
"Kalian ada masalah?" tanya Toro yang merasakan hawa mencekam disekitarnya.
"Masalah kecil kok Pak" jawab Gemilang.
"Jangan berantem-berantem terus, nanti Papa nikahkan baru tahu rasa" ucap Toro terkekeh.
Senyuman kecil tersungging di bibir Gemilang "Saya setuju, dan sudah sangat menunggu akan hal itu" sahut Gemilang yang membuat Mou membelalakkan matanya.
Mou tidak pernah tahu, dan tidak menyangka bahwa hubungan Papa dan Gemilang sudah sebaik ini. Mungkin memang Papa kerap kali cerita tentang kecerdasan Gemilang, tapi Mou tidak pernah berpikir akan sejauh ini.
"Panggil Papa Gem, inikan diluar kantor" ucap Toro sembari menepuk-nepuk pundak Gemilang.
"Papa" lirih Mou menatap penuh ketidakpercayaan pada Papa nya.
Gemilang mengangguk "iya Pa, ijin bawa Mou keluar sebentar ya".
Toro mengangguk "Silahkan, selesaikan dengan baik-baik" ucap Toro kemudian berbisik "harus banyak mengalah jika sudah berhubungan dengan makhluk yang bernama wanita".
"Iya Pa" jawab Gemilang tersenyum.
.
.
.
Hawa dingin dan tegang melingkupi mobil milik Gemilang, keduanya masih bungkam dan bergelut dengan pikirannya masing-masing.
Mou meremas pelan ujung cardigan tipis itu, berkali-kali menghela nafasnya. Saat ini, ia tidak tahu, apakah Gemilang marah karena ia mengabaikannya, atau karena Gemilang sudah tahu semuanya.
Mobil itu berhenti disebuah pelataran parkir restoran pinggir pantai yang terlihat sepi pengunjung. Gemilang membukakan pintu mobil untuk Mou yang terus terdiam.
"Turun" satu kata yang tetap sama dinginnya dan begitu menakutkan.
Mou segera turun dan menatap sekitar, namun begitu terkesiap ketika Gemilang menyelimuti tubuhnya dengan jaket tebal milik laki-laki itu.
Gemilang meraih tangan Mou, namun ditepis oleh wanita itu.
"Mau kemana?" tanya Mou tanpa menatap Gemilang.
Mendengus kesal Gemilang sudah mencoba bersabar semenjak tadi.
"Kita bicarakan masalah Ibel secara baik-baik didalam, aku sudah boking restoran ini"
Oke, sepertinya Gemilang sudah tahu semuanya.
Karena cepat atau lambat hal ini pasti akan diketahui oleh laki-laki itu, dan Mou sudah bersiap untuk hal itu.
"Aku nggak mau" ucap Mou yang sungguh membuat Gemilang gemas.
"Mou!" ucap Gemilang menekankan suaranya, mencoba untuk tidak berteriak ataupun berkata kasar pada wanita ini.
"Aku nggak mau Gem" ucap Mou menantang, mendongak, menatap laki-laki itu dengan tajam.
Kesal sekali, selalu menghambur-hamburkan uang untuk sesuatu yang tidak berguna, memboking satu restoran hanya untuk bertengkar?.
__ADS_1
Gemilang terdiam sesaat ketika Mou memanggilnya dengan sebutan nama saja, sekali lagi ia akan mencoba memakluminya. Bahkan sekarang ini panggilan itu tidak penting dibandingkan sikap wanita ini yang seenak jidatnya.
"Mau kamu apa sih Mou" sentak Gemilang begitu frustasi menatap wanita cantik didepannya.
"Ikut aku" ucap Mou melangkahkan kakinya menuju kearah pantai.
"Iya Mouresa" suara lembut tiba-tiba yang keluar dari mulut laki-laki itu membuat Mou menoleh. Bahkan beberapa detik lalu Gemilang baru saja membentaknya.
Gemilang mengikuti langkah kaki Mou, berkali-kali menghela nafasnya untuk sekedar menahan emosinya. Gemilang benar-benar belajar menjadi sosok yang bisa mengerti akan makhluk yang bernama wanita.
.
.
.
Seorang gadis cantik tersenyum kecut melihat kearah pantai, yang ombaknya terombang-ambing kesana kemari. Meratapi kepedihannya saat ini.
Begitu takdir tidak memihak kepadanya.
"Aku setuju untuk menikah denganmu" ucap laki-laki itu datar dan sama dinginnya dengan angin pantai malam ini.
"Aku tidak segila itu Gem!" Sentak Mou
"Jangan mempersulit segalanya Mou ! , kita saling mencintai dan keluarga kita juga merestuinya" ucap Gemilang yang terus menatap ombak.
