Gemilang Ku

Gemilang Ku
26 ~ Aku akan tetap berjuang


__ADS_3

Gemilang mengangguk dengan yakin.


Namun Mou masih saja mematung, bagaimana bisa laki-laki ini mengatakan kalimat sakral itu dengan entengnya.


"are you crazy!" ucap Mou melepaskan pelukan Gemilang.


"i'm seriosly" ucap Gemilang menangkup kedua pipi Mou.


Gemilang sungguh tidak bisa menahan hasratnya ketika berdekatan dengan Mou, dan ia bersungguh-sungguh ingin segera menikah.


Mou menggeleng samar, masih saja tak percaya atas apa yang dikatakan oleh laki-laki ini "Gem , laki-laki yang seperti apa ?, yang mengajak menikah padahal baru beberapa minggu berkenalan" ucap Mou kemudian melepaskan tangan Gemilang.


"laki-laki seperti ku, laki-laki yang sudah yakin akan pilihannya, aku tahu betul hatimu Mou, gadis polos yang hatinya seperti malaikat" ucap Gemilang serius, ia memantau Mou selama ini gadis berhati lembut dan selalu peduli dengan orang lain.


"tapi aku belum yakin dengan mu" ucap Mou menundukkan pandangannya, padahal tidak ada alasan untuk ia tidak yakin, selain Gemilang selalu melindunginya, ia juga sudah mapan dan sikapnya juga dewasa dan tegas.


Gemilang menggenggam erat kedua tangan Mou "aku akan berusaha meyakinkan mu, beri aku kesempatan".


"Gem, aku tidak bisa" ucap Mou dengan suara yang bergetar, rasa bersalah langsung menghantam dirinya ketika mengingat sahabatnya juga memiliki rasa pada Gemilang, dan itu sudah bertahun-tahun lamanya, jadi apakah Mou bisa menjadi sosok egois yang tidak memikirkan perasaan sahabatnya dan tentunya tidak bisa, Mou tidak seperti itu.


"kenapa?, kenapa Mou?"


Suara derap langkah kaki yang semakin mendekat membuat mereka menoleh secara bersamaan.


"Papa" ucap Mou membelalakkan matanya seolah tak percaya melihat laki-laki paruh baya itu berada disana.


"kamu lagi!" ucapnya menunjuk Gemilang "ngapain kamu malam-malam disini" sentak Toro dengan suara menggelegar.


Gemilang sontak sedikit menggeser posisi nya untuk lebih berjarak dengan Mou.


Toro mendekati mereka dengan rahang yang mengeras, orang tua mana yang tidak marah ketika melihat ada seorang laki-laki berdua dengan anak gadisnya apalagi tengah malam seperti ini.


Gemilang berdiri lalu menundukkan kepalanya "malam om" sapa nya dengan sopan.


Namun Toro malah mencengkeram erat kerah jaket Gemilang, Bugh!.


Satu pukulan yang begitu nyaring namun tidak membuat Gemilang terjatuh.


"maafkan saya om, sudah berada disini di jam yang tidak seharusnya" ucapnya mencoba menahan rasa perih pada ujung bibirnya.

__ADS_1


"Pa" Mou memegangi lengan Papa nya agar melepaskan Gemilang.


"Papa tidak akan membiarkan laki-laki ini merusak mu" ucap Papa masih menatap tajam pada Gemilang, rasanya masih saja kesal dengan Gemilang sejak kejadian di mall waktu itu.


"saya tidak akan merusak Mou om" ucap Gemilang.


"masih berani menjawab kamu!" ucap Toro masih dengan cengkeraman yang erat.


"maaf om" lirih Gemilang, ia tetap mencoba menahan emosinya karena yang dihadapannya saat ini adalah Papa dari Mou.


"pulang! dan jangan berani-beraninya mendekati anak saya lagi" ucap Toro menunjuk kearah pintu.


"saya akan pulang tapi saya tidak bisa jika om melarang saya untuk berdekatan dengan Mou" ucap Gemilang.


Baru saja Toro hendak melayangkan pukulannya kembali namun Mou segera memeluknya dari belakang dan menahan Papa nya.


Toro mengusap rambut nya kasar, mengapa anak ini sangat keras kepala.


