
"Kok lo bisa ada disini?" tanya Gemilang sembari meminum sebotol air mineral, meneguknya hingga tandas, meremas botol bekas itu, lalu melemparnya ke tempat sampah.
Setelah berhasil mengalahkan preman-preman itu mereka memutuskan untuk ke minimarket yang tidak jauh dari sana.
"Mou yang nyuruh," jawab Sam mengeluarkan dompet dan ponsel dalam saku jaketnya. "Dia khawatir lo nggak bisa apa-apa tanpa itu."
Bahkan Gemilang baru ingat jika meninggalkan ponsel dan dompetnya disana. Ia mengambil ponselnya dan segera menghubungi seseorang.
"Siapkan penerbangan malam ini juga." Hanya itu saja yang dikatakan Gemilang dan langsung mematikan ponselnya.
"Lo nginep di hotel keluarga gue aja dulu," ucap Sam yang membuat Gemilang menggeleng.
"Nggak usah sok peduli, mana ada musuh yang perhatian sama musuhnya."
Sam mendengus kesal, memang tidak akan bisa akur mereka. "Kalau bukan karena adik gue males banget!"
"Jaga dia," ucap Gemilang dengan lirih, menatap kosong dengan helaan nafas kecilnya.
"Kendalikan dulu emosimu, jangan ngelakuin hal yang nantinya buat lo nyesel." Sam mulai membuka kotak P3K yang ia pinjam pada kasir minimarket.
"Gue nggak bisa Sam, jarak Jakarta Bali aja udah buat gue kalang kabut, apalagi ini London." Gemilang menggeleng, tidak pernah terbayang akan hal itu.
"Sini muka lo," ucap Sam penuh perintah.
Gemilang menatap malas pada Sam, "jangan bilang lo mau obatin luka gue."
"Karena profesi gue seorang dokter, mengobati orang yang lagi luka itu sebuah kewajiban. Jadi, meskipun dihadapan gue ini maling, ataupun orang gila gue tetep harus menjalankan tugas gue dong."
"Sialan lo," umpat Gemilang.
.
.
.
"Mending lo samperin dia ke Bali deh," ucap Ben mendengus kesal ketika melihat Gemilang selalu mabuk dan menyusahkan dirinya. Gemilang sudah dua bulan lebih ini selalu mabuk-mabukan di apartemennya.
"ini sudah yang keberapa kalinya, gue bosen!" omel Ben panjang lebar pada sahabatnya yang hanya berbaring di sofa sembari memeluk botol alkohol.
"Dia bahkan nggak telepon gue Ben," ucap Gemilang benar-benar kacau. Balutan jas yang biasa rapi kini terlihat acak-acakan, cahaya diwajahnya bahkan meredup.
"Lo kan udah putusin dia, cewek normal mana yang ngemis-ngemis sama cowok." Ben menyandarkan tubuhnya pada sofa, jengah melihat Gemilang sekusut ini.
"Asal lo tau ya Gem, didalam suatu hubungan memang cowok pasti lebih banyak ngalah. Gue sama Raisa juga gitu, makannya gue bertahan sampai bertahun-tahun lamanya. Gue nggak perduli dia nggak mau ngakuin gue sebagai pacar di kantor. Asalkan lo tahu gue juga kadang pengen marah sama dia, tapi-"
"Gue nggak butuh lo ceramahi," potong Gemilang seraya memejamkan matanya.
"Mending besok lo kesana, Mou besok wisuda." Ben meninggalkan Gemilang dan menuju kamar.
__ADS_1
Gemilang menatap kosong pada langit-langit, wajah Mou selalu memenuhi seisi kepalanya. Sentuhannya, senyumnya, dan juga tingkahnya, ia sangat merindukanmu semua yang ada pada diri Mou.
.
.
.
Suasana riuh tepuk tangan memenuhi seisi aula kampus, ketika disebutkan sepuluh lulusan terbaik tahun ini, ternyata wanita cantik yang mengenakan kebaya dusty blue ini termasuk didalamnya.
"Selamat anak Papa hebat," ucap Toro segera memeluk putri semata wayangnya yang baru saja menuruni panggung kecil di sana.
"Mou nggak nyangka banget, Pa." Ternyata usahanya selama ini tidak sia-sia, ia selalu menyibukkan diri dengan tumpukan kertas hingga kadang lupa waktu.
"Abang bangga sama kamu." Roman menepuk-nepuk pundak adiknya.
