Gemilang Ku

Gemilang Ku
80 ~ Mengantar ke kampus


__ADS_3

Mou memandangi pantulan wajahnya pada cermin. Memoleskan krim wajah, menaburkan bedak, maskara, eyeliner, pensil alis, semuanya lengkap.


Tahap terakhir adalah memakai liptin berwarna sama dengan bibirnya.


"Kemarin nggak mimpi kan?" tanya laki-laki yang sedang mengenakan sepatu.


"Nggak," jawab Mou segera meraih ransel kecilnya.


Gemilang tersenyum kecil, apakah ini sebuah keajaiban, atau tubuh mereka memang ditakdirkan untuk bersama. Mou tidak akan mimpi buruk di pelukannya.


"Ayo, ke bawah" ucap Mou yang sudah siap.


Gemilang memperhatikan penampilan Mou dari atas hingga bawah. Celana jeans ketat dengan kemeja berwarna putih yang sedikit kebesaran. "Kamu mau kemana?" tanyanya menelisik.


"Mau ke kampus," jawab Mou.


"Aku antar," sahut Gemilang segera menggenggam tangan Mou.


"Kamu nggak pulang?" tanya Mou ketika mereka menuruni tangga.


"Besok masih tanggal merah, aku mau disini dulu liburan. Ben sama Exel juga mau nyusul kesini." ucap Gemilang tersenyum.


"Oh," Mou nampak mengangguk, lalu matanya teralihkan pada sosok yang tengah duduk di meja makan. Buru-buru ia melepaskan genggaman tangannya.


"Pagi, Pa" ucap Mou segera menghampirinya Toro, mencium pipinya sekilas sebelum ikut bergabung di meja makan.


"Nyenyak tidurnya?" sindir Toro.


"Pa, tadi malam itu-" ucapan Mou terhenti ketika Toro mengibaskan tangannya menyuruh Mou untuk diam.


Gemilang terkekeh, segera menghempas tubuhnya pada kursi.


Di meja makan, sudah tersaji tiga mangkuk bubur ayam spesial, beberapa kue khas Bali.


"Sarapan dulu Gem," ucap Toro. "Mungkin menunya berbeda dengan menu dirumah mu ya." Toro segera menyendok bubur yang masih mengeluarkan kepulan putih itu.


"Sama saja om," jawab Gemilang sungkan. Semua orang selalu berpikir seperti itu, padahal ia dan keluarganya suka masakan sederhana saja.


"Sejak kapan Papa sama Gemilang sedekat ini?" tanya Mou yang terus mengunyah.


"Sudah lama," sahut Toro yang entah mengapa menjadi malu, dulu saja ia sangat tidak suka pada Gemilang. "Oh ya, Roman dan Jen mau kesini nanti sore," lanjutnya mengalihkan pembicaraan.


Mou tersenyum "serius?" tanya nya begitu heboh.


"Iya, mumpung besok libur. Kamu nginep sini lagi saja Gem" tawar Toro.


"Nggak Pa, saya sudah memesan hotel. Teman-teman saya nanti akan menyusul kesini untuk liburan."


"Disini kamarnya banyak loh, nggak papa kalau mau diajak nginep sini saja."


Gemilang hanya menjawab dengan senyuman. Sebenarnya itu ide yang sangat bagus, tapi ia masih memikirkannya Exel. Bagaimana jika anak itu bertemu dengan kak Jen dan bang Roman.


.


.

__ADS_1


.


"Turunin di halte saja nggak papa," ucap Mou ketika mereka sudah di depan kampus.


Gemilang tidak menggubrisnya, melajukan mobilnya sampai gerbang kampus Mou. Segera turun untuk membukakan pintu.


Mou tersenyum dan segera keluar dari mobil. Memandangi gedung menjulang tinggi yang sudah lama ia tidak kunjungi.


Namun dahinya mengernyit heran ketika melihat semua mahasiswa menatap kearahnya. Setelah berpikir ia baru menyadarinya, memang sosok Gemilang selalu mencolok di manapun ia berada.


Siapa yang akan menyia-nyiakan kesempatan untuk melihat manusia setampan ini, juga mobil mewahnya.


Ah, pokoknya ia kesal sekali.


"Ada apa?" tanya Gemilang menyelipkan rambut Mou pada telinga, hembusan angin membawa rambut panjang itu kesana-kemari.


"Nggak papa kok," jawab Mou segera tersenyum.


"Kamu tunggu di kafe depan saja, aku nggak lama kok" ucap Mou menunjuk sebuah kafe shop yang lumayan besar diseberang jalan.


Gemilang mengangguk, "nanti kalau mau nyebrang jalan, telepon aku saja."


Mou tidak bisa menyembunyikan senyumnya "Abang, jangan berlebihan."