"saya serius dengan Mou om, bahkan saya berniat untuk segera menikahinya" ucap Gemilang dengan tegas.


Mou membulatkan matanya, bagaimana bisa Gemilang berkata seperti itu didepan Papa nya.


"Mou, kamu usir dia darisini, bisa-bisa darah Papa naik lagi karena dia" ucap Toro memegangi pelipisnya karena merasa sedikit pusing.


Mou memegang lengan Gemilang hendak mengajaknya untuk pergi, dan Gemilang membalasnya dengan senyuman.


Apa?, tersenyum?


Padahal wajah Mou sudah panik sedari tadi tapi bisa-bisanya Gemilang tetap bersikap santai.


"saya akan membuktikan bahwa saya bukan biocah bau kencur seperti yang om bilang, saya pamit om" ucap Gemilang lalu mengikuti langkah kaki Mou, karena Mou menarik lengannya.


Mou mengantarkan Gemilang sampai depan pintu nya. "Aku akan tetap berjuang" ucap Gemilang ketika sudah diambang pintu.


"terserah Gem, aku capek" ucap Mou lemah.


"kamu tinggal menunggu ku berjuang, biar aku saja agar kamu tidak capek" sungguh manis sekali mulut laki-laki ini semanis senyumnya saat ini.


Mou segera menyadarkan dirinya untuk tidak terjatuh dalam rayuan Gemilang "sudah pergi sana" ucap Mou dengan bibir yang mengerucut , kesal sekali!.

__ADS_1


Gemilang tersenyum kecil lalu mengacak-acak rambut Mou dengan gemas "aku pulang" pamitnya kemudian melangkahkan kakinya untuk benar-benar pergi dari sana.


.....


"Papa nggak papa?" tanya Mou setelah menaruh secangkir teh hangat yang sedikit berasap itu di meja.


ia terus menatap khawatir pada laki-laki paruh baya yang terus memegangi pelipisnya itu.


Meskipun hubungan diantara mereka memang kurang baik namun tetap saja Mou selalu memperhatikan kesehatan Papa nya diam-diam.


"nggak papa" ucap Toro lalu menerima teh yang telah disodorkan Mou.


"Papa udah makan?" tanya Mou begitu lembut.


Dada Toro bergemuruh mendengar nya, setelah beberapa tahun kalimat itu tidak sekalipun keluar dari bibir putri cantik nya.


Toro menggelengkan kepalanya lalu menatap Mou dengan sendu, dibalik sikapnya yang tegas, galak dan dingin pada Mou, ia merindukan gadis kecilnya yang ceria dan penuh perhatian.


Tapi disisi lain ia juga membutuhkan kasih sayang seorang wanita yang tidak bisa ia dapatkan ketika Mama Mou telah meninggal, dan Mou tidak menyukai wanita itu dan semakin menantang emosi seorang Bastoro Munaj.


Mou segera beranjak untuk menuju dapur mini miliknya, dan diikuti Toro dibelakangnya.


Mou membuka kulkas untuk mengambil beberapa bahan makanan disana.


"Papa mau nasi goreng buatan Mou" ucap Toro yang membuat Mou menghentikan pergerakan nya, matanya memanas mengingat nasi goreng buatannya adalah makanan favorit Papa nya dulu.


Dengan posisi yang membelakangi Papanya Mou mengangguk lalu segera memasakkan nasi goreng untuk Papanya, bahkan air matanya tak segan untuk sesekali tumpah.


Tanpa Mou sadari laki-laki paruh baya itu ikut meneteskan air mata ketika melihat Mou bergulat di dapur seperti ini, mengingatkan nya pada kenangan beberapa tahun lalu dimana Mou selalu bergulat di dapur untuk membantu Mamanya memasak.


.


.


.


HALO GAESS MAAP YA UP NYA NGGAK BISA BANYAK-BANYAK, BENER-BENER HARUS NYARI FEEL BIAR TULISANNYA BAGUS BIAR KALIAN IKUT MENIKMATI ALURNYA.


JANGAN LUPA TINGGALKAN JEJAK LIKE KOMEN AND VOTE 💋

__ADS_1


__ADS_2