
Mou menatap kosong pada layar komputer nya, hanya karena kata-kata Bu Heni tadi moodnya jadi berantakan, perkataan wanita itu seolah memenuhi isi kepala Mou saat ini.
Dan mungkin karena pengaruh pms juga, bukan ingin marah namun lebih ke ingin menangis saja.
Tapi ia masih punya urat malu, kenapa juga menangis di kantor.
Dengan langkah kakinya yang terasa berat Mou melangkah keluar dari ruangan nya.
"mbak" ucapnya memanggil Raisa yang terlihat sibuk dengan tumpukan kertas itu.
"iya Mou, kenapa?" tanya Raisa kemudian menoleh, ia memandangi wajah pucat Mou "kamu sakit?" tanyanya khawatir.
"masih keram" jawab Mou sembari memegangi perutnya.
Raisa berdiri dan hendak menghampiri Mou, namun dahinya mengernyit ketika melihat Yohan berjalan tergesa-gesa menghampiri nya.
"ada apa han?" tanya Raisa.
"buatin teh anget buat Bu Ilona" ucap Yohan.
"gitu doang aja pakek buru-buru banget jalannya" ucap Raisa kesal.
"Bu Ilona kurang enak badan sa" ucap Yohan lalu duduk di depan Raisa.
"bukannya tadi masih makan siang sama pak Gemilang dan pak Ben" ucap Raisa merapikan kertas-kertas di atas mejanya.
"iya tadi makan siang di dekat sini, terus katanya pak Gemilang Bu Ilona lagi nggak enak badan dan mau istirahat disini sebentar" ucap Yohan lalu beralih menatap Mou.
Mou menegang mendengar kata-kata itu, kenapa jadi sensitif seperti ini, oh bahkan matanya sudah berkaca-kaca.
"ada apa Mou?" tanya Yohan, karena biasanya Mou akan bertanya sesuatu yang ia tidak paham padanya, dan bisa dikatakan sebenarnya Yohan adalah mentor yang hebat bagi Mou.
"Eh nggak pak" ucap Mou segera mengusap matanya "i-itu sebenarnya saya kurang enak badan, mau ijin ke klinik sebentar" ucap Mou dengan lirih.
"iya Mou kamu ke klinik saja" ucap Raisa menatap Yohan "kasian dia dari pagi udah sakit Han" ucap Raisa.
Yohan mengangguk "iya Mou kamu istirahat dulu saja, pekerjaan mu biar saya yang urus".
"terimakasih pak" ucap Mou lalu melangkahkan kakinya.
"Mou!" panggil Yohan yang membuat Mou menoleh.
"iya pak".
"kalo kamu nggak kuat pulang saja juga tidak apa-apa" ucap Yohan.
"tidak usah pak, istirahat sebentar juga akan sembuh" jawab Mou memaksakan senyumnya lalu pergi darisana.
"tumben kamu baik sama orang" ucap Raisa menyindir "biasanya selalu galak terus".
"ya kan kasian dia sa, dia baru dalam dunia kerja masih kecil juga" ucap Yohan.
"iya iya iya".
.
.
.
__ADS_1
Mou terus mengusap air matanya yang berjatuhan, ia tentu sangat malu jika orang-orang menatapnya dengan aneh.
Sekuat tenaga ia menahan air matanya agar tidak jatuh, Tangannya terulur untuk menekan tombol lift.
Ting..
Lift terbuka , mata Mou membelalak sempurna saat melihat Gemilang tengah merangkul Ilona yang tengah memegangi kepalanya berada didalam lift itu.
"Mou" ucap Gemilang sama terkejutnya, ia segera keluar dari lift dan diikuti oleh Ilona.
"permisi pak" ucap Mou menundukkan kepalanya sopan, lalu ia segera memasuki lift , hingga lift tertutup.
"ayo Gem, pusing banget aku, kita tunggu Ben diruangan kamu aja" ucap Ilona yang terlihat menahan rasa sakit.
Oh sialan!
Seharusnya tadi ia saja yang membeli obat dan membiarkan Ben yang merangkul Ilona, ini semua gara-gara Ben memang, padahal semenjak tadi Ben yang membantu Ilona berjalan.
Bagaimana jika Mou salah paham?
"ayo" ucap Gemilang kembali membantu Ilona.
.
.
.
Sedangkan didalam lift itu, tangis yang semenjak tadi ia bendung tidak dapat ia tahan lagi, air mata Mou benar-benar tumpah, dadanya begitu nyeri melihat Gemilang berkontak fisik dengan wanita lain.
