Gemilang Ku

Gemilang Ku
S2 123 ~ Hari pernikahan (2)


__ADS_3

Senyuman dari kedua mempelai tak pudar ketika sudah sah menjadi sepasang suami istri.


Masih sama-sama tidak menyangka bahwa hari bahagia ini benar-benar datang pada mereka. Bagaikan mimpi yang terasa nyata.


Saat bibir laki-laki itu menempel pada kening Mou, rasa panas menjalar ke seluruh tubuhnya. Rasanya seperti tersengat aliran listrik di setiap sentuhan laki-laki itu.


"Selamat terjebak sehidup semati denganku Mrs. Kusuma," bisik Gemilang terdengar merdu menusuk telinga Mou.


Semua tamu tampak bertepuk tangan saat keduanya melemparkan tatapan penuh cinta satu sama lain.


"Ternyata anakmu sudah besar, Pap." Mila mengusap matanya yang tiba-tiba basah padahal bibirnya tersenyum.


"Akhirnya Gemilang menikah dengan seorang yang benar-benar ia cintai," sahut Elang.


Mila mengangguk. "Aku senang anak kita menikah saat sudah jatuh cinta satu sama lain. Bukan seperti kita, cinta yang datang terlambat."


Merengkuh tubuh istrinya yang menangis bahagia. "Malu, Mam."


Acara selanjutnya adalah foto keluarga besar. Sam, Roman, dan Toro sudah berdiri di sisi pengantin wanita. Sedangkan Jen, Mila, dan Elang berdiri di sisi pengantin pria. Tidak lupa Ara yang berada di tengah-tengah Mou dan Gemilang, juga Darren di gendongan Sam.


Cekrek


Senyuman kedua keluarga yang berhasil menjadi satu atas di ikatnya pernikahan Gemilang dan Mou.


"Selamat ya sayang, akhirnya kamu jadi mantu, Mamii." Mila memeluk tubuh Mou bergantian dengan Elang.


"Selamat datang di keluarga kita ya, Mou." Elang mengusap lembut rambut Mou.


"Makasih Mam, Pap. Semoga Mou bisa menjadi menantu yang baik ke depannya."


"Pasti sayang."


Mereka semua mengucapkan selamat pada kedua pengantin dengan penuh haru.


Namun sosok terakhir yang berada di sana membuat Gemilang mendesah malas.


"Ingat, panggil Abang." Sam menepuk-nepuk dadanya dengan bangga.


"Males banget," lirih Gemilang membuang muka.


"Sekali aja lo berani buat Mou nangis, tangan gue sendiri yang bakal hajar lo." Memamerkan tangannya yang mengepal dengan otot-otot menyembul di sana.


"Bang Sam, udah." Mou menengahi dua manusia yang tidak bisa akur itu.


Sam segera memeluk Mou. "Kalau ada apa-apa bilang sama Abang, kamu tetap adik kecil Abang, Mou."


"Lo nggak mau peluk gue gitu," ucap Gemilang tiba-tiba. "Semua tamu akan menatap aneh sama kita kalo lo nggak peluk gue."


Memutar bola matanya jengah Sam memeluk Gemilang dengan malas dan terpaksa. "Makasih bang Sam," ucap Gemilang terkekeh.


"Dih, nggak pantes banget sih." Sam segera melepaskan pelukan itu karena geli sendiri.


.....

__ADS_1


"Kamu ngundang mantan kamu juga?" ucap Gemilang kesal saat melihat Bara menghampiri mereka.


"Kan dulu juga di undang."


"Selamat ya, Mou." Bara mengulurkan tangannya dan di terima oleh Gemilang.


"Makasih," jawabnya dingin.


"Makasih ya bar sudah datang, istri kamu mana?" tanya Mou berbasa-basi.


"Dia lagi di luar kota, jadi tidak bisa datang maaf ya." Menatap takjub pada sang mantan.


"Iya nggak papa," sahut Mou yang terus menggenggam tangan laki-laki posesif ini.


"Lo beruntung." Bara menepuk-nepuk bahu Gemilang sebelum meninggalkan mereka.


"Jelas," sahut Gemilang jengkel.


"Abang, masa masih aja cemburu sama Bara." Mou mengusap lengan laki-laki itu.


"Aku benci laki-laki lain menatapmu seperti itu."


Pesta kedua di gelar pada malam hari, menyisakan keluarga dekat dan sahabat mereka saja.