"Tidak, ini untuk keselamatan mu" pangkas Gemilang.


"Iya-iya," Mou hanya pasrah "Aku masuk dulu ya."


"iya" jawab Gemilang sembari menarik tangan Mou, lalu melabuhkan ciuman singkat pada pipi bulat itu.


"Abang!" Mou hampir saja tidak bisa bernapas, bagaimana bisa Gemilang menciumnya di depan umum.


"Cepat masuk" teriak Gemilang dari dalam mobil.


"Iya," sahut Mou segera melangkahkan kakinya dengan senyuman yang mengembang.


.


.


.


Memilih tempat duduk yang paling pojok, Gemilang sudah memesan kopi yang akan menemaninya menunggu dambaan hati.


Tangannya sibuk menekan tabletnya, memeriksa laporan sejenak. Tangan satunya lagi meraih cup kopi untuk di sesap.


Suara berisik di seberang sana membuat Gemilang menoleh, menatap malas pada dua manusia yang baru saja datang.


"Sendirian nih ye," ucap Ben segera bergabung dengan sahabatnya. Ya, Gemilang sudah memberitahu jika ia sedang mengantar Mou ke kampus. Dan dua kunyuk yang baru saja datang ini bilang ingin menyusul.


"Kenapa nggak ke hotel dulu saja sih," gerutu Exel.


"Siapa juga yang nyuruh lo kesini," Gemilang segera memasukkan tabletnya, tidak akan konsentrasi jika mereka ada disini.


"Gimana?" tanya Ben, mencuri satu tegukan kopi milik Gemilang.

__ADS_1


"Apanya?" jawab Gemilang.


"Gue tahu banget Gem, alasan lo ke Bali" Ben menyeringai lebar, melihat Gemilang sebucin ini rasanya sungguh mustahil.


"Belum ada jawaban," sahut Gemilang lemah.


"Yasudah lah, hamili saja kok repot" Gemilang segera menonyor kepala Ben, memang mulutnya tidak pernah disaring ketika berbicara.


"Bocah nggak punya sopan santun ya" ucap Exel kesal, Ben berbicara terlalu keras hingga semua orang menatapnya dengan heran.


"Kelepasan," sahut Ben nyengir kuda.


"Lo aja nggak berani hamilin anak orang, malah nyuruh Gemilang." Exel tersenyum mengejek.


"Beda cerita," sahut Ben menjadi sendu. "Gue nggak mau nantinya Raisa tersiksa karena bokap nyokap nggak suka sama dia." Terdengar helaan napas panjang.


Kemudian Ben menatap pada Gemilang. "Kalo lo kan semua keluarga sudah merestui, ya cuma itu saja masalahnya." ucap Ben tak ingin membahas hal itu.


"Jangan melo-melo di depan gue ya," Exel kesal sekali karena merasa hatinya begitu kosong.


"Sama Ilona aja udah, lagian dia cinta mati sama lo." Ben sudah berulangkali mengatakan hal itu. Tapi tidak paham dengan jalan pikiran Exel, ia ramah pada semua wanita kecuali Ilona.


"Diem, bgst!" umpat Exel begitu kesal.


Perhatian mereka teralihkan pada segerombol laki-laki yang baru saja memasuki kafe, jika dilihat sepertinya mereka anak kuliahan.


"Jadi kangen masa-masa kuliah," ucap Ben bersandar pada sofa.


"Kalian lihat nggak sih, primadona kampus comeback man!" seru salah satu dari mereka, berjalan beriringan menuju meja kosong.


"Iya, setelah berbulan-bulan nggak ketemu semakin bening aja tuh anak." Sahut satunya lagi.


"Untung gagal nikah sama Bara bere." ucap mereka lalu tertawa bersama, "masih ada kesempatan man."


"Ya lah, kapan lagi dapetin selebgram kampus."


"punya gue itu," seru salah satunya lagi.


"Kayaknya gue paham sih siapa yang diomongin mereka." Ben memperhatikan raut wajah Gemilang yang nampak kesal.


"Tuh kan keluar tanduknya." Exel terkekeh melihat Gemilang semudah itu tersulut emosi.


"Eh, lihat itu." Ben menunjuk wanita yang baru saja memasuki kafe.


Gemilang segera berdiri, menggerutu kesal kan tadi sudah bilang suruh menelepon jika menyeberang. Menghampiri Mou yang menoleh kesana-kemari.


"Sayang!" teriak Gemilang begitu nyaring, sengaja agar semua orang disana mendengarnya.


Ben dan Exel menutupi wajahnya dengan buku menu. "Gue malu njir."


"Temen lo itu."


.


.

__ADS_1


.


LIKE KOMEN AND VOTE GAESSS 💋


__ADS_2