Mou menggeleng, "ini belum apa-apa bang," ucap Mou sembari mencubit pipi gembul Ara yang tengah terlelap di pelukan Roman.
"Maaf terlambat," ucap seseorang yang baru saja datang. Mou menghela nafasnya ketika yang datang bukan orang yang ia tunggu.
"Ini untuk adik tersayang, congratulation." Sam memberikan satu buket bunga , lalu memeluknya erat adiknya.
"Kamu hebat," bisiknya sebelum tangannya bersiap-siap untuk mengacak-acak rambut Mou.
"Bang Sam jangan," Mou segera menyingkirkan tangan abangnya.
.
.
.
Mou menoleh sekitar, masih berharap seseorang datang kesini.
"Mou, ayo foto," ucap Jen ketika Mou terus melamun.
"Eh, iya kak." Mou segera menghampiri mereka untuk berfoto. Tidak bisa dipungkiri ia bahagia ketika melihat Sam mulai terbiasa dengan Papa. Meskipun Sam hanya diam tapi setidaknya mereka tidak bertengkar.
"Papa sudah reservasi restoran didekat sini, kita harus merayakan kelulusan tuan putri." Toro mencubit gemas pipi Mou, masih tidak menyangka Mou kini sudah lulus.
Mou memeluk Toro begitu saja, "kenapa?" Tor mengusap-usap punggung Mou yang bergetar.
"Mou masih nggak nyangka kalau Mou menjadi lulusan terbaik," bohongnya.
Mereka semua hanya tersenyum melihat semua itu, karena memang ini diluar dugaan untuk semuanya.
"Mou," panggil Winda yang juga berbalut kebaya dengan toga di kepalanya. Dia teman sekampus Mou yang juga wisuda hari ini.
"Iya," Mou mengernyit ketika Winda memberikannya sebuket besar mawar merah.
__ADS_1
"Dari seseorang buat kamu, diterima ya." Belum sempat Mou menanyakan siapa, Winda sudah melangkah kakinya dengan terburu-buru.
Selanjutnya mata Mou tertuju pada kertas kecil yang berada di sana.
Congratulations.
Hanya itu saja, tidak ada nama ataupun keterangan lainnya.
"Dari siapa?" tanya Roman.
Mou menggelengkan kepalanya, "Nggak ada namanya."
"Kayaknya anak Papa banyak fans nya ya." Toro terkekeh kecil karena sejak tadi juga tak sedikit laki-laki yang menatap kagum pada putrinya.
"Buang saja," ucap Sam tiba-tiba.
"Jangan!" ucap Mou tak santai ketika merasakan parfum seseorang melekat pada bunga itu. Seseorang yang sangat ia rindukan.
Mou masih menoleh ke sekitar berharap dia yang memberi bunga ini.
Sedangkan laki-laki yang sedari tadi memantau Mou dari kejauhan tersenyum kecil, tahu betul Mou sedang mencari keberadaannya.
"Congratulation my moon, aku bangga padamu." Kalimat yang seharusnya ia ucapkan sembari memeluk wanita itu, hanya Gemilang gumamkan dengan lirih dari jarak yang cukup jauh. Cukup mengobati rasa rindunya dengan melihat senyuman wanita itu.
Sudah cukup, kini ia harus kembali ke Jakarta dan merelakan semuanya.
"Ayo, aku sudah laper banget ini." Sam memegangi perutnya karena ia tak sempat sarapan.
"Ayo," ucap Roman merangkul bahu Sam. "Dasar tukang lapar."
.
.
.
Restoran mewah menjadi tujuan keluarga Munaj untuk merayakan kelulusan Mou.
Meja memanjang dengan berbagai macam makanan ini memang sengaja Toro siapkan untuk kelulusan Mou.
Sam terlihat memangku Ara sesekali memakan camilan, sedangkan Jen dan Roman juga menikmati makanan lezat itu.
"Sepertinya Papa harus ke Jakarta sebentar besok, sementara kamu di rumah sendiri nggak papa kan Mou," ucap Toro setelah menandaskan sepiring steak daging.
"Mou mau ikut ke Jakarta, Pa. Ada hal yang harus Mou selesaikan dulu sebelum Mou berangkat ke London." Mereka semua hanya menatap Mou dengan penuh tanya, karena yang mereka tahu hubungan Mou dan Gemilang sudah berakhir.
.
.
__ADS_1
.
LIKE, KOMEN, AND VOTE GAES 💋