Gemilang Ku

Gemilang Ku
84 ~ Harus segera pulang


__ADS_3

Melihat raut wajah Mou yang sudah berubah, Gemilang segera berpindah posisi duduk di samping Mou. Menautkan jemarinya agar menjadi satu, seolah menandakan kepemilikan satu sama lain. Dan Gemilang tidak akan tergoda oleh wanita manapun.


"Hy Gem," sapa Ilona tersenyum, kemudian menunduk pada Mou. Ben memundurkan kursi untuk Ilona, berbeda dengan Exel yang raut wajahnya masam.


"Kamu juga disini?" tanya Gemilang berbasa-basi.


"Iya, ternyata Bali sempit banget ya tadi nggak sengaja papasan sama Ben dan Exel disana." Ilona melirik Exel sekilas.


"Jangan bilang elo ngikutin gue," tanya Exel tampak tak suka selalu ada Ilona dimana-mana dan ini bukan yang pertamakali nya.


"Jangan ngomong sembarangan," Ben angkat bicara. Terkadang masih tidak paham mengapa Exel begitu sensi dengan Ilona.


Ilona memegang lengan Ben agar tidak emosi, lalu mencoba tersenyum atas penolakan yang sudah biasa ia alami.


"Aku bisa pergi jika kamu tidak suka aku berada disini," Menatap lekat-lekat sorot mata tajam itu.


"Jangan, kamu disini saja nggak usah perduliin dia." Exel tak berkata-kata lagi setelah itu.


"Gapapa na, dia memang kadang berlebihan." Imbuh Gemilang melirik wanita yang disampingnya sekilas.


Ilona mengangguk dan melebarkan senyumnya menatap dua manusia yang tak melepaskan tautan jemarinya sedari tadi. "Aku sudah menebak sebelumnya, pasti kalian punya hubungan spesial."


Melihat Ilona yang seperti itu, membuat Mou mengernyit. Kenapa Ilona tidak sakit hati, atau ia hanya berpura-pura tegar saja.


"Selamat ya Gem, aku ikut bahagia jika kamu bisa menemukan dambaan hatimu."


"Iya makasih," jawaban singkat dari Gemilang.


Dering suara di ponsel Mou membuat perhatian mereka teralihkan. "Aku angkat telepon dulu ya," pamit Mou hendak beranjak. Namun Gemilang menarik lengannya.


"Kamu bisa berbicara disini saja," Gemilang tidak suka Mou menyembunyikan apapun darinya.


"Tapi--"


"Terserah!"


Membuang nafasnya kasar, Mou mengalah dan segera mengangkat teleponnya.


"Halo, bang."


"Iya"


"Hem"


Tut.


Mou mematikan sambungan teleponnya, dan mendesah malas karena tatapan Gemilang penuh dengan rasa ingin tahu.


"Bang Roman nyuruh kita semua untuk makan malam di rumah saja." Jelas Mou sebelum Gemilang yang bertanya.


Gemilang menatap Exel meminta persetujuan. Exel tampak menimang sejenak, sebelum akhirnya mengangguk dengan bibir yang menyeringai.


Tatapannya ia labuh kan pada Ilona yang tampak sibuk dengan ponselnya.


"Lona." Ilona mengerjap-ngerjap matanya dengan tidak percaya laki-laki itu memanggil namanya, jantungnya seperti akan meledak saat ini juga.


"I-iya," menelan ludahnya kasar karena kesulitan bernapas.

__ADS_1


"Kamu ikut kita kerumah Mou untuk makan malam," ucap Exel penuh perintah.


Ben dan Gemilang saling berpandangan tidak paham apa yang dimaksud Exel, tapi detik selanjutnya Ben paham betul apa yang ada di otak licik Exel.


"Jangan bilang-"


"Iya, aku akan memperkenalkan nya sebagai pacarku." Exel mengangguk yakin akan rencananya.


"Maksudnya?" tanya Ilona yang tak paham.


"Sudah ayo ikut saja na," ucap Gemilang berdiri menuntun tangan Mou. "Kita kesana sekarang saja, sudah gelap."


.


.


.


Suasana yang begitu canggung melanda makan malam di rumah keluarga Munaj. Berbagai macam olahan seafood sudah tersaji diatas meja makan yang memanjang itu.


"Silahkan di makan," ucap Roman angkat bicara. Setelah ia membicarakan semuanya pada Jen, ia pikir ia harus segera menghilangkan rasa canggung nya ini. Karena bagaimanapun suatu saat mereka akan bertemu kembali, entah dimana itu.


"Iya bang," Ben tampak menyahuti.


"Kamu juga temannya Mou ya?" tanya Toro pada Ilona yang duduk disamping Exel.


"Dia kekasih saya om," ucap Exel yang membuat mereka semua tampak terkejut. Begitupun Ilona yang darahnya berdesir sejak berada di dekat Exel.