"Aku tidak pernah mengatakan mencintaimu" ucap Mou yang mulai terisak. "Bagaimana mungkin Gem, aku mengkhianati sahabat ku sendiri" ucap Mou memukul pelan lengan Gemilang yang berada disampingnya.
"Aku tidak peduli !".
"Kita harus bagaimana Gem?" ucap Mou disela-sela isakan nya.
Gemilang membiarkan wanita ini menumpahkan tangisnya untuk beberapa saat, ia memilih diam daripada harus emosi.
"Kita bicarakan nanti kalau kamu sudah tenang saja ya" ucap Gemilang.
Mou segera menjauh dari Gemilang "Sepertinya kita memang harus mengakhiri nya sampai disini".
DEG!
Rahang kokoh itu mengeras detik itu juga, kesabaran nya sudah melampaui batas. Ia mencengkram erat kedua bahu Mou.
"Apa?" tanyanya dengan dada yang naik turun "Segampang itu!" suara menggelegar bersamaan dengan desiran ombak.
Mou terduduk lemas dan menangis terisak, bersimpuh dihadapan laki-laki itu.
"Maafkan aku, aku tidak bisa menjalin hubungan diatas penderitaan sahabat ku" Air mata mengalir deras pada wajah cantik itu, membuktikan bahwa hatinya begitu terluka dan tidak baik-baik saja.
Gemilang menyunggar rambutnya penuh frustasi, tentu ia tak tega melihat wanita itu begitu hancur begini.
Berjongkok, lalu mengusap derai air mata yang membasahi pipi Mou.
Lagi-lagi Mou menepis tangan Gemilang yang hendak mengusap pipinya.
"Aku kecewa sama kamu Mou" kalimat yang keluar dari hati yang paling dalam. Menatap bulan sabitnya yang begitu sembab dan basah.
__ADS_1
Mou mengangguk "Kamu memang pantas mendapatkan yang lebih baik dari aku".
"Kenapa kamu selalu begini" sorot mata Gemilang menyiratkan keterlukaan yang begitu dalam.
"Selalu semau mu sendiri tanpa memikirkan perasaanku".
"Kenapa kamu jadi pengecut seperti ini" suara Gemilang naik satu oktaf "Oh ya, aku lupa bahkan sejak dulu kamu memang pengecut. Mementingkan perasaan mu sendiri. Aku seperti mainan mu, yang selalu kamu tarik ulur sesuka mu".
Mou menyembunyikan wajahnya yang sudah berhamburan air mata pada kedua telapak tangannya.
"Setelah membohongi dan melukai hati ku. Sekarang kamu mau apalagi?" tanya Gemilang yang sudah diambang kesabaran.
Mou segera berdiri, menghapus air matanya dengan kasar. Melepaskan jaket Gemilang yang menyelimuti tubuhnya, ia serahkan pada laki-laki itu.
"Setelah itu, aku harus meninggalkan mu. Maka dari itu buang jauh-jauh perasaan mu karena aku bukan wanita yang baik untukmu. Aku hanya seorang pecundang".
Bagus, dengan begini Gemilang akan membencinya.
Berbalik, kemudian berlari kecil meninggalkan Gemilang. Biar saja Gemilang membenci dirinya karena itu akan mempermudah segalanya.
Entah sejak kapan mata laki-laki itu mulai basah. Seorang Gemilang Galaxio Kusuma, tidak pernah menangis hanya karena wanita.
Segera menepis air mata yang sialan ini, dan segera menyusul langkah kaki Mou yang sudah jauh.
Jika keduanya egois dan tidak ada yang mau mengalah hubungan ini akan benar-benar hancur melebur.
Dan Gemilang terlambat, Mou sudah menaiki taksi.
.
.
.
Gemilang : Kita butuh berbicara lagi, karena tadi kita berdua sama-sama emosi. Jadi, tidak akan menemukan jalan keluar. Aku menunggu mu dibawah.
Mou melemparkan ponselnya hingga membentur kasur empuknya. Dengan setelan piyama ia sudah bersiap untuk menuju alam mimpi.
Waktu juga sudah menunjukan tengah malam. Biar saja laki-laki itu diurus Papa nya.
Namun, berkali-kali mencoba memejamkan mata, berganti posisi tidur kesana-kemari, tidak membuat matanya terpejam sama sekali.
Diluar sana hujan deras sejak ia sampai dirumah tadi, gemuruh suara petir membuatnya begitu gelisah.
Akhirnya ia bangun dan menatap luar jendela yang ternyata masih terbuka. Namun Mou terkejut ketika ia hendak menutup jendela tak sengaja menatap dibawah sana.
Gemilang sedang diam mematung didalam derasnya hujan.
"Laki-laki bodoh" lirih Mou segera berlari keluar dari kamarnya.
.
.
.
__ADS_1
LIKE KOMEN AND VOTE GAESSS 💋