"Cie pengantin baru!" teriak Ben pada sepasang suami istri yang bergandeng tangan menghampiri mereka. Mou dan Gemilang sudah lebih segar dengan pakaian berwarna senada yang lebih santai dari sebelumnya.


"Apaan sih, Ben." Mou tampak malu, sejak tadi Ben terus menggodanya.


Gemilang memundurkan kursi untuk Mou. "Makasih Abang," ucap Mou tersenyum.


"Ibel mana, Na?" tanya Mou pada Ilona yang tengah duduk di samping Exel. Entah ada angin apa dua manusia itu terus bersama sejak tadi.


"Pulang duluan sama Juna tadi." Ilona kembali menunduk.


"Kenapa lo selalu tertekan gitu sih kalau di samping Exel." Ben menatap heran pada mereka.


"Mungkin karena ini," ucap Exel memperlihatkan tangan mereka yang saling bertaut.


"What!"


"Aku ikut senang kalau kalian bersama," ucap Mou tersenyum.


"Kalian cocok juga lo kalau di lihat," sahut Raisa yang sejak tadi hanya terdiam.


"Oh ya.." Senyum kecil tersungging di sudut bibir Exel.


"Hay semuanya, silahkan ini kue nya, kue spesial untuk hari ini." Wanita cerewet itu memberikan beberapa kue pada mereka.


"Seneng banget, Za." Gemilang tidak bisa menahan senyumnya saat Zafra terlihat berbunga-bunga.


"Ya, iyalah.. orang tadi Papa sama om Royan bahas tentang lamaran. Ya kan, Za." Mou berhasil membuat Zafra tersipu.


"Kamu memang paling bener Mou." Zafra mengacungkan jempolnya.

__ADS_1


"Akhirnya ada yang betah juga sama kecerewetan lo." Ben tertawa renyah, mengingat dulu hampir saja ia di jodohkan dengan Zafra. Untungnya tidak jadi.


"Apaan sih, Ben, sirik mulu."


.


.


.


"Mamii sama Papii nginep di apartemen, kalian pulang dulu saja ya," ucap Mila yang membuat Mou dan Gemilang saling berpandangan.


"Kalian pulang saja berdua," imbuh Elang. "Papii masih mau kangen-kangenan sama paman Al dulu." Elang merangkul bahu sahabatnya.


"Sudah sana, pengantin baru nikmati waktu berdua saja. Besok kan berangkat honeymoon," ucap Al.


Entah mengapa tubuh Mou mendadak lemas, jantungnya berdegup kencang hanya mendengar kata-kata itu.


"Masa semuanya nginep apartemen, katanya mau nginep di rumah, sama temen-temen Papii." Gemilang tampak salah tingkah karena itu.


"Masih ada pesta para orang tua," sahut Al terkekeh.


"Ayah, di cari Mama," ucap Jen yang baru saja datang.


"Kenapa masa sudah kangen di tinggal lima menit aja." Mendesah malas Al segera melangkahkan kakinya. "Ayo Lang, aku tunggu."


Elang menepuk-nepuk bahu Gemilang. "Sudah pulang sana, Mou pasti sudah lelah."


"Iya, nikmati waktu kalian biar bisa lebih leluasa. Mamii juga pernah muda kok." Mila mengusap-usap rambut Mou.


"Iya deh," jawab Gemilang lemah. Elang dan Mila segera meninggalkan mereka dan menyusul Al.


"Kita pulang dulu ya, Kak." Gemilang menggenggam tangan Mou.


"Hati-hati," sahut Jen tersenyum kecil melihat tingkah mereka yang menggemaskan.


Mou melambaikan tangan pada Jen.


"Eh, Gem tunggu!" teriak Jen yang membuat mereka menghentikan langkahnya.


Gemilang kembali mendekati Jen saat Jen memberi isyarat untuk mendekat. "Sedikit informasi, bagian sensitif Mou adalah telinganya," bisik Jen yang membuat pipi Gemilang memerah seketika.


"Kak Jen!" geram Gemilang merasa malu.


"Hahaha, tapi hati-hati ya. Kamu tahu sendiri kalau Mou gampang nangis dan nggak betah sakit." Menepuk pundak Gemilang dan berlari kecil.


"Ada apa?" tanya Mou setelah Gemilang kembali padanya.


Menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. "Tidak apa-apa."


.


.

__ADS_1


.


LIKE, KOMEN, AND VOTE GAES 💋


__ADS_2