafas panjangnya, Toro merasa payah. Bukankah dirinya yang meminta Mou untuk segera menikah, tapi mengapa kini ia begitu tidak rela.
"Kamu harus menjadi istri yang berbakti pada Gemilang, jangan membantah suamimu."
Mou hanya mengangguk, sesekali menyeka matanya yang ikut basah.
"Sudah siap?" tanya Toro melingkarkan tangan Mou pada lengannya.
"Sudah pa," jawab Mou mencoba tersenyum.
__ADS_1
"Jangan nangis, nanti bedaknya luntur." Toro terkekeh dan segera mengajak Mou untuk keluar.
.
.
.
Wedding garden party ini di penuhi dengan bunga-bunga dan dedaunan yang terpajang indah di sana. Udara terbuka dengan sejuk, apalagi tempat luas ini memang perkebunan bunga sebelumnya.
Acara pernikahan ini di langsungkan tanpa menerima sorotan kamera dari media. Semuanya atas permintaan Gemilang, bahkan ratusan undangan di sini di teliti dengan ketat sebelum masuk.
Sore ini benar-benar menakjubkan. Gemilang yang sudah berdiri tegap menunggu kehadiran wanitanya yang tengah di gandeng oleh Toro. Matanya tak berkedip tatkala memandangi ciptaan Tuhan yang sempurna itu. Rasa cinta bercampur dengan rindu benar-benar membuat jantungnya akan meledak saat ini juga.
Saat Mou semakin dekat Gemilang bahkan masih saja terpana melihat pesona seorang Resa Moon. Toro menepuk-nepuk pundak Gemilang. "Semua tanggung jawab atas Mou kini milikmu sepenuhnya. Raihlah kebahagiaan kalian berdua."
Gemilang mengangguk, mengulurkan tangannya dan di terima dengan senang hati oleh Mou.
"Kamu cantik, aku sampai pangling," bisik Gemilang.
Mou segera melingkarkan tangannya pada lengan Gemilang. "Kamu juga tampan," balas Mou dengan berdebar saat melihat laki-laki ini berbalut jas tuxedo dengan gagah.
Berjalan beriringan dengan tepuk tangan para tamu yang begitu meriah. Banyak yang mengangumi pasangan yang sempurna ini. Mereka tidak tahu saja perjuangannya untuk sampai titik ini.
Mungkin yang mereka tahu hanyalah pasangan sempurna. Laki-lakinya tampan dan kaya, wanitanya cantik dan terkenal. Tapi siapa sangka di balik itu semua sangat banyak torehan luka dalam hubungan keduanya.
"Aku mencintaimu.." ucap Gemilang tiba-tiba, tanpa menatap Mou.
Mou menatap laki-laki itu dengan senyuman. "Aku juga mencintaimu Gemilang ku.." Rasanya lega sekali bisa memanggilmu seperti itu, sangat bahagia ketika bisa menambahkan kata ku di belakang namamu. Yang artinya kamu adalah milikku seutuhnya.
.
.
.
AMPLOP MANA AMPLOP 🤣
__ADS_1
LIKE, KOMEN, AND VOTE GAES 💋