Toro tampak mengangguk.


Untunglah.


"Dia CEO di HCC Group, Pa." Jelas Gemilang, karena tempo hari ia pernah membicarakan perusahaan itu dengan Toro.


"Wah, kelihatannya masih muda tapi sudah sukses ya." Puji Toro terperangah akan hal itu.


Jen tidak berani menatap mereka hanya menunduk sembari menyuapi Ara, tapi untunglah Exel bisa mendapatkan wanita yang luar biasa seperti itu. Berbeda dengan dirinya yang sangat biasa seperti ini.


"Belum sukses kok om, karena perusahaan itu milik Daddy saya." Tersenyum hambar atas pujian yang terlalu berlebihan.


"Makan dulu," ucap Exel tiba-tiba menyodorkan sesendok nasi dengan ikan diatasnya.


"Ta-tapi,"


"Ayolah, aku tahu kamu belum makan sedari tadi."


Ilona mencoba tersenyum dan menerima suapan itu, bukannya senang tapi hatinya malah teriris. Ia paham betul mengapa sikap Exel seperti ini. Karena ia baru menyadari jika wanita yang tengah memangku anak itu adalah mantan kekasih dari Exel.


Setelah makan malam dan berbincang kecil, mereka memutuskan untuk ke hotel saja. Menolak tawaran Toro untuk menginap, karena koper mereka sudah disana semuanya.


Roman, Jen, dan Mou mengantarkan kepergian mereka di teras. Namun mata mereka semua tertuju pada Roman yang mendekati Exel.


Roman menepuk pundak Exel, "Kalian semua boleh menginap disini jika sedang liburan. Tidak perlu menyewa hotel."


Exel hanya mengangguk dan tersenyum kikuk, "Kami pamit dulu," ucapnya berbasa-basi.


"Hati-hati," ucap Jen melambaikan tangan pada mereka dan mencoba tersenyum ketika Exel merengkuh pundak Ilona.

__ADS_1


"Elo nggak ikut?" tanya Ben ketika Gemilang masih terdiam memandangi Mou yang tengah menggendong Ara.


Roman dan Jen terkekeh geli karena itu, "Nginep aja," Roman menepuk pundak Gemilang lalu mengambilkan alih Ara yang terlelap di pelukan Mou.


"Iya Gem. kamu tidur di kamar Sam saja," ucap Jen menimpali.


"Terserah elo deh!" seru Ben kemudian berlalu menyusul Exel dan Ilona yang sudah memasuki mobil.


Gemilang mengangguk. "Aku masih mau ngobrol dulu sama Mou."


"Iya-iya," Jen segera merengkuh Roman dan memasuki rumah. "Aku bahagia kamu berubah," ucap Jen pelan ketika mereka memasuki rumah. Roman selama ini selalu sensitif ketika mendengar apapun yang berhubungan dengan Exel.


"Untuk keluarga kecil kita, aku akan menyampingkan ego ku." Roman mencuri satu kecupan pada dahi Jen. "Dan karena aku sudah tahu, Kamu benar-benar mencintaiku."


Senyuman Jen tak bisa tertahankan lagi, "Kamu adalah segalanya untukku, sedangkan dia adalah masa lalu yang tidak bisa dilupakan secepat itu. Aku harap kamu paham itu."


"Iya sayang, maaf sudah terlalu posesif dan mengekang selama ini."


.


.


.


Semuanya sudah berlalu, menyisakan dua manusia yang masih menatap satu sama lain.


"Abang"


"Mou"


Terkekeh geli sendiri ketika malu-malu seperti ini, Gemilang membawa Mou dalam dekapannya. "Aku benar-benar gila saat jauh dari kamu."


Menghirup aroma wangi dari rambut Mou yang selalu menjadi candu baginya.


"Kita ngobrol di dalam saja ya," ucap Mou menatap sekeliling yang sudah menggelap, udara dingin malam ini menusuk-nusuk sampai ke tulangnya. Tapi jika di dekapan Gemilang seperti ini rasanya selalu hangat.


"Di luar saja, aku sungkan dengan bang Roman jika di dalam."


Mou mengangguk, membalas pelukan itu dengan sayang.


"Aku ingin mengobrol bersama mu malam ini, karena besok aku sudah harus pulang ke Jakarta."


"Secepat itu," Mou Mendongak menatap Gemilang dengan haru.


"Iya, aku harus sudah kembali ke kantor besok pagi." Gemilang bisa melihat sorot mata penuh kekecewaan itu.


Tapi Mou menutupi dan segera mengangguk, "Hati-hati."


.


.


.


LIKE, KOMEN, AND VOTE GAESSS 💋


Gaes, boleh minta tolong nggak? vote sama hadiahnya di lapak Bartender cantik ku saja dulu 😊

__ADS_1


__ADS_2