Ada apa dengan dirinya?
"ada yang bisa dibantu mbak?" tanya dokter wanita itu menatap Mou yang matanya sembab.
"nggak ada dok, saya lagi PMS aja kok, mau istirahat sebentar" jawab Mou.
"silahkan istirahat disana" ucap dokter itu menunjukkan sebuah ruang yang tak terlalu besar, terdapat satu ranjang kecil dan juga meja.
"terimakasih" ucap Mou segera memasuki ruangan itu dan menutupnya.
Ruangan yang kecil ini bisa dibilang cukup mewah untuk ukuran kamar klinik perusahaan, memang Elang Group adalah perusahaan yang luar biasa dalam segala aspek.
Mou mencoba memejamkan matanya yang terus mengeluarkan air mata itu, ia meringkuk sembari memegangi perutnya.
Sakit!.
.
.
.
"Lama banget sih" gerutu Gemilang pada Ben yang malah tersenyum dengan santainya.
"sabar pak" ucap Ben segera menghampiri Ilona "minum dulu na, kamu sering banget sih kurang darah" ucap Ben menyerahkan obat itu pada Ilona yang tengah berbaring di sofa.
"kecapekan Ben" ucap Ilona beranjak duduk dan dibantu oleh Ben.
"kamu gila kerja sih" ucap Ben.
__ADS_1
"hehe, kan sama aja kayak kamu dan Gemilang" ucapnya menatap Gemilang yang terlihat gusar.
"dia kenapa sih?" ucap Ben.
Ilona hanya mengangkat bahu nya tak tahu.
"aku mau keluar sebentar" ucap Gemilang pergi darisana begitu saja.
"Yohan kemana sa?" tanya Gemilang pada Raisa.
"diruangan pak Ben , pak" jawab Raisa kemudian berdiri.
"kenapa dia disana?" tanya Gemilang heran, tidak biasanya assisten kompleks nya itu ada disana.
"ada tugas Mou yang belum selesai jadi dikerjakan sama pak Yohan, tadi Mou--"
"dia kenapa?" ucap Gemilang dengan suara naik satu oktaf.
"dia sakit pak perutnya, dan tadi siang seperti nya juga tidak memakan makanan yang bapak berikan" ucap Raisa mencoba santai ketika melihat raut wajah Gemilang yang tak bersahabat.
"dia pulang?" tanya Gemilang kemudian tergesa-gesa mengambil ponselnya dalam saku.
"tadi katanya ke klinik pak, sudah disuruh pulang sama pak Yohan tapi ia me-" belum sempat Raisa menyelesaikan ucapannya Gemilang sudah pergi darisana dengan tergesa-gesa.
ia bahkan mengabaikan semua karyawan yang menyapa disepanjang jalan, fokusnya hanya pada wanita yang ada dihatinya saat ini.
"Pak Gemilang" ucap dokter langsung berdiri melihat direktur utama nya berada disana.
"dimana Mouresa?".
"Mouresa?" ucap dokter itu mengulanginya, karena tidak tahu siapa yang dimaksud oleh Gemilang.
"wanita yang tadi kesini, ia putih matanya sipit dan cantik" ingin sekali dokter itu menertawakan kata-kata cantik yang ditekankan oleh Gemilang pada akhir kalimat nya.
Gemilang terkenal sangat dingin dan galak, tidak pernah ia repot-repot sampai ke klinik untuk mencari seorang wanita, dan sebenarnya ini adalah pertama kalinya ia menginjakkan kakinya di klinik perusahaan nya.
"di-di kamar nomor sembilan pak" ucap dokter menunjuk ruangan itu.
Gemilang langsung menuju kesana, dan membuka perlahan pintu itu, matanya menatap iba pada gadis yang tengah meringkuk itu.
Ia mendekati nya lalu duduk disisi ranjang, mengusap lembut rambut nya, lalu menyibakkan anak rambut yang menghalangi pandangannya, ia mengusap buliran keringat kecil yang berada pada dahi gadis itu.
Apakah sakitnya serius?
tidak mungkin kan datang bulan sampai separah ini?
Matanya terpejam dengan bekas air mata, juga bibirnya yang memucat.
Gemilang mendekatkan wajahnya pada telinga Mou.
"Mou.." bisiknya dengan pelan.
.
.
.
MAAF YA GAAESSS AKU UP NYA KURANG RAJIN, KARENA AUTHOR JUGA BUTUH WAKTU UNTUK MENGISTIRAHATKAN PIKIRAN HEHEH...
__ADS_1
LIKE KOMEN AND VOTE GAESSS 💋